
Awan putih yang berjajar beraturan di pagi hari, tak mampu menahan sinar mentari pagi yang begitu menyeruak menerangi bumi. Sinarnya sampai menembus setiap celah sudut gelap yang membutuhkan penerangan.
Cahaya itu pun masuk dari celah ventilasi kamar yang terlihat temaram. Seolah menggelitik mata tiap insan yang masih belum terjaga, menyuruhnya untuk menyongsong hari dengan semangat yang memburu di dada.
Begitupun dengan seorang insan manusia yang bernama Ara, pagi sekali dia sudah terjaga dari tidurnya, sinar mentari pagi itu tidak bisa mengalahkan semangat kerja wanita itu. Dua hari mengambil cuti membuatnya merasa bersalah dengan pekerjaan yang telah dia tinggalkan. Terutama pada Sam yang merasa kerepotan dengan beban tugas yang harus Ara kerjaan.
" Harusnya kemarin aku sudah bekerja, tapi Jojo begitu egois dan manja tak mengizinkan aku untuk pergi. Padahal di sini banyak pelayan, dan keadaannya juga sudah membaik. " Gerutu Ara pagi itu di kamarnya sendiri, ya semenjak dia memutuskan untuk tetap tinggal, Ara meminta tidur di kamar yang terpisah dengan Jo, dia berniat tinggal di sana hanya untuk merawat Jo saja, Ara tak mau terus menerus di sebut wanita penggoda oleh lelaki itu jika masih tinggal sekamar dengan Jo.
Ara keluar kamar sudah siap dengan setelan kerjanya, berjalan ke dapur bergabung dengan yang lainnya untuk mendapatkan sarapan pagi.
" Selamat pagi mom, Angel ! " Sapa Ara sambil menarik salah satu kursi kosong di meja makan. Disana hanya ada mommy Ayura dan juga Angelina. Mereka berdua mendongakkan kepalanya dari piring yang ada di hadapannya ke wajah Ara lalu menyunggingkan senyum hangat di pagi itu.
" Pagi Ara, kamu akan bekerja hari ini ? " Tanya mommy Ayura.
" Hemm.... Ara tidak enak pada Sam, janjinya hanya sehari, tapi ternyata dua hari. " Keluh Ara, sambil mengambil makanannya ke atas piring.
" Apa Jo sudah sembuh? " Tanya mommy Ayura lagi.
" Tadi pagi Ara sudah mengecek suhu tubuhnya sudah normal mommy, dan jarum infus nya juga sudah di cabut kemarin sore oleh dokter Aldo. Hasil tes lab nya juga normal, tidak ada penyakit apapun dalam tubuh Jo. Mungkin sakitnya Jo memang karena pengaruh pikiran saja seperti apa yang dikatakan oleh dokter Ichida waktu itu. " Ujar Ara panjang lebar, sejenak menghela nafas itu artinya tugasnya di rumah itu benar-benar belum selesai.
" Terimakasih Ara, kamu sudah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ini. " Ucap tulus dari mommy Ayura membuat Ara menatap wanita itu dengan tatapan sendu. Lalu melengkungkan bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman balasan yang sama tulusnya.
" Pagi semua? " Sapaan seseorang mengalihkan perhatian mereka. Ketiga orang yang lebih dulu duduk di meja makan tersebut seperti terhipnotis menatap orang yang baru datang itu dengan tatapan aneh.
" Kenapa menatap ku seperti itu? " Orang itu adalah Jo, manusia angkuh yang tak suka berbasa-basi dengan sapaan di pagi hari. Dan pagi ini lelaki itu melakukannya, bahkan terdengar sangat ramah.
Jo mengedikkan bahunya saat tak mendapat jawaban apapun dari ketiga anggota keluarganya tersebut. Lalu mendudukkan tubuhnya pada kursi yang baru saja dia tarik.
" Ara.... Ambilkan nasi gorengnya untukku! " Perintah Jo membuyarkan pandangan Ara, dia melirik ke arah piring yang di sodorkan oleh suaminya tepat di hadapan wajahnya.
Tanpa membantah, Ara menyahut piring itu dan mengisinya dengan makanan yang Jo minta. Suasana jadi hening seketika, hanya ada suara sendok dan piring yang saling berbenturan di meja makan itu. Mommy Ayura dan Angelina juga merasa aneh, tapi mereka memilih diam tak mau membahas perubahan sikap Jo tersebut. Bahkan mommy Ayura jadi khawatir jika Jo mengalami perubahan kepribadian lagi. Hal itu akan dia selidiki nanti.
" Kamu mau kemana Jojo ? " Pertanyaan itu keluar dari mulut Ara, matanya dengan seksama melihat penampilan Jo yang memakai setelan kantornya. " Kamu mau kerja? " Tanya Ara lagi sambil menaikan kedua alis tebalnya.
" Jangan, tubuhmu masih lemah! Besok saja kamu bekerjanya. " Cegah Ara dengan sedikit memaksa. Dan hal yang aneh kembali terjadi. Lelaki itu malah tersenyum menanggapi omelan Ara. Biasanya Jo akan langsung uring-uringan tak jelas jika ada seseorang yang berani melarang keinginannya.
" Aku sudah sehat, tubuhku juga sudah terasa segar seperti sebelumnya. Jangan khawatir! " Seru Jo sambil meneruskan melahap makanannya. Ara melongo takjub di buatnya, kemana perginya suaminya yang arogan dan angkuh itu ? Apa iya demam itu menyebabkan saraf-saraf otaknya sedikit bergeser lagi.
Ara menelan ludahnya dengan kelat, suasana yang terkesan aneh itu sedikit menggelengkan kepalanya, berharap kesadaran segera membangunkan imajinasinya, tapi sayangnya hal itu tak membuat keadaan berubah dari pandangannya yang semula. Apa yang Ara lihat adalah kenyataannya.
***
Sesampainya di kantor Ara di sambut hangat oleh Sam, saat tahu Ara sudah kembali bekerja, lelaki itu malah memilih duduk di kursi di dekat meja kerja Ara, walaupun banyak mata karyawan lain yang memperhatikan kedekatan atasannya dengan asisten pribadinya tersebut, Sam tak peduli, dua hari tak melihat wanita itu membuat dirinya begitu rindu, walaupun dia sangat tahu memendam perasaan itu hanya akan membuat Sam semakin terjerumus dalam hal yang tabu, bukankah mencintai seseorang yang sudah menikah itu bukan hal baik, apalagi orang itu adalah istri dari sepupunya sendiri.
Sam belum berpikir ke arah sana, baginya saat ini adalah waktu kebersamaannya dengan Ara yang sangat berharga, selalu dekat dengan wanita itu saja membuat dirinya sangat bahagia. Untuk kali ini Sam ingin egois pada keinginannya sampai dirinya yakin sampai sejauh mana rasa cintanya pada Ara. Tapi untuk merebutnya dari sang kakak sepupu Sam juga tak ingin melakukan itu, Sam ingin Ara sendiri yang menentukan pilihan, jika wanita itu tetap memilih bersama Jo tentu saja dia akan mengalah begitu saja. Dengan catatan Jo juga mempunyai perasaan yang sama dengannya, mencintai Ara dengan sepenuh hatinya.
" Bagaimana keadaan kak Jo? " Pertanyaan Sam mengalihkan perhatian Ara pada layar komputer yang berada di hadapannya. Menoleh sebentar, lalu beralih lagi pada benda persegi yang menampilkan bagian dari pekerjaannya itu. Sudah satu jam atasannya itu berada di meja kerjanya, Ara sudah menyebutkan jadwal hari ini untuk sang atasan dan seharusnya hal itu di lakukan di ruangan direktur tapi entah kenapa Sam malah menyuruh Ara mengatakannya di sana saja, katanya sudah tanggung dia duduk di sana.
Alih-alih pergi setelah mendapat jadwal hariannya, Sam masih saja diam seperti menunggu Ara yang sedang bekerja. Sebenarnya Ara merasa risih, tapi mau gimana lagi. Ini kantornya Sam, suka - suka dia mau duduk dimana saja.
" Sudah membaik, malah sudah bekerja lagi. " Jawab Ara masih fokus menatap monitor nya.
" Syukur lah. " Ucap Sam begitu lega mendengarnya. Lalu menatap wajah serius Ara yang masih fokus dengan pekerjaannya.
" Apa bapak akan tetap disini? Satu jam lagi kita ada pertemuan dengan client penting di luar kantor, ada beberapa berkas yang perlu anda pelajari, saya sudah siapkan di ruangan bapak. " Ujar begitu terdengar begitu profesional, dia tak mau karyawan lain berpikir jika dirinya berlagak sok akrab dengan sang atasan.
Mendengar perkataan itu, membuat Sam seketika tersadar jika dirinya kini sedang berada di perusahaan, tepatnya di meja kerja Ara yang letaknya di satu ruangan yang berbaur dengan karyawan lainnya, walaupun ada sekat di antara meja karyawan tetap saja keberadaan sang atasan dapat diketahui oleh semua karyawan di sana. Sam beranjak berdiri merapikan jasnya walaupun masih terlihat rapih.
" Baiklah, aku ke ruang kerjaku dulu. " Pamit Sam sambil menunjukkan wibawanya kembali. Ara hanya mengulas senyum menatap Sam yang pergi menuju ruangannya yang terletak tak jauh dari tempatnya sekarang. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat dia abaikan.
****
Lalu Ara minta dukungan pada para readers, klik like, kasih komentar, share, dan votenya.