
Perasaan manusia bisa berubah begitu saja, rasa cinta datang tanpa harus bertanya dan tahu kapan memulainya, seperti roda yang tak pernah tahu dari mana titik awal dia berputar. Dan air yang mengalir tanpa arah namun akhirnya bermuara di lautan juga. Semua akan menemukan titik tujuan nya, dimana cinta sejati itu berada.
" Selamat pagi Jojo. " Ucap Ara dengan senyum mengembang di bibirnya. Pada saat Jo pertama kali membuka matanya terbangun dari mimpi indahnya.
" Ngapain di sini? " Tanya Jo ketus. " Aku sudah tidak sakit. " Imbuhnya sambil mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Karena saat Jo sakit Ara tiap pagi selalu mengecek kondisi tubuh Jo dengan telaten. Dan pagi ini Jo merasa tubuhnya sudah benar-benar sembuh.
Ara tak menghiraukan omongan Jo, dia berjalan ke sisi jendela dan menyingkapkan tirai yang menutupi jendela itu hingga cahaya mentari bisa dengan bebas menyeruak di kamar itu. Dan itu membuat Jo sedikit terganggu, dia menutup matanya dengan pergelangan tangan karena merasa silau akan cahaya mentari yang langsung menusuk matanya.
" Ini kan akhir pekan, apa kamu tidak mau olahraga pagi bersamaku? " Tanya Ara sambil berbalik membelakangi jendela dan menghadap ke arah Jo.
Jo melengos, " Aku masih ngantuk, pergi saja sendiri! " seru Jo hendak meringkuk lagi dan masuk ke dalam selimutnya.
Dengan langkah cepat Ara mendekati Jo dan langsung menarik selimut yang hampir menutupi seluruh tubuh Jo . " Kamu harus ikut, kamu butuh olahraga biar tubuhmu tidak lemah. " Ajak Ara dengan paksa.
Jo mendengus kesal, dia kembali terduduk dan menatap Ara dengan tatapan datar. " Aku sering olahraga, hari ini aku sedang malas. Kau pikir aku lemah? Enak saja, aku ini kuat. " Seru Jo tak terima.
" Orang kuat tidak pernah sakit. " Cibir Ara sambil melipatkan tangannya di depan dada.
" Aku juga manusia, memangnya aku robot yang tidak bisa sakit. "
" Makanya ayo kita olahraga! Manusia butuh itu untuk kesehatannya. " Sahut Ara tak mau menyerah.
Ck, Jo merengut kesal, dia sangat tidak suka dengan paksaan. Walaupun kadang dirinya juga suka memaksa orang. Tapi tunggu dulu, kenapa Ara jadi berubah baik padanya sekarang, bukannya kemarin - kemarin wanita itu sangat membenci Jo dan selalu berusaha untuk menghindari nya. Tapi pagi ini wanita ini datang dengan senyum ramahnya bahkan mengajaknya berolahraga.
" Kamu kesambet setan apa? Bukannya kamu sangat membenciku, sekarang tiba-tiba baik begini, pasti ada maunya? " Tanya Jo penuh curiga. Dia menatap Ara dari bawah hingga ke atas.
Ara menghela nafas panjang, " Terserah kamu deh, aku baik salah, judes sama kamu juga salah. Kamu maunya apa ? " Ara menurunkan kedua tangannya lalu duduk di tepi ranjang. Menghadap ke arah Jo dan menunggu jawaban lelaki itu sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Jo merasa risih, ada yang aneh dengan sikap istrinya itu. Di tatap seperti itu tentu saja membuat Jo kelabakan, dirinya selalu terlihat gugup saat Ara menunjukkan wajah imut dan lugunya itu. Apalagi jarak mereka begitu dekat, membuat jantung Jo berdetak lebih cepat.
" Awas sana! Aku siap - siap dulu. " Jo mendorong tubuh Ara dengan pelan, membuat Ara sedikit menggeserkan tubuhnya menjauhi tubuh suaminya. Akhirnya Jo menyerah juga.
Sambil mengulum senyum Ara memperhatikan gerakan Jo yang bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dokter Ichida benar Jo harus di sikapi dengan lemah lembut agar dirinya merasa nyaman agar emosinya bisa di kendalikan.
Setelah keluar dari kamar mandi, Jo berjalan menuju lemari untuk mengambil kaos yang akan dia kenakan sambil bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek yang dia pakai saat tidur semalam. Karena tadi Jo hanya cuci muka saja di kamar mandi.
Ara begitu terkesiap saat melihat suaminya seperti itu, bayangan kemesraan mereka dulu tiba-tiba saja melintas di pikiran Ara. Hingga dia tersadar dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan kenangan manis yang kini hinggap di kepalanya.
Jo tanpa malu mengenakan pakaiannya di depan Ara, laki-laki itu seperti sengaja, menguji Ara yang selalu dia anggap sebagai wanita penggoda. Jo tersenyum pelik saat melihat Ara ternyata memilih memalingkan wajahnya daripada harus melihat tubuh kekarnya.
" Ayo.... ! " Ajak Jo yang kini sudah siap dengan baju olah raganya. Kaos lengan pendek dan celana panjang tidak lupa dengan sepatu kets yang dia kenakan menambah ketampanan pria semakin sempurna saja.
" Aku tidak akan merasa tersanjung hanya gara-gara kamu menatapku seperti itu. " Kata-kata Jo sukses membuat Ara kembali ke alam sadarnya.
Ara melengos sambil memutar kedua bola matanya. " Narsis... " Cibir Ara pelan. Lalu beranjak berdiri dan berjalan mendahului Jo.
" Ayo jalan! " Ajaknya kemudian.
***
Sekitar dua jam lamanya mereka pergi keluar rumah, mereka hanya berkeliling sekitar kompleks rumah Jo saja, hal ini memang jarang sekali di lakukan oleh Jo, karena biasanya dia hanya akan melakukan olahraga di halaman belakang rumahnya yang terbilang cukup luas itu.
" Bagaimana ? Apa kau senang? " Tanya Ara dengan napas terengah-engah sambil menyandarkan tubuhnya di kursi depan rumah mereka, saat mereka sudah selesai lari-lari kecil keliling kompleks. Jo juga melakukan hal yang sama di kursi kosong sebelah Ara.
" Aku lelah, mana ada olahraga senang. Dasar wanita aneh. " Sahut Jo sambil mengelap sisa keringat yang masih mengucur di dahinya.
Hening....
Hening....
Tak berapa lama Ara menegakkan tubuhnya kembali lalu memiringkan duduknya menghadap ke arah Jo sambil mengatur napasnya yang masih keluar tak beraturan. " Jojo. " Panggil Ara dengan nada lebih serius.
" Hem.... " Jo hanya bergumam sambil memejamkan matanya dan merilekskan tubuhnya yang masih kelelahan.
" Aku mau ke rumah bibi Iren, lalu berziarah ke makan orang tuaku. Apa kau mau ikut? "
Kata-kata itu sontak membuat kedua mata Jo terbuka dengan sempurna. Lalu menoleh kearah Ara. Sudah lama dia tak pernah ikut berkunjung ke rumah wanita tua yang dulu pernah menampungnya. Walaupun Jo juga tak terlalu banyak mengingat hal itu.
" Boleh. " Jawab Jo singkat. Lalu beranjak berdiri dan hendak masuk ke dalam rumah. " Aku mandi dulu. " Tambahnya kemudian saat melewati Ara dan hilang di balik pintu.
Ara tersenyum senang, mungkin dengan cara sederhana seperti ini saja bisa membuat pikiran Jo lebih terbuka dengan kehidupan luarnya, hingga dia bisa membuka diri dan tidak terus tertekan dengan bayangan masa lalu yang sebagian telah di ganti itu. Yang membuatnya bingung dengan kenyataan baru yang dia hadapi sekarang ini.
***
Dikit dulu ya teman, yang penting update kan.. Hehehe
Dukung terus ya, biar author nya juga senang bukan cuma perasaan Si Jojo aja yang di bikin senang, authornya juga dong 🤗🤗
Klik like, kasih komentar walaupun cuma next doang udah bikin senyum author mengembang loh, apalagi di tambah rate 5 sama Vote poinnya yang banyakan tambah melebar tuh senyuman asal jangan di anggap gila aja ya karena suka senyum- senyum sendiri ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤. ... Salam hangat dari Amy. 🥰🥰🥰