
Di pagi hari yang masih terlihat gelap, sinar mentari tak dapat terpendar karena tertutup oleh awan gelap, di iringi rintik - rintik kecil air hujan yang membasahi seluruh alam, membuat suasana dingin di pagi hari bertambah semakin lekat.
Setelah sempat berebut wilayah kekuasaan di tempat tidur, Jo yang tidak punya pilihan lain selain tidur bersama Ara memberi sekat sebuah bantal guling di antara mereka. Bukan Ara namanya jika dia membiarkan sekat itu tetap berada di tempatnya. Ara menyingkirkan penghalang itu saat dia yakin Jo sudah terlelap dalam tidurnya.
Ara sengaja merapatkan tubuhnya dengan Jo, hingga saat mereka terlelap bersama, berharap Jo akan hilap dan memeluk tubuh Ara. Melakukan lebih juga tak apa. Astaga, sejak kapan Ara menjadi semesum ini.
Di pagi yang dingin itu, tubuh Jo malah merasakan sebuah kehangatan yang belum pernah dia rasakan di masa lalunya, memeluk sebuah guling yang berukuran sedikit lebih besar membuatnya merasa nyaman. Dia eratkan pelukan itu tanpa mau membuka mata, Jo tak sadar jika yang dia peluk adalah istrinya.
Ara juga merasakan hal yang sama, tubuhnya merasa nyaman di dalam pelukan sang suami. Ara menyelusupkan wajahnya di dada bidang Jo, dan menggesek - gesekkan wajah itu sambil membalas pelukan suaminya tersebut. Jo merasa geli, dan sentuhan dari Ara membuat sesuatu di bawah saja terbangun lebih dulu. Dengan refleks tangan Jo mengelus - elus punggung Ara, awalnya hanya di luar baju. Lama - lama tangan itu mulai merambat dan menyelusup di balik baju itu. Tangan Jo menjelajah setiap lekuk tubuh Ara, dengan mata yang masih terpejam. Bahkan Jo tidak segan menyelusupkan kepalanya di ceruk leher Ara, menghirup aroma tubuh istrinya dan mencium leher itu dengan rakusnya. Ups, bahkan Jo meninggalkan jejak kepemilikannya disana. Astaga Jojo, saat tidak sadar saja dirinya seganas itu. Apa benar dulu dia sangat membenci wanita ?
Ara mengerjapkan matanya ketika merasakan geli dan sedikit perih di bagian lehernya. Ara terhenyak saat membuka matanya, melihat kepala suaminya sudah menyusup di area depan tubuhnya itu. Tapi kemudian Ara tersenyum juga. Lihatlah ! Suami munafiknya itu mulai tak tahan juga. Baru saja semalam Jo bilang membenci wanita tapi sekarang dirinya sendiri malah ingin menerkam wanita.
Ara sedikit menjauhkan tubuh Jo, mendorongnya dengan pelan sekedar ingin melihat dengan jelas wajah tampan sang suami yang kini berhadapan dengan dirinya, sebelah tangannya terangkat untuk mengelus wajah tampan suaminya tersebut.
Tapi tiba - tiba mata Jo terbuka lebar, menatap Ara dengan memicingkan mata. Sepertinya kesadarannya sudah kembali, egonya kembali menguasai tubuh Jo, walaupun deru nafasnya kini sudah berat, hasrat itu kini telah menjalar ke seluruh aliran darahnya. Tapi Jo tetap tak mau mengakui itu.
Ara mengernyitkan dahi, saat tangan suaminya mendorong tubuhnya sedikit menjauh. Tanpa kata Jo beranjak duduk lalu menurunkan kakinya di atas lantai.
" Jojo ? " Panggil Ara dengan heran, dirinya juga ikut terduduk menatap suaminya yang kini membelakangi Ara.
" Jangan berpikir jika aku akan tergoda olehmu ! Aku tahu kau sengaja ingin sekamar denganku karena ingin mengambil kesempatan ini bukan ? Aku sudah sering bertemu dengan wanita sepertimu, kamu sama saja dengan wanita - wanita penggoda di luar sana. " Sahut Jo tanpa menoleh ke arah Ara.
Ara mengerjap bingung, hatinya begitu sakit mendengar kata - kata menyakitkan dari Jo tersebut. Siapa yang menggodanya ? Bukankah tadi Jo yang memulai duluan. Seburuk itukah kesan Jo terhadap perempuan ?
" Aku tidak menggodamu ! Kamu sendiri yang memeluk dan meraba - raba tubuhku tadi. Hiks .... hiks .... " Ara pura - pura menangis, dia bersikap seolah sedang di lecehkan oleh suaminya sendiri. Membuat Jo memutar kepalanya menatap Ara sambil mengernyit bingung. Ara tak menyangka rencananya membuat Jo terbuai akan gagal juga.
" Omong kosong. " Sanggah Jo dengan sinis.
" Kau tak percaya ? Lihat ini ! " Ara menunjukkan hasil karya suaminya yang menempel di lehernya barusan. Tak bisa menyangkal Jo menatap tanda itu tanpa berkedip. Ah, sialan . Itu tidak mungkin ulah dari Jo, bisa saja karena bekas di gigit serangga. Lagi - lagi Jo menyangkal pikirannya. Dirinya masih tak percaya jika tubuhnya bereaksi pada wanita biasa macam Ara.
Belum sempat Jo menjawab atau menyangkal, Ara terlebih dulu menggeser tubuhnya mendekati Jo. Dia meraih telapak tangan suaminya dan di genggamnya dengan erat.
Jo melengos, menepis tangan Ara dengan sedikit kasar. Lalu menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum pelik. " Aku yakin saat kita melakukannya dulu, aku sedang berada dalam pengaruh obat. " Ara terdiam, hal itu memang benar untuk malam pertama mereka. Tapi untuk malam kedua mereka mengulanginya tanpa obat apapun.
" Kenapa diam ? Kalian wanita sama saja, begitu naif menolak uang yang aku berikan padahal aku tahu kamu ingin mendapatkan aku dulu, sehingga kamu bisa menguasai seluruh harta yang aku punya. Otakmu benar - benar pintar Ara, tapi sayang aku sudah bisa membacanya. " Jo berdecih, menatap Ara dengan tatapan jijik.
" Aku tidak peduli jika kau hamil ataupun tidak, jika kau hamil aku akan bertanggung jawab dengan anak itu, tapi tidak dengan dirimu. Kau bisa pergi, anak itu akan lebih terjamin jika tinggal bersamaku. " Imbuh Jo dengan angkuhnya.
Ara tak bisa berkata lagi, rasanya semua perkataannya sudah di habiskan oleh Jo. Percuma saja berdebat dengan manusia angkuh dan egois macam Jojo ini. Ara harus memikirkan cara lain, untuk merubah jalan pikiran manusia ini. Ara juga heran rasa bencinya terhadap mommy Ayura sedikit berkurang, tapi kenapa dirinya masih saja anti perempuan. Jo sudah tak lagi menunjukkan taringnya jika berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya itu. Walaupun sikapnya masih dingin tapi tidak sekasar Jo di masa lalu.
***
" Kamu mau ke kantor nak ? " Tanya mommy Ayura pada Jo. Kini mereka sedang berada di meja makan, menyantap sarapan pagi agar mempunyai tenaga untuk melakukan aktifitas mereka di hari yang melelahkan.
" Hemm. " Jo hanya bergumam, tanpa menoleh ke arah mommynya. Itu sudah mending Jo mau sarapan bersama mommynya, dulu jangankan sarapan bareng bertemu saja Jo sudah menghindarinya. Mommy Ayura hanya mengangguk setuju, menoleh pada Ara yang terlihat kikuk dengan situasi barunya saat ini.
Suasana tampak hening, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling beradu menemani sarapan mereka. Jo beranjak berdiri setelah selesai memakan sarapannya dan meminum segelas air yang berada di hadapannya. Kemudian menyahut tas miliknya yang berada di kursi kosong sebelahnya.
" Aku berangkat mom. " Pamit Jo pada sang mommy. Ara mendesah pelan, apalagi kalau bukan karena suaminya telah mengacuhkannya lagi. Huh, untung saja hati Ara buatan Tuhan, hingga dia bisa kuat menahan segala cobaan.
" Sabar ya Ara ! Maaf mommy tidak bisa banyak membantumu. " Ujar mommy Ayura dengan tatapan sendu, Ayura juga tak menyangka jika Jacob akan ikut campur dalam rencananya. Bahkan jika Jo benar - benar melupakan Ara. Tadinya mommy Ayura akan tetap mempertahankan Ara di rumah itu walaupun di benci oleh Jo seperti dirinya. Biarlah Ayura yang akan menampung gadis yatim piatu itu. Tapi semua itu harus dengan keinginan Ara, dan ternyata menantunya itu mempunyai sebuah rencana, ingin membuat Jo kembali ke masa baiknya saat idiot dulu, merubah tabiat laki - laki itu menjadi lebih baik tanpa harus ada terapi. Ayura hanya bisa mendukung Ara, dan membantu Ara sesuai kemampuannya saja.
" Mommy jangan bicara seperti itu, Ara yakin Jojo mempunyai sisi baik, buktinya saat otaknya kembali menjadi anak kecil dulu dia berbuat baik. Ara punya rencana lain. Mommy doakan saja semoga rencana Ara berhasil dan Jojo benar - benar berubah menjadi baik. " Ujar Ara dengan yakin. Lalu tersenyum manis pada mertuanya itu.
***
Rencana apa ya kira - kira Ara ? tetap stay di sini ya readers...maaf up nya malem terus, sambil nunggu up cerita ini. Bisa baca novel author yang lain yang sudah tamat. Judulnya.
DESTINY OF LOVE, NAYLA.
Tinggalkan jejak ya ! Klik like, kasih komentar , share dan vote pake poin yang banyak...makasih. 😆😆