
"Tok..... Tok.... Tok....."
Suara ketukan pintu kamar yang terdengar begitu nyaring memecah keheningan di sepertiga malam. Ara mengerjapkan matanya saat telinganya samar-samar mendengar suara ketukan pintu di selingi teriakan seseorang dari luar kamar. Ara mengucek matanya yang terasa perih, lalu menengok ke arah jam dinding menunjukkan jarumnya berada di angka tiga. Itu berarti waktu masih dini hari.
Ara menguncang tubuh Jo yang masih terlelap sambil memeluk tubuh Ara. Berusaha untuk membangunkan suaminya tersebut dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamar mereka di pagi buta.
Tapi bukannya bangun, Jo malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ara. Hal tersebut membuat Ara mendengus kesal dan memukul bahu suaminya dengan sedikit keras. Membuat tubuh Jo langsung terperanjat karena merasakan perih di bagian bahunya tersebut. Dan sontak melepaskan pelukannya juga.
"Ish.... Kenapa memukulku?" Tanya Jo sambil menyipitkan matanya, rasanya begitu perih saat langsung membuka mata secara tiba-tiba. Walau tak seperih bahunya yang di pukul oleh Ara dengan begitu kencang.
Ara melebarkan senyumnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ya, karena mereka habis bercinta semalaman jadi Ara tidak memakai baju sekarang.
"Kau tidak dengar itu? Ada yang mengetuk pintu." Seru Ara sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu kamar.
Jo seketika menoleh ke arah pintu dan menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas.
"Kak Jo bangun!" Teriakan tersebut terdengar samar di luar pintu kamar mereka, di ikuti oleh suara ketukan pintu yang begitu menganggu.
"Itu seperti suara Angelina." Ucap Jo menebak-nebak. Ara hanya mengedikkan bahunya sebagai tanggapan.
Jo melirik ke arah jam dinding, kemudian mengusap wajahnya kasar saat melihat baru jam tiga pagi. "Astaga.... Mau apa anak itu menggangguku jam segini?" Seru Jo terdengar begitu kesal.
"Itu adikmu." Seru Ara mengingatkan.
"Aku tahu." Jo mendengus.
"Ya sudah buka pintunya!" Perintah Ara membuat Jo mendelik kesal pada istrinya tersebut. "Jangan suruh dia masuk! Aku tidak pakai baju." Tambah Ara lagi
"Hem...." Jo bergumam sambil menurunkan kakinya di atas lantai dan mengenakan kaosnya yang tercecer disana.
"Jangan memarahi Angel! Dia masih anak kecil." Ara memperingatkan lagi. Jo menghela nafas, sejak kapan istrinya jadi cerewet seperti itu?
"Iya nyonya." Jo berkata sambil mencibir, istrinya yang begitu cerewet sungguh menyebalkan. Ara terkekeh geli sambil memperhatikan langkah Jo yang berjalan mendekati pintu kamar lalu membuka pintunya sebagian.
"Mau apa kamu?" Tanya Jo pada Angelina yang sudah memasang wajah imutnya di depan pintu kamar kakaknya tersebut, saat mendengar suara pintu tersebut akan di buka.
"Kakak, Angel cuma mau mengingatkan, kalau jadwal penerbangan kita ke Jepang hari ini jam 7 pagi. Kak Jo tidak lupa kan?" Jawab Angel dengan penuh semangat.
Sesuai rencana dua hari yang lalu, hari ini Jo dan keluarganya memang akan pergi berlibur ke Jepang. Ara sudah mem packing baju-baju nya dan juga Jo dari kemarin sebelum Jo pulang dari kantornya. Ara bersemangat sekali untuk pergi liburan ke Jepang karena ini adalah pengalaman pertamanya untuk pergi ke negeri Sakura tersebut.
Begitu juga Angelina, adik ipar Ara yang terkenal cerewet dan ceria itu tak kalah semangatnya. Walaupun ini bukan kali pertamanya ia pergi ke Jepang untuk jalan-jalan. Tapi tetap saja gadis itu begitu tidak sabar untuk pergi kesana lagi. Terlebih kini Angelina akan pergi bersama dengan keluarga lengkapnya. Dan ini baru pertama kali terjadi dalam hidupnya. Sehingga hari ini anak itu terbangun terlalu pagi saking tidak sabarnya.
Mendengar itu Jo menggeram, matanya melotot tajam menatap adik kandungnya itu. "Jadi kau membangunkanku dipagi buta seperti ini hanya untuk mengatakan itu? Kau tahu ini jam berapa Angel?" Jo begitu kesal hingga nada suaranya terdengar meninggi membuat Angel mundur satu langkah dari tempatnya karena takut.
"Jojo.... Jangan memarahi Angel!" Terdengar teriakan Ara di dalam kamar yang samar-samar mendengar suara suaminya yang sedikit membentak.
"Huh, baiklah ....!" Jo perlahan mengatur nafasnya agar tidak marah. Sebelum ia kembali melanjutkan kata-katanya. "Kakak sudah tahu. Dan ini masih jam 3 pagi. Kau masih punya waktu untuk beristirahat beberapa jam lagi. Kita akan berangkat jam setengah 6. Kau mengerti!" Perintah Jo pada Angel dengan nada yang lebih tenang.
Angel tersenyum lega, untung sekarang sudah ada pawang Ara, jadi dia bisa menjinakkan Jo yang buas dengan satu teriakan saja. "Angel tidak mau tidur lagi, takut di tinggal sama kak Jo. Angel balik ke kamar lagi ya! Dah kak Jo...." Seru Angel dengan begitu ceria sambil berlari kecil meninggalkan kamar kakaknya tersebut.
Jo membuang nafas kasar, lalu mengacak rambutnya begitu frustasi, bagaimana tidak? Tidurnya harus terganggu hanya karena kekonyolan adiknya itu. Padahal Jo baru tertidur satu jam yang lalu saat dirinya baru selesai dengan pergulatan nya bersama Ara.
Jo masuk kembali ke dalam kamarnya dengan wajah masam. Apalagi saat melihat istrinya sudah kembali bergelung di bawah selimut dan memejamkan matanya entah sudah tidur atau hanya pura-pura. Membuat Jo semakin kesal saja.
Jo merangkak naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Ara dari belakang. Dan menghujani dengan banyak kecupan di puncak kepalanya. "Aku tahu kau pura-pura tidur. Ayo bangun!" Bisik Jo tepat di telinga Ara.
Ara menggeliat karena merasa geli dengan perlakuan suaminya. Ia menjauhkan sedikit kepalanya agar bisa menjangkau wajah suaminya tersebut. "Kamu mau apa lagi?" Tanya Ara dengan tatapan penuh curiga.
Jo tersenyum jahil sambil menopang kan kepalanya di telapak tangannya. "Kau sudah membangunkan ku, sekarang tanggungjawab!" Ucapnya sambil mengelus pipi Ara dengan tangan sebelahnya lagi.
Ara membelalakkan mata, suaminya memang tidak ada rasa lelahnya. "Apa kamu tidak kasihan padaku Jojo? Aku sangat lelah, badanku terasa pegal semua. Dua jam lagi kita akan ke bandara, jadi biarkan aku istirahat sebentar saja. Oke!" Ara mengatupkan kedua tangannya membuat Jo tidak tega melihatnya.
"Hem.... Baiklah, kau tidurlah dulu! Sini aku peluk!" Jo merentangkan tangannya dan menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya. "Kau sudah atur alarmnya?" Tanya Jo kembali saat ia hendak memejamkan mata. Dan Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tak lama keduanya pun kembali terlelap dalam mimpi mereka.
***
Sesuai keberangkatan kini Jo dan keluarganya sudah berada di bandara terbesar di kota H, semua orang sudah berkumpul di terminal keberangkatan kelas eksekutif setelah melakukan chek-in dan memperlihatkan e-ticket yang sudah di booking sebelumnya. Mereka menerima boarding pass dan bersiap melakukan boarding ke tempat tujuan mereka.
Karena Jo memesan tiket eksekutif sehingga tempat menunggu pintu keberangkatan mereka pun tak terlalu banyak orang. Ara terlihat celingukan, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya, padahal seluruh keluarganya ada disana. Hiruk pikuk suasana bandara membuat pendengaran Ara sedikit terganggu.
"Ada apa?" Tanya Jo yang melihat gelagat istrinya yang tampak bingung.
Ara menoleh ke arah Jo, lalu mengulas senyum padanya. "Gak apa-apa." Mungkin Ara salah dengar, hingga dia memutuskan mengabaikan suara tersebut.
Tak lama, suara petugas maskapai pun menginformasikan agar para penumpang segera bersiap dan menuju pintu keberangkatan karena pesawat akan segera take-off. Jo sekeluarga pun segera menuju gate keberangkatan.
"Ara.... " Suara itu terdengar lagi, Ara yang sudah sampai di depan pintu keberangkatan seketika menoleh ke arah belakang, tapi pandangan Ara terhalang oleh tubuh kekar Jo yang berdiri di belakangnya menunggu giliran.
"Ada apalagi? Ayo jalan!" Perintah Jo membuat Ara sontak berbalik badan dan melanjutkan langkahnya. Wajahnya di tekuk masam. Ara sangat penasaran dengan suara misterius yang memanggil namanya tadi.
"Siapa yang memanggil namaku? Sepertinya aku mengenal suaranya." Gumam Ara dalam hati.
***
Bersambung dulu ya nak anak, amih kembali update malem nih, siangnya banyak kerjaan.. Hihihi..
Selamat membaca, jangan lupa like, comment dan votenya ya... Makasih.
follow IG #amih_amy ya..