
Kedatangan dokter Ichida ke rumah Jo hanya untuk mengetahui perkembangan mental Jo saat ini. Dan Jo pun menceritakan jika dirinya sudah mengingat semuanya. Tentu saja hal itu di sambut bahagia oleh semua orang yang mendengarnya di ruangan itu.
Terutama mommy Ayura, wanita paruh baya yang telah melahirkan Jo tersebut begitu terharu mendengar kesembuhan anaknya, terlihat dari kedua bola matanya yang berkaca-kaca dan binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya itu. Jo menghampiri sang mommy ia berlutut di hadapan mommy nya yang sedang duduk di atas sofa.
Sambil memegang kedua tangan yang begitu lembut Jo mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah mommy nya dengan lekat.
"Jo minta maaf mommy, selama ini selalu bersikap kasar sama mommy." Ucapan Jo terdengar begitu tulus.
Mommy Ayura sudah tak sanggup lagi membendung air matanya, cairan bening itu akhirnya lolos begitu saja, mengalir di pipi mulus Ayura, bahkan tetesan nya pun tak sungkan-sungkan jatuh mengenai tangan kekar Jo yang berada di pangkuan sang Mommy.
Ayura melepas genggaman tangannya lalu menangkup kedua pipi anaknya dengan telapak tangannya. Wanita itu tersenyum walau air matanya terus saja menetes tanpa henti. "Mommy memaafkanmu sayang, akhirnya do'a dan usaha mommy selama ini terkabulkan juga, mommy sangat bahagia." Lalu kedua matanya beralih pada menantunya yang duduk tak jauh dari dirinya.
"Ara, terimakasih karena sudah membawa pulang anak mommy yang baik hati." Ucapnya tulus pada Ara, kini harapan mommy Ayura telah terlaksana, ia ingin anaknya berubah menjadi sosok yang baik hati dan lemah lembut seperti daddynya.
Ara hanya melemparkan senyuman termanis nya sebagai tanggapan, Ara tak tahu harus berkata apa, karena menurutnya Jo berubah karena ingatan masa lalunya telah kembali. Dan itu tidak ada hubungannya dengan Ara.
Tapi Ayura tidak pernah tahu jika Jo berubah sikap karena apa, walaupun karena hasil kerja keras dan kelembutan Ara, tapi ingatan masa lalu yang menunjukkan suatu kenyataan jika mommy nya tidak pernah salah membuat Jo merasa menyesal dengan sikap kasarnya selama ini. Dan tentu saja Jo tidak menceritakan hal itu pada orang lain selain pada Ara dan juga David.
Biarkan rahasia ini tetap terjaga sampai rencananya benar-benar terlaksana dengan baik.
"Hei, bagaimana kalau kita semua pergi berlibur? Merayakan kesembuhan Jo sekalian mereka bulan madu. Selama ini kalian belum berbulan madu bukan?" Usul yang tiba-tiba di cetuskan oleh dokter Ichida membuat semua orang menoleh ke arahnya. Dan suasana haru pun tiba-tiba mencair seketika.
Dan yang paling semangat adalah Angelina, wajah gadis itu tampak berbinar mendengarnya. "Aku ikut ya mom?" Pintanya dengan memelas tapi sedikit memaksa.
Mommy Ayura tersenyum, anak bungsunya itu memang selalu bersemangat jika sudah membahas tentang pergi berlibur. Mungkin anak ini kurang piknik karena selama Jo hilang ingatan dulu, mommy nya tidak pernah mengajaknya pergi berlibur sama sekali. Pekerjaan yang di bebankan pada mommy Ayura dan fokusnya untuk kesembuhan Jo membuat wanita itu terlalu sibuk hingga perhatiannya pun berkurang untuk Angelina.
"Baiklah kita semua pergi berlibur, bagaimana denganmu Jo, apa kau setuju?" Pandangan mommy Ayura kini beralih pada anak lelakinya. Dan yang di ajak bicara malah menoleh ke arah Ara.
"Bagaimana sayang? Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Dimana ada kamu di situ pasti ada aku." Tanya Jo sambil tersenyum penuh arti. Sempat-sempatnya Jo menggombal di saat suasana terharu macam ini.
Ara memutar kedua bola matanya malas, ia juga heran dari mana suaminya belajar jadi pandai merayu seperti itu. Walaupun ingatannya sudah kembali, tapi masa lalu Jo yang tidak pernah dekat dengan wanita pastinya tidak punya pengalaman dalam hal merayu wanita. Apa ada sisi lain dari sifat Jo yang ia sembunyikan dari orang lain selama ini? Mungkin hanya Jo dan Tuhan saja yang tahu.
"Terserah kau saja." Ucap Ara sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain karena jujur ia sangat malu, sudut matanya tak sengaja melihat sosok dokter Ichida yang dari tadi memperhatikan wajah Ara sambil tersenyum lucu. Huft, dokter berkacamata itu pasti akan meledek Ara setelah ini. Ara harus mempersiapkan telinganya untuk itu.
Setelah semuanya setuju, kesepakatan akhirnya di dapat dan mereka akan berlibur ke Jepang saja. Dan itu akan terjadi dua hari kemudian. Sekalian dokter Ichida ingin juga pulang ke negara asalnya, itung-itung dapat tiket akomodasi gratis dari Jo, lumayan! Lagipula Ara juga belum pernah kesana bukan.
Ara bahagianya bukan main, hal yang paling ia harapkan akhirnya tercapai juga, ia bisa merasakan pernikahan yang sebenarnya. Walaupun pernikahannya berawal dari rasa kasihan tapi akhirnya Ara tak menyangka jika ia bisa jatuh cinta pada suaminya yang idiot itu. Cinta memang tak pernah memilih pada siapa dirinya akan berlabuh, jika hati sudah mulai luluh tentu saja pemiliknya juga ikut rapuh. Uh, cinta .... kau buat pikiran seseorang keluar dari nalarnya.
***
Astaga jadi orang kaya benar-benar menyenangkan, dengan sesuka hatinya pergi berlibur kapanpun dia mau, dan menyerahkan semua pekerjaan pada pegawainya dengan begitu mudah. Tanpa peduli bagaimana perasaan David saat menerima beban tambahan dalam pekerjaannya. Mungkin rasanya ia ingin pura-pura sakit saja agar bosnya punya belas kasihan terhadapnya. Tapi nyatanya hal itu hanya dalam angan-angan David semata.
"Maaf tuan, apa kau tidak mau mengajakku berlibur juga?" Permintaan itu tiba-tiba lolos begitu saja dari mulut David, mungkin ia juga merasa jengah dengan pekerjaannya menumpuk setiap hari. Apalagi jika dalam keadaan tertentu Jo seringkali meminta bantuan asistennya untuk melakukan pekerjaan di akhir pekan. Otomatis waktu liburnya pun jadi berkurang.
Jo mendongakkan pandangannya dari berkas yang telah selesai ia bubuhi tanda tangannya ke arah asistennya yang berdiri di depan meja kerjanya. Keningnya sedikit mengkerut karena asistennya itu jarang sekali membuat permintaan seperti itu.
"Kau mau berlibur?" Tanya Jo sambil menopang dagu.
"Ya tuan." Jawab David dengan tatapan berbinar mungkin bosnya telah berubah pikiran. Bagaimanapun dirinya sedikit berjasa untuk membantu menyatukan Jo dengan istrinya.
Jo berpikir sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. "Baiklah, kau akan berlibur.... " Ada jeda sejenak saat Jo menangkap senyum tipis tersirat dari bibir asistennya. "Tapi nanti setelah liburanku selesai." Sambung Jo yang membuat senyuman itu tiba-tiba sirna dari bibir David. Ia mendengus kesal, menyesal sekali David mendengarkan dengan seksama bosnya memang sangat tak punya perasaan.
"Sudahlah, aku mau pulang. Aku merindukan istriku sekarang." Seru Jo sambil merapikan berkas dan memberikannya pada David seraya berdiri. "Kau urus semuanya!" Imbuhnya lagi-lagi memerintah dengan nada dingin, lalu berjalan meninggalkan David yang terus menatap punggung bosnya sampai hilang di balik pintu. David mengacak rambutnya begitu frustasi, begitulah nasib seorang kuli.
***
Sesampainya di rumah, Jo sangat bersemangat menemui Ara di dalam kamar, ia sangat yakin karena sebelumnya ia memastikan dulu dengan bertanya kepada pelayan dimana keberadaan Ara sekarang, dan di dalam kamar adalah jawaban yang ia dapatkan.
Saat lelaki itu membuka pintu kamar dan berhasil menerobos kedalamnya bersamaan dengan keluarnya Ara dari dalam mandi yang hanya menggunakan handuk kecil yang di lilitkan untuk menutupi area dada sampai pahanya saja. Ara yang tadinya hanya berniat cuci muka saja setelah selesai dengan hobi barunya di taman belakang. Tak menyangka jika suaminya akan pulang di jam sekarang.
Kalau ia tahu jika Jo akan datang, Ara tidak akan melanjutkan keinginannya untuk berendam saat merasakan kesegaran dari air yang menyentuh kulit wajahnya itu, dan akhirnya sekarang ia keluar dengan hanya memakai handuk kecil yang ia bawa sebelumnya.
Melihat pemandangan seperti itu, tentu saja membuat mata Jo tak bisa berkedip. Jo menutup pintu rapat-rapat tak lupa menguncinya dengan cepat. Ara masih bergeming berdiri di depan pintu kamar mandi menatap Jo dengan perasaan tak enak hati. Sepertinya sebentar lagi ia akan mandi kembali.
οΏΌ
***
Hayo Jo mau ngapain tuh? πππ
Eh, maafnya jadwal up nya jadi berubah biasanya kan malam, authornya harus nyesuain jadwal kerja di dunia nyata juga ya readers jadi mohon di maklum kalau up nya jadi gak teratur. Buat crazy up, authornya masih belum cukup banyak stok halunya. Makanya kasih amih semangat biar stok halu bisa mencukupi sampai novel ini tamatππ.
Vote poinnya jangan di empit-empit, sedekahin buat amih aja π€π€ semoga sehat selalu buat kalian semua. Jempolnya jangan ragu buat like ya, sama ketik - ketik sesuatu buat ngeramein kolom komentar.
follow IG amih ya : amih_amy
Happy Reading π₯°π₯°π₯°