My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Sudah Gila



Iren sejenak terdiam, dia bingung harus menjawab apa, satu sisi dia tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan suami nya itu, di sisi yang lain dia merasa khawatir jika Ara akan mendapat kesulitan saat tinggal di rumah Jojo, karena Ara telah menceritakan semua nya tentang masa lalu Jojo dan keluarganya.


" Bibi sebenarnya ingin pergi bersama mu Ara, tapi apakah nyonya Ayura tidak akan keberatan ?" Tanya Iren setelah dia memikirkan dengan matang permintaan Ara.


" Ara akan membujuk nyonya Ayura, tapi Ara pikir dia pasti setuju, karena rumah itu sangat besar, semestinya dia tidak akan keberatan jika hanya bertambah satu orang lagi. " Tutur Ara meyakinkan Iren.


Iren menghela nafas " Baiklah, aku akan ikut denganmu " Ucap Iren, akhirnya dia setuju untuk tinggal bersama Ara nanti, karena dia berpikir pernikahan Ara nanti bukanlah hal yang mudah untuk Ara hadapi sendiri.


Ara tersenyum senang, dia pun langsung memeluk Iren dengan erat " Terima kasih bibi" ucap Ara lembut, lalu melepaskan pelukannya kembali.


" Kapan rencananya pernikahan itu terjadi ?" Iren bertanya .


Ara menggeleng, dia juga belum tahu kapan di laksanakan pernikahan tersebut " Belum tahu Bibi, tapi besok nyonya Ayura akan kemari lagi untuk mempertemukanku dengan dokter yang dari Jepang itu. "


Iren hanya menggangguk -anggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, habiskan makananmu! Habis itu mandi dan beristirahatlah!" Perintah Iren sambil memegang pundak Ara, dan dia pun beranjak berdiri dari duduknya hendak pergi ke dalam kamarnya setelah menghabiskan makanannya.


Ara mengangguk, kemudian melanjutkan kembali aktivitas makannya.


***


Malam hari


Tok....tok...tok....


Suara ketukan pintu yang terdengar berulang kali, membuat Ara yang sedang berada di dalam kamarnya jadi bergegas keluar dengan terburu-buru " Sebentar " teriaknya.


Sampai Ara di depan pintu, dia membuka kunci pintu dan memutar gagang pintu tersebut sehingga menampakkan seseorang yang berdiri di depan pintu sambil membawa sekeranjang buah-buahan di tangannya. "Hai.." Sapa orang tersebut.


" Kak Danil ?" Ara sedikit terkejut.


" Katanya kau sakit, ini... aku bawakan buah-buahan sehat untukmu " Sahut Danil sambil menyodorkan keranjang yang berisi buah-buahan tersebut kepada Ara.


Ara menerimanya dengan sedikit gugup, dia takut Danil tahu kalau dia tadi berbohong, kemudian Ara mempersilahkan tamu nya tersebut untuk masuk kedalam, dan menyuruhnya untuk duduk.


Danil mendudukkan tubuhnya di kursi kayu panjang, dan Ara duduk di kursi tunggal sebelah nya sambil memangku keranjang buah pemberian Danil.


" Kak Danil mau minum ?"


" Tidak usah, aku hanya mampir sebentar, takut mengganggu istirahatmu, kamu kan sedang sakit. " Danil masih menyangka Ara benar-benar sakit.


Ara hanya tersenyum kikuk, " Kamu sakit apa ?" Tanya Danil lagi.


Pertanyaan itu membuat Ara sedikit kelabakan, " Ehm....ehm... aku ... aku sakit perut kak Danil, iya sakit perut " Jawabnya dengan gugup.


" Sakit perut ?" Danil mengernyitkan dahi. "Apa kau salah makan ?" Tanya nya lagi.


Ara menggeleng-geleng kan kepala nya "Tidak kak Danil, aku..aku sedang datang bulan, jadi aku sakit perut ." Jawab Ara mencari alasan.


" Benarkah ? bukannya minggu lalu kamu bilang sedang datang bulan juga, saat aku mengantarmu belanja keperluan bulananmu di supermarket. " Danil semakin curiga, dia menyipitkan kedua matanya menangkap sesuatu yang aneh dalam raut wajah Ara yang terlihat gugup. " Kamu bohong lagi kan ?" Tanya Danil lagi.


Ara tersentak, entah Danil yang memang pandai membaca raut wajah Ara, atau Ara yang tak pandai untuk berbohong, yang pasti setiap kebohongan Ara pasti di ketahui oleh Danil. Ara semakin kelabakan, dia menundukkan wajahnya tak berani menatap Danil.


Danil memandangi Ara yang merasa bersalah, karena ketahuan berbohong padanya, dia kecewa, sebegitu tidak pentingnya kah Danil bagi Ara hingga dia harus selalu berbohong untuk menutupi kebenaran yang mungkin itu adalah sebuah masalah besar yang selalu ingin Ara hadapi sendiri.


" Kamu sudah tidak mengganggap aku sebagai kakakmu ?" Danil tak pernah putus asa berusaha mendekatkan dirinya pada Ara, baginya asalkan melihat Ara senang dan selalu merasa dekat dengannya itu sudah cukup. Walaupun Ara hanya mengganggap sebagai kakak saja.


Ara mendongak, " Tentu saja " ucap nya yakin. Dia sudah kehilangan segalanya, Ara tak mau juga kehilangan orang-orang yang kini dengan tulus selalu membantunya di kala dia dalam keadaan terpuruk.


" Kalau begitu katakan, kenapa kamu tidak masuk bekerja hari ini ?" Tanya Danil dengan wajah tampak serius.


Ara menelan ludahnya dengan berat, menatap mata Danil yang penuh dengan rasa penasaran "Jojo kemarin kecelakaan kak Danil, tapi tidak ada luka yang serius , tadi aku sudah mengantarkannya pulang ke rumah nya. " Tutur Ara dengan hati-hati.


Danil mengerutkan dahi " Kecelakaan ? Kecelakaan apa ?" tanya nya lagi.


" Dia menolongku, saat ada besi penyangga yang hendak jatuh menimpaku, Jojo mendorongku dan merelakan tubuhnya yang tertimpa besi itu " Jawab Ara apa adanya.


" Maaf kak Danil, aku cuma tidak mau merepotkan dirimu, Jojo adalah urusanku, aku yang menemukannya dan sekarang dia terluka aku juga yang harus merawatnya, terlebih dia terluka karena hendak menolongku " Tutur Ara


Danil mendengus " Kamu selalu seperti itu ".


Melihat ekspresi wajah Danil yang cemberut, alih - alih merayu Danil agar tak marah, dia malah tertawa pelan, membuat Danil semakin kesal di buatnya. " Kenapa tertawa? Apanya yang lucu ?" tanya Danil sambil melototkan kedua matanya.


Ara malah semakin merasa lucu " Melihatmu seperti itu, aku jadi teringat Jojo, jika dia sedang marah dia sangat lucu. " Ara terkekeh geli, membayangkan wajah Jojo yang menggemaskan.


Danil mencoba tersenyum, Jojo selalu menjadi perhatian Ara, bahkan saat dirinya tak bersama Jojo, pikiran Ara tetap bersamanya.


" Kamu sebegitunya menyayangi Jojo, Ara ?" Tanya Danil, kini dengan raut wajahnya yang kembali datar.


Ara berhenti terkekeh " Aku hanya peduli " sanggah nya dengan cepat.


" Peduli ?"


" Iya..." Ara mengangguk pasti.


Tak sempat Danil melontarkan kata-kata lagi, derap langkah kaki Iren yang menghampiri ruang tamu membuat keduanya menoleh.


" Eh...ada nak Danil " Sapa Iren, dia melihat ke arah meja yang hanya beralaskan taplak meja yang tidak ada penghuni nya.


" Kok tamu nya gak di kasih minum Ara " Imbuh Iren, lalu dia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggal yang berhadapan dengan Ara, tapi terhalang oleh meja di depannya.


" Iya bibi, dari tadi aku tidak di tawari minum, aku di buat kekeringan di sini " Tukas Danil pura -pura merajuk, matanya sedikit melirik Ara, dan terselip sebuah senyuman usil di bibirnya.


Ara membulatkan matanya, pintar sekali Danil bersandiwara, ingin sekali dia mengumpat, tapi disana ada Iren yang sedang menatap nya dengan lekat, menunggu sebuah alasan dari pertanyaan yang dia lontarkan.


Ara berdecih " Bukankah kak Danil sendiri yang menolak saat aku tawari minum ?"


" Tidak, Kapan ?" sanggah Danil, malah pura-pura lupa.


Ara mendengus, ingin sekali dia mencakar wajah bos nya itu, " Sudah....sudah, biar bibi yang ambil kan air " Tukas Iren, hendak beranjak dari duduknya.


" Biar Ara saja bi, bibi duduk saja " Sahut Ara, membuat Iren duduk kembali. Ara menyimpan keranjang buah yang dia pangku di atas meja, lalu beranjak pergi menuju dapur untuk mengambilkan minum buat Danil. Danil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi saat Ara sejenak melirik ke arahnya, kemudian melengos kembali melanjutkan langkahnya. Danil menatap kepergian Ara, rasanya dia puas telah membalas kekesalannya pada Ara yang telah berbohong perihal sakitnya itu.


Setelah Ara berlalu, Danil mengalihkan pandangannya pada Iren, " Bibi, bagaimana kesehatanmu ? apa sekarang masih sering tidak enak badan ?" Tanya Danil dengan sopan.


Iren tersenyum, " Bibi sudah sehat nak Danil" Jawabnya kemudian.


" Apalagi sebentar lagi Ara akan menikah, bibi harus selalu sehat agar bisa mendampingi nya nanti " Imbuh Iren, yang membuat mata Danil seketika membulat.


" Menikah ? dengan siapa ? " Tanya Danil dengan cepat, dia sangat terkejut mendengarnya.


Iren mengerutkan dahi " Apa Ara tidak cerita padamu nak? " tanya Iren, dia takut salah bicara, mungkin saja Ara menutupinya dari Danil.


Danil menggeleng " Tidak " Jawabnya.


Belum sempat Iren berkata lagi, Ara sudah kembali dengan membawakan secangkir kopi pahit kesukaan bos nya tersebut. Dia menyajikan minuman itu di atas meja tepat di hadapan Danil.


" Ara, apa benar kau akan menikah ? dengan siapa ? " Pertanyaan Danil membuat Ara tersentak, dia mendongakan kepalanya ke arah Danil, sehingga sejenak kedua nya saling beradu pandang .


" Benar " Jawab Ara datar. Dia menegakkan tubuhnya, dan melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya yang semula.


" Dengan siapa ?"Tanya Danil mengulangi pertanyaannya dengan penuh rasa penasaran.


Ara terdiam, kemudian menoleh ke arah Danil lalu tersenyum " Dengan Jojo. "


Seketika Danil membelalakan matanya kemudian beranjak berdiri " Apa kamu sudah gila ?" tanya nya penuh emosi.


***


bersambung dulu


Tinggalkan jejak yang manis ya readers tersayang...makasih