My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
AKU INGIN PUNYA ANAK.



Ara tersenyum kikuk, lalu menelan ludahnya dengan begitu berat. "Kau sudah pulang?" Tanyanya mengalihkan kecanggungan.


"Seperti yang kau lihat, aku sudah ada disini sekarang." Jawab Jo sambil tersenyum penuh arti. Kakinya terus melangkah ke depan dengan pandangan mata tertuju ke arah Ara. "Kamu sengaja menggodaku ya?" Tambah Jo sambil mengangkat kedua alis tebalnya. Posisinya kini sudah berada tepat di hadapan Ara.


Ara semakin gugup, jantungnya tak bisa di ajak tenang, berdegup kencang tak bisa dikendalikan. Dan Ara yakin jika kini wajahnya telah bersemu merah. Walaupun bukan pertama ia di tatap seperti itu oleh Jo, tapi tetap saja ia selalu malu jika Jo melakukannya. Bagaimanapun hubungan mereka baru membaik belum lama. Itu artinya madu asmara sepasang suami-istri itu baru saja di mulai saat ini. Layaknya pengantin baru yang masih haus akan belaian. Tubuh Jo selalu dibuat meremang jika melihat istrinya yang begitu menggairahkan. Astaga Jo seperti serigala yang baru menemukan betinanya saja.


"Ehm.... Aku... Aku tidak tahu kalau kau akan pulang cepat. Apa kau lapar? Sebaiknya aku ambilkan makanan untukmu." Seru Ara berusaha menghindar. Tapi sayangnya tangan Jo lebih cepat menangkap pinggang wanita yang telah menjadi istrinya itu. Lalu merapatkan tubuh Ara dengan tubuhnya.


"Aku memang lapar, tapi tidak mau makan makanan." Ucap Jo begitu lembut terdengar di telinga Ara. Tatapan mata Jo sudah di tutupi kabut asmara tak bisa lagi mencerna setiap kata yang ia lontarkan dari mulutnya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Ara polos.


"Makan kamu saja." Tanpa ragu lagi Jo langsung melahap bibir Ara dengan rakusnya. Jo sudah tidak tahan, Ia tak peduli apakah Ara setuju atau tidak dengan sikapnya tersebut. Tapi Jo sangat yakin jika Ara tidak akan marah seperti kemarin.


Ara membulatkan matanya dengan sempurna, meski ia tahu sejak tadi sorot mata sudah terlihat berbeda dan sudah pasti hal ini akan terjadi selanjutnya. Tapi tetap saja wanita itu begitu terkesiap jika mendapatkan serangan secara tiba-tiba.


Jo memperdalam ciuman mereka, dan tangannya mulai merambah kemana-mana. Dengan tangan kekarnya Jo angkat tubuh Ara tanpa melepas pagutan mereka. Ara sedikit terhenyak tapi malah membuatnya berpegangan lebih kuat pada leher suaminya.


Jo membaringkan istrinya di atas ranjang, dan melepaskan ciumannya untuk sekedar mengatur nafas mereka. Posisi Jo kini sudah berada di atas tubuh Ara. Menatap tubuh mungil yang berbalut handuk kecil dengan tatapan penuh gairah. Dengan kondisi seperti itu membuat tubuh Ara terlihat begitu sexy di mata Jo.


Ara memegangi handuk yang menutupi bagian dadanya yang hampir terlepas. Wajahnya terasa sangat panas karena menahan malu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tak sanggup menatap dua netra pekat yang menatapnya tajam seperti akan menerkam nya hidup-hidup.


"Tatap aku!" Jo membalikkan wajah Ara agar menghadap ke arahnya. Ia raih tangan Ara dan di kuncinya di atas kepala Ara dengan sebelah tangannya.


"Uhm.... " Jo kembali menyatukan bibir mereka tanpa aba-aba. Mel*mat dan menyesapnya dengan lembut hingga memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat bibir Ara sedikit terbuka. Ara mulai terbuai dan mengikuti permainan Jo dengan membalas perlakuannya. Membuat Jo lebih semangat melakukan aksinya tersebut.


Cukup lama mereka melakukan pemanasan. Gairah mereka sudah mencapai titik butuhnya pelepasan. Hingga Ara tidak sadar sejak kapan handuk yang ia pakai sudah terlepas dari tubuhnya.


Jo mulai melakukan penyatuan, tubuh Ara menggelinjang dengan desahan nafas yang terdengar pasrah. Suara lenguhan yang kian lama kian membuncah membuat Jo semakin mempercepat gerakannya. Hingga akhirnya keduanya mencapai kenikmatan yang tiada tara di akhir pelepasan mereka.


Setelah melakukannya, keduanya pun tertidur lelap. Hingga hari menjelang petang Ara terbangun karena ulah perutnya yang keroncongan. Ara belum makan dari tadi siang. Gara-gara serangan Jo yang tiba-tiba Ara jadi melewatkan makan siangnya.


"Uh, perutku sakit sekali." Gumam Ara pelan. Ia tak mau membuat suaminya yang masih terlelap terbangun karena mendengar suaranya.


Dengan perlahan Ara melepas tangan Jo yang melingkar di tubuh polosnya. Tapi ternyata Jo malah terbangun karenanya.


"Mau kemana?" Tanya Jo yang sudah membuka mata.


Ara sedikit tersentak lalu menoleh dan tersenyum pada suaminya. "Aku lapar." Jawabnya.


Jo ikut tersenyum, lalu mendudukkan tubuhnya dan mengecup kening Ara. "Akan aku ambilkan, kau tunggu di sini!" Ucap Jo seraya memakai bajunya kembali. Dan tak lama pergi meninggalkan Ara seorang diri.


"Uuhh, Jojo benar-benar manis jika seperti ini." Ucap Ara sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Tak berapa lama Jo sudah kembali dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya. Kepalanya menggeleng pelan saat melihat istrinya masih berbalut selimut duduk di atas ranjang.


"Kenapa belum pakai baju? Mau aku 'makan' lagi hem?" Tanya Jo setelah menyimpan makanannya di atas nakas. Dan duduk di tepi ranjang.


"Ah.... iya." Ara sontak terperanjat, ia kini tahu arti 'makan' yang Jo maksud. Ara bergegas turun dari ranjang dengan membelitkan selimut di tubuh polosnya itu. Melangkah menuju lemari baju dan mengambil bajunya tanpa memilih lagi. Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi.


"Mau kemana?" Tanya Jo yang sejak tadi memperhatikan gerakan istrinya.


"Mau pakai baju di kamar mandi." Jawab Ara apa adanya.


"Disini saja! Aku sudah melihat semua sisi tubuhmu, bahkan sudah merasakannya. Kenapa masih malu?" Seru Jo dengan bangga. Dan hal itu membuat wajah Ara semakin memerah saja. Apa Jo tidak tahu jika Ara sangat malu jika terus membahas hal itu?


"Aku tidak mau." Ara tak mau mendengar perintah suaminya dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dan memakai bajunya disana. Jo terkekeh melihat tingkah istrinya yang begitu lucu.


Setelah selesai memakai baju, Ara keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Jo yang masih duduk di tepi ranjang. "Makannya di balkon saja." Ucap Jo sambil membawa nampan yang berisi makanan yang sempat ia simpan di atas meja tadi.


Ara menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah suaminya menuju ke arah balkon kamar mereka. Suasana sore hari yang begitu tenang, dan sinar mentari yang mulai redup dan berwarna jingga kemerahan membuat keindahan langit di ufuk barat itu kian terpancar.


Jo dan Ara duduk saling berhadapan di kursi santai yang sering mereka pakai untuk melepas segala kepenatan dengan melihat pemandangan alam semesta yang begitu menenangkan.


"Buka mulutmu!" Perintah Jo sambil mengacungkan sendok yang sudah berisi makanan di hadapan wajah Ara.


"Aku bisa sendiri." Seru Ara menolak.


"Aku tidak suka penolakan." Jo menajamkan kedua alisnya. Dengan terpaksa Ara pun membuka mulutnya dan melahap makanan yang telah Jo sodorkan di depan mulutnya. Untuk beberapa saat tak ada percakapan diantara keduanya, hingga Jo membuka suara dan memulai percakapannya dengan tangannya yang masih sibuk menyuapi Ara.


"Ara, aku ingin punya anak. Apa kamu sudah hamil?"


"Uhuk... " Ara tersedak makanannya sendiri saat mendengar perkataan Jo tentang anak. Hah, apa laki-laki ini sudah hilang ingatan lagi? Bukannya baru kemarin mereka melakukan usahanya. Jo baru saja menabur benihnya di rahim Ara. Tinggal tunggu saja hasilnya. Mana mungkin bisa jadi sesingkat itu. Apa dia lupa tentang penjelasan dokter kandungan waktu itu? Batin Ara.


"Pelan-pelan!" Seru Jo sambil memberikan gelas berisi air putih pada Ara. Dan meminumnya hingga airnya tinggal setengah saja.



Di kira buat anak kayak bikin kue kali ya, sekali cetak langsung jadi. Jojo... Jojo.


Ayo dong readers kuh vote lagi karya Amih yang receh ini. Biar Amih tambah lancar lagi ngehalu nya. Kritik dan saran kalian tetap di tunggu buat memperbaiki tulisan Amih yang masih berantakan ya....Jangan lupa teken tombol like nya juga. Makasih.