My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MENGINCAR ARA



Langit yang menggelap di kala senja, membuat beberapa insan manusia berhenti melakukan aktivitasnya. Sudah waktunya mereka kembali ke peraduan nya, melepas lelah dan penat yang karena seharian berkutat dengan pekerjaan. Walau tak semua orang mengalami hal demikian.


Begitu juga dengan seseorang yang bernama Samuel, seharian bekerja tanpa di temani asistennya membuatnya merasa sangat bosan, walaupun begitu banyak pekerjaan yang bisa mengalihkan perhatiannya tetap saja masih ada yang kurang, kehadiran Ara selalu membuatnya lebih semangat untuk bekerja.


Dan hari ini, Ara meminta izin untuk tidak masuk dengan alasan menjaga Jo yang sedang sakit, entah kenapa Sam begitu kesal saat menerima pesan dari Ara tersebut. Eh.... Tapi kenapa Sam harus kesal bukannya Jo adalah suami Ara, dia sama sekali tidak punya hak untuk kesal dengan wanita itu.


Kekesalan Sam memang ada alasannya, bukan hanya karena lelaki itu memiliki perasaan yang khusus terhadap Ara, tapi ia masih ingat dengan ucapan Ara sehari sebelum peresmian kantor barunya, dan Sam menyebut ucapan sebagai sebuah harapan dari wanita itu.


"Jika besok aku dinyatakan tidak hamil oleh dokter Lily, aku sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Jojo. Aku tidak bisa egois untuk tetap mempertahankan pernikahan ini, sementara Jojo sama sekali tak menginginkan aku."


Itulah kata - kata yang Ara ucapkan, tentu saja hal itu membuat Sam semakin semangat untuk mendapatkan wanita yang telah mengetarkan hatinya itu. Tapi hari ini, hati Sam kembali mencelos sedih, saat Ara tiba-tiba memberikan perhatian lebih lagi pada suaminya. Apakah Ara berubah pikiran? Dan dia tidak jadi untuk meninggalkan kakak sepupunya itu. Ah..... Pertanyaan - pertanyaan itu terus saja berputar - putar di kepala Sam sejak dia mendapatkan pesan singkat dari Ara. Hal itu membuat dirinya benar-benar tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.


"Kamu sedang memikirkan apa Nak?" Sapaan sang papa membuyarkan lamunan Sam di kursi putarnya, entah sejak kapan papanya itu masuk ke ruangan Sam, tahu-tahu dia sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Sam.


"Eh.... Papa mengagetkan saja." Ucap Sam sedikit canggung.


"Ini sudah waktunya pulang, kenapa masih di sini? Apa pekerjaan mu belum selesai?" Tanya Jacob dengan tatapan heran.


Sam menggeleng, "Sudah selesai kok pah, ini mau siap - siap pulang." Jacob menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan, lalu mengernyitkan keningnya saat melihat raut wajah anaknya terlihat muram.


"Kau kenapa? Sepertinya sedang ada masalah?" Tanya Jacob penuh selidik.


Sam mendongakkan kepala dari beberapa berkas yang sedang dia bereskan, menatap sang papa yang terlihat begitu penasaran. Kenapa papanya selalu saja tahu jika Sam dalam keadaan tidak senang dan banyak pikiran. Lalu mengalihkan pandangannya lagi pada berkas yang menumpuk di mejanya, merapikan nya ke bagian sudut meja tersebut.


"Tidak apa-apa Pa, Sam cuma kelelahan saja, hari ini Ara tidak masuk jadi Sam sedikit kewalahan melakukan pekerjaan sendirian." Ujar Sam berbohong, terlihat sekali dirinya begitu kesal dari caranya menyimpan tumpukan berkas itu di atas meja.


Jacob menarik bibirnya segaris, dia sekarang paham apa yang membuat mood anaknya itu hilang. Ternyata karena wanita idamannya tidak datang hari ini. Dan dia pasti sudah tahu alasan kenapa wanita itu tidak masuk, karena kabar Jo sakit sudah pasti sampai ke telinga Jacob yang notabene dia juga bekerja di perusahaan Jo.


"Oh, papa dengar Jo sedang sakit, apa kamu mau menemani papa untuk menjenguk kakak sepupumu itu." Perkataan Jacob membuat Sam mendongak kembali tentu saja dia mau, tapi mengingat Jo tidak menyukai dirinya dan takut di usir seperti waktu itu, membuat Sam tak berani ke rumah itu sendirian. Dan tawaran papanya saat ini, merupakan suatu kebetulan yang menyenangkan, dia bisa sekalian bertemu dengan sang wanita idaman.


"Tentu saja pah, Sam mau." Sahut Sam dengan semangat.


Jacob tersenyum penuh arti, karena maksudnya membawa Sam bukan hanya untuk membuat anaknya senang, tentu saja ada maksud terselubung dalam niat baiknya itu. Dia ingin memulai permainannya saat ini, sungguh jahat lelaki ini, dia bahkan tega mempermainkan perasaan anaknya sendiri hanya untuk membalaskan kebenciannya pada sang kakak yang tak kunjung ada habisnya.


***


Jo merasa bosan seharian berada di dalam kamar, dia merasa tubuhnya agak baikan, dan panas di tubuhnya sudah mulai menurun. Merasa pegal dengan jarum infus yang masih menempel di pergelangan tangan. Jo berniat untuk mencabut benda itu dengan paksa.


"Eh.... Eh.... Kamu mau ngapain?" Ara yang baru masuk kamar setelah pergi mengambilkan air minum untuk Jo segera mendekati suaminya. Jo mendongakkan pandangannya dari jarum infus ke arah Ara. Berdecak kesal karena Jo merasa kaget dengan pekikan wanita itu.


Ara menyimpan gelas yang berisi air minum di atas meja. Lalu memeriksa jarum infus itu masih terpasang atau tidak di tangan Jo.


"Jangan di lepas dulu! Kamu masih sakit." Seru Ara begitu perhatian sambil menunduk memperhatikan pergelangan tangan Jo.


"Kenapa senyum - senyum? Demam kamu ini gak bikin kamu jadi gila kan?" Celetuk Ara begitu saja, membuat wajah Jo memberenggut kesal di buatnya. Sial.... Wanita ini selalu saja membuat mood Jojo hancur berantakan.


Jo dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, belum sempat dia memberi tanggapan kedatangan mommy Ayura membuat perhatian laki-laki itu jadi tersita.


"Maaf mommy langsung masuk, pintunya terbuka sih." Ucap mommy Ayura sambil menghampiri anak dan menantunya. "Apa mommy mengganggu?" Tanya mommy Ayura lagi, dengan nada sedikit menyindir, dan senyum usil terselip di bibir.


Ara jadi salah tingkah, memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Jo lalu menyelipkan rambutnya di belakang daun telinga. "Ara cuma mengecek apakah jarum infus Jojo masih terpasang atau tidak soalnya tadi dia mau melepasnya." Kilah Ara sambil melirik ke arah suaminya.


"Benar itu Jo?" Mommy menoleh ke arah Jo dengan begitu terkejut.


"Aku hanya pegal saja, dan ingin membenarkan posisinya. Ara saja yang terlalu berlebihan." Sahut Jo dengan wajah masam.


Ara mengangkat kedua alisnya, bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka lebar, aneh sekali lelaki ini, dia pikir jarum infus bisa berpindah posisi kalau tidak di cabut dulu. Anak kecil saja mungkin sudah tahu akan hal itu. Lalu manusia ini, siapa yang akan dia bodohi dengan alasannya yang terdengar konyol.


Ara menghela nafas kasar tak ingin banyak berkomentar, percuma saja toh dirinya juga tidak akan menang, Ara memilih untuk pergi saja dari kamar.


"Aku keluar dulu mom, suruh dia minum obatnya! Ara sudah menyiapkannya di meja." Ucap Ara tanpa menoleh ke arah Jo.


"Mau kemana kamu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Jo, seakan ketakutan jika Ara akan kabur dari rumah itu. Dia menatap Ara dengan tatapan penuh selidik.


Ara mendengus, melemaskan kedua bahunya dengan malas. "Mau makan, kau pikir aku robot yang harus terus menjagamu tanpa makan." Jawab Ara sedikit menoleh pada Jo.


Jo sedikit lega, tapi masih menunjukkan wajah datarnya. Lalu beralih pada momy Ayura. "Obatnya mom." Ucapnya mengalihkan perhatian.


Ara berdecak, lalu melanjutkan niatnya untuk keluar dari kamar, sedangkan mommy Ayura menyiapkan obat yang hendak di berikan kepada anaknya.


Tapi saat Ara hendak keluar dari pintu kamar, Ara begitu terkesiap saat dirinya di hadang oleh seseorang yang membuat ingatan Jo jadi berantakan. Siapa lagi kalau bukan Jacob. Dan yang lebih mengejutkan ternyata bosnya juga menyusul di belakang.


"Tuan Jacob? Sam?" Seru Ara sambil menatap kedua orang itu bergantian.


"Kenapa kau melihat kami seperti sedang melihat hantu?" Tanya Jacob dengan sinis, kalau mau berkata jujur lelaki paruh baya itu masih sangat kesal dengan wanita yang dulu pernah mengerjai nya itu.


"Untuk apa kau kemari?" Pertanyaan itu keluar bukan dari mulut Ara, melainkan dari arah belakang Ara. Jo bertanya dengan lantang, tentu saja maksudnya bukan tertuju pada pamannya, melainkan pada seseorang yang berdiri di samping Jacob. Jo begitu kesal melihat Jacob datang bersama dengan anaknya. Karena Jo sangat yakin jika anaknya itu sedang mengincar Ara.


****


Jojo sikapnya masih labil ya teman-teman, harap di maafkan! Nanti juga akan ada waktunya dia berani mengutarakan perasaannya pada Ara. Tapi saat ini dia belum yakin dengan perasaannya itu.


Dukung terus karya author ini ya readers tercintah, klik like, favorit, share dan kasih komentar biar rame... Vote nya juga yang paling penting. 😍😍😍


Oh... Iya, rate nya jadi turun tuh, bisa di naikin lagi gak ngasih bintang nya jangan sungkan - sungkan kasih 5 aja, gak bayar kok 😊😊. Yang udah kasih 5 star makasih banget yah, di doain sehat selalu sama author... 😘😘😘