
Ara melongo takjub saat melihat dekorasi tempat makan mereka pada salah satu restoran ternama di kota itu. Sebuah ruangan khusus yang sudah di hias seindah mungkin.
"Jojo.... Ini...." Ara seakan tak bisa berkata-kata lagi, dirinya dibuat terpesona oleh kejutan yang di berikan oleh suaminya tersebut.
Jo menggapai tangan Ara lalu menuntunnya untuk duduk di kursi yang baru saja ia tarik.
"Duduklah! " Perintah Jo dengan lembut.
Lalu ia pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di seberang meja, saling berhadapan dengan Ara.
"Apa kau suka? "
Ara mengangguk cepat sebagai jawaban dari pertanyaan Jo barusan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Jo tersenyum senang melihat reaksi Ara seperti itu. Dan untuk hasil dekorasi ini Jo akan memberikan bonus pada David karena dia telah berhasil membuat Ara terlihat senang menerimanya.
Tak lama beberapa pelayan restoran berdatangan sambil membawakan beberapa macam makanan dan minuman. Semuanya terlihat mewah ter hidangkan di atas meja. Walaupun bukan pertama kalinya Ara melihat makanan tersebut, karena saat dulu ia kaya, makanan tersebut juga sering ia dapatkan. Tapi tetap saja membuat dirinya terkesima.
Jo menuangkan sedikit minuman anggur rendah alkohol ke dalam gelas kosong di hadapannya, lalu mengangkatnya sedikit ke udara.
"Ayo bersulang! " Ajak Jo kemudian.
Ara mengernyitkan dahinya. "Minuman ku mana? Kenapa kau menuangkan anggurnya hanya segelas?" Ara merasa bingung karena Jo tak memberikannya minuman tapi malah mengajak bersulang.
Jo mendengus pelan." Itu yang di depanmu apa?" Mata Jo tertuju pada jus jeruk yang bertengger di hadapan Ara. Dan di ikuti oleh mata Ara juga.
"Jus jeruk?" Ara memastikan minuman yang Jo maksud.
"Hemm...." Jo bergumam sambil menaikan sebelah alisnya. "Perempuan tidak boleh minum alkohol. " Imbuhnya memperingatkan.
Bibir Ara mencebik kesal, walaupun Ara bukan seorang peminum tapi setidaknya dulu ia juga pernah merasakan minuman itu, saat ada perayaan pesta atau semacamnya. Ara hanya minum sedikit saja untuk menghargai teman-temannya saat itu.
"Baiklah." Dengan nada lemas Ara menyaut gelas yang berisi jus jeruk tersebut. Lalu mengangkatnya sedikit ke atas dan membenturkan gelasnya dengan gelas milik Jo.
"Cheers... " Seru mereka bersamaan. Keduanya meminum minuman dalam gelas masing-masing sambil saling melemparkan senyum.
Ara merasa malam ini sangat berkesan baginya. Oke, biarkan untuk malam ini saja Ara berpikir jika Jojo nya sudah kembali. Jika setelah malam ini Jo kembali pada habitatnya yang asli, Ara akan menyiapkan hatinya saja nanti. Anggap saja ini hanyalah sebuah mimpi.
Mereka berdua menyantap makanan dengan saling tatap, bagaikan pasangan yang sedang di mabuk cinta, rasanya makanan apapun yang masuk ke dalam mulut mereka akan selalu lezat rasanya. Tanpa terasa makanan itu juga habis di lahap mereka. Antara lapar atau terbawa suasana, mungkin karena mereka doyan makan juga.
Setelah acara makan selesai, Jo berniat untuk mengeluarkan senjata pamungkas nya yang ia simpan dalam saku jasnya. Sebuah cincin bermata berlian kecil di atasnya, yang tadi ia beli bersama David.
"Jojo, aku boleh pamit ke toilet sebentar. Pengen pipis. " Pamit Ara sambil menyipitkan kedua matanya, terlihat sangat lucu apalagi dengan gaya Ara yang menyentuh gaun di antar kedua pahanya saat menahan keinginannya untuk buang air kecil tersebut. Hal itu terlihat mengemaskan di mata Jo. Sambil menahan senyum Jo menganggukkan kepalanya, dan dalam waktu singkat Ara sudah menjauh dari pandangannya.
Jo mengeluarkan kotak cincin dari dalam jasnya. Memandangnya sesaat dengan senyum merekah di bibirnya lalu memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Karena memang belum waktunya dia keluar karena Ara belum datang.
Selang beberapa menit Ara keluar dari dalam toilet, sejenak berdiam diri di depan wastafel yang terdapat sebuah kaca besar menempel di atasnya. Ara merapikan penampilannya yang tidak terlalu berantakan. Bibirnya terus saja mengulas senyuman saat ia ingat perlakuan romantis yang di berikan oleh suaminya.
"Jika ini hanya mimpi, aku berharap gak usah bangun aja sekalian. Apa yang Jojo lakukan malam ini semoga bukan hanya halusinasinya saja." Gumam Ara pelan. Walaupun ia tak terlalu berharap tapi boleh dong ia bermimpi untuk kali ini saja.
Setelah di rasa terlihat kembali sempurna, Ara melangkahkan kakinya keluar dari toilet menuju ke tempat Jo berada. Tapi saat di perjalanan langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat seseorang memanggil namanya dari arah belakang. Ara pun menoleh ke arah orang tersebut.
"Kak Danil?" Senyum Ara merekah sempurna saat melihat kakak angkatnya berdiri di sana. Dengan langkah panjang Danil pun segera menghampiri Ara.
Tapi tiba-tiba saja Ara dibuat terkesiap saat Danil merengkuh tubuh mungilnya kedalam pelukan lelaki itu. "Aku senang melihat mu baik-baik saja." Ucap Danil sambil memeluk tubuh Ara.
Ara merasa canggung, sedikit menggerakkan tubuhnya berusaha melepas pelukan kakak angkatnya. "Kak Danil, jangan seperti ini! Aku tidak bisa nafas." Seru Ara pelan.
Danil langsung tersadar dan segera melepas pelukannya itu. "Maaf. Aku hanya senang saat melihatmu saja." Sesalnya sambil menggaruk tengkuknya karena malu.
Ara tersenyum pelik, "Tidak apa-apa." Ara mencoba mengerti. Tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh dengan tangan yang mengepal kuat dan rahang mengeras ketat. Dia adalah Jo, sebenarnya ia ingin sekali menghajar Danil saat itu juga, tapi hal tersebut Jo urungkan karena ia melihat senyuman yang terukir di bibir Ara. Jo menyangka jika Ara mempunyai perasaan yang berbeda terhadap Danil. Jo memilih pergi dan kembali ke meja makan yang sudah ia pesan tadi.
"Saat Amel bilang jika kau di jemput oleh Jojo jujur aku langsung marah padanya, kenapa gadis bodoh itu malah membiarkan laki-laki kasar itu membawamu pergi? Aku bahkan berusaha menyusulmu ke rumah laki-laki itu tapi penjaga disana tidak membiarkan aku menemuimu. Jika saat itu aku berada di sana aku akan hajar laki-laki brengsek itu." Geram Danil dengan penuh emosi.
"Jojo tidak sejahat itu kak, ia sebenarnya baik cuma emosinya masih labil saja." Ucap Ara membela suaminya.
Danil berdecak, "Kau selalu membelanya, lihat saja nanti jika dia sampai membuat mu terluka lagi. Aku benar-benar akan merebutmu darinya." Ancaman Danil terdengar penuh penekanan. Ara tertawa hambar mendengarnya.
"Jangan bercanda!" Seru Ara mencairkan suasana.
"Aku tidak bercanda." Sahut Danil dengan nada serius. Membuat Ara menelan ludahnya dengan begitu berat, lelaki ini masih saja terobsesi pada Ara. Padahal sudah sangat jelas perasaan Ara padanya hanya sebagai seorang adik saja.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi! Oke." Ara menenangkan diri Danil. "Oh iya, sedang apa kak Danil di sini? " Tanya Ara kemudian mengalihkan pembicaraan.
" Ini restoran kedua ku di kota ini, baru tiga bulan buka. Hari ini ada pelanggan yang menyewa salah satu ruang private termahal di sini katanya untuk acara lamaran, dan aku kesini untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Aku tidak boleh mengecewakan pelanggan VIP ku itu. " Tutur Danil dengan penuh semangat. Tanpa Danil sadari bahwa dia sendiri yang menggagalkan acara lamaran itu terjadi. Sepertinya mood Jo sudah benar-benar rusak karena melihat tragedi tadi. Dan lamarannya malam ini otomatis gagal total lagi.
Ara mengerutkan kening, setahu dia Jojo lah yang menyewa ruangan private di restoran itu. Tapi ia tidak tahu kalau tujuan Jo mengajak kesana dalam rangka apa, tidak mungkin lamaran juga kan? Karena Ara dan Jo sudah lama menikah.
" Ah, mungkin itu di ruang private yang lain. " Gumam Ara dalam hati.
****
Jiah, si Danil lagi nih gara-gara nya readers 😅😅😅. Jojo nya ngambek lagi tuh 😏😏
Jangan lupa like, komentar yang banyak dan vote yang banyak juga ya.... Makasih.