My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
SUAMI BARU



Angelina mengerutkan dahinya, rasanya sedikit canggung untuk menyebut laki-laki yang selama ini sering ia panggil dengan sebutan Om kini harus memanggilnya daddy.


Angelina jadi sedih, wajahnya terlihat muram. Tatkala ia mengingat sosok daddy kandungnya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Hanya dari foto nya saja ia bisa mengenal sosok daddy nya itu. Tapi tak lama Angelina kemudian tersenyum lagi.


Dokter Ichida memang selalu menemani dan membantu Ayura saat membesarkan Angelina, dan tentu saja membuat hubungan mereka juga sudah sangat dekat sebelumnya. Dan kasih sayang diantara mereka sudah seperti ayah dan anak.


"Oke daddy." Seru Angelina sambil tersenyum senang. Keduanya pun berpelukan saling sayang.


"Wah, udah dapat tuh kemistrinya!" Suara yang terdengar meledek membuat pelukan keduanya pun langsung terlepas. Siapa lagi kalau bukan Jo si ketus.


"Ck, kau ini benar-benar ya. Aku sudah mau jadi daddy mu tetap saja kau tidak bisa sopan padaku." Decak dokter Ichida sambil menatap Jo dengan sinis.


Jo mencebikkan bibirnya lalu berdiri di hadapan Angelina dan dokter Ichida sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Baru mau kan? Aku bisa saja menggagalkan nya sekarang." Seru Jo sedikit mengancam.


"Jangan bercanda! Kau pikir kita sedang bermain drama?" Seru dokter Ichida dengan tatapan tidak suka.


Jo mengedikkan bahunya. "Sebenarnya aku tidak setuju mommy menikah denganmu. Tapi karena tidak ada yang menjaga mommy saat nanti aku pindah ke rumah Ara. Aku terpaksa menikahkan kalian berdua." Jo sejenak menghentikan ucapannya, tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan menakutkan.


"Jaga mommy ya! Kalau sampai dia menangis. Kau yang akan aku iris-iris." Imbuhnya dengan nada mengancam.


Dokter Ichida menelan ludahnya dengan begitu berat. Dosa apa yang telah dilakukannya hingga harus mendapatkan anak tiri macam Jo ini?


Alasannya membiarkan mommy nya menikah terdengar begitu sederhana. Apa pantas hal itu di jadikan alasan seorang anak untuk pernikahan ibu kandungnya? Padahal hal itu menyangkut kehidupan mommy nya di masa depan. Ah, mungkin itu hanya sekadar candaan. Andai saja dokter Ichida bisa membaca apa isi otak Jo sekarang.


Dokter Ichida hendak memberikan tanggapan atas ucapan Jo yang terdengar menyakitkan. Tapi di gagalkan oleh teriakan Angelina yang melihat sosok mommy nya sudah datang memasuki area gedung pernikahan.


"Itu mommy." Teriak Angelina sambil beranjak berdiri. Gadis itu nyaris berlari tapi tertahan oleh sang kakak yang memegang lengan adik kandungnya yang membuatnya terhenti.


"Jangan lari! Kau pikir ini lapangan?" Omelnya Jo, membuat Angelina mencebik kesal.


Ara menggandeng lengan mertuanya dengan anggun. Mempelai istri yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda membuat perhatian semua orang disana tersita untuk menatap kedatangannya.


Terutama laki-laki yang akan mempersunting Ayura. Mata sipitnya sedikit terbuka, sepertinya ia terpesona dengan kecantikan wanitanya. Wanita yang selama bertahun-tahun di tunggu nya.


Dokter Ichida tidak pernah menyangka jika moment seperti ini akan ia rasakan nya juga. Kebahagiaannya tiada tara, hingga tak terasa dokter itu menitikkan air mata.


"Hei.... Kenapa kau menangis? Kau merasa sedih ingin menikahi mommy ku hah?" Lagi-lagi ucapan Jo membuat kesal dokter Ichida.


Dokter itu mendengus sambil mengerjapkan matanya dan mengusap cairan bening yang tergenang di sudut matanya itu. Tak di sangka jika ada orang lain yang memperhatikannya, dan sialnya orang itu adalah calon anak tirinya. Yang begitu menyebalkan dengan segala sindirannya.


"Aku hanya terharu, apa kau tidak bisa membedakannya? Dasar bodoh." Seru dokter Ichida tak terasa mengumpat juga.


Jo melototkan matanya, ia tak terima di sebut bodoh oleh calon papa tirinya itu. "Kau panggil aku bodoh? Beraninya.... "


"Kau memang bodoh, dan aku yang menyembuhkanmu dulu. Apa kau lupa?" Tukas dokter Ichida menyela ucapan Jo yang mulai terlihat emosi.


Mendengar hal itu Jo hanya mengepalkan tangannya saja untuk meredam emosinya. Dia tahu jika dokter ini sangat berjasa pada keluarganya terutama pada dirinya.


Tapi entah kenapa ia sangat tidak suka dokter Ichida semenjak laki-laki itu sering sekali memeluk Ara. Hah, jadi sebenarnya Jo itu cemburu untuk siapa? Lagi-lagi karena Ara tentunya.


"Ayo daddy kita temui mommy! Kita mulai acara sakralnya." Angelina menarik tangan dokter Ichida ke tempat akad nikah. Disana Ayura sudah siap menunggu mempelai prianya.


"Huh.... Daddy? Geli sekali." Gerutu Jo sambil mencebikkan bibirnya lalu mengikuti langkah mereka ke tempat akad nikah.


Acara berlangsung dengan begitu khidmat. Semua orang bisa bernafas lega karena sepasang pengantin itu sudah sah menjadi suami istri sesungguhnya.


Semua orang memberikan selamat, terkecuali Jo yang terkesan bodo amat. Sebenarnya hatinya begitu menghangat saat melihat sang mommy tercinta tersenyum begitu bahagia.


Jo masih memperhatikan dari kejauhan betapa bahagianya keluarganya sekarang.


"Kenapa kau berdiri di sini?" Sebuah tepukan di pundak Jo membuat lelaki itu sedikit terlonjak dan langsung menoleh ke arah datangnya orang tersebut.


"Sayang...." Jo tersenyum melihat istrinya lalu menarik tangan Ara yang berada di pundaknya untuk ia cium punggung tangannya.


"Kau sedang apa di sini? Bukannya memberi selamat pada mommy." Ara mengulangi pertanyaannya, sebenarnya dari tadi Ara mencari-cari suaminya karena hanya lelaki itu yang belum terlihat oleh Ara memberikan selamat pada kedua mempelai.


"Nanti saja." Seru Jo sambil kembali menatap ke arah mommy nya yang duduk di kursi pelaminan bersama suami barunya.


"Bee, kau tidak bahagia mommy menikah lagi?" Ara merasa aneh dengan sikap suaminya yang terkesan tidak peduli atas pernikahan sang mommy. Padahal pernikahan ini tidak akan terjadi jika tidak mendapatkan izin dari laki-laki itu.


"Aku bahagia." Jawab Jo sambil melebarkan senyumnya.


"Lalu kenapa kau tidak mau mengucapkan selamat pada mereka?" Tanya Ara lagi. Kedua alisnya terangkat ke atas. Menunggu jawaban suaminya yang malah terdiam sambil menatap dirinya.


"Aku malu." Jawaban itu nyaris membuat Ara tersedak dengan ludahnya sendiri. Kok bisa ada orang se gengsi suaminya ini?


Bahkan mengucapkan selamat pada mommy nya saja dia harus malu. Hah, benar-benar lelaki itu.


Ara tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia menyentil hidung mancung milik suaminya dengan pelan. "Kau ini ada-ada saja. Ayo aku antar! Jika kau malu tutup saja wajahmu!" Ucap Ara seraya tersenyum lucu.


"Kau benar-benar menyebalkan." Jo mendengus kesal. Ingin sekali dia menggigit bibir mungil yang menepiskan senyum yang meledek itu. Tapi lama-lama ia pun tersenyum juga.


Senyum Jo tiba-tiba menyurut tatkala ia melihat kedatangan seseorang yang menghampiri mereka dan menyapa istrinya.


"Kenapa dia ada di sini?" Jo bertanya dengan pelan mendekati telinga istrinya. Tapi sepertinya tamu tersebut pun mendengarnya.


"Diamlah! Dia juga berhak datang karena aku yang mengundangnya." Jawab Ara tak kalah pelan. Ara mengulas senyum ramah pada tamunya dan membalas sapaannya.


Tapi tidak dengan Jo, lelaki itu menampakkan raut wajah tidak suka. Tatapannya terlihat tajam, sebelah tangannya sengaja ia daratkan di perut istrinya yang mulai membesar. Mengelus nya dengan bangga seakan berkata jika itu adalah hasil buah karyanya.


***


Siapa coba yang datang? Hayo tebak ya readers sekalian. 😅😅😅


Kasih like dan votenya juga ya! Makasih.


follow IG eh amih ya jika ingin lihat foto-foto kemesraan Jojo dan Ara. 🤗🤗


follow : @amih_amy