My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
BEGITU EMOSI.



" Mau kemana kamu ? " Jo bertanya sambil mengkerut dahi melihat Ara yang memakai setelan kemeja putih di balut blazer berwarna abu dan rok span selutut membuat wanita itu terlihat lebih anggun dan dewasa dari biasanya.


Ara yang sedang duduk di depan cermin sambil mengoleskan lisptik berwarna soft di bibir mungilnya itu hanya melirik sedikit ke arah sang suami, dan ketika polesannya sudah terlihat sempurna dia menyimpan lipstik itu di tempatnya lalu memutar tubuhnya duduk menghadap ke arah Jo.


" Aku mau kerja, buat persiapan nanti jika ternyata setelah sebulan aku tidak hamil aku tidak perlu mengambil uangmu karena aku sudah punya penghasilan sendiri. " Jawab Ara memasang senyum termanisnya.


Jo menatap Ara dengan tatapan tidak suka, bukan karena Ara bilang mau kerja tapi karena dandanan Ara yang terlihat mencolok di matanya. Ara terlihat lebih cantik dari biasanya.


" Terserah kau saja ! " Seru Jo pura - pura tak peduli, tapi matanya terus saja memperhatikan penampilan Ara.


" Istri macam apa dia, jika di hadapanku saja dia tak pernah berdandan seperti ini. " Gerutu Jo dalam hatinya.


Jo pergi dengan kesal meninggalkan Ara yang masih terpaku di tempatnya. Sambil menghela nafas kasar Ara mencoba bersabar, dia menyangka suaminya benar - benar tidak peduli dengan dirinya lagi.


Pagi itu Jo pergi dari rumah dengan wajah yang di tekuk kesal, hingga dia juga mengabaikan sarapannya. Di perjalanan menuju kantornya Jo menelepon seseorang agar mencari tahu dimana istri kecilnya itu akan bekerja. Lihatlah laki - laki pencemburu itu, dirinya pura - pura tidak peduli padahal dalam hatinya dia selalu ingin tahu apa yang di lakukan oleh istrinya.


" Wanita itu benar - benar aneh, untuk apa dia capek - capek bekerja. Lebih baik ambil uangku saja, ku harap dia benar- benar hamil. " Gumam Jo berbicara sendiri di dalam mobil. Tidak salah kah ? Dalam hatinya Jo juga berharap demikian, apa itu artinya dia mengharapkan Ara untuk tetap tinggal bersamanya. Tentu saja tidak, Jo hanya akan mengambil anak itu dan tetap mengusir Ara.


Mendengar Jo berbicara sendiri membuat sopir pribadi yang menyetir mobil tersebut menoleh ke arah kaca spion tengah untuk memastikan bosnya itu berbicara dengan siapa.


" Maaf, tuan berbicara dengan saya ? Wanita mana yang anda maksud ? " Tanya sang supir yang bernama Dito, karena dia melihat bosnya tidak sedang melakukan panggilan telepon. Jadi dia berpikir jika bosnya berbicara padanya.


Jo memicingkan mata, menatap supirnya itu dengan tajam. Membuat sang supir langsung membungkam seketika karena melihat ekspresi wajah bosnya yang mengerikan itu, dia yakin jika dirinya telah salah bicara.


***


Setelah sampai di perusahaan miliknya tersebut Jo segera menuju ku ruangan kerjanya. Selama seminggu berkutat kembali di perusahannya Jo sudah mampu membuat para pemegang saham kembali yakin dengan loyalitas kepemimpinannya di perusahaan itu dan mereka tidak jadi menarik saham mereka. Jo kembali menjadi si penggila kerja. Tapi, sikapnya sedikit berubah. Ternyata terapi itu ada pengaruhnya juga, Jo tidak sesangar dulu, ada sedikit keramahan yang dia tunjukan pada para pegawainya, sesekali dia melemparkan senyum hangatnya di pagi hari jika mood- nya tidak sedang jelek seperti sekarang ini.


Hari ini Jo kembali menunjukkan wajah sangarnya. Saat dirinya sudah sampai di ruangan kerjanya. David sang asisten pribadi Jo segera membacakan beberapa agenda kegiatannya hari ini. Lalu Jo menerima beberapa berkas yang perlu dia tanda tangani. Berkas - berkas itu dia baca dengan teliti sebelum dia membubuhkan tanda tangan miliknya sebagai tanda pengesahan. Sebuah map berwarna coklat yang berisi permohonan penerimaan karyawan baru yang di ajukan oleh pamannya sendiri membuatnya mengerutkan dahi.


Bagaimana tidak, Jacob merekrut seorang karyawan baru untuk menjadi asisten pribadi anaknya. Karena Sam akan menduduki posisi direktur di perusahaan cabang untuk mengembangkan proyek baru yang sedang di rilis oleh perusahaan J & J Group . Karyawan baru itu tidak lain adalah Ara istri dari keponakannya sendiri.


" Apa maksud wanita ini bekerja di bawah pimpinan Samuel ? Jika memang dia ingin bekerja di perusahaanku kenapa dia tidak meminta pekerjaan padaku saja. Aku ini suaminya. " Jo terlihat sangat geram, dia mengepalkan tangannya dan menggebrak meja dengan sangat keras.


Braaak ....


" Sial ! " Umpat Jo kesal.


David yang masih berdiri di hadapan bos sedikit berjengit karena terkejut. " Kenapa tuan ? " Tanya David merasa heran.


Jo melemparkan map yang berisi berkas CV ( Curriculum Vitae ) Ara ke atas meja di sisi David berada.


" Panggil paman Jacob kemari dan bawa wanita yang ada dalam CV itu sekalian jika dia sudah datang. " Perintah Jo, karena dalam permohonan itu tercantum jika Ara akan memulai pekerjaannya hari ini juga.


David meraih map itu lalu membuka isinya, begitu terkejutnya dia melihat foto yang tercantum di dalamnya, David tahu jika itu adalah istri dari bosnya. Karena David adalah orang kepercayaan Jo, sehingga dia pasti tahu semuanya mengenai pernikahan Jo yang tersembunyi.


" Jangan banyak bertanya, cepat bawa dia kesini ! " Bentak Jo, seketika David membereskan berkas itu dengan ketakutan. Lalu pamit meninggalkan ruangan Jo dengan tergesa.


" Dasar wanita licik, apa dia pikir setelah dia tidak bisa mendapatkan aku nanti, dia bisa menggoda penerus J & J group yang lain ? Sialan ! " Jo terus saja mengumpat, melampiaskan kekesalannya pada wanita yang kini masih menjadi istrinya itu.


Jo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, lalu memijit ujung pangkal hidungnya yang terasa pening. Baru saja mendengar jika Ara akan bekerja dengan Sam saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, apalagi nanti jika Ara benar - benar pergi dari kehidupannya. Jo memang terlalu munafik untuk mengakui itu semua.


Beberapa menit kemudian, pandangan Jo tersita oleh seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Dia adalah Jacob pamanya Jo.


" Kamu memanggilku Jo ? " Tanya Jacob yang kini sudah berdiri di hadapan lelaki itu.


Jo menegakkan kembali duduknya. " Iya, duduklah paman ! " Pinta Jo.


" Apa ada masalah ? " Jacob membuka pembicaraan mereka.


" Iya, ini mengenai karyawan baru yang paman rekomendasikan untuk menjadi asistennya Sam. " Jawab Jo tanpa basa basi.


" Memangnya kenapa Jo ? Apa menurutmu orang itu tidak begitu kompeten ? Sam sendiri yang memilihnya. "


Jawaban dari pamannya itu malah membuat Jo semakin tersulut emosi, tentu saja karena Sam yang meminta sendiri istrinya untuk menjadi asisten pribadi laki - laki itu. Apa maksud dari Sam ? Padahal dia tahu Ara adalah istri dari kakak sepupunya sendiri, dan parahnya lagi Sam tidak meminta izin dulu pada Jo mengenai hal itu.


" Berani sekali dia ? " Jo terlihat marah, matanya melotot tajam ke arah pamannya itu. Dan hal itu sudah biasa Jacob lihat pada sisi kelam Jo di masa lalu.


" Hai tenang boy ! Kenapa kau begitu terlihat marah pada adik sepupumu itu. Dia hanya meminta seorang asisten, apa itu terlalu berlebihan ? " Jacob berkata santai, sambil melipatkan tangannya menumpu di atas meja.


" Tapi orang itu tidak harus Ara bukan ? "


" Ara ? Maksudmu istrimu ? "


" Kenapa paman terlihat kaget, memangnya kau tidak mengecek dulu siapa orangnya ? " Jo merasa heran dengan reaksi Jacob yang seolah terkejut mendengar hal itu.


Jacob sejenak terdiam, dia memang tidak tahu jika orang yang di ajukan anaknya sebagai asisten pribadinya adalah Ara, dia hanya mengiyakan saja apa yang anaknya minta dan bersedia memakai namanya agar surat permohonan itu bisa lanjut ke tangan Jo.


Jacob memang tahu jika anaknya mempunyai perasaan yang lebih terhadap istri Jo, tapi dia juga tak menyangka jika anaknya itu akan menjadikan Ara sebagai asisten pribadinya. Bukankah itu terdengar menyenangkan di telinga Jacob, hal itu akan membuatnya lebih mudah untuk menjauhkan wanita miskin itu dari kehidupan Jo. Tapi bukan berarti dirinya juga setuju jika Ara menjadi menantunya nanti. Hal itu akan dia pikirkan nanti. Yang penting tujuannya kali ini akan berhasil.


" Maafkan paman Jo ! paman memang tidak tahu jika orang itu adalah istrimu. Paman belum sempat melihat CV nya. Tapi menurut paman biarkan saja dia bekerja, toh kalian juga akan berpisah nantinya. Lagipula jika perusahaan cabang kita sudah siap beroperasi Sam juga akan membawa istrimu pergi dari perusahaan ini. Jadi kau tidak akan selalu melihatnya disini. " Tutur Jacob panjang lebar.


Jo terdiam mendengar itu, ada sebuah perasaan aneh tiba - tiba membuat dadanya sesak. Walaupun apa yang di katakan oleh pamannya itu benar, tetapi tetap saja membuat dirinya begitu emosi. Apa Jo sedang cemburu ?


***


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers ! klik LIKE , tinggalkan komentar dan Vote sebanyak - banyak ya... makasih 😉😉