
"Kenapa kita kesini?" Ara begitu heran, kenapa laki-laki yang bertemu dengannya di kafe tadi mengajaknya ke sebuah rumah yang begitu familiar di matanya. Rumah kenangannya bersama dengan orang tuanya. Rumah yang telah di rebut oleh ibu tirinya.
"Ini rumahmu kan? Paman selama ini menjaganya untukmu. Karena memang ini adalah milikmu."
Ya, laki-laki itu adalah paman yang selama ini Ara cari. Adik dari ibu kandungnya.
"Bagaimana bisa? Rumah ini sudah papa berikan pada mami." Ara memang memanggil ibu tirinya dengan sebutan mami, karena wanita yang menikah dengan ayahnya tersebut yang memintanya.
"Ada kesalahan sayang, pengacara melupakan satu surat yang tertinggal ternyata bukan rumah ini yang menjadi warisan untuk ibu tirimu. Ada rumah lain yang sudah papamu sediakan untuknya. Di rumah ini terlalu banyak kenangan manis bersama mendiang Kinanti, ibumu. Dan papa mu tidak mungkin memberikan rumah ini begitu saja pada orang lain termasuk istri barunya itu." Tutur paman Ara yang bernama tuan Wijaya.
Ara melongo, ia seperti mimpi mendapatkan kejutan seperti ini. Hingga tak terasa tubuhnya kini sudah terduduk di atas sofa. Pamannya yang menggiring tubuh Ara kesana. Hingga kedatangan seorang pelayan yang menyajikan minuman dan camilan di atas meja di depan sofa tak membuat Ara bergeming dari kebingungan nya.
"Kamu tidak perlu bingung. Paman sudah lama mencarimu Ara. Maafkan paman karena paman terlambat datang!" Ara baru tersadar saat mendengar penyesalan yang keluar dari mulut pamannya tersebut.
Tangannya terulur untuk meraih telapak tangan sang paman dan menggenggamnya dengan erat.
"Paman tidak perlu minta maaf, Ara senang bertemu paman sekarang." Seru Ara sambil menarik bibirnya membentuk senyuman.
"Tapi Ara masih tidak mengerti, bagaimana ceritanya rumah ini bisa jadi milik Ara lagi. Sedangkan di dalam wasiat papa sudah jelas jika semua aset papa di wariskan untuk istri dan anak tirinya. Bahkan Ara harus meninggalkan rumah ini hari itu juga." Ara menatap wajah pamannya. Keningnya yang mengerut dalam menyiratkan dirinya begitu penasaran.
Tuan Wijaya memegang kedua bahu Ara, melemaskan urat-urat ketegangan yang menyelimuti tubuh wanita itu. "Biar paman jelaskan. Kamu dengar ya!" Tuan Wijaya menarik nafas panjang sebelum ia memulai untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa sepengetahuan keponakannya itu. Ia melepaskan tangannya dari bahu Ara lalu menghadapkan tubuhnya ke arah depan, meninggalkan tubuh Ara yang duduk menyamping menghadap dirinya.
"Papamu sangat mencintai mama mu Ara, tapi dia terpaksa menikahi ibu tirimu hanya karena wanita itu pernah menolongnya pada satu waktu dan juga beliau kasihan dengan wanita itu yang bersusah payah menghidupi anaknya seorang diri. Maka dari itu papamu menikahinya."
"Setelah beberapa bulan menikahinya, dia bercerita pada paman jika kau selalu mengeluh dengan sikap ibu tirimu yang kejam. Papamu bukannya tidak mau percaya tapi dia hanya ingin melihat kalian suatu saat akur dan menjadi keluarga seutuhnya. Karena papamu yakin ibu tirimu tak sejahat itu. Tapi untuk berjaga-jaga, papamu sengaja memindahkan sebagian besar asetnya atas namamu nak, ia sengaja menyembunyikannya dari ibu tirimu dan mempercayakan harta itu pada paman untuk mengelolanya. Dan yang di berikan pada ibu tiri dan saudara tirimu itu hanya sebagian kecil saja. Setidaknya ibu tiri mu tidak perlu bersusah payah untuk menghidupi anaknya nanti jika papamu tidak ada." Tuan Wijaya menjeda sebentar ceritanya, tatapan matanya menerawang mengingat kejadian saat papanya Ara memberikan kepercayaan itu padanya.
"Lalu? Kecelakaan itu apa ada yang sengaja ingin melukai papa?" Ara bertanya karena sang paman yang menghentikan ceritanya.
Tuan Wijaya menoleh lalu menggelengkan kepala. "Tidak Ara, itu murni kecelakaan. Saat paman mendengar berita meninggalnya papamu. Paman langsung terbang ke kota ini. Tapi sayangnya kamu sudah pergi. Dan ibu tirimu tidak tahu dimana keberadaan mu. Paman sudah mencarimu kemana-mana. Tapi susah sekali menemukanmu. Bahkan sepupumu Elena selalu memantau akun sosialmu, tetap saja tidak ada hasilnya. Kamu menghilang bagai di telan bumi. Kemana saja kamu selama ini?" Tuan Wijaya mengetuk pelan kening Ara. Lelaki paruh baya itu begitu kesal karena susah sekali untuk mendapatkan informasi dari keponakannya itu.
Ara mengelus keningnya sambil menyengir. Perlakuan pamannya tersebut membuatnya teringat dengan sang papa yang juga sering melakukan hal yang sama jika dirinya membuat kesalahan.
Ara menceritakan semua pengalamannya setelah ia pergi dari rumah, di mulai pertemuannya dengan Bibi Iren, pekerjaannya di restoran, dan alasannya tak menggunakan akun sosial lagi. Tak lupa Ara juga bercerita tentang pertemuannya dengan si idiot Jojo hingga dirinya memutuskan untuk menikah dengan lelaki itu.
"Tinggallah bersama paman dan juga Elena! Kau urus perusahaan yang di wariskan oleh papamu di sana. Suamimu tidak mengharapkan mu Ara. Bahkan ia belum mengakui pernikahan kalian di depan publik bukan?"
Ara terhenyak, bagaimana pamannya bisa tahu akan hal itu, padahal dirinya tidak menceritakan hal itu juga.
"Bagaimana paman bisa tahu? Ara belum bercerita tentang itu." Seru Ara merasa heran.
Tuan Wijaya mengambil minuman yang sudah di sajikan di atas meja, dan Ara yang baru melihatnya merasa heran, sejak kapan makanan dan minuman itu berada di sana?
"Paman pernah melihatmu sekali di bandara, paman panggil-panggil kamu tapi kamunya keburu pergi."
"Iya, Ara ingat waktu itu seperti ada yang memanggil nama Ara saat di bandara." Ara jadi teringat saat ia hendak pergi ke Jepang bersama suaminya. Dan ternyata benar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Paman awalnya tidak tahu kamu bersama siapa waktu itu. Tapi saat paman tiba di kantor rekan bisnis paman, paman melihat wajah lelaki itu di sebuah foto yang terpampang di meja kerjanya. Mereka terlihat sangat akrab di foto itu dan katanya dia sepupunya, rekan bisnis paman sangat mengagumi sosok suamimu itu."
"Samuel?" Ara menyela cerita pamannya.
"Ya Samuel, kau kenal? Laki-laki yang berhasil merebut hati Elena sepupumu. Dan gadis bodoh itu memaksa paman untuk menjadi investor di perusahaan baru milik pujaan hatinya itu. Tapi paman tidak gegabah, yang dengan mudahnya menanamkan modal untuk perusahaan tersebut. Sebelum setuju paman sudah mengeceknya dulu, dan kinerja lelaki itu cukup membanggakan." Tuan Wijaya menghela nafas panjang, tidak menyangka anaknya sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang sedang jatuh cinta.
"Paman juga pernah bertemu dengan suamimu di kantornya Sam. Disanalah paman tahu jika pernikahan kalian masih di rahasiakan. Dan suamimu yang mengatakannya." Tambah tuan Wijaya kembali menuturkan.
Ara termenung, bukan karena pengakuan Jojo yang belum mengumumkan pernikahan mereka, tapi lebih kepada apa yang dimilikinya sekarang ini. Ara jadi merasa pantas untuk menyandang gelar nyonya Kingsley. Dia bukan anak yatim piatu yang di buang lagi sekarang. Dia punya keluarga. Dia juga tak kalah kaya. Walaupun kekayaan Jojo lebih banyak daripada miliknya. Setidaknya Ara juga seorang pengusaha. Ara akan mempertahankan suaminya.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat berterima kasih pada papanya. Selama ini dia selalu menyangka papanya telah berubah. Dan kini semua rasa penasaran dan kebingungannya dengan sikap sang papa terungkap sudah. Tapi kebesaran hati sang papa yang selalu berpikir positif terhadap orang lain membuat dirinya begitu bangga, dan kebaikan hati lelaki itu akan menjadi panutan bagi Ara dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
***
Bersambung dulu ya... Identitas Ara sudah mulai terbuka itu artinya kisah ini akan mendekati end ya....
Dukung terus amih ya nak-anak! Walaupun sudah mau tamat tapi dukungan kalian tetap amih harapkan. Terimakasih.
Follow igeh amih ya. @amih_amy