
Hari berikutnya Sam berencana untuk menemui Elena dan berbicara perihal pembatalan pertunangan mereka. Sam akan jujur perihal kesalahan papanya yang telah melukai hati Ara dan kejahatannya selama ini pada keluarga mereka.
Sebelum mengetahui dari mulut Jo, Sam akan mengatakannya sendiri pada calon istri dan calon mertuanya tersebut. Apapun keputusan mereka nantinya Sam akan terima. Walaupun dalam hatinya laki-laki itu takut juga.
Sam datang ke rumah Ara. Dan ternyata di sana hanya ada Ara seorang. Jo sudah pergi bekerja, sedangkan Elena dan juga papanya. Mereka sudah kembali ke kota asalnya.
"Masuklah Sam!" Ajak Ara saat laki-laki itu hanya berdiam diri di depan pintu rumah Ara. Ketika Ara berkata jika Elena telah kembali ke kota asalnya.
Sam tersenyum getir, ia tak mengerti apa maksud Elena pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Kita bicara di luar saja Ara. Aku takut suamimu berpikir macam-macam kalau tiba-tiba nanti dia pulang." Seru Sam menolak ajakan Ara. Karena Sam sangat tahu betul bagaimana posesif nya Jo terhadap istrinya.
Mendengar itu Ara malah tertawa. "Kau takut sekali pada Jo, tenang saja ia sudah lebih jinak sekarang." Kelakar Ara yang membuat Sam hanya mengulas senyum tipisnya.
Ara mengerutkan keningnya, sikap Sam terlihat sangat berbeda. Ia melihat kesedihan di raut wajahnya yang biasanya ceria.
"Apa kau sedang ada masalah Sam?" Ara bertanya saat lelaki itu sudah duduk di kursi tamu yang berada di teras depan rumah Ara tepatnya di kursi sebelah Ara.
Sam menoleh pada Ara setelah ia sempat mengedarkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi rasa gugup dan kebingungannya.
"Apa kau tahu apa alasannya Elena pergi tiba-tiba tanpa mengatakan padaku terlebih dulu?" Tanya Sam dengan nada sendu.
Ara tersenyum, ia sudah tahu jika Sam akan bertanya seperti itu.
"Tentu saja, karena aku yang menyuruhnya." Jawab Ara yang membuat kening Sam berkerut dalam. Dalam hatinya Sam begitu tegang. Laki-laki itu menyangka jika Ara sudah mengatakan semuanya. Dan kini Elena kabur darinya.
"Kau mengatakan tentang masalah papaku dengan kak Jo?" Tanya Sam dengan suara yang tertahan. Walaupun tujuannya datang kerumah Ara untuk mengatakan hal itu juga. Tetap saja Sam merasa khawatir jika keluarga Ara tidak bisa menerima.
"Ya, aku mengatakannya pada Kak Elena." Jawab Ara sambil menganggukkan kepalanya dengan begitu pasti.
Sam memejamkan matanya sekilas. Di iringi helaan nafasnya yang terdengar jelas. "Aku mengerti, Elena pergi karena tidak mau melanjutkan hubungan ini. Dan aku cukup sadar diri." Serunya sambil melemaskan tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi. Tak bisa di pungkiri Sam juga sedikit emosi.
Ara hendak menanggapi, tapi kedatangan seorang pelayan yang membawakan minuman membuat niatnya jadi terhenti. Lalu berucap terimakasih pada pelayan yang pamit pergi.
"Minumlah dulu! Agar otakmu sedikit lebih dingin seperti minuman ini." Seru Ara dengan nada seperti menyindir.
Sam mendengus. "Kau pikir otakku panas begitu? Enak saja kalau bicara." Seru Sam tidak terima dengan ejekan Ara.
Ara mengedikkan bahunya. "Bukannya kamu kesini juga mau mengatakan hal yang sama seperti yang sudah aku ceritakan pada kak Elena? Tapi sepertinya kau marah dengan keputusan dia yang pergi tiba-tiba? Seharusnya kamu tahu jika konsekuensi seperti ini yang akan kamu terima jika kamu jujur pada paman Wijaya?" Ara mencecar beberapa pertanyaan yang menyudutkan pada Sam.
Sam menajamkan tatapannya. Ia heran kenapa Ara bisa tahu maksud dari tujuan Sam datang kesana? Tapi sebelum Sam berkomentar Ara kembali melanjutkan perkataannya.
"Kak Elena mengatakan padaku jika dirimu adalah orang yang sangat jujur dan terbuka. Oleh karena itu ia tidak akan membiarkan kejujuranmu menghancurkan rencana pernikahan kalian. Kak Elena sangat mencintaimu Sam.
Jangan sampai paman Wijaya mengetahui hal ini! Masalah papamu hanya dengan Jojo dan juga aku. Sebenarnya Jojo juga melarang hubungan kalian.
Dia takut jika papamu akan balas dendam padaku melalui pernikahan kalian. Tapi seandainya itu memang terjadi. Apa kau akan membiarkannya?"
Ara berucap panjang lebar. Membuat Sam sedikit membuka pikirannya. Apa benar Elena sangat mencintai dirinya?
Elena memang sengaja mengajak papanya pulang tanpa memberitahukan pada calon suaminya terlebih dahulu. Karena setelah menanyakan perihal hubungan antara keluarga Sam dan suami Ara yang ternyata berantakan. Elena jadi takut jika Sam akan berubah pikiran.
Makanya dia mendahului keputusan Sam dengan menghindarinya terlebih dulu. Elena sengaja memberikan waktu untuk Sam berpikir jernih tentang hubungan mereka yang tidak ada hubungannya dengan pertikaian antara Jo dan pamannya.
Elena sangat mencintai Sam. Dia tidak akan membiarkan Sam merusak rencana pernikahan mereka dengan berbicara pada papanya perihal masalah tersebut.
Sam kembali menegakkan tubuhnya, lalu berkata serius pada Ara. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Ara, jujur aku sangat malu padamu. Kelakuan papaku sungguh keterlaluan. Tapi bagaimana pun juga dia papaku, aku harus menuntunnya ke jalan kebaikan. Dan tidak akan membiarkannya selalu larut dalam kesalahan."
Ara begitu bangga mendengar pengakuan Sam, lelaki itu merupakan sosok anak yang begitu berbakti pada orang tuanya. Walaupun papanya orang jahat sekalipun Sam tidak berniat untuk menjauhinya malah ia semakin merangkulnya.
"Aku percaya padamu Sam. Makanya aku minta kak Elena untuk membawa paman pulang sebelum kau melakukan kesalahan yang akan kau sesali seumur hidupmu. Biarkan ini menjadi rahasia kita. Papamu juga sepertinya sudah menyadari kesalahannya. Aku bisa melihat itu dari raut wajahnya yang terlihat menyesal."
"Tapi pamanmu harus tahu Ara." Sam menyela ucapan Ara.
Ara menggelengkan kepalanya. "Tidak Sam, paman Wijaya tidak perlu tahu. Itu hanya akan membuat papamu malu jika suatu saat mereka bertemu. Paman Wijaya mungkin bisa mengalah pada cinta putrinya. Tapi papamu akan terus-menerus di bayang-bayangi oleh kesalahannya."
Sam terdiam, ia merenungi perkataan Ara yang terdengar masuk akal.
"Pikirkan baik-baik Sam! Kak Elena sangat mencintaimu." Seru Ara lagi sambil memegang tangan Sam seakan memberikan laki-laki itu sedikit kekuatan.
Sam menatap tangan Ara yang menangkup di atas punggung tangannya, lalu menangkup kan sebelah tangannya lagi di atas tangan itu.
"Terimakasih Ara, kau menolongku kali ini." Ucap Sam sambil tersenyum tulus.
Ara membalas senyuman itu, "Anggap saja ini sebagai balasanku karena kamu sudah membuat Jojo mengingat ku waktu itu."
"Kau tahu hal itu?" Tanya Sam.
Ara mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Tentu saja, Jojo yang mengatakannya." Sahut Ara.
Sam tersenyum lagi. "Hal itu terjadi begitu saja. Aku tidak menyangka jika rekaman itu yang membuat kak Jo jadi ingat padamu lagi. Sebenarnya waktu itu aku sangat benci melihat kemesraan kalian membuatku begitu iri. Dan aku tidak menyangka ternyata kamu agresif juga." Ucap Sam sambil menahan tawa.
Mendengar hal itu wajah Ara langsung merona. Ara sangat malu, ia seperti sedang dipergoki oleh Sam saat bermesraan dengan suaminya. Walaupun adegan dalam rekaman itu tidak lebih dari sekedar berciuman. Tapi Ara tetap malu jika hal itu sampai ketahuan.
"Enak ya pegang-pegangan tangan?" Suara seseorang yang sangat Ara kenal terdengar begitu mengejutkan.
Ara sontak menarik tangannya dari genggaman Sam. Lalu beranjak berdiri menyambut sang suami. Ya, Jo datang tanpa mereka sadari.
"Bee, kamu salah paham lagi. Ini gak seperti yang kamu lihat." Seru Ara mencoba menjelaskan. Ia tidak mau membuat suaminya lagi-lagi salah paham.
Jo tidak mendengarkan perkataan Ara. Ia malah mendelikkan matanya tajam. Tatapannya tertuju pada laki-laki yang masih duduk di di hadapannya yang tak lain adalah adik sepupunya.
"Bee.... " Suara Ara yang terdengar lagi membuyarkan pandangan lelaki itu. Ia pun menoleh dan menatap wajah istrinya yang sepertinya akan marah.
Jo menghela nafas kasar, ia mengusap wajahnya yang begitu gusar. Jo tidak ingin kejadian seperti waktu itu terulang lagi. Dan kali ini Jo ingin mendengar penjelasan sang istri.
***
Jangan main emosi terus Jojo, nanti di tinggal kabur sama Ara baru tahu rasa loh... Hihi.... Tenang aja! Amih gak sejahat itu kok.
Terimakasih yang sudah berkenan membaca karya amih yang masih acak-acakan ini ya. Amih minta bantuan like sama komen nya. Ya Syukur-syukur sama votenya. Tapi amih gak maksa kok, seikhlasnya aja ya! . 🥰🥰🥰