My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MEMBELI CINCIN



David memberikan saran pada Jo untuk memberi Ara kejutan yang manis, tentu saja ia tidak tahu bagaimana bentuknya itu. Dan David menyuruh Jo untuk membelikan sebuah cincin pernikahan yang selama ini belum pernah Jo berikan. Waktu itu mas kawin pernikahan mereka memang seperangkat perhiasan tapi tetap saja bukan Jo yang memberikannya melainkan mommy nya yang sudah mengatur pernikahan itu. Ya, Jo berniat akan melamar Ara kembali dengan begitu romantis.


Sore itu Jo dengan begitu semangat menuju toko perhiasan langganan keluarganya bersama dengan David. Ia hendak mencari cincin yang bermata kan berlian kecil di atasnya. Dia tahu Ara tidak suka dengan hal-hal yang terlalu glamour. Jadi wanita itu pasti menyukai cincin yang terlihat simple dan sederhana.


" Selamat sore tuan David. Perhiasan apa yang ingin Anda cari ? " Tanya seorang perempuan di toko perhiasan, yang David kenal sebagai dari toko perhiasan tersebut. Ia berbicara pada David tapi matanya terus saja mengarah pada Jo, binar kekaguman terpancar dari sorot mata si pemilik toko yang seumuran dengan Ara istrinya Jo.


" Iya Nona, tuan saya ingin mencari sebuah cincin bermata berlian untuk calon istrinya. " Jawab David mematahkan hati gadis itu, karena pernikahan Jo belum tersebar secara umum, maka Jo akan mengenalkan pada dunia jika Ara adalah calon istrinya. Mendengar kata istri untuk laki-laki yang begitu mengagumkan di hadapannya membuat wanita itu merengut karena kecewa.


" Oh.... Maaf apa ini tuan Jonathan presdir grup J&J itu ? " Tanya pemilik toko yang bernama Laura dengan sok akrab.


Jo merotasikan bola matanya malas, walaupun sindrom kebenciannya terhadap perempuan sudah mulai berkurang tetap saja Jo masih tidak suka dengan wanita yang sok akrab dengan dirinya.


" Hem.... " Jo hanya bergumam dengan cuek menjawab pertanyaan wanita itu.


Laura tersenyum canggung, tak di sangka seorang presdir perusahaan grup J&J ternyata begitu jutek. Cara bicaranya tak seperti Laura kira, karena selama ini Jo selalu menyuruh David untuk membeli perhiasan sebagai hadiah jika ada kolega rekan bisnisnya yang mengundang dirinya ke acara pernikahan atau semacamnya.


Menurut Laura, Jo adalah sosok yang dermawan dan juga baik hati. Dan setelah melihat wajah tampan lelaki itu membuatnya ingin berkata sempurna sebagai pertemuan pertamanya dengan sang presdir. Tapi nyatanya apa, Jo malah bersikap ketus dan begitu dingin. Walaupun tampan tetap saja menyebalkan.


" Tuan ingin cincin yang seperti apa? " Laura bertanya dengan begitu sopan.


" Apa kau tidak dengar tadi asisten ku bilang apa? Aku ingin cincin berlian. " Seru Jo menegaskan kata-katanya. " Tunjukan semua koleksi terbaikmu disini, berapapun harganya jika aku suka. Aku akan membelinya! " Titah Jo dengan begitu angkuh.


Laura mencebik. " Sombong sekali. " Cibir nya dalam hati. " Untung tampan, kalau tidak aku malas sekali melayani pembeli macam ini. " Gumamnya lagi.


" Tunggu sebentar! " Laura meninggalkan kedua lelaki itu, tak lama ia kembali dengan membawa beberapa contoh cincin yang bermata berlian kecil di tengahnya yang terlihat cantik dan mewah. Jo sempat bingung mau memilih yang mana. Baru pertama kalinya ia memilih cincin untuk wanita.


" David, aku tidak tahu bagaimana selera wanita apalagi Ara. Pilihkan buatku! " David menghela nafasnya berat, kalau memang dirinya juga yang harus memilih, kenapa bosnya juga harus ikut serta. Lebih baik David sendiri saja yang kesana seperti biasanya.


Mata David mengarah pada satu cincin yang terlihat simple tapi tetap terkesan mewah.Tapi belum sempat David memilihnya,dirinya dikejutkan oleh kedatangan seorang perempuan yang tiba-tiba menyaut cincin yang sejak tadi sudah menjadi pusat perhatiannya itu. Begitupun dengan Jo, tubuhnya sedikit berjengit saat wanita itu tiba-tiba menyerobot cincin itu dengan sedikit menyenggol bahunya. Laki-laki itu menoleh dengan kening yang berkerut tajam.


" Menurutku yang ini terlihat cantik. Aku suka. " Ucap wanita itu secara tiba-tiba sambil menyematkan cincin berlian itu di jari manisnya. Lalu menunjukkan hasil penampakannya dengan mengacungkan punggung tangannya di hadapan Jo. Senyum wanita itu tampak mengembang sempurna.


" Kamu? " Seru Jo begitu terkesiap, sepertinya ia mengenal wanita itu.


" Ya ini aku Erika. " Sahut wanita itu dengan begitu bersemangat.


Jo menatap wanita itu dengan seksama. Wanita yang ia kenal penuh dengan ambisi dan juga selalu berpakaian sexi. Tapi sekarang gadis itu terlihat berbeda, ia memakai baju lebih formal dan terlihat elegan.


" Ya, kau ingat aku? " Tiba-tiba saja wanita itu memeluk tubuh Jo dengan begitu erat. " Aku senang kau masih mengenalku Jo. " Imbuhnya masih dalam posisi yang sama.


" Siapa perempuan ini? Kenapa dia memeluk tuan? " Gumam David dalam hati. Dan yang membuat David lebih bingung yakni bosnya tidak menolak saat tubuhnya di rengkuh oleh wanita itu.


Tapi kebingungan David akhirnya terjawab oleh tindakan Jo yang melepaskan pelukan wanita itu dengan paksa.


" Maaf aku tidak mengenalmu. " Ucap Jo dengan tegas sambil menghempaskan tangan Erika dengan kasar.


David mengulum senyum, begitu juga dengan Laura si pemilik toko perhiasan itu. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum mengejek pada wanita yang menurutnya tidak tahu malu itu.


" Hahahaha, dasar perempuan tidak tahu malu, menggunakan trik murahan untuk merayu laki-laki. Di kira mempan untuk laki-laki sekelas tuan Jo ini. " Gumam Laura dalam hati.


" Maaf nona, tolong lepaskan cincinnya ! Tadi tuan Jo ingin memilih cincin itu untuk calon istrinya. " Ucapan Laura terdengar penuh penekanan dengan nada sindiran.


Erika mencebik kesal, dirinya tak terima dipermalukan oleh Jo seperti itu. Erika hendak melepas kembali cincin yang melingkar di jari manisnya tapi seketika ter urungkan saat ia baru saja mencerna perkataan si pemilik toko.


" Apa kamu bilang barusan, calon istri Jo? " Tanya Erika begitu penasaran. Sejenak tatapannya tertuju ke arah Laura lalu mengalihkannya pada Jo yang masih duduk tenang di hadapannya.


" Kau mau menikah Jo? " Erika yang tak kunjung mendapat jawaban Laura akhirnya bertanya pada Jo sendiri.


" Bukan urusanmu. " Bukannya menjawab pertanyaan Erika, Laki-laki itu malah memusatkan pandangannya pada deretan cincin yang berjajar di tempatnya.


Erika mendengus kesal. Lalu ia benar-benar melepaskan cincin di tangannya dengan kasar dan menaruhnya di hadapan Jo.


" Yang ini saja Jo, ini bagus ! " Seru Erika kemudian masih bersikap sok akrab dengan pria angkuh itu.


" Maaf aku tidak suka barang bekas pakai orang lain. " Cibir Jo tanpa menoleh pada Erika.


" Tolong bereskan ini! Cincin ini tidak termasuk ke dalam pilihan. " Seru Jo pada Laura si pemilik toko. Laura mengangguk, lalu mengambil cincin itu dan menyimpannya di tempat lain. Ia merasa kesal dengan Erika karena cincin itu jadi tersisihkan. Padahal cincin itu adalah cincin terbaik dan harganya juga fantastis. Kalau saja Erika tidak memakainya ia yakin tadi asisten David hendak mengambilkan cincin itu untuk tuan Jo. Sedangkan Erika begitu kesal mendapat penghinaan seperti itu dari Jo, sudah bertahun-tahun tetap saja Jo yang ia kenal selalu bersikap dingin seperti itu. Dan sekarang menurutnya Jo bersikap sangat keterlaluan.


***


Jojo juteknya maximal ya pada setiap cewe yang mau menggoda, ciri-ciri lelaki setia gak sih kalau kayak gitu. Tapi gak baik juga ya kalau di ajak main berdua. Nanti orang-orang pada bilang mau-maunya jalan sama orang judes. 😆😆😆


Jangan lupa like, komentar sama vote nya ya reader kuh...