
"Kamu bohong kan?" Tanya Jojo penuh curiga.
Ara tersenyum kecut, "Untuk apa aku bohong. Aku mendapatkannya sebelum kita pergi ke bandara. Apa perlu aku tunjukkan?" Ara berbicara dengan sungguh-sungguh dan berharap suaminya akan percaya.
"Mana? Coba aku lihat?"
Ara mengernyitkan dahi, tak di sangka suaminya malah berani. Dasar laki-laki aneh, kenapa ia tidak merasa jijik ingin melihat hal semacam itu. Dan tentu saja Ara tak akan membiarkannya karena ia pasti malu.
"Ish.... Aku gak mau. Malu lah." Decak Ara sambil mendengus.
"Tadi katanya mau di tunjukin, gimana sih?" Jojo mencebik.
"Ya, dikirain kamu bakal nolak." Ucap Ara sambil cengengesan.
"Ck, sudah tahu kedatangan tamu, kenapa gak bilang dari awal? Kita kan bisa cancel liburan kita. Kalau kamu nya datang bulan, ngapain kita kesini coba?" Jo merasa kesal, ia merubah posisinya yang berbaring miring jadi telentang.
"Mana bisa seperti itu, semua sudah di rencanakan dari awal mana mungkin bisa gagal begitu saja cuma gara-gara aku datang bulan. Kita kan kesini mau jalan-jalan." Tutur Ara merasa tak bersalah.
Jojo mendengus kesal. "Kita kesini mau bulan madu sayang. Ngerti gak sih?" Jojo sejenak terdiam, sambil memejamkan matanya dan memijat pelipisnya yang sedikit pusing. "Tadinya aku mau mengajakmu tidur di hotel saja. Biar tidak ada yang mengganggu. Tapi sekarang malah kamu sendiri pengganggunya." Lanjut Jojo lagi dengan nada kecewa.
Ara mengulas senyum lucu, sebenarnya ada rasa kasihan saat melihat suaminya seperti itu. Tapi mau gimana lagi. Dirinya memang sedang datang bulan.
Ara mengelus puncak kepala Jojo dengan telapak tangannya lalu mengecup keningnya sekali. "Bulan madu tidak perlu jauh-jauh sayang. Nanti di rumah juga bisa." Perlakuan Ara seperti itu malah membuat hasrat Jojo naik lagi.
Jo mendesis. "Kamu kayak gini malah bikin aku semakin mau. Gimana dong? Bantuin aku lah!" Jo menatap Ara dengan tatapan penuh mendamba, berharap istrinya punya belas kasihan melampiaskan hasratnya yang butuh pelepasan.
Dan Ara tentu saja jadi tertawa, karena memang itulah tujuannya. Jahat sekali kan dia?
"Ya maaf." Ucap Ara dengan entengnya. "Aku gak bisa kayak gitu-gitu. Sendiri aja ya!" Tambah Ara begitu tega.
Jojo mengerang frustasi, wajahnya tampak menderita sekali.
Ara bergegas turun dari tempat tidur, dan berencana untuk kabur. Sebelum suaminya meminta hal-hal aneh yang akan membuatnya kelelahan tanpa merasakan apa-apa. "Aku belum ngantuk, mau keluar aja lihat-lihat rumah ini." Serunya sambil berlari ke arah pintu.
Ara begitu terburu-buru hingga sahutan suaminya yang terdengar berkali-kali tak membuatnya berhenti. Akhirnya Jojo bergegas masuk ke kamar mandi dan menuntaskan nya sendiri. Hah Ara, kau tunggu saja balasan suami mu nanti. Batin Jojo.
Ara tertawa cekikikan di luar kamarnya, lalu ia dikagetkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Ngetawain apa kamu?" Tanya orang itu yang ternyata adalah dokter Ichida.
Ara sontak diam, dan selanjutnya tersenyum canggung pada dokter berkaca mata itu. "Tidak apa-apa, aku habis bercanda saja dengan Jojo." Jawab Ara asal.
"Cie, kemajuannya ternyata di luar ekspetasi ya? Ceritakan padaku sampai dimana hubungan kalian? Sepertinya Jo posesif sekali padamu?" Goda dokter Ichida sambil merangkulkan tangannya di leher Ara. Dokter ini mulai kembali gilanya.
Ara mencebik, lalu melepaskan rangkulan tangan dokter Ichida dengan sopan. "Memangnya perlu ya, aku cerita padamu semuanya?" Tanya Ara sambil mendelik kesal. Dokter Ichida pun jadi tertawa.
"Kau lupa ya, kalau aku dokter saraf dari suamimu? Kalau suatu saat terjadi sesuatu pada otaknya lagi bagaimana? Setidaknya jika kamu katakan sesuatu aku bisa memprediksikan kenapa hal itu bisa terjadi." Ucap dokter Ichida memberikan asumsi.
Dan kedua bola mata Ara pun tak tahan untuk tidak berotasi dengan malas. "Aku tidak mau, Jojo tidak akan kambuh lagi." Seru Ara begitu yakin.
"Darimana kamu tahu? Aku dokternya." Dokter Ichida berkata dengan angkuhnya. Ia penasaran sekali dengan hubungan Ara dan juga Jojo sekarang ini. Dan ia juga ingin tahu hal apa yang membuat Jojo kembali ingat pada masa lalunya, tapi anehnya Jojo tak membenci ibunya.
"Aku tahu, aku istrinya." Seru Ara tak mau kalah.
Tapi, belum sempat dokter Ichida menanggapi, suara heboh Angelina menghentikan perdebatan mereka. Angelina datang bersama dengan sepupu perempuannya yang bernama Harumi.
Wajah Ara terlihat berbinar, dia ingin sekali jalan-jalan. "Ah, tentu saja kakak mau. Ayo jalan!" Saking semangatnya Ara lupa dengan suaminya. Dan juga mengabaikan keberadaan dokter Ichida yang masih mematung melihat tingkah Ara yang terlihat seperti anak kecil yang baru di ajak jalan-jalan.
"Hei, apa aku tidak di ajak?" Dokter Ichida pura-pura merajuk.
"Boleh paman, kebetulan ada sepeda kakek yang menganggur." Kali ini Harumi yang menjawab dengan gaya khas Jepang nya. Sedikit membungkukkan badannya dengan begitu sopan lalu melemparkan senyum manisnya yang terlihat natural.
"Ah, kau manis sekali. Terimakasih." Ucap dokter Ichida sambil tersenyum centil.
"Ck, dasar genit!" Decak Angelina sambil mencebikkan bibirnya. Ara pun tertawa karenanya.
Seolah lupa jika mereka sedang berada di negara asing, mereka pun pergi berjalan-jalan tanpa beban sama sekali. Ara lupa jika dirinya datang kesana bersama suaminya. Aduh si Ara ini, siap-siap dapat hukuman dari Jojo nanti.
***
Setelah berlama-lama di kamar mandi, dan membersihkan diri. Jojo akhirnya keluar dari kamar untuk mencari keberadaan sang istri. Tapi wajahnya terlihat frustasi saat melihat suasana rumah begitu sepi.
"Pada kemana sih orang-orang?" Gumam Jojo pelan.
Jo berjalan sampai pada ruangan tengah rumah itu, ada satu keunikan di rumah itu yang membuat pandangan Jojo teralihkan padanya. Sebuah taman dengan kolam ikan kecil berada di ruangan tersebut. Rumah kakeknya Jojo memang mengusung konsep bringing outdoor to indoor. Sehingga banyak sekali taman kecil di rumah itu yang terhubung langsung dengan beberapa ruangan di rumah itu. Jojo tersenyum saat melihat sang kakek sedang duduk santai di sisi kolam sambil memberi makan ikan dalam kolam tersebut. Ia pun menghampirinya.
"Kakek sedang apa?" Tanya Jojo mengakrabkan diri.
Tuan Ikedo menoleh dan membalas senyum cucu laki-laki nya tersebut. Lalu melambaikan tangannya agar sang cucu mau duduk di sampingnya di pinggir kolam. Jojo pun menurutinya, lalu ikut mengambil makanan ikan yang di pegang tuan Ikedo dan menaburkan nya di kolam.
"Jo, kakek sangat senang akhirnya kamu mau datang kesini. Ibumu sudah banyak cerita tentang sikapmu yang sudah banyak berubah. Terimakasih nak!" Ucap tuan Ikedo sambil menepuk-nepuk pundak Jojo dan tersenyum bangga.
Jojo menoleh, menatap manik-manik mata kakeknya yang kelopaknya sudah mengkerut. Dia sangat menyesal karena selama ini sudah menyia-nyiakan sang kakek yang begitu menyayangi dirinya.
"Kakek berterimakasih untuk apa? Seharusnya aku minta maaf padamu dan keluarga ini. Aku terlalu di butakan oleh kebencianku pada mommy. Padahal semuanya hanya salah paham." Tutur Jojo dengan menyesal.
"Sebenarnya kakek juga ikut salah waktu itu. Saat ayahmu meninggal kakek yang melarang ibumu untuk langsung pulang. Kakek sangat kesal dengan ayahmu yang berselingkuh di belakang Ayura. Kakek pikir itu adalah hukuman buat dia." Tuan Ikedo menarik nafasnya yang sering kali tersendat karena faktor usia. Sebelum ia melanjutkan kembali bicaranya.
"Ayura sangat mencintai James ayah kandungmu. Pekerjaannya setiap hari hanya menangis di dalam kamar. Dan hanya keluar jika nenekmu yang memaksanya. Sampai suatu hari datang seorang wanita yang membawa Angelina ke rumah ini. Dan menceritakan jika ayahmu tidak bersalah. Kakek akhirnya mengizinkan dia untuk kembali menemuimu di negara ayahmu. Walaupun memang sangat terlambat. Karena kau sudah membenci ibumu dengan begitu dalam. Tapi dia tak pernah mau menyerah untuk mengambil hatimu Jo. Hingga kecelakaan itu terjadi. Ibumu hampir gila untuk kedua kalinya. Syukurlah kamu sudah sembuh sekarang. Kakek senang karena kamu sudah memaafkan ibumu." Tutur tuan Ikedo panjang lebar.
Penjelasan tersebut membuat Jojo semakin merasa bersalah pada mommy Ayura. Tatapannya tampak kosong menerawang jauh mengingat masa lalunya dulu.
Tuan Ikedo merasa puas setelah menceritakan hal tersebut pada Jojo, berharap cucunya tidak lagi menyimpan kebencian pada sosok ibunya tersebut. Tapi saat melihat raut wajah Jojo yang begitu sedih. Ia juga merasa tidak tega, ia pun berniat untuk mengalihkan rasa bersalah yang sedang merundung cucunya tersebut.
"Kau mau mendengar satu rahasia lagi?" Pertanyaan tuan Ikedo membuyarkan lamunan Jojo.
"Apa?" Tanya Jojo penasaran.
"Sahabatnya yang dokter itu pernah melamar ibumu beberapa lama setelah ayahmu meninggal. Anak itu benar-benar gila, dia terus saja mengejar ibumu sampai dia rela untuk melajang sampai sekarang." Ucap tuan Ikedo sambil terkekeh lucu, mengingat saat anaknya menolak lamaran tersebut tapi dokter itu malah bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Dan yang lebih gilanya, dokter Ichida memutuskan untuk ikut pergi ke negara asal daddy nya Jojo bersama dengan Ayura. Dengan alasan ingin mencari pengalaman kerja disana.
Jojo tidak menjawab apa-apa, otaknya masih sibuk mencerna ucapan sang kakek tentang cerita itu. Dia tak pernah menyangka jika dokter Ichida ternyata cinta mati pada mommy nya.
***
Vote.... Vote.... Vote... Udah senin lagi anak-anak. Yuk bantu amih naik rangking nya. Makasih.