My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
Kalah Bersaing



Setelah mendapat penjelasan dari dokter Ichida, Ayura mengantar Ara kembali pulang ke rumah Iren, dalam perjalanan Ara tak mengeluarkan suara sepatah kata pun, dirinya masih tak percaya diri untuk bisa membantu menyembuhkan Jojo.


Ayura memperhatikan raut wajah calon menantunya itu dengan seksama, tergurat rasa penyesalan dalam raut wajah Ara yang terlihat muram. Ayura dengan lembut memegang tangan Ara, membuat gadis itu menoleh ke arah nya.


" Kenapa kamu melamun ? apa kamu menyesal telah menerima tawaran ini ?" tanya Ayura sambil memiringkan kepalanya melihat dengan jelas raut wajah Ara, dan Ara seketika menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" Aku sama sekali tidak menyesal nyonya, aku hanya tidak percaya diri saja " Ara berucap sambil menatap mata Ayura dengan penuh keyakinan, tapi kemudian dia menunduk kembali saat percaya dirinya itu muncul di pikirannya.


Ayura mengangkat dagu Ara " Aku percaya padamu Ara, kamu harus yakin ! aku akan selalu mendukungmu, bukankah kamu sudah mendengarnya sendiri tadi, jika kamu hanya perlu memperlakukan Jo sesuai kemampuanmu, Jo hanya butuh perhatian dan kasih sayang yang tulus darimu Ara, dia butuh itu. " tutur Ayura, sambil menekan kan kata terakhir nya itu.


Ara mengangguk pelan, sepertinya dia mulai merasa tenang, pikirannya sedikit terisi oleh energi - energi positif yang di salurkan oleh Ayura padanya.


" Terima kasih nyonya " Ara tersenyum lebar menatap wajah Ayura. Ayura pun langsung memeluk gadis berhati emas yang sebentar lagi akan menjadi menantunya tersebut.


" Aku yang semestinya harus berterima kasih padamu Ara, sangat berterima kasih " ucap Ayura dengan tulus, lalu melepaskan kembali pelukannya.


Suasana kembali hening, tapi bukan karena kebingungan Ara, tapi memang karena tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, mobil mewah yang di tumpangi oleh Ara dan Ayura terparkir sempurna tatkala mereka sudah berada di halaman rumah Iren.


" Apa nyonya tidak mau mampir dulu ?" tanya Ara saat dirinya sudah turun dari mobil, dan Ayura masih pada posisinya dalam mobil tersebut dengan pintu mobil yang tertahan oleh tangan Ara.


" Tidak perlu Ara, aku masih harus menyiapkan berkas untuk pernikahan mu besok, dan menyerahkannya ke kantor pencatatan sipil, walaupun tidak ada resepsi tapi pernikahan kalian tetap sah di mata hukum dan agama, kamu tidak perlu khawatir ya Ara, kamu akan tetap menjadi menantuku apapun yang akan terjadi nanti " Ayura berkata dengan nada yang serius, dan Ara hanya mengulas senyuman di bibir tipisnya tak mau berharap terlalu banyak, tujuannya hanya satu yaitu membuat Jojo sembuh.


" Aku masuk ke rumah dulu ya nyonya, terima kasih dan hati -hati di jalan !" pamit Ara, kemudian menutup pintu mobil dengan pelan.


Mobil Ayura pun pergi meninggalkan rumah Iren, Ara masih termenung di tempatnya memandang mobil itu hingga hilang dari pandangannya. Ara membalikkan badan hendak masuk ke dalam rumahnya, seperti biasa dia tidak pernah mengetuk pintu dulu, dia langsung membuka pintu yang jarang di kunci jika siang hari itu.


Saat Ara masuk ke dalam rumah, Ara menemukan sosok gadis yang sangat dia kenal sedang duduk menunggunya di ruang tamu.


" Amel, kamu gak kerja ? " tanya Ara, membuat gadis berwajah oval itu seketika menoleh, dan melemparkan senyuman yang mengembang di bibir nya.


" Sudah pulang, kamu dari mana, katanya lagi sakit ? malah keluyuran terus ?" Amel balik bertanya.


" Tumben masih sore restoran sudah tutup , ada acara apa ? " bukannya menjawab pertanyaan Amel, Ara malah balik bertanya seolah tak ingin menjawab pertanyaan Amel tersebut.


" Gak ada acara apa- apa, mood nya si bos lagi kurang baik, seharian ini dia uring- uringan terus, dan akhirnya memutuskan untuk menutup restoran lebih awal, aku juga aneh, kira - kira apa yang membuat nya kesal seperti itu ya ?" Amel dengan polosnya menjawab pertanyaan Ara, dan melupakan niat awalnya kenapa berkunjung ke rumah Ara, yaitu ingin mendengar kabar sahabatnya yang katanya sedang sakit itu.


Ara mendudukkan tubuhnya di kursi tunggal di sebelah kursi yang Amel duduki, " Dia sudah bukan bos aku lagi, jadi jangan bilang bos kita di depanku ! " Seru Ara dengan santainya, melepaskan tas yang menyilang di tubuhnya kemudian menyimpannya di atas meja.


Amel mengernyit dahi " Eh..gimana, gimana ? si bos bukan bos kamu lagi, memangnya dia sudah menjual restorannya kepada orang lain ? " Amel masih belum paham ucapan Ara.


Ara mendelikkan matanya ke arah Amel, kemudian tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan. " Kamu ini, kapan sih bisa pintar nya ?" Ledek Ara yang berhasil mendapat tabokan di lengan dari Amel.


" Sialan ! " umpat Amel


Ara mengelus lengannya yang sedikit terasa perih, masih tetap mengulas senyum karena merasa lucu melihat mimik wajah Amel yang membulat ketika cemberut.


" Aku bukan lagi pegawai nya kak Danil, aku sudah mengundurkan diri " Ucapan Ara membuat mata Amel terbelalak sempurna.


" Jangan bercanda !"


" Aku tidak bercanda ."


Amel merengut, mereka terdiam sejenak, membuat ruangan kecil itu menjadi hening seketika. Sampai seseorang dari luar rumah membuka pintu membuat mereka menoleh bersamaan.


" Kamu sudah pulang Ara ? Amel sudah lama menunggu mu, tadi bibi tinggal dulu ke warung " Iren yang kembali dari warung sambil membawa sekantung belanjaannya di buat heran saat melihat raut wajah Amel yang terlihat kesal, dan beralih melihat Ara yang tersenyum hambar saat melihatnya datang.


" Kalian kenapa ? ada masalah ?" Iren menghampiri Amel dan duduk di sampingnya, memegang pundak Amel dengan wajah penuh tanda tanya.


" Bi, lihatlah anak angkat mu itu, dia berhenti bekerja tanpa memberitahuku terlebih dahulu, kemarin dia tidak bekerja katanya sakit, aku sangat khawatir jika sakitnya parah sampai - sampai dia tidak masuk lagi hari ini. Tapi sekarang tahu - tahu dia malah bilang kalau sudah mengundurkan diri, apa aku ini bukan sahabatnya ? hingga hal sepenting ini, aku harus tahu belakangan, kamu ada masalah apa ? Apa bos Danil memaksa mu lagi ? kamu tidak mau cerita kepadaku hah ?" Cerocos Amel yang membuat telinga Ara sedikit mendengung mendengarnya, dia berbicara pada Iren tapi matanya tetap tertuju pada Ara .


Iren tersenyum sambil mengelus puncak kepala Amel " Tenang lah Amel, Ara mu baik - baik saja, dia sebentar lagi akan menjadi pengantin, kamu pasti senang mendengarnya. " Tapi bukan nya senang, Amel malah semakin kesal mendengar nya.


" Apa - apaan ini, kamu benar - benar keterlaluan Ara, kamu sudah tidak menganggapku lagi, aku sakit hati loh ini " Decak Amel semakin kesal.


" Apa kamu akan benar - benar akan melahapku hidup - hidup ? aku bisa mati jika begini terus " Gerutu Amel sambil meronta ingin di lepaskan oleh Ara. Dan Ara seketika melepas pelukannya, membuat Amel tersengal - sengal mengatur nafasnya.


" Kamu sudah gila "


" Mau aku peluk lagi ?" Ara makin semangat menggoda sahabatnya.


" Ih....gak mau " Amel beringsut mundur hingga tubuhnya bersentuhan pada Iren, membuat Iren tertawa melihat tingkah lucu Amel, kemudian beranjak berdiri hendak pergi ke dapur, meninggalkan tingkah konyol kedua gadis yang sedang pura - pura bertengkar itu.


" Sana, jauh - jauh ! " Amel mendengus kesal sambil mengibas - ngibas kan tangannya meminta Ara menjauh dari nya. Ara pun duduk sedikit menjauh dengan tawa kecil yang masih terukir di bibirnya.


" Masih marah gak ?" Tanya Ara sambil menaik - naikkan alis nya sebelah.


Amel kemudian tertawa, dirinya memang tak bisa berlama - lama memendam amarah di hatinya untuk sahabatnya tersebut.


" Menyebalkan " Umpat Amel di sela tawanya "Kapan kamu menikah ?" tanya Amel kemudian .


" Besok ." jawab Ara singkat.


" Besok ? secepat itu ? siapa laki - laki itu yang sudah membuat bos ku patah hati dan uring- uringan tak jelas. "


" Jojo "


Mendengar jawaban Ara, Amel mendekatkan tubuhnya pada Ara dan menempelkan telapak tangannya di kening Ara.


" Kau tidak demam kan ? bicara mu selalu ngawur dari tadi " Amel yang merasa khawatir malah semakin di sangka aneh oleh Ara.


" Aku tidak demam, dan aku masih waras, besok aku akan menikah dengan Jojo, dan kamu harus datang " Ujar Ara sambil menurunkan tangan Amel dari keningnya.


" Jadi bos Danil kalah bersaing dengan Jojo ? Astaga, aku seperti mimpi " Amel menghela nafas panjang. " Jojo memang tampan dan katamu juga dia lebih kaya dari bos Danil, tapi apa kamu sanggup menempuh hidup berumah tangga bersama laki - laki idiot macam dia ?"


imbuh Amel sambil memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Jojo akan sembuh Mel, aku menikahi nya karena ingin membuatnya sembuh, inilah yang di katakan oleh nyonya Ayura, mommy nya Jojo. " Sahut Ara, merasa tidak senang calon suami nya di sebut idiot walau sebenarnya demikian.


Amel menatap wajah Ara, terlihat Ara sangat yakin dengan keputusannya tersebut.


" Apa kamu mencintai Jojo ?" Tanya Amel yang membuat Ara menautkan kedua alisnya.


" Mana mungkin ? aku cuma ingin membantunya saja " Ara mengalihkan pandangannya dari Amel, sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya sendiri.


" Tapi aku menangkap hal itu di mata mu " Ucap Amel yang memutar wajah Ara hingga menghadap kembali ke arahnya.


Ara malah tertawa " Sejak kapan kau jadi ahli dalam hal percintaan, sampai saat ini pun kau belum punya kekasih " Ara menyindir temannya tersebut.


" Sialan, apa hubungannya dengan itu "


" Ada lah " Ara menjawab sekenanya " Jadi kamu akan hadir kan di acara akad nikahku besok ?" Tanya nya kemudian.


" Tentu saja " Sahut Amel, dia tersenyum senang dan berharap Ara akan bahagia dengan keputusannya saat ini.


***


bersambung dulu ya readers, tetap dukung author dengan like, komentar , rate 5 bintang dan Vote kalian sebanyak - banyak nya ya...


terima kasih juga yang sudah menjadi kan author amy sebagai favorit, dan un fav dulu ya jika author nya kelamaan gak Up novel ini, baca juga novelku yang lain ya .


DESTINY OF LOVE , NAYLA


kisahnya juga seru kok...kasih favorit juga ya....makasih.