My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
OBAT PERANGSANG ??



Denting suara jam mendominasi sebuah ruangan yang sepi, tapi ruangan itu berpenghuni, ada tiga orang manusia yang sedang termenung dan semuanya saling diam. Yang satu menyandarkan diri di sandaran sofa sambil berpikir, yang satu duduk menunduk karena gugup, dan yang satu lagi merasa merasa tak sabar menunggu jawaban.


"Jadi bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" Sebuah pertanyaan dari salah satu orang itu memecah keheningan, dan itu adalah suara mommy Ayura.


Orang yang duduk bersandar adalah dokter Ichida dan satu lagi siapa lagi kalau bukan Ara. Tiga sejoli ini sedang berkumpul di rumah dokter Ichida, tepatnya di ruang kerja dokter paruh baya itu. Mereka sedang berunding memikirkan masalah Jojo yang belum pernah melakukan hubungan badan, dan tidak ada gelagat jika suami Ara itu mengajak istrinya bergulat. Sebenarnya Ara ingin segera menuntaskan tugas terakhirnya itu. Bukan karena dia tidak kuat, tapi hanya karena ingin Jojo cepat sembuh dan hidup barunya akan segera di mulai, entah itu bertahan atau pergi karena terlupakan.


Dokter Ichida menegakkan tubuhnya di sofa sambil membenarkan posisi kacamatanya yang terasa miring, dia menatap serius ke arah Ayura.


"Jika memang benar apa yang di katakan Ara, berarti anakmu mempunyai kelainan." Ucap dokter Ichida dengan yakin. Dan sontak dia mengaduh saat lemparan sendal berbulu mengarah pada tubuhnya dan itu berasal dari mommy Ayura.


"Kalau bicara jangan sembarangan! Anakku itu normal." Decak Ara sambil mendengus sebal.


Dokter Ichida mengambil sendal yang terjatuh di kakinya. Lalu melemparnya balik kepada yang punya. Dan Ayura menangkapnya dengan sempurna.


"Apa kamu pernah melihat Jo membawa wanita dan kencan bersama wanita? Atau mendengar dari temannya mungkin?" Tanya dokter Ichida sambil mengangkat sebelah alisnya.


Ayura terdiam, dirinya memang belum pernah melihat atau mendengar Jojo berkencan dengan wanita. Entah kenapa perasaannya jadi merasa tidak enak. Benarkah anak laki-lakinya itu tidak normal? Membayangkan hal itu Ayura jadi bergidik ketakutan.


"Belum kan? Tak perlu menjawab aku juga sudah paham dengan ekspresi wajahmu yang terlihat ragu." Tukas dokter Ichida sambil mencebikkan bibirnya.


"Aku bukan ragu, tapi aku hanya tidak tahu." Bantah Ayura masih tak terima jika anaknya di katakan tidak normal.


"Ah, sama saja." Tukas dokter Ichida meremehkan.


Ayura berdecak tapi dirinya tak bisa berucap apa -apa, percuma saja berdebat dengan dokter saraf ini hanya akan membuatnya sesak nafas.


Dokter Ichida kemudian beralih pada Ara, terselip senyuman yang membuat Ara mengerutkan dahi. Ara sudah tahu kemana arah pembicaraannya nanti.


"Perlu aku kasih cara agar suamimu lebih tergoda gak?" Dan benar pikiran Ara, pertanyaan macam apa itu? Menurut Ara dia sudah melakukan itu, selama ini Ara hanya memberikan sinyal-sinyal kecil pada Jojo, berharap suaminya itu terkoneksi dengan getarannya. Tapi nyatanya tidak, Jojo tidak terlalu peka, dia mungkin sudah berani untuk mencium tapi untuk melakukan yang lebih dari itu, entah kenapa dia tidak mau.


"Tidak perlu." Jawabnya dengan ketus.


Dokter Ichida melengos, lalu menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran sofa. "Kalau kamu tidak mau, kita pakai obat perangsang saja!"


"Ichida ...." Tukas Mommy Ayura dengan nada sedikit membentak.


Dokter Ichida mengangkat sebelah alisnya. "Apa? Kamu mau anakmu cepat sembuh bukan?" Tanyanya dengan nada santai.


Huh, terbuat dari apa otak manusia ini, isinya memang pintar tapi jalan pikirannya terlalu santai dan mengganggap sesuatu dengan ringan. Tapi bukannya itu malah bagus buat kesehatan supaya hidup ini tidak punya beban.


"Memangnya tidak ada cara lain?" Tanya Ayura lagi, kini nadanya tidak terlalu tinggi.


Dokter Ichida mengangkat kedua bahunya, sebelum ia menjawab. "Aku tidak punya cara lain untuk masalah ini, kecuali anakmu itu normal."


Dokter Ichida terjingkat, dan langsung mengarahkan perhatiannya pada Ara. "Benarkah? Berkali - kali? Kapan ? Bagaimana rasanya?" Berbagai pertanyaan langsung di cecar pada Ara, sungguh menyebalkan, dokter saraf ini sepertinya sudah haus akan belaian.


"Tidak ada pertanyaan lain?" Ara mendelikkan mata, menatap jengah pada dokter Ichida.


"Hish ... itu pun belum kau jawab!" Serunya


"Itu tidak bisa di jawab, di luar pembahasan kita sekarang." Ara mengeratkan genggaman tangannya pada pada ujung baju yang dia pakai, rasanya ingin sekali menggaruk wajah dokter berkaca mata itu.


Dokter Ichida terdiam, lalu dia beranjak berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya, lalu mengambil sesuatu dari laci mejanya dan kembali ke sofa.


"Ambil ini!" Dokter Ichida menyodorkan sebuah botol kecil yang entah itu apa isinya pada Ara.


"Apa ini?" Ara menyaut botol itu, lalu memutar - memutarnya sambil menatap aneh pada botol tersebut.


"Obat perangsang." Jawab Dokter Ichida sambil mendudukkan tubuhnya kembali di sofa.


Ara begitu terkejut, hingga botol itu jatuh dari genggaman tangannya sampai ke lantai, untungnya bukan terbuat dari kaca sehingga masih aman walau terjatuh dari ketinggian.


"Yang benar saja? Aku tidak mau memakainya!" Tolak Ara dengan tegas.


"Bukan kamu yang pakai, tapi Jo! Kamu tinggal menikmati saja nantinya." Seru dokter Ichida sambil tergelak tawa, Ara tak kuasa mendengarnya, rona merah kini tercetak nyata di wajah polosnya. Bisa tidak sih, dokter ini tidak bicara se vulgar itu? Ini benar - benar gila, mencekoki suami sendiri dengan obat perangsang. Dimana dia akan menaruh wajahnya nanti jika Jojo tahu istrinya melakukan itu. Seperti seekor kucing betina yang sudah ngebet kawin. Huh, membayangkannya saja Ara sudah malu!


"Pokoknya aku tidak mau!" Decak Ara sambil melipat tangannya di depan dada.


Dokter Ichida mendengus kesal. "Lalu kamu maunya bagaimana? Sedangkan kamu sendiri tidak peka, jika Jo sudah berani menciummu, kenapa kamu tidak melakukan sesuatu? Minimal pancing gairahnya untuk melakukan hal yang lebih." Seloroh Dokter Ichida yang membuat Ara terdiam seketika.


Untuk ucapan dokter Ichida kali ini membuat Ayura tampak menganggukkan kepala, sepertinya kini dia setuju dengan usul sahabatnya itu. Lalu memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Ara.


"Aku setuju dengan usul Ichida, jika kamu tidak bisa membuat gairah Jo bangkit, sepertinya memberi obat itu bukanlah hal sulit."


Ara membelalakan mata, tak di sangka mertuanya pun mengatakan hal yang sama, rasanya ingin sekali dia kabur dari sana.


***


Jika Ara yang mulai duluan, pantes gak sih readers ? mah ngebayangin takut dosa, tapi ini udah buka, boleh dong yah... hihihi.


Maafkan author jika ada salah kata, karena ini hanyalah gurauan semata. Jangan lupa tetap dukung ya klik Like, comment , share dan Vote nya yang banyak.


Happy reading 😉😉