My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
TAMU SPESIAL



Waktu berjalan sesuai rencana, detik demi detik terlewati tanpa di sadari. Sang Surya yang begitu tinggi kini mulai tergelincir lagi. Dia kembali ke peraduan nya yang sejati.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima dan ternyata Jo baru keluar dari kantornya. Ini sungguh di luar prediksinya. Di saat dia hendak bersiap untuk pulang di saat itu pula ada tamu yang datang.


Tamu tersebut begitu penting bagi perusahan nya, dan Jo tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Oleh karena itu ia terpaksa menemani tamunya dulu untuk membahas sesuatu.


Jo tiba di rumahnya sekitar pukul setengah enam. Sebelum ia pergi ke kamar pribadinya. Jo pergi dulu ke taman belakang rumahnya. Ia memetik salah satu bunga mawar tercantik koleksi istrinya.


Jo memutar gagang pintu kamar dengan hati-hati seperti seorang yang hendak mencuri. Lalu melongokkan kepalanya ke dalam mengintip apa yang istrinya lakukan sekarang.


Dan ternyata istrinya tidak ada, sejenak Jo merasa lega. Lalu dengan santainya mengusap dada. Jo menggusur tubuhnya masuk lalu menutup pintunya pelan-pelan. Tanpa ia tahu tiba-tiba istrinya sudah ada di belakangnya saat ia membalikkan badan.


Jo tersentak lalu tersenyum cecengesan. "Sayang, kok kamu tahu-tahu ada di situ?" Tanya nya basa basi.


Ara mencebikkan bibir, ia simpan tangannya di depan dada lalu balik bertanya. "Memangnya kamu maunya aku dimana?"


Jo tak bisa menjawab, ia tahu dimana letak kesalahannya. Istrinya pasti sangat marah.


"Kenapa diam? Lalu untuk apa kamu membawa bunga?" Ara bertanya lagi, karena melihat suaminya hanya berdiam diri dengan bunga di tangannya.


Jo terhenyak matanya tertuju pada setangkai bunga mawar segar yang baru ia petik dari pohonnya. "Ini.... Ini buat kamu sayang. Jangan marah ya! Tadi benar-benar ada urusan mendesak jadi aku tidak bisa pulang cepat." Tutur Jo menjelaskan mengenai keterlambatannya.


Ara mengernyitkan kening, sepertinya ia kenal dengan bunga mawar yang Jo bawa. Dilihat dari warnanya yang berbeda dan tangkainya yang masih basah. Ara curiga jika bunga itu berasal dari belakang rumah.


"Kau dapat bunga ini dari mana?" Tanya Ara sambil mengambil bunga itu lalu memperhatikannya.


"Dari taman belakang." Jawab Jo dengan santainya.


Ara terkesiap matanya membulat seperti bola. Berani-beraninya Jo memetik bunga kesayangannya.


"Bee, kamu memetik bunga yang di pot warna putih?"


"Iya. Kenapa?" Raut wajah Jo mulai ketakutan, sepertinya ia membuat kesalahan.


Ara terhenyak, ia langsung menerobos tubuh suaminya untuk pergi keluar menuju taman belakang. Di susul oleh Jo yang merasa kebingungan.


Sesampainya di taman, Ara menjerit histeris sambil menatap bunga kesayangannya yang hanya tinggal pohonnya saja.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Jo yang terkejut dengan teriakan istrinya.


Ara mendengus kesal. Jo masih saja belum menyadari kesalahan keduanya. "Kenapa kamu petik bunga ini? Apa kau tidak tahu kalau mawar biru ini sangat langka, dan merawatnya juga susah." Omel Ara.


"Eh.... Begitu ya?" Jo menggaruk keningnya yang tak gatal. Niatnya ingin membuat istrinya senang malah membuatnya semakin kesal.


"Aku tidak tahu, ku pikir semua bunga sama. Karena bunga itu terlihat berbeda makanya aku suka dan memberikannya padamu sebagai hadiah." Seru Jo merasa menyesal.


"Tapi tidak harus bunga ini bee.. " Ara begitu kesal hingga kata-katanya terdengar penuh penekanan.


"Terus aku harus harus bagaimana? Tidak mungkin kan bunganya bisa di sambung lagi? Aku janji deh bakal ganti." Ucap Jo sambil menangkup kedua pipi Ara yang terlihat cemberut. Dan hal itu membuat emosi istrinya sedikit menyurut.


"Baiklah, kamu harus ganti dengan seratus pohon bunga mawar biru seperti ini. Bagaimana?" Ara menurunkan tangan Jo yang menempel di pipinya. Lalu tersenyum menyeringai sambil menatap wajah suaminya.


Jo begitu terperangah mendengar permintaan istrinya. "Yang benar saja, aku cuma memetik satu tangkai kau minta ganti seratus. Itu namanya pemerasan." Sahut Jo sambil melototkan kedua matanya.


"Kalau begitu anggap saja ini sebagai permintaan calon anakmu. Selama ini kan dia tidak pernah minta apa-apa dari papinya." Seru Ara sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.


Jo mendengus, permintaan istrinya sungguh ada-ada saja. Sekalinya meminta membuatnya sakit kepala.


"Ya sudah nanti aku carikan. Yang penting kamu sudah tidak marah lagi kan?" Jo bertanya memastikan sambil merangkul bahu istrinya.


Ara mencebikkan bibir sambil sejenak berpikir. "Sepertinya tidak, tapi kalau kamu ingkar janji aku pasti akan marah lagi." Seru Ara dengan nada mengancam.


"Iya." Balas Jo sambil menganggukkan kepala. "Ayo kita bersiap katanya mau kerumah papa!" Katanya mengingatkan.


"Ah iya." Gara-gara tragedi bunga Ara jadi lupa dengan niatnya. Sebenarnya Ara begitu kesal karena Jo pulang terlambat. Tapi Jo malah membuat kesalahan yang lebih fatal dan membuat kemarahan Ara jadi kian meradang. Hah, untung saja cinta kalau tidak mungkin Ara akan mencari suami lain saja.


***


Ara dan Jo tiba di rumah mendiang papanya Ara sebelum jam makan malam. Karena paman Wijaya sudah mengabarkan jika akan ada tamu spesial yang datang. Dan Ara di minta untuk hadir untuk di kenalkan pada mereka.


Ara di sambut hangat oleh Elena. Tapi tidak berikut Jo, lelaki itu merasa diabaikan oleh wanita yang kini menjadi iparnya tersebut. Dan hal itu membuat mood nya jadi kusut.


Elena membawa sepasang suami-istri itu ke meja makan dan disana sudah menunggu tamu yang akan diperkenalkan. Sebenarnya Ara dan Jo mungkin sudah sangat kenal. Tapi apa salahnya jika sekarang di pertemukan.


Jo menghentikan langkahnya saat dari kejauhan matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Ia sedikit memicingkan mata, berharap ada yang salah dengan penglihatannya.


"Bee, kenapa berhenti?" Ara yang berjalan berdampingan dengan Jo jadi ikut tertahan.


"Sepertinya mereka tidak asing." Seru Jo sambil memperhatikan kedua orang yang sedang bercengkrama dengan paman Ara di meja makan. Dan ucapan itu terdengar oleh Elena yang ikut berhenti di samping Ara.


"Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja tidak asing mereka kan paman dan sepupu mu." Elena berkata dengan ketus.


Mendengar itu Jo jadi geram. Entah kenapa setiap melihat orang itu dirinya jadi naik pitam. Dan sang istri yang sudah paham hanya bisa menenangkan.


"Tenanglah bee! Ingatlah ada keluargaku di sini. Jangan berulah lagi!" Ucap Ara sambil berbisik, ia mengelus pelan lengan suaminya, berharap suaminya bisa meredam emosinya. Setidaknya sampai mereka tahu apa maksud dari kedatangan kedua orang itu.


Jo menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Dan dari kejauhan kedua orang yang berada di sana menatap kedatangan Jo dan istrinya dengan raut wajah heran.


***


Hayo Jacob mau ngapain tuh? 😁😁😁


Ayo dong nak-anak votenya jangan ampe kendor. Amih juga gak kendor nih buat up terus. 😄😄