My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Level Pertama



" Terapi ? " Jojo mengualangi perkataan Ara.


" Heem..." Ara mengangukkan kepalanya tanda mengiyakan.


Jojo terlihat berpikir " Apa itu sakit ?" Tanya nya kemudian.


" Tentu saja tidak, kamu hanya perlu tertidur saja. " Ujar Ara dengan tatapan penuh keyakinan.


" Benarkah ? " Tanya Jojo tidak percaya.


" Kamu tidak percaya padaku ? " Ara menunjukkan wajah imutnya, membuat Jojo tertawa kecil melihatnya.


" Wajahmu lucu jika seperti itu ." Ucap Jojo di sela tawanya.


Ara mendengus " Jadi bagaimana ? " Tanya nya lagi.


" Baiklah , aku setuju ." Ucap Jojo dengan santainya, sambil kembali bermain game di ponsel pintarnya.


" Benarkah ? kamu setuju ? " Tanya Ara ingin lebih meyakinkan pendengarannya.


" Iya..." Sahut Jojo dengan nada malas.


" Yeeeee....." Ara berteriak kegirangan, tak segan dia merangkak di atas kasur dan memeluk Jojo dengan kencang, membuat Jojo kesulitan bergerak.


" Ara, lepaskan aku ! " Seru Jojo sambil menggerak - gerakkan tubuhnya. " Tuh..kan, aku jadi kalah, gara - gara kamu peluk - peluk aku. " Imbuh Jojo saat Ara sudah melepas pelukannya dan Jojo melihat ponselnya kembali permainan yang dia mainkan sudah bertuliskan ' game over '.


Ara hanya menyengir kuda, sebenarnya Ara sangat malu tiba- tiba memeluk Jojo, untungnya Jojo masih menyandang status tuna grahita, jika dia lelaki dewasa seutuhnya, tentunya dia akan lebih malu lagi.


" Maaf Jojo, aku tidak sengaja. " Sahut Ara sambil meraih ponsel yang Jojo buang di atas kasur.


" Hei...mau di kemanakan ponselku ? kemarikan ! aku mau main lagi . " Seru Jojo hendak meraih ponselnya kembali, tapi Ara menghalanginya dengan tubuhnya.


" Tidak baik jika terus - terusan bermain game online, mata kamu bisa sakit. " Ujar Ara sambil memiringkan wajahnya, menengok wajah Jojo yang sedikit condong ingin meraih kembali ponsel tersebut.


Jojo berdecak dan kembali menegakkan duduknya. " Lalu aku harus main apa ?" Keluhnya kemudian.


" Terserah kamu, asal jangan main itu. " Ucap Ara sambil tangannya menunjuk ke arah ponsel Jojo.


Jojo berpikir sejenak, " Hmmmm.... main kuda lagi ! " Seru nya dengan semangat.


Ara mengernyitkan dahi. " Itu lagi ? "


" Memangnya kenapa ? aku suka. " Jojo bicara seolah itu merupakan permainan favoritnya bersama Ara.


Ara menghela nafasnya dengan perlahan, hampir tiap malam permainan itu selalu menjadi permainan rutin yang mereka lakukan sebelum tidur.


" Tapi kau harus janji sesuatu padaku !" Seru Ara sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Jojo.


" Apa ? "


" Jangan pernah berkata pada siapapun apalagi di depan dokter Ichida kalau kita sering bermain kuda - kudaan ." Ujar Ara, kalau dokter Ichida sampai tahu, Ara akan habis jadi bahan ledekan dokter mesum tersebut.


" Kenapa ? " tanya Jojo sambil mengerjap bingung.


" Pokoknya gak boleh, kalau kau ingkar janji aku tidak mau bermain lagi denganmu. " Seru Ara sedikit mengancam.


" Baik, aku janji ! " Seru Jojo sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Ara tersenyum dan mengangkat tangannya lalu menyatukan jari kelingkingnya dengan jari Jojo. Keduanya pun kembali bermain kuda - kudaan seperti biasanya dengan riang gembira, dan Jojo yang menjadi kudanya.


***


Keesokan harinya, Ara sengaja tidak membangunkan Jojo terlebih dahulu. Dia sudah bangun pagi - pagi sekali atas permintaan mama Ayura. Ara bersama dengan dokter Ichida dan juga Ayura hendak membicarakan apa saja yang nanti harus di lakukan saat Jojo melakukan terapi level pertama, yang belum pernah di lakukan sebelumnya di rumah sakit manapun. Hal ini memang merupakan sesuatu yang tak masuk di akal, bagaimana bisa seseorang bisa mengganti memori masa kecilnya begitu saja, mereka tak memikirkan resikonya dulu, yang terpenting mereka sudah berusaha.


Karena Dokter Ichida selalu berkata resiko terbesarnya adalah gagal total artinya Jojo akan tetap menjadi idiot. Jika berhasil pun masih ada dua kemungkinan Jojo akan sembuh dan menjadi Jojo dengan masa kecil yang menyenangkan atau Jojo sembuh dengan sikap yang dingin dan menyebalkan seperti biasanya. Dokter Ichida hanya menggunakan alat terapi yang dia rancang sendiri. Dia hanya merubah sedikit sistem dan program dari alat terapi yang biasa dia pakai untuk merileksasi pasien - pasiennya, karena kunci utamanya adalah pikiran dan semangat Jojo sendiri untuk sembuh.


Ara yang sedang membuatkan susu untuk suaminya pun menoleh ke arah Ayura yang duduk di kursi sambil meneguk teh manis yang di sediakan oleh Bi Darmi.


" Sudah mom ." Jawab Ara sambil tersenyum manis, kemudian beralih lagi pada susu yang sedang dia buat.


" Aku akan membangunkan Jo terlebih dahulu, kemudian menyuruhnya untuk bersiap. " Pamit Ara sambil membawa segelas susu di tangannya. Ayura hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.


Ara berjalan menuju kamar Jojo sambil membawa susu kesukaan Jojo, sudah menjadi kebiasaan Jojo jika bangun tidur dia selalu meminta untuk di buatkan susu dan meminumnya saat dia bangun tidur.


Sesampainya di dalam kamar, Ara menyimpan gelas yang berisi susu tersebut di atas meja di samping tempat tidur. Lalu dia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur tersebut. Dengan lembut dia menyapukan tangannya di kepala Jojo, menyibakkan sebagian rambut yang menutupi dahi suaminya itu.


Ara menatap wajah tampan suaminya sambil tersenyum kecil. " Semoga terapinya lancar Jo, dan kamu bisa sembuh ! " Ucap Ara pelan, harapannya sangat besar agar Jojo bisa sembuh, walau sebenarnya hati Ara sangat takut jika hal itu terjadi dan Jojo benar - benar melupakannya, entah kenapa hatinya begitu sakit jika memikirkan hal tersebut.


" Jojo...ayo bangun ! " Seru Ara sambil mengerak - gerakkan bahu Jojo dengan pelan.


Jojo menggeliat, berusaha membuka matanya dengan perlahan dengan pandangan yang masih terlihat buram.


" Pagi Ara.. " Ucap Jojo dengan suara khas bangun tidurnya, sambil tersenyum dan mengerjapkan matanya.


" Pagi..." Sapa Ara juga sambil tersenyum kecil. " Ayo bangun ! Mandi dulu ya, habis itu minum susu. " Perintah Ara sambil menunjuk segelas susu di atas meja.


Jojo mengangguk menuruti perintah Ara dan langsung turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke kamar mandi.


***


Setelah beberapa saat, Jojo dan Ara keluar dari kamar mereka menghampiri Ayura dan dokter Ichida yang sedang berada di dalam kamar tempat terapi Jojo di lakukan.


" Kamu sudah siap Jo ? " tanya dokter Ichida yang sontak berdiri dari duduknya saat Jojo dan Ara datang.


Jojo terdiam, sejenak dia menyapukan pandangannya pada ruangan tersebut, wajahnya terlihat merengut seperti ketakutan, beberapa kali dia menelan ludahnya yang terasa kering. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Ara.


Ara yang merasakan genggaman erat sang suami, menoleh ke arah suami nya dan menatap wajah lugu dan polos itu terlihat berkeringat dingin. Ara menyeka keringat tersebut dengan sebelah tangannya yang lain.


" Jojo, kamu jangan takut ! harus tenang ! aku akan selalu mendampingimu di sini. " Bisik Ara di telinga Jojo lalu mengelus pipi Jojo dengan lembut. Ara memberikan sugesti positif di pikiran Jojo, semangatnya tiba - tiba saja bergelora di dalam jiwanya.


" Jojo mau sembuh kan ? aku akan senang sekali jika kamu sembuh, kau mau kan buat Ara senang ? " Imbuh Ara, sontak Jojo menganggukkan kepalanya dengan cepat.


" Ayo Jo ! " Dokter Ichida menjulurkan tangannya pada Jojo.


" Jangan takut ! kamu hanya tertidur sebentar. " imbuhnya dengan nada santai. Jojo pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ayura dan Ara hanya diam saja memperhatikan dokter Ichida memasangkan sebuah alat di kepala Jojo, dan beberapa kabel yang menyambung ke alat terapi tersebut. Terlebih dahulu Jojo seperti di hipnotis oleh dokter ahli saraf yang juga mengerti ilmu hypnoterafy tersebut yang membuat Jojo tertidur tak sadarkan diri. Entah apa yang dokter Ichida tekan pada layar monitor yang terhubung pada alat itu. Dan mereka tinggal menunggu alatnya bekerja pada tubuh Jojo.


Ayura terlihat menyatukan kedua tangannya dan di depan dada sambil memejamkan kedua matanya, sepertinya dia sedang berdo'a. Ara yang melihat itu pun melakukan hal yang sama. Keduanya dengan khusyuk mendo'akan agar Jojo baik - baik saja, dan hasil terapinya berhasil.


***


Dua jam berlalu, terapi level pertama pun telah selesai di lakukan. Tapi Jojo masih belum sadarkan diri, Ayura dan Ara terlihat tegang menunggu kesadaran Jojo kembali.


" Kenapa dia belum bangun Ichida ? " Tanya Ayura dengan sedikit nada tinggi, karena tak sabar melihat kondisi anaknya sekarang.


" Sabar dulu, sebentar lagi dia juga bangun. " Jawab Dokter Ichida sambil memperhatikan tubuh Jojo, tak menunggu lama mata Jojo terlihat mengerjap beberapa kali. Membuat dokter Ichida tersenyum lebar, dan hal itu juga di lihat oleh Ayura dan juga Ara. Ketiga nya tampak tegang menunggu Jojo terbangun.


" Daddy...! " Teriak Jojo secara tiba - tiba langsung terduduk saat matanya terbuka sempurna. Ketiga orang yang menanti Jojo terbangun di buat tertegun dengan reaksi Jojo seperti itu. Ada rasa ketakutan dalam benak ketiganya, apakah terapinya berhasil ataukah gagal seperti biasanya.


****


Tunggu kelanjutannya besok ya,,, happy reading 😉😉😉


Jangan lupa like , jejak komentar Rate 5 bintang dan vote nya ya, dukungan para readers author selalu bikin semangat buat nulis.