
Seharian di rumah membuat Ara merasa bosan. Ia pun kembali pada aktivitasnya yang semula yaitu merawat taman bunganya yang ada di belakang rumah.
Ara tidak di izinkan keluar rumah kecuali dengan pendampingan suaminya. Karena Jo takut kejadian pertemuan Ara dan Jacob akan terulang lagi.
Bunga-bunga yang bermekaran semakin mempercantik taman kecil yang sengaja di buatkan oleh Jo. Ara sangat menyukai bunga karena hal itu mengingatkan dirinya kepada mendiang ibunya.
"Mama sangat suka bunga mawar. Untuk itu aku menanam banyak bunga mawar di sini." Gumam Ara sambil menyiram bunga-bunganya.
Berada di antara bunga-bunga yang begitu cantik membuat Ara begitu betah berlama-lama di taman belakang rumah itu. Karena di sana juga terdapat sebuah ayunan gantung dari rotan untuk tempat bersantai dan bisa juga untuk merebahkan badan. Ara juga suka membawa beberapa buku untuk sekadar membaca di tempat itu.
Membuat Ara tidak pernah merasa bosan walaupun harus menghabiskan waktu seharian. Setelah selesai mengurus tanaman. Ara menghabiskan waktunya dengan duduk santai di ayunan dengan sebuah buku di tangan.
Sinar mentari sudah terlihat agak condong ke arah barat, itu artinya waktu senja sudah mulai mendekat. Karena terlalu lama membaca buku, mata Ara pun menjadi berat. Tak terasa ia menutup matanya rapat-rapat. Ara tertidur.
Sebuah guncangan di lengan membuat wanita yang tengah hamil muda itu mengerjapkan mata. Seorang pelayan muda yang bernama Clara membangunkan majikannya.
"Maaf nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda!" Seru Clara saat benar-benar yakin jika majikannya sudah bangun dari tidurnya.
Ara mengerjap bingung. "Siapa?" Tanyanya.
Clara menundukkan kepalanya. "Tidak tahu nona, seorang laki-laki paruh baya bersama seorang wanita muda." Tutur Clara.
Ara pun menganggukkan kepala. Lalu beranjak berdiri dan melangkah pergi di ikuti oleh Clara yang akan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Kedua tamu itu menunggu di ruang tamu. Dengan langkah gontai Ara menemui mereka yang terlihat sedang duduk santai.
"Paman, Kak Elena?" Senyuman bahagia terpancar dari bibir mungil Ara. Ia begitu senang ternyata yang datang adalah paman dan sepupunya yang belum lama ia temukan.
Elena yang baru bertemu lagi dengan Ara langsung berhambur memeluk tubuh adik sepupunya itu.
"Ara, aku kangen sama kamu." Ucap Elena dengan hebohnya.
"Aku juga kangen kak." Balas Ara. Pelukan keduanya pun terlepas. "Ayo duduk!" Ajak Ara menggiring tubuh kakak sepupunya untuk kembali duduk di tempatnya yang semula.
Tuan Wijaya melebarkan senyumnya, melihat keakraban kedua gadis di hadapannya. "Mana suamimu Ara?" Kemudian ia bertanya.
Ara pun menoleh ke arah sang paman yang duduk di kursi sebelah kanan. "Jojo masih bekerja. Dia belum pulang." Jawab Ara apa adanya.
"Rumah suamimu besar sekali, tapi kenapa terlihat sepi?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Elena. Gadis yang selalu berbicara polos dan apa adanya itu selalu berkomentar jika melihat sesuatu yang terasa janggal dalam penglihatannya.
"Aku tinggal bersama Jojo dan mami. Ada juga beberapa pelayan di sini. Tapi kalau jam segini mereka sibuk sekali. Makanya rumah ini terasa sepi." Jawaban Ara membuat Elena menganggukkan kepalanya.
"Lalu kemana mami mertuamu?" Tanya Elena lagi.
"Mami harus mengurus salon kecantikan yang dia punya."
"Wah, orang kaya juga masih bekerja saja. Kenapa dia tidak di rumah saja mengurus keluarganya." Celetuk Elena yang mendapatkan pelototan mata dari ayahnya.
Tuan Wijaya sungguh tidak habis pikir, anaknya selalu saja berkata tanpa berpikir. "Elena, jangan mengungkapkan pendapat mu sembarangan! Kau tidak ingat jika kita sedang berada dimana?"
Mendengar omelan ayahnya Elena seketika terdiam. Menggigit bibir bawahnya karena merasa jika dirinya telah salah bicara. "Maaf ayah." Sesalnya.
"Sudahlah, mami bekerja karena ingin mengusir kepenatannya saja. Dan juga ia punya tanggung jawab dengan karyawannya yang bekerja di sana. Lagipula di sini tidak ada yang harus dia urus." Tutur Ara sambil memegang bahu sepupunya.
"Kamu sudah tanyakan pada suamimu, jika kamu akan menempati rumah peninggalan papamu?" Tanya tuan Wijaya yang sebelumnya pernah mengusulkan pada Ara agar dia kembali menempati rumah papanya.
"Belum paman, Ara selalu lupa. Maaf ya!" Jawab Ara dengan nada menyesal sambil tertawa cengengesan.
Tuan Wijaya tersenyum tipis, tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala keponakan tersayangnya itu.
"Melihatmu mengingatkan paman pada mendiang ibumu, Kinanti. Wajah kalian terlihat sama apalagi bagian mata, dan ketika kau tertawa seperti itu. Benar-benar seperti melihat duplikatnya saja." Ucap tuan Wijaya sambil tersenyum kecil.
"Kan aku anaknya." Kelakar Ara sambil memindahkan telapak tangan pamannya ke atas pangkuannya untuk dia genggam. Keduanya pun tertawa bersama.
"Apa-apaan ini?" Suara bariton yang terdengar penuh emosi terdengar begitu menggema di dinding tembok ruangan yang hanya berpenghuni Ara dan juga pamannya. Kedua mata Jo tertuju pada tangan Ara yang menggenggam tangan pamannya.
Seketika kedua orang itu menoleh ke asal suara dan menampakkan Jo yang sudah berdiri di samping mereka dengan tatapan yang tak bisa terbaca.
Tanpa menyadari kesalahannya, Ara tersenyum pada suaminya lalu beranjak berdiri menyambut kedatangan sang suami.
Jo menatap tajam kearah tuan Wijaya dan Ara secara bergantian. Jo tak habis pikir kenapa Ara mau memegang tangan lelaki asing seperti itu di rumahnya sendiri? Apa seperti ini kelakuan Ara selama Jo bekerja? Ara selera Ara sudah berubah jadi pencinta Om Om? Ah, yang benar saja.
Jo yang belum tahu jika tuan Wijaya adalah paman kandung Ara tentu saja tidak terima. "Kau berani berselingkuh dari suamimu hah?" Teriakan Jo membuat Ara membeliakkan mata. Ini adalah kali pertama suaminya membentaknya lagi setelah ia mengingat masa lalunya bersama Ara.
"Apa maksudmu Bee?"
"Kenapa kau berpegangan tangan dengan lelaki tua ini dengan begitu mesra? Dan kau?" Jo mengalihkan perhatiannya pada tuan Wijaya yang tak kalah terkejut juga. "Bukankah kau tuan Wijaya dari kota S? Untuk apa kau kesini? Bagaimana bisa kau mengenal istriku?" Jo berteriak lagi seperti orang gila.
Plaaaak....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jo. Ara benar-benar tak percaya kenapa sikap kasar Jo datang lagi? Ia seperti melihat sosok Jo yang dulu ia benci. Dan tanpa terasa air matanya pun mengalir di pipi.
"Kau keterlaluan Jojo! Dia pamanku" Ara jadi kehilangan rasa hormatnya lagi. Sebuah panggilan sayangnya untuk sang suami sudah tak lagi mengiringi.
Jo begitu terkesiap, matanya membulat dengan sempurna. "Pa... Pamanmu?" Tanyanya merasa ragu.
"Ya, dia pamanku. Waktu dulu aku pernah cerita bukan jika pernah kehilangan jejak pamanku yang berada di luar kota. Dia adalah tuan Wijaya. Dia pamanku!" Seru Ara menekankan kata-katanya. "Serendah itukah pikiranmu terhadap ku? Aku pikir kau sudah berubah Jojo. Ternyata sikap kasar mu masih tetap sama." Ara melanjutkan rasa kecewa nya dengan nada yang terdengar sendu.
Ara pergi meninggalkan suaminya dan juga pamannya yang mematung di tempatnya. Kembalinya Elena dari kamar mandi semakin menambah ketegangan di antara mereka. "Kenapa kau membuat sepupuku menangis? Kau suami Ara? Apa seperti ini sikapmu kepada Ara setiap hari?" Pertanyaan-pertanyaan Elena membuat Jo semakin kelabakan saja. In benar-benar di luar dugaannya.
"I.... Ini. Ini salah paham. Aku bisa jelaskan." Seru Jo yang jadi salah tingkah. Bodoh sekali ia yang tak bisa menahan emosinya.
"Kalian tunggu di sini! Aku akan bicara dengan Ara." Jo hendak menyusul Ara yang tadi pergi ke arah kamar baru mereka yang berada di lantai bawah.
Tapi baru beberapa langkah dari tempatnya. Jo tercengang melihat istrinya yang datang sambil membawa koper besar di tangannya. "Ka.... Kamu mau kemana?" Tanya Jo terbata-bata.
***
Si Jojo mulai kumat tuh... Maafkan amih yang baru up ya nak-anak. Liburan kok malah leha-leha? Bukannya seperti itu ya, Amih cuma benar-benar lelah. Sekali lagi harap di maafkan!
Tetap dukung amih ya, dukungan kalian membuat semangat amih kembali datang. mampir juga di "My STUBBORN Boss" yuk.. klik profil amih aja ya.
Makasih.