La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 113



"Banyak sekali jenazah ditemukan disana, namun tidak bisa dikenali. Identifikasi terakhir menggunakan tes DNA," jelas Aglen.


"Tapi aku merasa dia Stefan," ungkap Luna.


"Dimana?"


"Di dalam gedung itu, Kak. Tadi ada seseorang yang menyelamatkanku. Meskipun menggunakan penutup wajah, saat aku menatap matanya, seperti...."


Aglen mengesah malas. "Kau pasti salah. Aku sendiri yang menerima surat pernyataan kecocokan DNA paman Will dengan jenazah yang ada di belakang rumah itu. Atau mungkin kau terus terbayang wajah Stefan karena merasa bersalah?"


"Apa iya?" Luna terlihat bimbang dengan dirinya sendiri.


"Aku malah menebak itu adalah Bhara. Karena aku melihat ia terburu masuk dengan pakaian yang kurang rapi tadi. Bahkan aku melihatnya mengenakan dasi sambil berjalan."


Aglen yakin dengan ucapannya karena ia yang berada di luar gedung memang melihat Bhara tiba-tiba muncul dan masuk ke gedung pertemuan itu.


"Kenapa harus ditutup wajahnya kalau memang itu Bhara? Bukankah sama saja karena setelahnya ia muncul menolongku?" tanya Luna merasa aneh.


Aglen mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng. "Aku malah tidak melihat sosok berpakaian serba hitam yang kau katakan itu."


"Tapi aku yakin dia bukan Bhara, Kak."


Luna terlihat jengkel dengan pernyataan Aglen.


"Lalu bagaimana kau yakin kalau dia Stefan?"


Deg!


Luna bingung sendiri. Tidak mungkin ia mengatakan jika Luna mengenali mata Stefan karena caranya menatap seseorang sangat mirip dengan Elea, darah dagingnya.


"Terkadang lelaki suka menjadi superhero yang dikagumi daripada dirinya sendiri. Mereka suka menjadi sosok misterius yang dirindukan, Luna."


Aglen malah sok bijak menasehati adiknya.


"Kakak terlalu banyak menonton film Superman!" sengit Luna yang membuat Aglen tersenyum miring.


"Memang begitu. Kau belum menjawab mengapa kau mengira dia Stefan? Kau juga terlalu banyak menonton film laga, dimana aktor utamanya yang diberitakan mati ternyata masih hidup dan berada di suatu tempat. Iya, kan?" tebak Aglen.


"Kita kehilangan Stefan, Kak. Dan Kakak menganggap semua itu hanya candaan." Luna terlihat lesu dan sedih.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Siapa yang tidak sedih kehilangan dia. Apalagi slStefan bukan sekedar saudara bagiku. Kami pernah dibesarkan bersama seperti anak kembar."


Aglen menatap Luna yang juga menatapnya.


"Apa kau berharap keajaiban dan apa yang terjadi pada aktor-aktor film itu terjadi di dunia nyata?"


Pertanyaan Aglen membuat hati Luna semakin berat.


"Jika bisa, seharusnya kita tidak perlu kehilangannya," ucap Luna lirih. "Padahal ada Papa, Alex dan Kakak yang sudah pasti membantu jika dihubungi. Tapi mengapa dia mengalahkan mereka seorang diri?"


"Sudah cukup pembahasan ini. Hanya akan membuatmu semakin merasa bersalah. Wanita tidak pernah tahu pemikiran lelaki. Dan aku juga tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran Stefan saat itu."


"Aku akan tunggu di luar, dan berbincanglah dengan sahabatmu itu, kasihan dia terus menunggumu." Maksud Aglen adalah Bhara. Lelaki itu bahkan tidak berani menerobos masuk tanpa dipersilahkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ada apa ini? Aku tidak tahu apapun," ucap Selly ketika ia masuk ke sebuah ruangan yang digunakan untuk rapat kepanitiannan reuni hari itu.


Teman-temannya pun semua menyangkal mengetahui tentang kejadian itu. Mereka hanya bekerja sesuai prosedur dan rupanya banyak diantara mereka yang hanya numpang nama alias tidak membantu kepanitiann sama sekali. Namun nama mereka tercatat sebagai panitia.


"Siapa yang bertugas di belakang panggung?" tanya Selly yang rupanya menjabat bendahara.


"Tidak ada, Sel. Kami hanya dipinjam nama. Semua pekerjaan dari yang besar hingga sepele diambil alih oleh event organizer yang dibawa oleh Pauline. Kita hanya terima beres saja."


Bibir Selly menganga. Pantas saja tidak ada pertemuan sebelum acara di mulai. Ia hanya mendapat pesan jika semuanya sudah beres.


Ia mengira teman-teman anggota panitia yang sebagian besar lelaki itu, dengan sukarela melakukan pengecekan tanpa menunggu para wanita yang sudah pasti untuk make up saja lama.


"Kalian ini!" pekik Selly geram.


"Maafkan kami, Sel. Kami juga bekerja. Dan sebenarnya kalau tidak dibantu Pauline aku juga tidak mungkin setuju bergabung di kepanitiaan. Kau tahu sendiri berapa transport dari rumahku sekarang kesini," ungkap temannya yang lain.


"Kenapa tidak kita tanyakan saja pada orang-orang Pauline, Sel," usul salah satu temannya.


"Benar itu. Mungkin saja mereka tahu. Karena mereka yang berkeliaran disini. Sedangkan kita hanya beberapa kali saja," tambah yang lainnya.


Selly dilema. Ia sungkan menanyakan hal itu pada Pauline. Itu terkesan seperti mencurigainya. Padahal ia penyumbang terbesar acara reunian ini.


"Baiklah kita bubar saja. Aku akan meminta usul Bhara lebih dulu sebelum bertanya pada Pauline," tutup Selly yang mengakhiri rapat kepanitiann sore itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ellard menghubungiku, ia mengatakan Aglen kesini."


William baru saja tiba dan menanyakan tentang keponakannya itu.


"Duduklah dulu, Will. Aglen menyusul Luna ke sekolahnya. Ia khawatir dengan adiknya itu," jawab Christina yang membantu William melepas jasnya.


"Lalu mana cucuku? biasanya dia menungguku pulang." William menoleh kesana kemari mencari Elea.


"Duduklah dulu. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Christina yang mengambil kopi dari nampan yang pelayan bawa dari dapur.


"Ada apa, Ma. Ada sesuatu yang serius?" William menyeruput kopinya kemudian menarik kursinya mendekat pada Christina.


"Ada yang masuk ke rumah kita, tadi."


"Apa? Bukankah penjagaan sudah kuperketat." William berdiri dengan wajah yang gusar. "Dimana mereka?"


"Tenang dulu. Dengarkan aku dulu Will." Christina menarik jemari William.


"Orang itu menemui Elea. Menitipkan bunga untuk Luna pada cucu kita. Dan yang lebih mengherankan. Dia mampu mengecoh pengawalmu. Bayangkan saja, tidak satupun pengawalmu yang mengetahui dari mana ia masuk."


William terhenyak. Itu sesuatu hal yang tidak mungkin. Sehebat apa orang asing itu hingga bisa menembus pertahanan keamanan di rumahnya.


"Kau melihatnya, Sayang?"


"Hanya sekelebat saja. Ia berlari cepat sekali. Aku takut Will. Rumah ini sudah tidak aman." Christina menunjukkan kepanikan di depan suaminya. Padahal tadi ia nampak tenang saja.


"Pasti ada orang dalam yang terlibat. Aku harus selidiki!"


William menenangkan sang istri dan berjanji akan membereskannya. "Tenangkan dirimu, aku akan menengok Elea dulu," pamit William menuju kamar Elea.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hai."


Senyum Luna mengulas. Bhara yang selalu ramah sejak dulu. Kini hadir kembali sebagai penolongnya.


"Hai. Terima kasih sudah menolongku," ucap Luna canggung.


Rasanya seperti dua orang asing saja. Perlakuan Luna terakhir pada lelaki itu, juga kaburnya dia saat Bhara meminta penjelasan. Tiba-tiba semua hadir dikepala Luna. Membuatnya semakin malu pada lelaki itu.


Senyum Bhara masih sama. Tulus.


"Bukankah kita sahabat? Aku senang kau mau datang di reunian ini. Tapi sungguh mengejutkan kejadian yang menimpamu Luna."


Wajah Bhara berubah, apalagi melihat keadaan Luna yang memprihatinkan. Jelas terlihat jika kaki Luna tidak baik-baik saja. Dan entah siapa yang mengerjai sahabat lama yang dikaguminya itu.


"Bukan salahmu, Bhar. Berapa anakmu sekarang?" tanya Luna yang ingin mencairkan suasana.


"Anak? Em...."


Love u💚💚💚💚