My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MENDAPAT KIRIMAN.



Hari ini adalah hari ke sepuluh semenjak kabar bangkrutnya perusahaan paman Jacob mulai merebak. Dengan sangat terpaksa Jacob akhirnya menjual sahamnya dan ia pun tidak tahu pada siapa sahamnya telah berpindah tangan. Sebenarnya dia adalah Jojo, lelaki itu sengaja menyuruh orang untuk mengurus semuanya tanpa sepengetahuan dari pamannya sendiri. Jo sengaja melakukannya agar pamannya tidak curiga bahwa dialah dalang dari kehancurannya.


Beberapa hari ini tubuh Jo terasa begitu berbeda, ia sering kali mengalami pusing dan mual di waktu pagi. Kadang-kadang dia juga suka meminta di buatkan makanan yang aneh-aneh pada istrinya.


Seperti hari ini, lelaki itu meminta istrinya untuk membuatkan sup tomat tanpa campuran daging apa-apa. Hanya tomat dan beberapa bumbu untuk menyedapkan rasanya. Dan makanan itu harus di antarkan oleh Ara langsung ke kantornya.


Ara yang harus pulang lebih awal dari salon kecantikan milik mertuanya. Untuk sekedar menyiapkan makanan yang di minta oleh sang suami harus meminta izin dulu pada mommy mertua sebelum ia meninggalkan pekerjaannya.


"Mom, boleh aku pulang sebentar? Jo minta di buatkan makanan aneh lagi sekarang." Seru Ara dengan raut wajah malas. Ia merasa akhir-akhir ini suaminya itu begitu sangat menyebalkan. Bisa-bisanya suaminya itu selalu bersikap kekanak-kanakan. Jika permintaannya itu tidak di penuhi makan bersiaplah Ara nanti di ceramahi.


Ayura menahan tawa, ia menutup mulutnya agar bisa menyembunyikan senyum meledek disana. Tingkah anaknya beberapa hari ini memang selalu membuat Ara kerepotan di buatnya. Bagaimana tidak? Jo ingin Ara yang membuatkan makanannya berikut menjadi kurir pengantar makanan yang sudah siap di untuk di sajikan untuk anak lelakinya itu.


"Mommy sebenarnya curiga Ara, jangan-jangan kamu sedang hamil? Dan Jo yang mengalami ngidam dan gejala awal kehamilannya." Tutur Ayura membuat dugaan.


Ara mengernyitkan kening, ia baru pertama kali mendengar hal demikian. "Memang ada yang seperti itu mom?" Tanyanya merasa awam.


Ayura mengangguk yakin. "Tentu saja ada, dulu daddynya Jo juga seperti itu waktu mommy sedang hamil Jo. Bahkan mabuk nya lebih parah dari suamimu. Tapi dia tidak terlalu banyak permintaan seperti Jo sekarang." Ayura terkekeh pelan, mengingat tingkah anaknya yang yang terkesan manja yang sangat berbeda dengan daddynya.


Ara terdiam, ia masih mencerna ucapan sang mommy mertua. Apa benar dirinya hamil? Siklus menstruasi Ara memang tidak normal, kadang telat kadang juga tepat. Makanya Ara tidak pernah berpikiran sampai kesana. Kata orang hormon kehamilan akan sangat terasa berbeda, tapi ia tak merasakan sedikitpun perbedaan yang terjadi dalam tubuhnya. Ara tidak mau terlalu berharap yang ujungnya ia harus kembali kecewa.


"Aku.... Aku tidak tahu mom, siklus menstruasi ku tidak normal. Jadi aku tidak yakin kalau aku sedang hamil." Seru Ara sedikit ragu. Ara sedang berusaha untuk menata hatinya yang terlalu sering merasakan kecewa. Dan untuk kali ini, Ara hanya ingin menikmati masa-masa indahnya bersama suaminya saja.


"Lebih baik kamu periksa dulu, biar semuanya jelas. Jika memang benar kamu hamil. Jo pasti akan senang, dan tidak akan membiarkanmu kelelahan seperti ini lagi. Mommy juga ingin segera punya cucu." Ayura begitu bersemangat saat membayangkan dirinya akan segera mempunyai seorang cucu. Pasti akan seru jika dia bisa bermain dengan cucunya yang lucu.


"Iya mom, nanti Ara beli testpack sepulang mengirim makanan ke kantor Jo. Sekarang Ara mau pergi dulu. Jo pasti sudah menunggu." Ara bergegas pulang menuju rumahnya di antar oleh supir yang sengaja di kirim oleh suaminya.


***


Setelah berkutat di dapur selama satu jam lamanya. Akhirnya selesai juga sup tomat tanpa daging yang diinginkan oleh suaminya.


Sudah puluhan kali Jo menghubungi istrinya melalui panggilan telepon. Seperti anak kecil yang kelaparan minta makan dengan tidak sabar. Jo juga bersikap demikian.


Ara hanya bisa menghela nafas panjang, dirinya seperti mengurus seorang Jo yang idiot dulu. Bahkan sekarang lebih merepotkan di banding waktu itu. Saat wanita itu hendak berangkat ke kantor Jo di antar oleh supir yang tadi menjemputnya. Ara di hadang oleh seorang kurir pembawa kiriman yang kebetulan datang saat Ara hendak masuk ke dalam mobilnya.


Ara yang tangannya sudah mencapai pintu mobil kemudian menoleh pada si kurir. "Iya itu saya." Jawabnya mengaku.


Kurir itu memberikan sebuah kiriman berupa amplop coklat yang sedikit tebal yang bertuliskan nama Ariella di bagian luarnya.


Setelah Ara mengucap terimakasih, kurir itupun pergi. Dan Ara melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Kok tidak ada nama pengirimnya?" Ara membolak-balikan amplop itu tapi tak menemukan nama pengirim yang tercantum disana. Hanya ada nama Ara dan juga alamatnya.


Dengan sangat penasaran Ara membuka amplop itu dan melihat apa isinya. Mobil sudah melaju melesat di jalan raya. Pak supir yang memang sudah tahu kemana tujuan Ara tidak perlu bertanya lagi kemana majikannya harus dia bawa.


Ara begitu terkesiap saat melihat isi dari amplop tersebut, matanya terbuka lebar dan mulutnya sedikit ternganga. Namun sedetik kemudian mulut itu tertutup oleh telapak tangannya yang merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dan membiarkan beberapa lembar foto yang merupakan isi dari amplop tersebut jatuh begitu saja di pangkuannya


Dengan sedikit gemetar tangan itu kembali meraih tumpukan foto tersebut. Dengan hati-hati ia melihat satu persatu gambar yang tercetak di dalamnya. Butiran cairan bening begitu cepat mengalir melewati pipi dan menetes membasahi bajunya.


Ara sungguh tak percaya saat melihat foto yang menampakkan kemesraan suaminya dengan seorang wanita yang begitu cantik dan dari caranya wanita itu berpakaian sepertinya merupakan wanita terhormat dan bukan wanita penggoda yang selama ini Jo benci keberadaannya.


Karena terlihat dari raut wajah suaminya di foto itu, ia tidak terlihat marah saat wanita itu memeluk tubuhnya sambil tersenyum senang. Foto selanjutnya pun menampakkan kemesraan yang berbeda, terlihat wanita itu sedang memamerkan sebuah cincin bermata berlian yang melingkar di jari manisnya di hadapan suaminya. Dan sialnya Jo tersenyum tipis di foto itu. Menandakan dirinya juga senang melihat wanita itu memamerkan cincin tersebut.


Ara jadi ingat dengan cincin yang di berikan oleh suaminya dulu, ia menatap cincin tersebut dengan lekat. Cincin yang berbeda dengan yang di kenakan oleh wanita yang ada di dalam foto. Apakah itu artinya Jo juga membelikan cincin berlian yang berbeda untuk wanita lain? Siapa wanita itu?


Untuk memuaskan rasa penasarannya, dan kembali memeriksa isi dari amplop coklat tersebut. Dan benar, terdapat selembar kertas berisi tulisan tangan. Mungkin dari si pengirim foto tersebut. Pikir Ara.


Sambil sesekali menyeka air mata yang mengalir semakin deras melewati pipinya. Ara membaca surat itu dengan seksama. Begitu terkejutnya dia, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga, saat membaca isinya ternyata adalah curahan hati dari si pengirim paket tersebut, dan kekhawatirannya pun terwujud si pengirim itu adalah wanita yang ada foto bersama dengan suaminya. Hati Ara langsung mencelos sakit, betapa curahan hati wanita itu teramat pelik. Ara jadi ragu mana yang harus ia percaya. Isi dari suratnya apa cinta di tunjukkan oleh suaminya?


***


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita lanjutkan besok lagi ya..... 😄😄😄. Amih mau mimpi dulu, kali aja dapat inspirasi jitu. 😍😍


Jangan lupa like, komentar dan votenya ya anak-anak. Makasihh..🥰🥰🥰