My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
PEKERJAAN YANG TERTUNDA



"Maaf Jojo." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Ara saat ini hingga membuat hati Jo mencelos sedih.


Jo terlihat frustasi, ia melepas tangan Ara dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Ara begitu terkesiap saat melihat tubuh Jo tiba-tiba bergetar. Jo menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup Jo setelah sekian lama semenjak daddy nya meninggal dulu.


"Jojo.... " Ara memegang pundak Ara dengan lembut.


Untuk sejenak Jo masih bergeming, ia tak menghiraukan panggilan istrinya itu, Jo menyesal telah mengundur waktu untuk memberi tahu Ara sebelumnya tentang kesembuhannya.


Ara menghela nafas kasar, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. "Jadi, bagaimana rasanya di bohongin Jojo? Sakit bukan?" Tanyanya seperti menyindir.


Jo seketika mendongak, lalu membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, dan langsung menoleh pada istrinya sambil mengusap cairan bening yang masih tersisa di ujung matanya.


Jo tatap wajah Ara dengan tatapan penuh selidik. Apalagi saat melihat senyum seringai Ara yang begitu mencurigakan. Merasa di perhatikan, Ara menoleh ke arah suaminya masih memperlihatkan senyum meledek di bibir tipisnya dan mengangkat kedua alisnya bersamaan.


"Bagaimana sayang, apa yang kau rasakan sekarang?" Detik itu juga Jo langsung memeluk tubuh istrinya lalu menghujani begitu banyak ciuman di puncak kepala Ara. Sehingga membuat Ara tergelak karenanya.


"Kau menang, kita impas sekarang. Jangan lakukan ini lagi! Aku bisa gila." Ucap Jo masih terus memeluk istrinya. Hatinya begitu senang, ternyata Ara hanya membalas perbuatannya yang telah membohongi istrinya tersebut.


"Aku baru melihat seorang presdir yang begitu angkuh bisa menangis di depanku." Ucap Ara sambil terkekeh geli. Lalu Jo melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Ara dengan telapak tangannya.


"Kau mentertawakan ku hem? Aku akan memberimu hukuman." Seru Jo sambil tersenyum penuh arti.


Ara mengerjap gugup, sejenak menahan nafas saat wajah Jo kian mendekat. Dan membelalakan matanya lebar saat bibir mereka saling bertemu. Jo mengecup lembut bibir Ara, awalnya hanya kecupan biasa tapi lama-lama ia terbawa suasana.


Jo menarik tengkuk leher Ara lebih dekat hingga pertemuan bibir mereka jauh lebih dalam.


Cukup lama bibir mereka saling berpagut, hingga Ara mendorong tubuh Jo lebih dulu sampai akhirnya pagutan itu terlepas juga. Nafas keduanya sama-sama tersengal mereka meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi pasokan udara dalam paru-paru yang berkurang karena terlalu lama menahan nafas.


Kening mereka saling beradu dengan bibir terus mengulas senyum. Keduanya serasa berada di atmosfer cinta yang membuat tubuh mereka seakan melayang di udara. Tak peduli dimanapun mereka sekarang. Yang pasti dunia serasa hanya tempat untuk mereka berdua saja. Jangan lupakan kalau mereka saat ini masih berada di taman belakang rumah Jo.


"Aaaaakhp.... " Suara jeritan yang langsung tertahan oleh bekapan tangan terdengar dari seseorang yang langsung membalikkan badan saat melihat kemesraan dua sejoli itu. Yang sontak saling menjauh karena kaget dengan teriakan tersebut.


"Maaf.... Maaf..... Angel gak lihat kok!" Seru orang itu yang ternyata adalah adik kandung Jo.


Jo mengusap wajahnya kasar. "Ck, mengganggu saja anak ini." Gumam Jo berdecak kesal. Lalu sedikit meringis saat mendapat cubitan kecil di pinggangnya dari Ara, wanita itu melotot tajam karena Jo malah bersikap seolah mereka tidak bersalah telah bermesraan di tempat umum.


"Ehm .... Ada apa Angel?" Tanya Ara sedikit gugup. Walaupun ia sangat malu, tapi ia harus berusaha bersikap biasa saja di depan adik iparnya. Toh sudah kepalang kepergok juga.


"Mommy nyuruh Angel buat manggil kak Jo, ada om dokter di dalam." Seru Angel dengan posisi masih membelakangi kakaknya.


"Dokter Ichida?" Tanya Ara memastikan.


"Iya, Angel duluan ya kak. Dah.... " Angel segera berlari meninggalkan kedua kakaknya, dia takut jika Jo akan memarahinya setelah itu.


Ara mendengus pelan, lalu beranjak berdiri hendak menemui mommy Ayura dan dokter Ichida. Tapi tangannya tiba-tiba di cekal oleh Jo.


"Kau tidak mendengar tadi Angel bilang apa? Mommy memanggil kita." Jawab Ara sedikit kesal. Jo seakan tidak peduli dengan perintah mommy nya tersebut.


"Itu tidak penting, pekerjaan kita lebih penting." Seru Jo dengan entengnya sambil menyeringai penuh arti.


Ara mengernyit tak mengerti. "Pekerjaan apa?" Tanyanya.


Satu tarikan keras mampu membuat Ara terduduk di pangkuan Jo, Ara begitu terkesiap karenanya. Tentu saja Ara merasa gugup dan malu mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Jojo, kau lupa kita sekarang sedang dimana? Jika ada yang melihat lagi bagaimana?" Seru Ara berusaha melepaskan cengkraman suaminya.


"Kalau begitu kita ke kamar saja!" Bisik Jo di telinga Ara, dengan sedikit tiupan lembut hingga membuat tubuhnya menggeliat karena merasa geli.


"Jangan gila! Mommy menunggu kita." Seraya mendorong tubuh Jo dengan sekuat tenaga hingga tubuh Jo terbentur di sandaran kursi belakangnya.


Jo terkekeh, menyelipkan anak rambut Ara yang terjuntai menutupi wajahnya. "Baiklah, ayo temui mommy dulu, setelah itu baru selesaikan pekerjaan kita yang tertunda."


Ara bergidik ngeri, Jojo nya yang dulu mesum kini sudah kembali. Huft.... Sepertinya Ara harus menyiapkan diri lagi.


***


Suasana yang tiba-tiba hening saat sepasang sejoli yang baru berbaikan itu datang ke ruang keluarga membuat kecanggungan yang begitu jelas di wajah Ara. Apalagi saat melihat Angel yang sedang berpura-pura memainkan ponselnya dengan mata yang sesekali mencuri pandang ke arah mereka berdua. Tapi tidak dengan Jo, lelaki itu bersikap biasa saja tanpa rasa malu karena telah kepergok oleh adiknya sendiri.


Jo menarik tangan Ara untuk duduk di sofa yang bersebelahan dengan sofa yang di tempati oleh mommy nya. Kedua pasang mata milik mommy Ayura dan dokter Ichida tampak fokus pada jemari Ara yang selalu bertaut dengan jemari suaminya. Ara menyadari itu, ia ingin melepasnya tapi Jo malah mengeratkan genggamannya.


"Ada perlu apa om mencariku?" Pertanyaan dari Jo seketika membuyarkan pandangan dokter Ichida dan mommy Ayura.


"Hiisshh.... Kenapa aku malah terpana melihat kalian." Seru dokter Ichida sambil menggaruk alisnya sebelah. "Sepertinya ada kemajuan. Kau hebat Ara, misi mu sepertinya berhasil." Imbuhnya sambil mengedipkan matanya pada Ara.


Jo mengerutkan dahi, merasa tak suka perkataan dokter Ichida. Misi apa? Jo sebenarnya tahu kemana arah dari perkataan dokter sarafnya itu, tapi tetap saja ia tak terima jika dokter itu bersikap genit pada istrinya.


"Kau bisa bersikap lebih sopan pada istriku om, tidak sepantasnya kau mengedipkan mata pada wanita yang lebih pantas menjadi anakmu ini." Jo berkata dengan begitu tegas, Ara sontak menoleh menatap wajah Jo yang terlihat tidak ramah pada dokter Ichida. Ada apa dengan lelaki ini? Apa dia cemburu dengan dokter yang seumuran dengan mommy nya itu? Astaga Ara ingin sekali menyumpal mulut Jo yang berani menceramahi dokter yang selama ini sangat berjasa dalam proses penyembuhan otaknya.


"Kamu ini bicara apa? Tidak sopan." Bisik Ara sambil menggeram kesal. Ia melemparkan senyum manisnya untuk dokter Ichida yang masih ter bengong dengan ucapan Jo tadi.


"Maaf dokter, sepertinya Jo belum meminum obatnya. Jadi dia agak sedikit.... pusing. Iya ia sedikit pusing. " Seru Ara sedikit tertahan karena sambil memikirkan alasan yang sekiranya masuk akal. Dan hanya itu alasan yang muncul di kepala Ara saat ini.


Dan alasan itu sontak membuat dokter Ichida tergelak tawa mendengarnya.



Benerkan Ara gak mungkin ninggalin Jojo, gimana dong udah cinta mentok-mentok kayaknya deh Ara nya sama Jojo. 😁😁😁


Kasih like dan komentar nya biar tambah rame lagi dong! Votenya juga jan pelit ya, udah hari senin lagi. Poinnya udah di reset ulang. Makasih. 🥰🥰