
Perawat itu menoleh. Semua yang tinggal di tempat ini adalah orang- orang yang sebagian besar tidak memiliki keluarga, tidak berpenghasilan dan bahkan ada yang gelandangan. Itu berarti mereka mengandalkan dana dari para sukarelawan.
"Gaji saya pas-pasan, Sir. Maaf saya tidak bisa membantu. Kita tunggu saja dua tiga hari, pasti polisi bisa mengungkap identitasnya. Apa dia salah satu anggota keluarga anda?"
"Aku bisa membayarmu dan juga untuk menyewa detektif itu. Aku masih memiliki sedikit uang di rekeningku," jawab Sebastian mengerti maksud pwrawat yang setiap harinya selalu membantu kesehariannya itu.
"Bukan maksud saya seperti itu, Sir. Lebih baik uang Anda untuk kebutuhan Anda saja, jangan membuang untuk hal-hal yang tidak penting."
Perawat itu memberi nasihat dan hampir saja berlalu saat Sebastian menghadangnya.
"Aku mohon, bantu orang tua ini. Mungkin itu adalah anakku, dan mungkin juga hidupku tidak akan lama lagi. Jika pun bukan, paling tidak aku sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang ayah." Sebastian menunduk. Tiba-tiba air matanya menetes.
Entah mengapa melihat tubuh yang terbujur kaku itu, meskipun seluruhnya disamarkan, membuat hatinya bergetar.
Ia seperti mengenali tubuh itu. Meski ikatan batin mereka tidak begitu kuat, tapi mereka adalah ayah dan anak. Kebersamaan mereka berlangsung lama, meski tidak selamanya.
Akhirnya, perawat itu merasa iba. Ia juga tumbuh tanpa mengenal orang tuanya. Betapa bahagia gadis yang memiliki ayah seperti Sebastian.
"Saya akan mencobanya. Tapi maaf tidak bisa buru-buru. Karena anda tahu sendiri, kami hanya beberapa orang disini."
Perawat itu mengungkapkan tentang tanggung jawabnya pada pekerjaan yang tidak bisa begitu saja ia tinggalkan.
"Baiklah, terima kasih sudah berubah pikiran." Sebastian menepuk singkat punggung tangan perawat yang tersenyum padanya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata Luna membuka sesaat sebelum wanita itu sampai di kediaman sang bibi.
Jantung Christina bertalu. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang muncul dari bibir keponakannya itu. Dan ia harus siap menghadapinya.
Begitu pintu mobil terbuka. Elea yang sudah beberapa kali mengintip dari daun pintu akan kedatangan sang ibu, segera menghambur memeluk.
"Mama...." Gadis kecil itu terisak karena teramat rindu. Bayangkan saja ia yang terbiasa dengan Luna, tiba-tiba harus dibatasi kedekatannya.
"Mama rindu sekali denganmu, Sayang." Luna berkali-kali menciuni pipi Elea yang semakin bulat karena tidak banyak kegiatan yang dilakukan gadis kecil itu di rumah Christina.
Elea membantu memegang tangan Luna yang beringsut keluar.
Seorang pengawal dengan sigap hendak membantu dan sudah berada di dekat mobil di belakang Elea.
"Terima kasih, aku bisa sendiri walaupun pelan-pelan. Bawa saja tasnya ke dalam," titah Luna yang terus menggerakkan tubuhnya hingga sampai di pinggir.
Kemudian dengan satu kaki ia menopang berat tubuhnya. Dengan beberapa loncatan ia sampai di kursi rodanya. Dan Luna pun duduk seraya menetralkan napasnya.
"Maafkan Mama terlalu lama meninggalkanmu, Sayang. Kamu pasti kesepian. Nanti kalau kondisi Mama membaik, kita kembali ke Kanada ya," ucap Luna pada putri kecilnya.
"Padahal Oma senang sekali kalian disini. Oma jadi tidak kesepian karena Opa selalu kerja full day," keluh Christina tanpa sadar. Sebenarnya ia memang membutuhkan teman dirumah.
Wanita paruh baya itu berandai-andai jika sebelum pergi Stefan sudah menikah. Ia pasti akan bersama menantunya saat ini.
"Apa paman selalu pulang malam, Bi?" tanya Luna menelisik.
"Tidak. Sebentar lagi ia juga pulang. Tapi seharian jika tidak ada kegiatan, aku kesepian di rumah sebesar ini. Aku pernah membayangkan Stefan memiliki keturunan. Rasanya pasti berbeda." Christina mengeluhkan kesendiriannya.
"Suatu saat nanti pasti, Bi. Kita tunggu saja Stefan menikah," hibur Luna.
Christina lupa lagi. Ia terlalu sering curhat hingga melupakan keadaan sebenarnya.
"Susullah Elea, Bibi akan menyuruh orang dapur memotong kue untukmu. Tadi sebelum ke rumah sakit, Bibi sengaja membuatnya untukmu."
Wanita paruh baya itu segera ke dapur. Sedangkan Luna, ia membawa kursi rodanya menuju taman mencari Elea.
"El ... Kamu dimana, Sayang?"
Dan akhirnya, ia mendapati sosok Elea tengah bolak-balik memetik bunga dan meletakkannya di sebuah rumah-rumahan kecil yang ada didekatnya.
"El ... Sedang apa, Sayang?" Luna melambaikan tangannya pada gadis kecil yang tengah asyik dengan apa yang dilakukannya itu.
Elea yang mendengar panggilan sang ibu, hanya membalas dengan lambaian. Dan ia malah mengajak snagnibu ibu mendekat.
Luna mengarahkan kursi rodanya ketempat itu, melewati semak-semak kecil dan rumput hias yang rapi yang memenuhi taman luas di belakang rumah sang bibi.
"Kenapa kau memetiknya, Sayang?" tanya Luna begitu jarak antara mereka berdua hanya beberapa meter.
"Ini untuk Paman Stefan, Ma," jawab Elea sambil memperlihatkan gigi-giginya yang tersusun rapi.
"Tapi paman Stefan tidak ada, Sayang. Sini biar Mama yang membawanya, nanti kita titipkan oma Christina saja."
"Siapa bilang, Ma? Paman Stefan ada disana," tunjuk Elea pada rumah-rumahan kecil itu.
Luna mengernyit. Matanya tidak menangkap satupun sosok yang terlihat disana. Apa mungkin ia tidak tahu saat ada yang datang.
"Tidak ada siapa-siapa disana, Sayang." Luna mencoba menatap kembali tempat itu. Bahkan ia sampai menajamkan matanya. anamun tetap saja tidak ada seorangpun disana.
"Ada paman Stefan, Ma. Ayo ikuti El, akan El tunjukkan dimana paman berada."
Luna menekan tombol on pada kursi rodanya. Dan ia segera mengikuti Elea dari belakang.
Gadis kecil itu membuka pagar yang terpasang dipinggir rumah-rumahan kecil itu.
Bagaimana mungkin Luna tidak ingat sama sekali jika sang paman membangun tempat ini. Perasaan kemarin-kemarin tidak ada. Dan sekarang tiba-tiba saja ada.
"Mana, Sayang? Tidak ada siapapun disini. Tempat apa ini, El?" Luna tertegun begitu masuk kedalamnya. Ada gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hias diatasnya. Ini seperti sebuah makam.
"Ada Paman Stefan, Ma," jawab Elea pelan. Gadis kecil itu mengekor dibelakang sang ibu.
"Mana, Sayang? Dari tadi kau mengatakan ada paman Stefan. Tapi tidak ada. Ini ... ma-kam siapa, El?" tanya Luna ragu. Perasaan aneh mulai menyelimuti dirinya.
Wanita itu menggerakkan kursi rodanya mendekati gundukan tanah, dimana separuhnya sudah dipenuhi bertangkai-tangkai bunga mawar.
Dan mendadak, dada Luna terasa sesak, ketika manik matanya menangkap sebuah tulisan emas. Dimana tulisan itu terukir sangat indah di sebuah nisan.
R. I. P Stefan Efrain.
"El? Apa ini yang kau maksud paman Stefan ada disini?"
Dengan bibir yang bergetar, Luna menatap Elea yang menyunggingkan senyumnya sambil mengusap sayang nisan Stefan. Kemudian gadis kecil itu mengangguk mengiyakan.
Luna seperti kehilangan napasnya. Ia pucat san beberapa kilasan peristiwa tiba-tiba melintas seperti roller coaster di kepalanya.
"Sebelum sakit, Mama dan Elea sudah kesini. Apa Mama lupa?"
"Ma, ini makam paman Stefan. Mama yang mengajak Elea kesini berkunjung. Apa.... "
Suara Elea makin hilang di telinga Luna. Kalah dengan suara-suara asing yang bercampur dengan kilasan peristiwa tadi.
Luna memejam, kepalanya terasa amat sakit. Wanita itu panik dan memegangi kepalanya.
Brakk.
"Mama! Oma... Oma!"
Terima kasih masih setia, maafkan saya yang sok sibuk sendiri. 🙏🙏