My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MANGGA MUDA



Semenjak di nyatakan hamil, Jo tidak memperbolehkan Ara untuk bekerja, walaupun Ara memaksa karena hanya sekedar membantu mertuanya di salon tidak akan terlalu menguras tenaga. Tetap saja Jo melarangnya.


Masalah kesalahpahaman mereka sudah selesai, dengan sedikit drama Ara bertanya pada suaminya mengenai foto kemesraannya dengan wanita lain.


Jo menjawab apa adanya, foto itu di ambil di luar sepengetahuannya saat dirinya membeli cincin untuk Ara dulu. Mungkin di sengaja untuk menghancurkan rumah tangga mereka.


Ara tak habis pikir dirinya seperti tersihir. Mendengar Jo beralasan demikian ia tak lagi banyak pertanyaan.


Mungkin karena sudah terlalu cinta. Yang pasti Ara tidak ingin berpisah dengan ayah dari calon bayinya.


Karena terlalu terbuai akan kebahagiaannya akan menjadi seorang ibu. Ara lupa untuk memberi tahu Jo akan pamannya yang baru ketemu. Ah, wanita ceroboh ini masa iya dia lupa pada hal sepenting ini.


***


Dua pekan berselang setelah berita kehamilan Ara, kini usia kandungan wanita itu sudah memasuki minggu ke delapan. Itu artinya sudah menginjak dua bulan.


Tidak seperti wanita-wanita hamil pada umumnya. Ara terlihat lebih segar dan tak banyak meminta. Justru Jo malah semakin menggila. Entah sudah berapa makanan yang terbilang aneh atau sulit di cari ingin ia makan.


"Ting tong...... "


Suara bel pintu memecah kesunyian pagi. Siapa orang yang tidak tahu diri bertamu sepagi ini.


"Bibi lanjutkan saja pekerjaannya! Biar aku yang membuka pintunya." Perintah itu terlontar dari mulut si nyonya rumah. Ayura yang hendak sarapan tidak jadi mendudukkan tubuhnya di kursi kosong yang sempat di tariknya.


Ayura memasang wajah malas, karena orang yang datang ternyata orang yang hampir setiap hari menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan si dokter bermata sipit dan berkaca mata. Dokter Ichida.


"Pagi-pagi kau sudah ke sini, tidak pulang ke rumahmu dulu?" seru Ayura yang semalam sudah tahu jika dokter Ichida akan pulang dari Jepang hari ini. Dan wanita itu tak menyangka jika sepagi ini sahabatnya itu sudah sampai di depan rumahnya.


Dokter Ichida berdecak, ia berpikir akan mendapatkan sambutan yang luar biasa atas kejutannya itu. Tapi ini apa, sahabat dari kecilnya itu malah memasang raut wajah tak suka. Apa wanita itu tidak pernah merindukannya?


"Kau tidak mau memelukku dulu? Sudah berbulan-bulan kita tidak bertemu. Memangnya kamu tidak rindu?" Dokter genit itu mulai lagi. Ia selalu membuat Ayura bergidik ngeri. Sungguh tidak ingat umur manusia ini.


"Bagaimana mungkin aku akan rindu. Kau meneleponku setiap waktu. Kau pikir aku tidak bosan setiap hari mendengar ocehanmu." Ayura tersenyum pelik, ia menyandarkan tubuhnya di pintu sambil melipat tangannya di depan dada.


"Kau mau masuk apa diam di situ?" Kalimat ajakan yang terdengar ambigu membuat dokter berkaca mata itu mengulas senyum lucu. Bagaimanapun kasarnya sikap sahabatnya. Tentu saja itu hanya sekedar candaan belaka.


Dokter Ichida menarik koper yang ia bawa untuk masuk ke dalam rumah milik Ayura. Karena memang setelah tiba di bandara lelaki itu bukannya pulang ke rumahnya tapi malah langsung berkunjung ke rumah Ayura.


Ayura mengajak dokter Ichida untuk sarapan terlebih dahulu, dan membawa sahabat dekatnya itu ke meja makan. Disana masih ada bi Darmi yang belum selesai dengan pekerjaannya.


Kening dokter Ichida seketika berkerut dalam, ia menelan air liurnya yang tiba-tiba saja terasa ingin keluar. Melihat bi Darmi sedang mengiris mangga muda di pagi buta. Membuat indera perasanya seakan ikut mengecap rasanya.


"Yang benar saja, pagi-pagi kau mau makan mangga muda? Kita belum juga menikah, tahu-tahu kau sudah ngidam saja."


Celotehan yang mengarah pada Ayura itu sukses membuat dokter Ichida menjerit keras. Ketika satu cubitan tebal mendarat di pinggangnya dengan sedikit di putar.


"Kalau ngomong jangan sembarangan! Bukan aku yang ngidam. Tapi Jo," seru Ayura tak terima. Tangannya masih setia menempel di pinggang dokter Ichida.


"Lepasin dulu Yura! Ini sakit," pekik dokter Ichida berusaha melepaskan tangan yang seperti menjepit pinggangnya.


Ayura terkekeh, menarik tangannya kembali lalu duduk di kursi kosong yang sudah ia tarik sebelumnya dan melanjutkan niatnya untuk sarapan pagi.


Dokter Ichida masih mengelus pinggangnya yang terasa perih. Cubitan wanita itu sungguh pedas sekali. Dokter berkaca mata itu pun duduk di kursi sebelah Ayura dengan raut wajah kesal , tatapan matanya masih terfokus pada buah mangga muda yang tersaji di atas meja.


"Beneran ada yang ngidam ya? Padahal aku tadi cuma nebak saja," seru dokter sambil menelan ludahnya lagi. "Eh, siapa tadi yang ngidam?" tanya Dokter Ichida sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ayura. Menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Jo," jawab Ayura sambil mengoleskan selain coklat di atas rotinya lalu memakannya.


Dokter Ichida mengernyitkan dahi. "Memangnya Jo hamil?" Dokter Ichida bertanya dengan heran. Mana ada laki-laki yang hamil. Tapi kenapa ia malah bertanya seperti itu padahal ia tahu jawabannya pasti tidak mungkin.


Ayura tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya. Untung saja ia tidak tersedak makanan yang baru saja ia telan.


"Kau ini seorang dokter tapi kenapa bodoh sekali. Mana ada laki-laki hamil? Tentu saja Ara yang sedang hamil."


"Itu keberuntungan Ara, dirinya yang hamil suaminya ikut merasakan juga. Adil bukan? Ini kasus pria beristri, kau tidak akan mengerti." Ayura berkata dengan penuh ledekan.


Dokter Ichida mencebikkan bibir, menyebalkan sekali wanita ini. Apa harus dokter Ichida memaksanya untuk di jadikan istri. Eh???


Di tengah perdebatan mereka, sepasang suami-istri istri yang lagi mesra-mesranya datang ke meja. Membuat perhatian kedua orang disana seketika tersita.


"Paman dokter?" Ara begitu semangat bertemu dengan dokter favoritnya itu. Mereka memang kerap berdebat. Tapi tak bisa di pungkiri Ara sudah menganggap dokter Ichida seperti pamannya sendiri.


Dokter Ichida menyambut tubuh Ara yang hendak memeluknya. Ia beranjak berdiri dan merentangkan tangannya dengan senyum merekah di bibirnya.


Tapi senyum itu mendadak sirna saat tangan kekar Jo menahan tubuh istrinya untuk mendekati lelaki paruh baya itu. "Gak usah peluk-peluk!" perintahnya dengan nada dingin.


Jo menarik sebuah kursi lalu menyuruh istrinya untuk duduk disana. Dengan wajah di tekuk Ara menuruti perintah suaminya.


Ekor mata Jo menangkap sebuah koper besar bertengger di samping tempat duduk dokter Ichida. Matanya menyipit tajam, memperhatikan koper tersebut dan penampilan dokter Ichida yang sepertinya dari perjalanan jauh secara bergantian.


Sesaat kemudian Jo sadar jika dokter Ichida baru saja pulang dari Jepang. Tapi, kenapa dia pulang kerumah Jo? Bukan pulang ke rumahnya sendiri?


"Baru pulang dari luar negeri, bukannya pulang ke rumah sendiri malah kesini!" Sindiran Jo terdengar pelan tapi sukses membuat dokter Ichida sedikit kelabakan. Tapi tak membuatnya jadi sakit hati. Karena lelaki itu sudah terbiasa dengan sikap dingin Jo selama ini.


"Bee, jangan kayak gitu. Gak sopan tahu!" Ara menegur suaminya, merasa tak enak dengan dokter Ichida. Bagaimanapun usia dokter Ichida lebih tua dari mereka.


"Om Ichida mau numpang sarapan di sini, kalau dia langsung pulang ke rumahnya disana tidak ada orang yang akan membuatkannya sarapan. Kamu tidak boleh pelit gitu dong sayang," sahut Ayura membela sahabatnya. Bagaimanapun menyebalkan nya lelaki itu, dia tetap banyak berjasa dalam kehidupannya selama ini.


Dokter Ichida tersenyum bangga. Ia memasang wajah sendunya. Berharap mendapatkan belas kasihan dari wanita pujaan hatinya. "Kau memang the best Yura," ucapnya sambil menggenggam tangan Ayura dan di balas oleh anggukan kepala dari wanita itu.


Melihat itu Jo tambah geram, lelaki ini mentang-mentang jomblo senang sekali tebar pesona. Jo tahu jika dia menyukai maminya, tapi jika mengingat lagi umur mereka apa pantas jika keduanya berpacaran? Atau Jo izinkan saja dokter yang membantu nya mengingat kembali ingatannya itu untuk menikahi maminya?


Hah, dia pasti akan sering bertemu dengan Ara. Dokter genit itu selalu suka memeluk istri mungilnya. Pikiran Jo melayang jauh kemana-mana.


Jo menghela nafas kasar, ia tak mau lagi berkomentar. Kedua matanya kini tertuju pada potongan mangga muda yang sudah tersedia di atas piring yang sengaja di tinggalkan di sana oleh bi Darmi saat selesai mengupas dan memotongnya.


Air liurnya seakan ingin keluar, melihat kesegaran daging buah yang masih berwarna putih sudah di pastikan rasanya sangat masam. Tanpa memakan makanan lainnya dulu Jo langsung menyaut sepotong mangga muda lalu di celupkan kedalam sambal kemudian masuk ke dalam mulutnya.


Semua orang disana tampak ngilu melihat aksi ekstrim yang di lakukan lelaki itu. Apa dia tidak takut sakit perut? Tapi hal itu sudah terjadi berturut-turut. Bukan hanya kali ini Jo menyantap rujak mangga di pagi hari. Dan hasilnya perut Jo tidak pernah bereaksi.


"Apa rasanya seenak itu? Bukankah itu masam? Reaksimu benar-benar membuatku tidak percaya jika itu benar-benar mangga muda." Dokter Ichida yang baru pertama kali melihat hobi baru mantan pasiennya itu begitu aneh melihat reaksi Jo yang terlihat biasa saja saat melahap mangga muda. Sehingga ia jadi penasaran dengan rasa mangga muda tersebut.


"Ini manis. Coba saja!" Jo menyodorkan piring yang berisi potongan mangga tersebut, dengan sedikit ragu dokter Ichida meraih satu.


Seketika saja air liurnya mendadak jadi banyak, dan ia harus menelannya berkali-kali agar ia tidak membiarkan cairan itu menetes dari rongga mulutnya yang sedikit menganga. Apa kabar perutnya nanti jika ia mengikuti rasa penasarannya dengan buah mangga ini?


Dengan perlahan-lahan mangga itu masuk ke dalam mulut dokter Ichida. Tapi baru saja gigitan pertama, dokter Ichida langsung menjulurkan lidahnya karena tak kuat dengan rasa masam yang menempel sekali di indera perasanya.


"Apa lidahmu bermasalah? Ini sangat masam?" Dokter ini melempar potongan buah yang baru tergigit sedikit olehnya ke atas piring kosong di hadapannya.


Dan aksinya itu menuai gelak tawa dari semua orang yang melihatnya.


"Kau ini mau saja di tipu anak itu. Mana ada mangga muda yang manis?" Ayura tak bisa menahan tawanya, begitu pun dengan Ara. Selama ini dokter Ichida selalu sukses menjahili nya dan sekarang suaminya membalasnya.


Senyuman licik terpancar dari bibir Jo yang terlihat begitu menyebalkan dimata dokter Ichida. Lelaki itu memasang wajah kesal tapi akhirnya tersenyum juga. Rasanya ia mendapatkan kehangatan di rumah itu. Melihat keceriaan ini, rasanya ia seperti memiliki keluarga sendiri.


***


Kayaknya Jojo udah ngasih lampu kuning tuh buat dokter Ichida untuk mendekati maminya. Kalian setuju gak kalau mereka di jodohkan saja? Kasih komentarnya ya.


Ah iya, novel amih yang baru udah tayang ya judul nya "My STUBBORN Boss" Novel ini menceritakan tentang kisah Danil sama Amel sahabatnya Ara. Mampir ya jangan lupa like dan kasih komentarnya. Rate bintang tujuhnya juga, biar jadi banyak peminatnya.😄


Semoga kalian suka. Makasih.