My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
TAK MENGENALI



Siang menjelang sore, Ara dan Jo sudah berada di rumah bibi Iren, pasca kecelakaan waktu itu wanita ber umur 55 tahun itu lebih banyak berdiam diri dan tidak mengerjakan pekerjaan yang berat - berat dulu, untung ada Sarla, seorang pelayan muda yang di bayar oleh nyonya Ayura. Untuk sekarang jika tidak di bayar pun perempuan akan tetap merawat Bibi Iren dengan begitu tulus, karena dia sudah menganggap wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri.


" Bibi, aku sama Jo mau ziarah ke Makam ibu sama ayah ya, nanti pulangnya ke sini lagi. " Pamit Ara sambil memegang bahu bibi Iren yang sedang duduk di kursi depan rumahnya.


Bibi Iren menganggukkan kepalanya pelan, sambil tersenyum manis menarik punggung telapak Ara yang lalu ditopang kan di telapak tangannya. " Ara, kamu nginep disini ya ? Sudah lama loh kamu tidak tidur di sini. " Pinta bibi Iren dengan penuh harap.


Ara tak langsung menjawab, dia menoleh ke arah Jo yang sedang berdiri di samping nya lalu mengangkat kedua alisnya seolah meminta izin dari lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Jo mengangkat kedua bahunya tinggi -tinggi, " Terserah kamu. " jawabnya datar.


" Kamu juga nginep Jojo, kalian sudah suami istri tentunya sekarang bisa tinggal satu kamar kan? " Tukas bibi Iren sambil meraih telapak tangan Jo dan menyatukannya dengan tangan Ara. Senyuman penuh maksud mengembang di bibir wanita tua itu.


Hal itu sontak membuat kedua mata pasangan itu sejenak beradu pandang, genggaman hangat dari tangan kekar Jo seakan menyetrum aliran darah Ara. Jo juga merasa demikian entah mengapa tangannya ingin sekali meremas lembut tangan mungil Ara, tapi karena adanya tangan lain yang menghimpit tangan mereka tentu saja membuat mereka sedikit canggung, hingga sebuah tarikan tangan yang di lakukan oleh Ara menghancurkan imajinasi mereka berdua.


" Iya Bi. " Jawab Jo dengan lirih, entah dia malu atau apa. Wajahnya terlihat memerah, lalu memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Ara. Tapi sayangnya Ara sudah melihat itu, Ara menarik bibirnya segaris merasa lucu dengan raut wajah Jo yang mendadak gugup.


" Ayo kita pergi! " Ajak Ara pada Jo yang mendapatkan anggukan kepala dari lelaki itu. Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil lalu masuk ke dalamnya dengan Jo sebagai supirnya. Mobil itu kemudian melaju dengan tujuan ke tempat Makam orang tua Ara.


Setelah setengah jam berkendara, akhirnya mobil itu telah sampai di depan pintu area pemakaman yang berada di pinggiran kota. Mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk ke area Makam itu, berjalan menyusuri jalan setapak mencari dua buah Makam yang bertuliskan nama orang tua Ara di batu nisannya.


Tak berapa lama mereka pun sampai di makam yang terlihat terawat dan bersih, karena Ara selalu datang kesana di akhir pekan untuk membersihkan Makam tersebut. Ara pun berjongkok di antara kedua Makam tersebut dan membaca doa terlebih dahulu.


" Ibu, ayah.... Ara datang lagi. " Ucap Ara sambil memegang baru nisan keduanya bergantian. Jo juga ikut berjongkok di samping Ara, menatap wajah wanita itu yang terlihat tegar di hadapan Makam orang tuanya.


" Sekarang Ara datang bawa suami Ara. " Walau tak ada jawaban tapi Ara terus saja berbicara seolah kedua orang tuanya benar-benar ada di hadapannya. Seperti biasa Ara selalu menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya seminggu ini. Walaupun tak semuanya dia katakan karena sekarang ada Jo yang mendengarkan.


Setelah selesai dengan kunjungannya tersebut Ara mengajak Jo untuk kembali ke rumah Iren. Mereka berjalan berdampingan keluar dari area pemakaman. Tapi saat mereka hendak keluar dari pintu Makam, tiba-tiba saja seseorang dari arah belakang memanggil nama Ara. Sehingga membuat wanita itu menoleh ke arahnya, di ikuti oleh Jo yang juga mendengar panggilan itu.


" Kak Danil, sedang apa kau di sini? " Tanya Ara begitu terkejut saat bertemu kembali dengan mantan bos sekaligus kakak angkatnya itu. Danil berjalan menghampiri mereka berdua. Jo mengernyitkan dahi mencoba mengingat siapa lelaki ini, karena ingatannya tentang Danil mungkin tak sebanyak dulu sebelum dia melakukan terapi terakhirnya itu.


" Aku habis berziarah ke makam pamanku. Kebetulan melihatmu di sini. Habis dari Makam orang tuamu ? " Sahut Danil kembali bertanya pada Ara.


" Hem.... " Ara menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ara begitu senang melihat Danil lagi, begitu nampak dari raut wajahnya yang terlihat sumringah saat melihat lelaki itu.


" Kau mau kemana sekarang? Apa langsung pulang? " Tanya Danil kemudian.


" Aku mau menginap di rumah bibi Iren kak. " Ada jeda sebentar sebelum Ara kembali melanjutkan kembali obrolannya. " Oh iya, bagaimana keadaan Amel? Aku rindu sekali dengan gadis cerewet itu. "


" Lelaki ini kenapa familiar sekali, tatapannya sangat berbeda pada Ara. Apa hubungan Ara dengan lelaki ini? " Gumam Jo dalam hati.


" Aku ingin sekali, tapi.... " Ara melirik ke arah Jo, wanita itu sangat takut jika suaminya akan melarangnya seperti dulu. Ara tidak tahu jika Jo ternyata melupakan insiden pengusiran Danil waktu itu.


" Kenapa melihat ku seperti itu? " tanya Jo dengan penuh selidik.


Ara tersenyum pelik, lalu merangkul lengan Jo dengan manja. " Jojo, apa aku boleh berkunjung ke restoran tempat ku bekerja dulu? " Tanya Ara dengan memelas.


Jo menatap Ara dengan tatapan dingin, lalu menganggukkan kepalanya sekali saja tanda dia setuju dengan permintaan Ara.


" Terimakasih Jo. " Ucap Ara dengan begitu senang.


Danil merasa heran dengan sikap Jo yang seperti tidak mengenalinya itu, bahkan Danil masih sangat ingat kejadian di rumah Jo tempo lalu, bagaimana kasarnya mengusirnya dari rumahnya dulu dan Jo terlihat begitu marah pada Danil waktu itu, tapi sekarang wajah Jo terlihat biasa-biasa saja bahkan cenderung menunjukkan wajah datar.


" Ayo kak, kita ke restoran sekarang. Biar kami mengikuti mobilmu di belakang. " Sahut Ara dengan antusias.


" Kau naik mobilku saja bagaimana ? " Danil sengaja menyulut emosi Jo, karena begitu heran kenapa Jo tak marah saat Ara bertemu dengan dirinya lagi seperti dulu.


Ara terdiam sejenak, menoleh ke arah Jo yang bersikap biasa saja, walau tak bisa di pungkiri hatinya begitu kesal melihat ada laki-laki lain yang mencoba mendekati Ara lagi. Tapi egonya Jo masih begitu tinggi untuk mengakui hal itu.


" Terserah kau saja. Jika kau masih menganggapku sebagai suamimu. Ikut bersamaku kalau tidak silahkan ikut dengan lelaki itu. " Seru Jo sambil berjalan meninggal kan Ara dan Danil menuju tempat mobilnya terparkir, Jo memilih untuk menunggu Ara disana saja.


Ara mendengus pelan, kata-kata Jo terdengar begitu ambigu di telinga Ara. Sebenarnya lelaki itu mengizinkan atau tidak. Dan hal itu cukup membuat Ara sedikit pening di kepalanya.


" Aku naik mobil Jojo saja kak Danil, kau tahu kan dia seperti apa? " Ucap Ara dengan nada menyesal karena menolak permintaan kakak angkatnya itu. Danil malah tersenyum dan mengacak rambut Ara dengan gemas.


" Tentu saja kau harus dengan suamimu, aku hanya mengetes emosi suami saja tadi. Apakah dia masih kasar padamu atau tidak. Tapi kenapa aku berpikir jika suami mu tak mengenaliku sekarang. " Ucap Danil merasa curiga saat Jo sudah melangkah jauh meninggalkan mereka.


" Mungkin itu hanya perasaanmu saja kak, ayo kita pergi! " Ajak Ara dengan semangat, dia tak ingin membuat Danil semakin curiga pada suaminya. Ara menggandeng tangan Danil saking semangatnya. Dia lupa di dalam mobil sana mata seorang lelaki yang masih berstatus suaminya sedang menatapnya dengan tatapan tajam begitu cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


***


Maaf up nya malem banget, makasih yang udah setia nungguin. Jangan lupa like, komentar, rate 5 , favorit sama votenya ya.. Makasih. 🥰🥰🥰