
Ara nampak terengah - engah mengatur nafasnya, dengan tergesa - gesa dia melewati lorong rumah sakit dengan setengah berlari. Setelah beberapa menit yang lalu dia mendapat kabar dari Sarla, pelayan yang di perintakan oleh mommy Ayura untuk menemani bibinya Ara 'Iren' .
" Dimana bibiku ? " Tanya Ara pada Sarla saat dirinya sudah berada di depan ruang IGD.
Sarla beranjak berdiri dari duduknya, dengan wajah takut tubuhnya sedikit gemetar saat nona mudanya itu bertanya keadaan bibinya yang selama ini Sarla jaga.
" Beliau masih di dalam nona, dokter sedang memeriksanya. Maafkan saya Non Ara ! Saya lengah menjaga bibi anda. " Ucap Sarla sambil terisak.
Ara memegang kedua bahu pelayan setianya itu. " Kamu tenang dulu ! Duduklah ! " Ara membuat Sarla terduduk kembali, lalu dia duduk di kursi tunggu kosong di samping Sarla.
" Ceritakan padaku apa yang terjadi ? Kenapa bibi Iren bisa tertabrak mobil ? " Tanya Ara lagi, sebenarnya dia sangat panik tapi dia juga tak tega saat melihat pelayannya merasa bersalah seperti itu. Jadi Ara berusaha bersikap tenang agar Sarla berhenti menangis karena takut di salahkan.
" Waktu itu nyonya Iren bilangnya mau ke warung sebentar, saya sudah menawarkan diri untuk membantunya tapi nyonya menolak. Katanya dia juga ingin jalan - jalan sebentar. Saya kebetulan lagi masak, jadi tidak bisa menemani nyonya . " Sarla memberi jeda mengatur nafasnya yang tersendat karena air matanya terus saja bercucuran.
" Beberapa menit setelah nyonya keluar rumah, saya mendengar suara teriakan dan dentuman yang sangat keras. Saya langsung ingat pada nyonya Iren dan berlari meninggalkan masakan saya. Pas saya keluar saya lihat nyonya sudah tersungkur di jalan nona, tubuhnya penuh dengan darah. Mobilnya melaju sangat cepat hingga saya tak bisa melihat dengan jelas plat nomor mobil itu. Maafkan saya nona .... Huuhuu. "
Sarla menangis sejadi - jadinya. Setiap hari bersama Iren membuat Sarla menyayangi majikan barunya itu seperti ibu kandungnya sendiri. Umurnya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Ara. Iren memang sosok yang keibuan, siapapun yang tinggal bersamanya selalu di perlakukan dengan baik.
Mendengar itu tiba - tiba tubuh Ara melemah, tulang - tulangnya seakan tak bertenaga. Iren adalah pengganti ibunya, satu - satunya orang yang dia punya setelah semua keluarga aslinya meninggalkannya. Bahkan jika nanti Jo melupakannya Ara hanya akan kembali pada bibinya itu.
Ah .... iya, Jo ! Bagaimana dengan keadaannya ? Kenapa Ara tidak berada di samping Jo saat ini. Bukankah Ara sudah berjanji tidak akan meningalkan Jo apapun yang terjadi ?
Ara terlalu panik saat mendapat kabar jika bibinya masuk rumah sakit karena tertabrak oleh mobil. Dan lebih sialnya lagi mobil itu kabur melarikan diri, tidak ada saksi hingga Ara tak bisa melacak mobil siapa yang membuat bibinya itu terluka.
Ara terpaksa pamit pada tubuh Jo yang masih tak sadarkan diri, dia berjanji akan kembali secepatnya. Setelah Ara memastikan jika keadaan bibinya baik - baik saja.
Ara mencoba tegar dia tak ingin menangis saat ini, Ara selalu ingat kata - kata Iren jika Ara harus tegar dalam menghadapi setiap masalah yang dia hadapi.
Jangan pernah menunjukkan sisi lemahmu di depan orang lain ! Bersikaplah seolah kamu baik - baik saja. Jadilah orang yang kuat Ara !
Itulah pesan semangat yang selalu Ara ingat. Iren adalah sosok panutannya setelah kedua orang tuanya meninggal. Ara menegakkan kembali tubuhnya, tangannya memeluk tubuh Sarla dari samping, mencoba menenangkan gadis itu dari tangisnya.
" Sudahlah ! ini bukan salahmu. Bibi Iren akan baik - baik saja. " Ucap Ara sambil menatap kosong ke arah depan. Sarla hanya menganggukkan kepalanya sambil sesegukan. Dia sangat beruntung memiliki majikan yang sangat pengertian seperti Ara.
***
Mommy Ayura menyipitkan matanya yang terasa perih, dan memegangi kepalanya yang terasa berat. " Kenapa aku bisa ketiduran ? " Gumam mommy Ayura dengan lirih. Matanya yang kini sudah terbuka sempurna menyapu ke sekitar dirinya berada, dia masih berada di ruang keluarga bersama dokter Ichida dan juga Angelina. Tapi kedua orang yang bersamanya itu juga tertidur sama lelapnya.
Mommy Ayura beranjak berdiri, dia melangkahkan kakinya ke arah sofa tempat dokter Ichida merebahkan diri. Lalu menguncangkan bahu dokter itu dengan perlahan.
" Ichida .... bangun ! Kenapa kamu juga tidur ? "
Setelah beberapa kali mommy Ayura mengguncangkan bahu dokter keren itu, barulah dia mendapat tanggapan. Dokter Ichida mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dia membuka matanya dengan sempurna.
" Dimana ini ? " Tanya dokter Ichida sedikit linglung.
" Di rumahku, kau pikir dimana ? " Mommy Ayura berdecak sebal, mengapa dokter ini juga ketiduran. Dan sekarang berlagak seperti orang yang hilang akal.
Dokter Ichida mengerutkan dahinya, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur. Dia ingat tadi dia sedang bercanda dengan Ayura sambil menikmati makanan ringan yang di sediakan oleh pelayan cantik itu. Lalu setelah itu dia tak ingat apa - apa lagi.
Tapi tiba - tiba dokter Ichida tersentak, dia langsung berdiri dari posisi berbaringnya. Membuat Ayura sedikit terlonjak karena aksi dokter tengil itu. " Ada apa ? mengagetkan saja ! " Ayura memukul lengan dokter Ichida.
Ish, kasar sekali wanita ini. Kalau bukan sahabatnya seorang wanita mungkin dokter Ichida akan membalas tabokan itu.
" Ck, bukankah kita sedang menunggu Jo bangun ? Ini sudah jam berapa ? Kenapa Ara tak membangunkan kita ? " Dokter Ichida berdecak pelan, dia bertanya dengan raut wajah yang terlihat panik.
Mommy Ayura pun baru tersadar, kenapa dirinya lupa moment terpenting untuk anak sulungnya itu. Merekapun bergegas menuju kamar tempat Jo melakukan terapi, tak lupa mommy Ayura membangunkan Angelina dulu dan membawanya juga ke kamar Jo.
Saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar khusus itu, Ayura dengan tak sabar membuka pintu itu dengan kasar. Mommy Ayura masuk dan di ikuti oleh dokter Ichida dan juga Angelina. Pemandangan yang pertama mereka lihat adalah tubuh Jo yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Wajahnya terlihat datar dengan pandangan kosong ke arah depan.
Mereka bertiga di buat terheran, sejenak terpaku menatap Jo yang diam saja. Tak ada Ara disana. Kemana dia ? mommy Ayura menyapukan pandangannya ke sekitar kamar, dan betapa terkejutnya dia saat matanya menangkap sosok yang tak sama sekali dia duga keberadaannya di sana.
" Hai .... kakak ipar ! Apa kamu kaget ? Oh iya selamat ya, kini anakmu sudah kembali normal. Dokter syaraf pribadimu ini benar - benar hebat. Dia bisa menyembuhkan keponakanku dengan cepat. " Siapa lagi kalau bukan Jacob, adik ipar Ayura yang tidak tahu diri. Dia terlihat sedang duduk di kursi berhadapan dengan tubuh Jo saat ini. Sambil menopangkan sebelah kakinya dia melemparkan senyum sinisnya pada dokter Ichida yang sudah terlihat mengetatkan rahangnya menahan emosi. Kata - kata Jacob terdengar sarkas. Entah sebuah ledekan atau pujian yang pasti jika itu keluar dari mulut si pembuat onar, rasanya akan terjadi masalah besar.
***
Bikin horor aja nih si jacob tiba - tiba muncul udah kayak jelangkung. Datang tak di undang pulang tak di antar. Serem ih 😱😱😆😆
Jangan lupa Like , kasih komentar dan saran, share jika berkenan dan Vote nya yang banyakan. makasih 😉😉