
Malam semakin larut, acara pernikahan sederhana ala keluarga besar Ayura dan dokter Ichida telah selesai di laksanakan.
Seluruh anggota keluarga tampak kelelahan. Dan mereka semua beristirahat di kamar hotel yang telah di sediakan.
Hotel Kingsley adalah hotel yang berkelas. Kamar yang disediakannya pun tentu saja kebanyakan untuk kelas atas. Apalagi kamar yang sudah didesain khusus. Tentu saja harus bernuansa romantis dan berkualitas bagus.
"Jadi ini kamar kita? Hebat juga anakmu memilihkannya." Seru dokter Ichida setelah masuk ke dalam kamar yang sudah di tentukan bersama dengan istri barunya. Pandangan matanya beredar menyapu ke seluruh penjuru ruangan yang penuh dengan kelopak bunga.
Ayura tak menanggapi ucapan suaminya. Wanita itu tengah sibuk untuk membuka hiasan rambut dan perhiasan yang di pakainya.
"Kau sedang apa?" Tanya dokter Ichida yang merasa di abaikan oleh istrinya.
Ayura masih tak menjawab, ia hendak membuka resleting bajunya yang berada di belakang tubuhnya tapi merasa kesusahan saat ingin menggapai ujung resleting tersebut. Ia pun menoleh pada suaminya.
"Ichi, bantu aku membuka ini!" Perintahnya.
Dokter Ichida tertegun. Menatap wanitanya dengan raut wajah bingung. Sebagai seorang perjaka tua yang baru pertama kali sekamar dengan seorang wanita, tentu saja dokter Ichida merasa gugup dan belum terbiasa.
Lelaki itu hanya diam saja. Hingga panggilan kedua dari istrinya memaksanya untuk melangkah mengikuti perintah istrinya.
"Cepatlah, aku sudah gerah!" Ayura sedikit kesal karena suaminya hanya berdiam diri di belakangnya. Wanita itu menatap tajam laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu dari pantulan cermin yang berada di hadapannya.
"Ah iya.... " Dokter Ichida mulai mengayunkan tangannya, lelaki itu tidak bisa menutupi kegugupannya. Tangannya bergetar begitu hebat sambil menelan ludahnya dengan berat saat melihat leher jenjang istrinya yang teramat memikat.
Apalagi jika nanti resleting itu terlepas, mungkin akan menampakkan bagian yang tertutupi oleh baju yang kini di pakai istrinya. Ah, pikiran dokter Ichida mulai berkelana kemana-mana.
Ayura menahan senyumnya saat dia melihat kegugupan yang terjadi pada suaminya. Dengan susah payah tangan dokter Ichida menempel pada baju Ayura. Tapi wanita itu tiba-tiba saja menoleh dan berbalik menghadap suaminya.
"Apa kau gugup?" Tanya Ayura sambil mengulum senyum.
Dokter Ichida mengernyitkan dahi. Ia seperti dipermainkan oleh istrinya sendiri. "Apa kau sengaja membuatku seperti ini?" Serunya sedikit emosi.
Dan Ayura pun akhirnya tergelak tawa. Untuk kali pertamanya ia melihat sahabat dari kecilnya itu bisa se gugup itu. "Kau lucu sekali jika sedang gugup. Wajahmu benar-benar imut."
Dokter Ichida benar-benar bingung harus bersikap bagaimana. Dirinya harus tersanjung ataukah marah-marah. Perkataan Ayura terdengar memuji tapi terkesan meledeknya.
"Kau ini menyebalkan sekali." Decak dokter Ichida yang kembali duduk di tepi ranjang. Dokter itu merajuk sambil melipatkan tangannya di depan dada dan memilih untuk memalingkan wajahnya.
"Aku tahu ini bukan pengalaman pertamamu. Mungkin kau tidak merasa malu. Tapi ini pengalaman pertamaku. Jadi hargai lah kegugupan ku!" Imbuh dokter Ichida tanpa menoleh ke arah istrinya.
Ayura terdiam sejenak, dirinya juga sebenarnya sangat malu. Walaupun dokter Ichida adalah sahabat dari kecilnya. Mereka tidak pernah tidur bersama dalam satu kamar pula. Dan jujur, perasaannya kini sama gugupnya seperti malam pertamanya bersama suaminya yang pertama.
"Kau marah?" Tanya Ayura dengan nada pelan.
Dokter Ichida menghela nafas kasar. Ini adalah malam pertamanya mana mungkin mereka harus bertengkar.
"Tidak." Jawabnya cepat sambil menoleh ke arah istrinya. Lalu kembali menghampiri sang istri. "Sini aku bantu buka resleting nya!" Imbuhnya menawarkan bantuannya lagi.
Ayura tersenyum, walaupun malu tapi wanita itu pintar menyembunyikan perasaannya. Ia berusaha menyembunyikan semburat merah yang terpancar di wajahnya dengan langsung berbalik membelakangi suaminya.
Dokter Ichida memejamkan matanya, saat resleting itu sudah mulai terbuka. Lalu memutuskan untuk berbalik dan membiarkan istrinya untuk melanjutkannya sendiri.
"Mandilah lebih dulu!" Seru dokter Ichida tanpa menoleh ke arah istrinya. Kecanggungan kembali terjadi diantara mereka. Hingga suara dari sang istri memecah kecanggungan itu.
"Hah... Serius?" Dokter Ichida langsung berbalik pada istrinya. Tentu saja ia kaget sekaligus bahagia. Apa benar kali ini ia akan melepas keperjakaan nya?
Ayura mengangguk malu-malu. Lalu berjalan mendahului suaminya menuju kamar mandi. Dokter Ichida tidak ingin menunggu lagi. Rasanya hasratnya yang selama ini tertahan bertahun-tahun sudah mencapai ubun-ubun.
Mereka pun akhirnya mandi bersama, dan tentu saja bukan sekadar mandi yang biasa dan dilanjutkan pada ritual malam pertama. Walaupun usia mereka tidak lagi muda. Tapi gejolak hasrat yang menggebu-gebu diantara keduanya tidak bisa di sepelekan begitu saja.
Mereka hanyut dan terbuai dalam panasnya malam pertama. Walaupun benar kata Angelina, perjuangan dokter Ichida tidak terlalu sulit untuk menjebol pertahanan istrinya. Tapi mereka begitu menikmatinya.
***
Di kamar lain yang dekorasinya tak kalah layaknya pengantin baru. Tempat Jojo dan Ara melepaskan penatnya disana. Terlihat Jojo sedang tidur telentang di atas ranjang menunggu istrinya sedang membersihkan badan.
Ara yang telah selesai mandi kini keluar dan terlihat begitu sexy. Kehamilan membuat beberapa bagian tubuhnya semakin terlihat padat dan berisi. Dan hal itu tentu saja membuat lib*do suaminya lebih cepat bereaksi.
"Kau sexy sekali sayang, sengaja menggodaku ya?" Seru Jo sambil beranjak duduk dan hendak berdiri. Tapi di urungkan lagi saat sang istri yang berinisiatif duduk di sisi.
"Apapun yang aku pakai kau selalu berkata seperti itu. Tidak punya stok kata-kata lain untuk merayu?" Cibir Ara sambil sengaja menempelkan tubuhnya pada lengan suaminya.
"Jangan seperti itu! Aku belum mandi. Bisa-bisa aku melahap mu saat ini." Seru Jo sambil menatap istrinya dengan penuh arti. Dengan kilatan gairah mulai menguasai.
Ara mengulum senyum, suaminya itu benar-benar mesum. Apalagi suasana kamar mereka yang begitu mendukung.
"Kenapa kau menghias kamar kita seperti ini?" Tanya Ara yang dari tadi merasa penasaran sekaligus senang.
Jojo menyapukan pandangannya ke sekitar ruangan. Ia memang sengaja meminta kamarnya dihias layaknya pasangan yang baru menikah. Karena lelaki itu tidak mau kalah.
"Anggap saja ini adalah malam pengantin kita. Di sana mungkin dokter sipit itu tengah bersenang-senang dengan mommy. Dan di sini kita tidak boleh kalah. Malam ini bukan hanya milik mereka berdua." Jojo mencondongkan sedikit kepalanya hendak menempelkan bibirnya di mulut istrinya.
Tapi seperti biasa jurus mengelak Ara masih cukup hebat untuk menahan bibir itu sebelum mendarat di bibirnya.
"Katanya mau mandi." Kilahnya.
Jo mendengus, lalu memindahkan tangan Ara yang menempel di bibirnya. "Kebiasaan deh! Lain kali aku akan pastikan untuk mengikat tanganmu dulu sebelum menyerang."
Mendengar itu Ara malah beringsut, wanita itu pura-pura takut. "KDRT dong?" Serunya memasang wajah cemberut.
Jo mengusap wajahnya gusar, ia benar-benar tidak bisa untuk menahan gairahnya sekarang. Melihat istrinya begitu menggemaskan membuat pertahanannya jadi hancur berantakan.
"Hentikan sayang, aku sudah tidak tahan! Sekarang saja ya?"
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya Jo langsung saja menyerangnya. Ara yang sudah terbiasa mungkin tidak kaget lagi dengan ulah suaminya.
Kini kedua pasangan suami istri itu menghabiskan malam panjang dengan penuh kehangatan. Seperti sebuah kompetisi Jo tidak mau kalah dengan papa tiri yang sedang bersenang-senang bersama sang mommy.
***
Hampura kawan-kawan, adegannya tidak dijabarkan. Kalau mau sok aja di bayangkan! Amih gak sanggup kalau harus menjabarkan dua adegan dalam waktu yang bersamaan. 🤭🤭🤭
Jangan lupa like, komentar dan Votenya ya.. Makasih.