My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
BERJANJILAH PADAKU!!



"Kak Daniel apa kabar?" Ara membuka perbincangan dengan tamu yang datang menghampirinya itu.


Daniel tersenyum getir, tatapan matanya tertuju pada perut Ara yang semakin membuncit. Terselip kesedihan yang begitu mendalam yang tersirat dari sorot matanya.


"Aku baik-baik saja, Ara," jawabnya.


Jo menautkan kedua alisnya dengan tajam. Saat ia melihat arah tatapan Daniel yang selalu tertuju pada perut buncit istrinya.


"Sayang, apa kau lelah? Ayo duduk di sana!" Jo sengaja mengalihkan perbincangan mereka. Ia ingin menjauhkan Ara dari lelaki yang selama ini menyimpan rasa untuk istrinya.


"Aku tidak lelah, kalau kamu mau duduk ya duduk saja. Biar aku di sini menemani Kak Daniel."


Jo mengepalkan tangannya begitu kuat, mencoba menahan emosinya yang kini mulai merambat.


Sungguh ucapan istrinya itu membuat Jo tidak habis pikir, bisa-bisanya ia menyuruh suaminya untuk meninggalkannya bersama laki-laki lain.


"Aku juga tidak lelah, mau di sini saja bersama kalian," seru Jo dengan tatapan yang masih terlihat tajam.


"Ya sudah." Ara sebenarnya tahu jika suaminya sedang cemburu. Tapi wanita itu seakan sengaja untuk membuat suaminya itu sedikit lebih dewasa. Setelah itu, Ara mengalihkan pandangannya lagi pada Daniel.


"Kau terlihat agak kurusan. Apa kau habis sakit?" Tanya Ara pada kakak angkatnya itu.


Danil menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya kurang istirahat saja," jawab Daniel.


Jo memutar kedua bola matanya malas, drama macam apa ini? Perbincangan mereka sungguh tidak penting untuk didengarkan.


"Ara, kehamilanmu sudah masuk berapa bulan?" Daniel bertanya lagi.


"Masuk bulan ke tujuh. Dan dia anakku." Kini suara Jo yang terdengar menyahut lebih dulu. Rasanya ia benar-benar ketakutan jika Danil menginginkan anak itu.


"Tidak perlu kau jelaskan ini anak siapa, Bee! Kak Daniel pasti sudah tahu," protes Ara sambil menepiskan senyum kikuk pada Daniel merasa tidak enak dengan sikap suaminya yang masih saja posesif.


"Oh iya, Kak, kenapa kau datang sendiri? Dimana Amel?" Ara begitu rindu dengan sahabat terbaiknya itu. Rasanya sudah lama mereka tidak saling bertemu.


"Kau mengundangnya juga?" Ara mengernyitkan dahi saat Daniel malah balik bertanya padanya.


"Maksudmu? Memangnya kau tidak bilang padanya jika aku mengundangmu di acara pernikahan mommy?" tanya Ara kemudian.


"Ehm ... Maksudku aku kira kau menghubunginya secara langsung jadi aku tidak bilang apa-apa padanya," seru Daniel terdengar gugup. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh lelaki itu.


Ara sedikit curiga tapi ia tak mau berburuk sangka. "Aku kan sudah bilang, jika aku sudah mencoba menghubunginya. Tapi nomornya selalu di luar jangkauan. Apa dia ganti nomor baru?"


Daniel diam saja mendengar pertanyaan Ara. Lelaki tampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kak Daniel?" Teguran Ara membuyarkan lamunan Danil seketika.


"Kau kenapa?" tanya Ara lagi.


"Mungkin dia kelaparan," celetuk Jo dengan nada meledek.


Ara menyenggol bahu Jo, memberi kode agar suaminya itu tidak berbicara sembarangan. Jo merasa tidak suka jika istrinya terus-menerus membela kakak angkatnya itu. Terlihat sekali raut wajahnya yang begitu tidak senang.


Daniel sadar jika Jo merasa terganggu dengan keberadaannya di sana. "Ara, aku menemuimu hanya untuk pamit. Aku mau pulang sekarang. Tadi juga sudah pamit pada mertuamu," seru Daniel yang merasa tidak enak hati dengan kecemburuan Jo saat ini.


Jo mengulum senyum. Tentu saja dia senang jika Dani segera pergi dari sana. Toh, dia hanya kakak angkatnya Ara. Jadi tidak penting juga.


"Sudah, sebelum menemuimu aku sudah ngobrol sebentar dengannya."


"Oh begitu, ya sudah jaga dirimu baik-baik, Kak Daniel! Badanmu kurus banget. Jelek tahu." Kelakar Ara membuat Daniel tersenyum getir.


Jo benar-benar tidak suka dengan basa basi istrinya yang sok perhatian dengan Daniel, lelaki itu berkali-kali berdehem agar Daniel segera melanjutkan niatnya untuk pulang.


Daniel melirik ke arah Jo, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia ingin memberikan pelajaran sekali lagi pada lelaki itu. Sifatnya benar-benar kekanakan.


Daniel melayangkan tangannya untuk menyentuh perut Ara secara tiba-tiba. Ia mengelus perut itu dengan lembut sambil berkata.


"Nak, jangan kau ikuti sifat ayahmu yang pernah menjadi seorang idiot, ya!"


Jo begitu tersentak, tentu saja ia tidak terima Daniel mengelus perut istrinya. Apalagi berkata seperti itu pada anaknya. Sepertinya Daniel mengajaknya berperang sekarang juga.


Ara mendesah pelan, suasananya berubah jadi tidak nyaman. Kelakuan kedua laki-laki ini membuat hatinya jadi tidak tenang.


Ara menahan lengan Jo yang bersiap hendak menyerang Daniel. Mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya dan berbisik.


"Jangan macam-macam, Bee! Apa kau mau merusak acara pernikahan mommy?"


Jo menoleh ke arah Ara, keningnya berkerut dalam. Sesaat kemudian ia pun sadar. Perkataan Ara memang ada benarnya. Ini adalah hari bahagia sang mommy. Mana mungkin dia akan merusaknya.


Jo akhirnya hanya bisa mendengus kesal, lelaki itu memilih untuk memalingkan wajahnya untuk tidak melihat wajah Daniel. Lama-lama melihat wajah lelaki itu hanya membuat emosinya semakin meninggi.


"Kak Daniel, terimakasih atas kedatangannya. Pulanglah sekarang!" Ara dengan sangat terpaksa berkata seperti itu pada Daniel. Seakan dia mengusir lelaki itu secepatnya.


Daniel mengerti ia hanya melontarkan senyum kecutnya, merasa puas telah membuat Jo merasa kesal dengan ulahnya.


"Baiklah, aku pergi sekarang." Daniel melangkahkan kakinya melewati tubuh Jo yang berdiri di hadapannya.


Tapi saat Daniel berada tepat di hadapan Jo, lelaki itu menepuk pundak Jo sambil berkata pelan. "Jaga dia baik-baik! Jangan sampai dia meninggalkanmu hanya karena kelakuan burukmu ini! Bukankah dulu kau pernah merasakannya juga?"


Setelah berkata seperti itu Daniel pergi meninggalkan tempat acara. Untuk kali ini Jo hanya diam. Lelaki itu mencoba mencerna perkataan Daniel sambil menatap punggung lelaki itu hingga menghilang di balik kerumunan para tamu yang lain.


Tiba-tiba saja bayangan kejadian Ara menghilang saat itu muncul di pikirannya. Jo menggelengkan kepalanya pelan lalu menoleh ke arah istrinya dan merengkuhnya ke dalam pelukan.


"Bee, aku sesak nafas. Kenapa meluknya kencang sekali?" Suara Ara tertahan di balik dada bidang suaminya sambil memukul pelan bahu suaminya.


Jo merenggangkan pelukannya. Ketika sadar dia telah menyakiti istrinya. "Maafkan aku!" Seru Jo dengan tatapan sendu.


Ara mendongak, menatap wajah suaminya dengan keningnya yang berkerut. "Aneh banget sih. Tadi marah-marah sekarang wajahmu benar-benar menyedihkan. Kau memang seekor bunglon yang bisa berubah setiap saat." Kelakar Ara sambil memencet hidung suaminya.


Tapi bukannya tertawa, Jo malah kembali memeluk istrinya. "Berjanjilah padaku betapapun menyebalkan nya aku, jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan aku seperti dulu!"


"Eh, kenapa bilang begitu?"


***


Bersambung...


Eh... Pada bener nih tebakannya. Tunggu up besoknya. Buat cerita Danil dan Amel harap sabar dulu ya! Amih lagi buat kerangkanya dulu. Nanti bisa up lagi.


Kasih dukungannya terus ya biar Amih lebih semangat lagi buat ngehalu.