My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MENGIRIMKAN BUNGA



Hari ini adalah hari sabtu, jika dulu Jo selalu tetap bekerja di akhir pekan. Kini setelah ia menyadari perasaannya terhadap Ara, ia selalu memilih untuk berlibur di rumah saja. Tentu saja dengan di temani istri tercintanya.


Walapun sebenarnya salon tidak tutup di hari sabtu, Jo tetap melarang Ara untuk pergi bekerja, perintah yang tak bisa di bantah dan Ara hanya bisa pasrah.


Sinar mentari yang menelisik di setiap celah jendela kamar, tak membuat mata Jo terbangun dari mimpinya. Ara yang sudah terbangun lebih dulu merasa aneh saat melihat sang suami masih bersembunyi di balik selimut. Padahal Ara sudah selesai membersihkan diri bahkan menyiapkan sarapan untuk suaminya tersebut.


Ara berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Jo. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala suaminya yang masih memejamkan mata.


Jojo mengerjapkan matanya, saat merasa tangan lembut mengusap kepalanya. Jo menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya mentari yang menusuk netra pekatnya. Tapi matanya kembali terpejam begitu rasa sakit menyerang kepalanya kala ia ingin beranjak dari tidurnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Ara merasa aneh melihat suaminya malah terpejam lagi sambil tangannya menempel di kepala.


Seakan tak bertenaga, entah kenapa tubuhnya begitu lemas tak berdaya. "Aku pusing." Jawab Jo sedikit manja.


"Cium aku!" Perintah Jo yang membuat Ara mengerutkan dahi. Apa hubungannya mencium dengan pusingnya kali ini?


"Kamu harus minum obat jika pusing! Bukan minta cium." Protes Ara sambil melipat tangannya di depan dada. Hal itu malah membuat Jo berdecak tak suka.


Tanpa merubah posisinya, Jo langsung menarik tubuh Ara untuk menindih tubuhnya. Mau tidak mau wajah Ara pun berjarak begitu dekat dengan wajah suaminya.


"Jangan menolak permintaan suami, gak baik!" Seru Jo dengan seringai tipis yang sangat di kenali oleh istrinya sebagai ciri kemesuman sang suami. Walaupun selalu berusaha untuk menolak tapi akhirnya Ara tak pernah bisa mengelak.


"Bukannya mau nolak, tapi ini udah mau siang. Tumben banget sih males-malesan?" Sergah Ara, yang merasa heran dengan sikap suaminya yang di luar kebiasaannya. Jo selama ini adalah sosok yang disiplin setiap hari. Semenjak ingatannya kembali kebiasaannya yang dulu juga otomatis terjadi lagi, walaupun sikapnya kini sudah berganti menjadi sangat baik hati.


"Aku juga gak tahu, malas banget buat bangun. Kepala ku pusing. Kalau kamu tidak mau cium aku pijat kepalaku saja kalau begitu!" Tawar Jo sambil mengalungkan tangannya di leher Ara. "Tapi setelah itu cium aku!" Imbuh Jo yang seketika mendapatkan pukulan pelan di dadanya.


"Sama saja!" Omel Ara. Bibirnya mengerucut kesal. Tapi dalam hatinya wanita itu tertawa riang.


Ara melepaskan tangan Jo yang melingkar di lehernya lalu menegakkan tubuhnya seraya berkata. "Pergilah mandi! Abis itu sarapan! Hari ini adalah jadwal menjenguk ibu dan ayah di pemakaman. Nanti akan panas kalau terlalu siang."


Mendengar hal itu Jo jadi terdiam, ia teringat akan sesuatu. Terlihat dari guratan di kening sepertinya Jo sedang berpikir. "Setelah itu apa aku boleh mengajakmu ke tempat daddy? Sudah lama aku tidak menjenguknya." Serunya dengan tatapan penuh kerinduan. Sejak tiga tahun lamanya Jo tidak pernah berkunjung ke makam daddynya. Waktu ia lupa jika daddynya sudah meninggal dunia.


"Tentu saja sayang. Sesuai keinginaanmu!" Dan ucapan Ara yang terdengar mesra membuat wanita itu menyesali perkataannya. Karena detik selanjutnya Jo langsung menarik tubuh Ara untuk kembali ia dekap. Karena perkataan sang istri membuat gairahnya malah bangkit kembali. Dan tentu saja Ara harus mandi lagi.


***


"Apa kau sudah enakan Jo?" Ara bertanya dengan wajah panik, melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan satu tangannya memegang perut dan satu lagi berada di mulut.


"Kenapa aku mual sekali? Kau kasih apa di dalam sarapannya?" Tanya Jo malah menuduh. Membuat Ara yang tadinya khawatir berubah jadi acuh.


"Kau pikir aku meracuni mu? Kalau aku mau sudah ku lakukan dari dulu." Seloroh Ara yang mendapat sentilan di hidung wanita itu.


"Sembarangan! Gak boleh gitu! Memangnya aku dulu kenapa? Sampai kamu mau meracuniku?" Seru Jo yang tak sadar dengan kesalahannya di masa lalu.


"Kita ke rumah sakit ya! Mungkin kamu masuk angin. Salah siapa semalaman gak pakai baju!" Ara yang semula kesal, berubah khawatir saat suaminya kembali mual. Ia menyusul suaminya masuk ke dalam dan membantu sang suami memijit tengkuk lehernya pelan-pelan. Kalimat terakhir Ara seakan menggelitik di telinga Jo, walaupun merasa mual ia juga ingin tertawa. Dan setelah memuntahkan isi perutnya Jo kembali berdiri tegak lalu menghadap ke arah istrinya.


"Kalau aku masuk angin gara-gara gak pakai baju semalaman, mungkin kamu bakal masuk angin juga sayang." Kelakar Jo membuat Ara sejenak terdiam. Lalu tersenyum kikuk dan membenarkan perkataan suaminya karena semalam kondisi dirinya juga demikian.


"Aku gak mau ke rumah sakit. Minum teh hangat buatan kamu aja kayaknya sudah cukup." Seru Jo mengajak istrinya keluar dari kamar mandi. Lalu duduk di tepi ranjang, setelah sang istri pamit untuk membuatkan minuman yang ia inginkan.


Tak berapa lama Ara kembali dengan secangkir teh hijau yang entah sejak kapan menjadi minuman favorit suaminya sekarang. Padahal dulu Jo selalu menolak jika Ara menyuruhnya untuk sekedar mencicipi minuman yang menjadi favoritnya itu.


"Kalau gak mau ke rumah sakit, kamu istirahat aja deh! Gak usah kemana-mana liburannya di rumah aja!" Seru Ara setelah Jo menyesap teh hijau yang baru saja ia terima.


"Aku udah mendingan, lagian cuma berkunjung ke makam. Aku juga sudah rindu dengan daddy." Perkataan Jo membuat Ara jadi bimbang, ia juga rindu dengan orang tuanya. Menurutnya berkunjung ke makam orang tuanya sudah cukup untuk meluapkan kerinduannya tersebut. Mungkin sekarang Jo juga merasakan hal yang sama. Dan itu membuat Ara jadi dilema.


"Tapi kamu sakit. Nanti muntah lagi bagaimana?" Seru Ara masih khawatir dengan keadaan suaminya.


"Gak bakal. Aku sudah sembuh sekarang." Seru Jo yakin. Tapi tak membuat Ara percaya begitu saja. Bagaimana mau sembuh, minum obat saja suaminya tidak mau. Mana mungkin?


***


Setelah melewati perdebatan yang tidak mungkin di menangkan oleh pihak Ara. Akhirnya di sinilah mereka berada. Di sebuah pemakaman usang tapi cukup terawat karena memang ada yang merawatnya.


Setelah selesai berkunjung di pemakaman orang tua Ara. Jo mengajak istrinya untuk berkunjung ke makam daddynya di lokasi yang berbeda.


Sepasang suami-istri itu sedikit merasa aneh saat melihat begitu banyak kelopak bunga segar bertaburan di atas tanah makam yang sudah tertutup marmer di sisi-sisinya. Dan satu bucket berisi perpaduan antara bunga daisy dan bunga matahari yang bersandar di batu nisan tak kalah menarik perhatian. Bucket bunga yang sama seperti yang ia bawa sekarang. Walaupun ada beberapa kelopak bunga yang terlihat sedikit layu. Tapi bisa di pastikan orang yang menyimpannya belum lama datang berkunjung.


"Mungkin mommy kemari sebelumnya." Seru Ara yang tiba-tiba mengambil kesimpulan. Karena melihat raut wajah suaminya yang memancarkan wajah penasaran.


Jo menggelengkan kepalanya. "Kalau mommy ke sini, dia pasti bawa bunga mawar. Bukan bunga seperti ini." Bantah Jo yang tahu betul kebiasaan mommy nya sendiri.


"Lalu siapa yang menaruh bunga ini? Mungkin kerabatmu yang lain atau sahabat daddy mungkin?" Ara masih tak berhenti untuk menebak-nebak. Sepertinya rasa penasarannya lebih besar daripada suaminya.


Jo mengerutkan kening, ia pun jadi berpikir. Dulu sewaktu dirinya masih kecil, setiap kali kakeknya mengajak Jo untuk berkunjung ke makam daddynya, beliau selalu membawa se bucket bunga seperti yang di bawanya. Karena kata beliau daddy Jo sangat menyukai bunga tersebut karena bunga daisy itu melambangkan dedikasi dan bunga matahari melambangkan keceriaan. Sesuai dengan sosok sang daddy yang memiliki sifat demikian.


Kini setelah kakeknya telah tiada, apa mungkin beliau bangkit kembali dan mengirimkan bunga? Jo sangat yakin karena selama ini tidak ada yang berkunjung ke makam selain keluarganya saja. Tapi entahlah selama tiga tahun ia hilang ingatan.


***


Kira-kira siapa hayo yang ngirim bunga? Mungkin gak sih kakeknya Jo bangkit lagi. Hih... Serem atuh😱😱


Jan lupa klik like, komentar sama vote nya ya. Dukungan kalian selalu membuat amih senang. Babay.... 🥰🥰🥰