My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
KELUARGA YANG LENGKAP



Hati Ara begitu hangat saat mendengar pengakuan Jo jika dirinya benar-benar mencintai Ara dan tidak ingin di tinggalkan oleh wanita itu.


Tentu saja sebagai seorang wanita, Ara begitu bahagia merasa di cintai oleh suaminya seperti itu. Rasanya hidupnya kini lebih bermakna.


"Udah ah gombal nya! Kita temuin mommy yuk!" Seru Ara yang pura-pura menganggap obrolan mereka hanyalah sebuah rayuan biasa. Padahal Jo sangat serius dengan perkataannya. Dan Ara juga menyadarinya tapi wanita itu begitu malu untuk mengakuinya.


"Aku gak lagi gombal sayang. Aku serius. Aku gak mau pergi kalau kamu gak janji dulu!" Seru Jo sedikit memaksa.


Ara mengulum senyumnya, kedua alisnya terangkat ke atas. Dengan senyumnya masih setia terukir di bibirnya.


"Iya aku janji. Tapi kamunya jangan nyebelin terus! Lama-lama aku kesal juga kan?" Kata Ara sambil mencubit gemas pipi suaminya itu.


"Siap sayang, asalkan kamu jangan dekat-dekat dengan lelaki lain. Aku pasti gak bakalan nyebelin." Jo melebarkan senyumnya, menunjukkan deretan giginya yang putih dan terlihat rapih.


Ara mencebikkan bibirnya, tetap saja ujung-ujungnya cemburu buta. Mungkin sikap ini akan sulit untuk hilang dari watak suaminya.


"Ya sudah, ayo ke mommy!" Kini Jo yang menarik tangan Ara dengan semangatnya. Berjalan bergandengan menuju ke pelaminan. Di sana terlihat dua insan yang baru sah menjadi pasangan.


"Kenapa kamu baru ke sini?" Mommy Ayura yang mencari-cari sosok anak sulungnya itu langsung bertanya saat Jo dan Ara sudah berdiri di hadapan mereka.


"Maaf mommy! Selamat ya." Jo langsung memberikan pelukan sayang untuk mommy nya. Rasa haru dan bahagia bersatu dalam suasana indah yang paling berkesan di hati mereka.


"Makasih sayang." Balas Ayura lalu melepaskan pelukan mereka. Ara yang sudah mengucapkan selamat lebih dulu hanya menatap keharuan di hadapannya sambil tersenyum senang.


Jo beralih pada dokter Ichida. Ia hendak memberikan selamat pada lelaki itu karena sudah berhasil menjadi papa tirinya. Tapi kedua lelaki itu seakan ragu untuk memulai siapa dulu yang akan memberikan pelukan.


Keduanya sama-sama gengsi untuk mengungkapkan isi hati. Padahal kini dokter Ichida sudah sah menjadi papa tiri.


Dokter Ichida menghela nafasnya kasar. Sebagai orang yang lebih tua tentu saja dia harus lebih bijaksana. Ia tak mungkin terus menerus berseteru dengan anak tirinya.


"Kalau mau peluk, peluk aja! Gak usah malu-malu kayak gitu!" Seru dokter Ichida sambil merengkuh tubuh Jo ke dalam pelukannya.


Hal itu membuat Ayura dan Ara sontak tertawa. Kelakuan kedua lelaki itu memang sama gilanya.


Jo mendengus tapi tangannya tetap membalas pelukan papa tirinya. "Selamat ya!" Ucapnya sedikit memaksa. Pelukan mereka pun terlepas setelahnya.


Obrolan santai pun terjadi setelah ucapan selamat. Kini keluarga mereka terlihat sudah lengkap. Tapi sayang sosok Angelina tidak kelihatan batang hidungnya. Hingga anggota keluarga mereka tidak lengkap ada di sana. Entah kemana gadis itu?


Kedatangan seseorang yang merupakan anggota keluarga mereka membuat suasana jadi sedikit canggung. Seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba menghampiri dengan raut wajah bingung.


"Jacob, apa kau sudah makan?" Tanya Ayura basa basi, ia mencoba untuk mencairkan suasana. Walau bagaimanapun juga Jacob adalah paman dari anaknya. Tentu saja lelaki itu di undang juga.


"Sudah." Jawab Jacob dengan nada datar.


Semua orang tampak diam, terutama Jo yang selalu menunjukkan wajah geram. Ia memilih untuk mengalihkan pandangan.


"Aku ke sini cuma mau memberikan selamat kepada kalian berdua." Ucapan Jacob terjeda sebentar saat pandangan matanya beralih kepada keponakannya.


"Aku juga mau minta maaf pada kalian semua. Terutama padamu Jo."


Jo tersentak, pandangannya langsung tertuju pada sosok pamannya tersebut. Jarang sekali lelaki angkuh itu meminta maaf pada orang lain.


"Apa aku tidak salah dengar?" Seru Jo dengan nada menyindir.


Jacob sejenak memejamkan matanya diikuti oleh embusan nafasnya yang terdengar kasar. "Aku tahu kau pasti sudah tidak mempercayai ku. Tapi jujur aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan menganggu keluarga kalian lagi."


"Bee.... Kenapa kau diam saja?" Ara menegur suaminya yang hanya diam saja tak mau menanggapi permintaan maaf dari pamannya.


Jo menoleh pada istrinya, lalu mengerutkan keningnya begitu dalam. Ia sangat hapal dengan sikap istrinya yang berhati mulia. Dan Jo melihat dari sorot mata Ara jika wanita itu sepertinya percaya.


"Jangan terlalu cepat mempercayai orang! Apalagi orang itu sudah berkali-kali berbuat kejahatan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan dia lakukan kemudian." Seru Jo sambil menatap lekat-lekat wajah istrinya.


Ara terdiam, perkataan suaminya memang ada benarnya. Tapi tidak salah kan jika kali ini Jacob di berikan kesempatan?


"Jo, pamanmu sudah berbesar hati untuk minta maaf. Kenapa kau masih meragukannya? Tuhan saja Maha Pemaaf. Kenapa kamu begitu sombong tidak mau memaafkan kesalahan seseorang." Mommy Ayura pun ikut berbicara. Ia tidak mau anaknya menjadi seseorang yang terlalu lama memendam kebenciannya.


Jo mengepalkan tangannya. Andai mommy nya tahu jika lelaki itu yang menyebabkan suaminya meninggal waktu itu. Apakah sang mommy akan tetap berbicara seperti itu?


Jo ingin sekali mengumpat, tapi kata-katanya itu seakan tercekat. Jo merasa drama laki-laki di hadapannya itu begitu hebat.


"Kalau kau menginginkan aku mati untuk menebus semua kesalahanku padamu. Aku rela. Asalkan kau mau memaafkan ku setelah itu. Setidaknya aku bisa mati dengan tenang tanpa terbebani oleh rasa bersalah yang begitu besar." Tutur Jacob. Kedua matanya terlihat memerah. Terlihat sekali jika lelaki itu begitu sedih dan menyesal.


Raut wajah Jo terlihat datar, hatinya sedikit terenyuh dengan kata-kata pamannya itu. Menatap lekat wajah pamannya yang penuh keputusan asaan. Tak bisa di pungkiri di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih ada kasih sayang untuk sang paman.


"Aku memaafkanmu kali ini. Tapi jika sedikit saja kau menyinggung keluarga ku lagi. Aku tidak akan segan-segan lagi padamu."


Mendengar itu wajah Jacob seketika lebih cerah. Sorot matanya terlihat berbinar, ada secercah cahaya harapan yang kini ia dapatkan.


Tanpa segan-segan Jacob langsung merengkuh tubuh keponakannya itu ke dalam pelukannya. Tidak bisa di pungkiri hubungan darah yang mengalir dalam tubuh mereka membuat jalinan kasih sayang diantara mereka tidak akan pernah bisa pudar.


Jo menepuk-nepuk punggung pamannya. Sebelum kemudian melepaskan pelukan mereka.


"Sudahlah, kita mulai semuanya dari awal! Aku yakin semua yang terjadi diantara kita pasti ada hikmahnya. Dan aku sudah mendapatkan hikmah yang paling berharga. Yaitu Ara."


Jo mengalihkan pandangannya pada istrinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di puncak kepala wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


Ara pun tersipu, merasa tersanjung dengan ucapan Jo yang serasa menyentuh kalbu. Rasanya ingin sekali Ara memberikan hadiah berupa kecupan manis di bibir lelaki itu. Tapi untuk saat ini ia akan menundanya dulu. Tentu saja wanita itu malu.


"Terimakasih Jo." Seru Jacob sambil tersenyum bangga. Lalu pandangannya beralih pada Ayura.


"Ayura, aku juga minta maaf padamu. Selama ini selalu memaksakan keinginanku yang tidak masuk akal."


Ayura tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku sudah lama memaafkan mu Jacob." Katanya.


"Terimakasih, bolehkah aku memelukmu sekali saja?" Pintar Jacob sebelum ia berpamitan untuk pergi dari sana.


Tentu saja dokter Ichida tidak akan membiarkannya. Lelaki itu langsung menghalangi tubuh istrinya dengan tubuhnya di hadapan Jacob.


"Biar ku wakilkan saja. Yura sekarang istriku jadi jika ada yang ingin menyentuhnya harus seizin ku dulu. Aku saja belum sempat menyentuhnya, lalu kau mau memeluknya begitu saja? Jangan harap!" Serunya dengan raut wajah tidak suka.


Dan hal itu membuat Jo nyaris tertawa. Jika tidak memandang sang mommy yang sudah melototkan matanya pada anak sulungnya yang terkenal pedas dalam kata-katanya itu. Sudah pasti dokter Ichida akan di bully nya saat itu juga.


Sepertinya sosok bucin baru sudah datang. Dan Jo merasa punya teman sekarang.


***


Seneng tuh si Jojo ada temen bucin. Sudah lengkapnya keluarga mereka. Duh.... Senengnya. 🥰🥰🥰


Jangan lupa like, komentar dan votenya ya kesayangan. Love yu☺☺