
" Apa paman tidak boleh menjengukmu Jo ? " Jacob pura - pura tersentak sambil memegang dadanya sendiri.
Jo terdiam sejenak. " Bukan paman, maksudku.... Aku hanya terkejut saat kau datang bersama Sam. " Ucap Jo sedikit gugup, pada dasarnya Jo memang sangat menghormati Jacob, seperti dia menghormati daddynya dulu. Karena Jacob sangat pintar dalam mengambil hati Jo waktu kecil, apalagi saat Ayura meninggalkan daddynya Jo yang menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa daddynya waktu itu. Jacob benar-benar membuat kebencian Jo pada mommy Ayura semakin dalam saja.
Tidak mungkin juga kan kalau Jo mengatakan jika dirinya tak senang dengan kedatangan sepupunya sendiri.
" Maaf, aku permisi dulu. " Pamit Ara menyela obrolan mereka, Ara tidak mau melihat kepura-puraan yang di tunjukkan oleh Jacob. Dia sangat muak sekali dengan orang itu.
Tapi saat Ara hendak melewati Sam, tangannya tiba-tiba tertahan oleh cekalan tangan Sam. " Ara.... Aku ikut yah? " Sahut Sam tiba-tiba, membuat Ara tersentak tapi kemudian tersenyum juga.
Belum sempat Ara menjawab tapi suara teriakan Jo sudah kembali membuatnya terperanjat. " Hei.... Lepaskan tangan Ara! Ah.... " Jo memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit setelah berteriak dengan rahangnya yang mengeras karena emosi.
" Jojo.... " Ara segera berhambur mendekati suaminya, dia tak sadar jika telah menepis tangan Sam begitu kasarnya.
Sam di buat melongo dengan sikap Ara yang terlihat begitu cemas saat melihat suaminya kesakitan. Matanya mengikuti gerak langkah Ara dengan tatapan kecewa.
" Kamu kenapa? Kepalamu sakit? "Tanya Ara begitu khawatir. Jo mendongak menatap wajah Ara yang kini sudah berdiri di sampingnya sambil memeriksa kepala Jo, bibirnya tersenyum tipis Jo merasa senang ternyata Ara sangat peduli dengan dirinya. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang begitu panik. Lalu melirik ke arah Sam dan menyunggingkan senyum kemenangan pada lelaki itu. Walaupun kepalanya benar-benar sakit, tapi setidaknya hal itu bisa mengalihkan perhatian Ara.
" Ah.... Kepalaku tiba-tiba sakit. " Pekik Jo lagi, walaupun sudah sedikit membaik saat Ara sudah memegang kepalanya, ajaib sekali ya tangan istrinya. Jo sengaja, dia hanya ingin lebih mendramatisir keadaannya, dia ingin menunjukkan pada Sam jika Ara adalah istrinya dan sangat peduli dengan Jo.
" Sebaiknya kamu istirahat dulu Jo ! " Sahut mommy Ayura yang juga terlihat panik.
" Iya mommy, sepertinya aku butuh tidur lagi. " Jeda sebentar saat pandangannya beralih pada Ara. " Kamu temani aku di sini! " Imbuh Jo yang membuat Ara mengernyitkan dahi. Tumben sekali lelaki ini berkata lebih lembut. Merasa khawatir sakit Jo akan kambuh lagi, Ara lebih baik mengangguk saja dulu.
Jacob dan Sam pun berjalan mendekati tempat tidur Jo, " Sepertinya paman sudah mengganggu waktu istirahatmu Jo, lebih baik paman pergi dulu, cepat sembuh Jo! " Pamit Jacob sambil tersenyum penuh arti, sepertinya dia sangat menikmati kesakitan Jo yang sedang di landa rasa cemburu.
Jacob beralih pada Ayura, " Kakak ipar, apa kau tidak ingin mengantarkan kami keluar? Tak ada penyambutan saat kami datang, dan kami pulang pun tidak ada yang mau mengantar ke depan. " Ujar Jacob sambil menaikan sebelah alisnya, sedangkan Ayura hanya bisa menghela nafas kasar sambil merotasi kan matanya jengah, Ayura hapal betul dengan apa yang di maksud oleh lelaki yang sudah terobsesi dengan dirinya itu.
" Mom, tolong antarkan paman keluar! Biar Ara yang menemaniku di sini. " Seru Jo meminta pada mommynya, sebenarnya Ayura sangat enggan tapi mau gimana lagi, dia tak ingin anaknya kembali membenci dirinya kembali karena ulah si Jacob ini.
" Baiklah.... " Ayura berjalan mendahului Jacob dan Sam. Sam tampak ragu untuk meninggalkan kamar itu, dia melirik ke arah Ara yang masih setia berdiri di samping Jo. Lalu membalas senyum saat Ara melemparkan senyum manisnya disana. Sam kemudian berbalik berjalan menyusul papa dan bibinya yang sudah duluan.
" Sam.... " Tiba-tiba panggilan Ara menghentikan langkah kaki laki-laki itu.
Sam memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah Ara. " Apa? " Tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya.
" Besok aku akan kembali bekerja, maaf tadi sudah merepotkan dirimu. " Seru Ara dengan memasang wajah teduhnya. Sam begitu senang melihatnya, wajahnya langsung memancarkan sinar keceriaan yang dari tadi hilang entah kemana.
" Tidak apa-apa, aku mengerti. " Sam tersenyum lalu kembali berbalik dan melanjutkan niatnya untuk pulang.
Ara terpaku menatap punggung Sam yang menghilang di balik pintu.
" Ck, akrab banget sama atasan. " Jo berdecak sambil mendengus kesal mendengar Ara begitu lembut berbicara pada sepupunya, tapi jika berbicara pada suaminya sendiri, nadanya selalu saja naik beberapa oktaf. Tapi itu kan juga karena sikap Jo yang menyebalkan, coba saja Jo bersikap lembut seperti Sam, pasti Ara akan bersikap lembut padanya juga. Egois sekali bukan ?
Ara menoleh, menatap Jo sambil mengernyitkan dahi. Lalu menarik salah satu sudut bibirnya saat tersadar sesuatu, Ara yakin jika suaminya kini sedang cemburu.
Jo menggertakkan giginya dengan rahang yang mengetat menahan kesal. Sindiran Ara sepertinya mengena di hati lelaki ini.
" Kamu nyindir aku ya? " Tanya Jo dengan geram.
Ara mengerutkan dahi, lalu menurunkan tangannya yang tadi melipat di depan dada. " Memangnya kita musuhan? " Tanyanya telak dan membuat Jo sontak membungkam.
Melihat Jo diam saja, Ara mencebikkan bibirnya dan ingin sekali tertawa jahat. Senang sekali rasanya membuat si sombong itu merasa tersudutkan. Tak mau suasana bertambah keruh, Ara memilih untuk melangkah hendak meninggalkan Jo yang masih terpaku. Tapi tiba-tiba saja tangan Ara di tarik hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak tiang infus yang sejajar dengan tubuhnya hingga tiang itu terjatuh dan mengenai kepala Jo.
" Aww..... " Pekik Jo sambil memegang kepalanya kembali, rasa sakitnya yang tadi juga masih terasa di tambah rasa sakit akibat tertimpa membuat Jo semakin meringis lebih keras saja.
Ara begitu terkesiap melihat itu, dengan panik dia segera membenarkan penyangga infus pada posisi semula.
" Maaf Jojo, salah sendiri kamu malah menarik tanganku barusan. Aku tak sengaja menabrak tiangnya. " Seru Ara dengan wajah menyesal.
" Siapa yang menyimpan tiang ini di sini? " Bentak Jo sambil memegang kepalanya.
" Eh.... Dasar laki-laki aneh, itu kan tiang infus yang mengalirkan cairan nutrisi pada tubuhnya, tentu saja ada di sampingnya dari tadi. " Gumam Ara merasa aneh dengan pertanyaan suaminya itu.
" Kamu juga, kamu mau pergi menyusul laki-laki tadi hah? " Seru Jo masih dengan mode marah, Jo jadi uring-uringan tidak jelas.
" Kamu kenapa sih? Apa karena kepentok tiang ini otakmu berubah jadi tidak waras? Aku keluar buat cari makan. Aku lapar. " Seru Ara yang akhirnya tersulut emosi juga. Bisa-bisanya Jo mengambil kesimpulan yang tidak masuk akal seperti itu.
Jo menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan pelan. " Maaf. " Sesalnya dengan pelan.
Ara terperangah, sepertinya dia mendengar kata yang aneh dari mulut suaminya, apa tadi Jo mengucapkan kata ' maaf '. Ara tak percaya, dia ingin mendengar sekali lagi dan memperjelas pendengarannya, lalu mencondongkan sedikit kepalanya mendekati Jo.
" Apa kamu bilang ? Coba ulangi lagi! " Tanya Ara meyakinkan.
Jo berdecak, mendelikkan matanya dengan kesal. Melihat wajah Ara yang begitu dekat dengan kepalanya, tiba-tiba saja kedua tangannya terangkat ke atas dan merangkum wajah Ara lalu....
Cup....
Jo mencium bibir Ara dengan lembut, membuat mata Ara membulat dengan sempurna. Dan langsung mendorong tubuh Jo dan menegakkan tubuhnya dengan celat, menatap Jo tajam dengan tangannya masih menyentuh bibirnya yang masih basah. Dan tentu saja pipinya langsung bersemu merah.
" Kamu cerewet sekali. " Seru Jo sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, kejadian itu terlalu cepat, Jo tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat melihat bibir Ara yang begitu menggoda. Ya elah Jo, masih aja berpura-pura.
***
Yah..... Ngambil kesempatan tuh si Jojo, main sosor aja 😅😅😅.
Maaf ya kemarin gak sempet update, hari ini juga satu chap dulu ya, besok di usahain dua deh, makanya dukung terus authornya ya. Udah senin lagi nih, vote nya yang banyakin ya teman.
Komentar kalian juga paling di tunggu sama author, walau cuma kata next doang tapi udah bikin author merasa tersanjung banget deh pokoknya... Salam hangat. Bye, 🥰🥰🥰