La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 58



"Kita berangkat tepat pukul 16.15. Semua sudah siap?"


Ellard duduk di ruang kerjanya, menatap sebuah pistol kecil model glok ditangannya. Senjata andalan yang telah sekian tahun tidur di dalam peraduan. Ia simpan karena itu permintaan sang istri untuk hidup tenang dan lebih baik setelah berkeluarga.


Hari ini Ellard terpaksa kembali membangunkannya, demi menyelamatkan Luna. Terakhir kali lelaki itu menggunakannya sesaat sebelum menikah dengan Rosalie.


"Sudah, Tuan. Kita membawa 3 helikopter. Satu untuk kita bertiga, satu anak buah inti dan terakhir untuk senjata. Sedangkan yang lainnya sudah berangkat sejak pagi tadi lewat jalur darat dan laut. Mereka akan menunggu kita di lepas pantai sambil mengawasi sekitar." Alex memberikan laporannya.


"Baiklah, kita tunggu saja Stefan diatas," titah Ellard yang menaiki lift dirumahnya menuju atap bersama Alex. Disana ada helipad dan ruangan kecil yang berisi bar mini yang biasa digunakan untuk istirahat sementara anak buahnya.


Beberapa menit berlalu. Ellard sedang menikmati minumannya, sementara Alex beberapa kali keluar menerima laporan dari anak buahnya.


Hingga lima menit sebelum keberangkatan, Stefan belum kelihatan batang hidungnya. Dan Ellard mulai gelisah.


"Kemana anak ini?" gumam Ellard. Ia masukkan pistol kedalam sarungnya. Kemudian menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Stefan memang sudah meminta izin dua jam yang lalu. Fan seharusnya, keponakannya itu sudah sampai karena hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari satu jam untuk bolak-balik rumah Ellard ke apartemen Stefan.


Ellard bangkit dari duduknya. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Stefan. Panggilan pertama terdengar nada tunggu yang panjang dan sama sekali tidak diangkat. Sedangkan panggilan berikutnya putus di tengah-tengah. Hingga akhirnya ponsel Stefan dalam keadaan tidak aktif.


Rahang Ellard mengeras. Jangan sampai yang ia takutkan terjadi.


"Buka GPS Stefan!" titah Ellard begitu Alex masuk. Lelaki itu sampai kaget meski ia sigap dan langsung melakukan perintah sang majikan.


Dalam benda canggih layar datar terlihat sebuah titik berhenti di lokasi apartemen Stefan berada.


"Don, periksa ke apartemen Tuan Stefan sekarang!" perintah Alex melalui ponselnya pada anak buahnya. Alex seperti sudah membaca perintah Ellard dengan tatapan mata. Lelaki yang telah lama mengabdi itu tidak lagi menunggu perintah.


"Tidak mungkin terjadi sesuatu dengannya. Stefan tidak selemah itu. Dimana posisi anak buahmu?"


Berbagai spekulasi berputar-putar di otak Ellard. Jika Stefan tidak mungkin ditangkap musuh, itu berarti....


"Satu kilometer dari apartemen Mr. Stefan, Tuan."


"Oke!"


Ellard nampak semakin gelisah menunggu kabar dari anak buahnya. Lelaki itu terlihat mondar mandir di depan bar mini miliknya sambil sesekali menyesap minuman dari tangannya.


Ponsel Alex berbunyi bersamaan dengan Ellard yang hampir meminta Alex untuk memeriksa sendiri keadaan Stefan.


"Bagaimana?"


Alex nampak mendengarkan seseorang yang menghubunginya itu dengan serius, ia terdengar hanya menjawab ya beberapa kali.


"Sudah kamu pastikan? Baiklah." Alex mengakhiri panggilan diponselnya. "Tuan Ellard, Tuan Stefan tidak ada di apartemennya. Tidak ada jejak mencurigakan apapun. Baik kekerasan ataupun perlawanan. Sepertinya beliau_"


Brakk!


Tangan Ellard yang mengepal meninju pintu kaca disebelahnya hingga pecah dan berhamburan.


"Stefan! Kau bahkan tidak mendengarkanku!" Ellard menggeram dengan tangannya yang masih mengepal. Tetes- tetes darah yang jatuh ke lantai, mengejutkan Alex yang ada disampingya.


Lelaki yang sudah lama menjadi anak buah Ellard itu segera berlari ke dalam heli dan mencari kotak P3K yang ada disana.


"Kita berangkat sekarang juga!" putus Ellard.


Mereka segera masuk ke helikopter masing-masing. Sedangkan Ellard masih dengan tangan yang terluka melangkah menghampiri Alex yang menunggunya di pintu masuk.


"Tuan, biar saya obati dulu tangan Anda."


Ellard hanya diam saja. Ia naik kemudian duduk di dalam sana. Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak menolak ketika Alex meminta tangannya untuk diobati. Namun sangat terlihat jika Ellard tidak baik-baik saja. Kekhawatiran masih nampak jelas di wajahnya. Serta rasa kesal yang mendominasi akibat ulah keponakannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa jam yang lalu,


Pagi ini, saat yang lain bersiap, Stefan tengah berada di kamar Elea. Lelaki itu menemani putri kecil sekaligus cucu satu-satunya Ellard untuk bermain.


Sesekali, tawa canda mereka terdengar hingga keluar kamar. Apalagi jika Elea teriak-teriak memerintah Stefan entah untuk melakukan apa. Karena ketika mereka sudah bersama, kedua orang itu memang selalu terdengar heboh dan ceria.


Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Angkanya sama dengan nomor kemarin yang menghubunginya melalui ponsel asing milik Luna.


Stefan sengaja mengalihkan semua pesan masuk dari ponsel yang para penjahat itu berikan ke aplikasi pesannya. Karena ia harus menghilangkan jejak ponsel yang sempat juga ditanyakan Ellard, agar sang paman tidak curiga.


Datang ke Pulau Victoria. Temukan bangunan berjajar 3, kemudian masuk ke bangunan paling kiri. Ingat jangan bawa siapapun. Sekecil apapun anak buahku menemukan senjata, Luna yang akan menerima akibatnya.


"Paman, El kangen Mama. Kenapa Mama tidak tinggal disini bersama El?" Gadis kecil itu tiba-tiba menghampiri Stefan yang tengah berdiri di dekat jendela dengan ponselnya.


"Sayang...."


Stefan terdiam. Hatinya pilu harus terus berbohong pada putri kecilnya itu. Apalagi saat ini mungkin keadaan Luna tidak baik-baik saja. Dia merasa semakin bersalah.


"Ayo kita bertemu Mama, Paman. Apa Mama tidak rindu dengan El?" rengek Elea lagi. Tatapan mengiba dengan isak dan air mata yang meleleh dipipi milik Elea membuat Stefan merasa sesak.


"Kenapa El menangis? Ayo main lagi dengan Paman," hibur Stefan,


lelaki itu mengecup seluruh wajah putri kecilnya. Berharap bisa menenangkan sejenak kegalauannya.


"Paman janji akan membawa Mama kemari. Dan Elea bisa dengan tenang jalan-jalan lagi dengan Mama," janji seorang Ayah pada putri kecilnya, meski Elea tidak mengerti.


Papa sangat mencintaimu, Nak. Tumbuhlah dengan kuat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua jam sebelum keberangkatan mereka, Stefan meminta izin sang paman untuk kembali ke apartemennya. Dan Ellard begitu saja melepaskannya tanpa curiga sedikitpun pada sang keponakan.


Padahal Stefan memiliki rencana yang bahkan lebih matang daripada rencana sang paman. Yaitu datang ke Pulau Victoria sendiri, sesuai permintaan para penjahat yang menyekap Luna. Stefan tidak mau ambil resiko akan keselamatan wanita yang dicintainya itu. Namun ia juga tidak bisa begitu saja membuat sang paman curiga dengan langkah rahasianya.


Stefan merasa senang karena ia dengan mudah meninggalkan markas sang paman tanpa pengawasan. Mendekati jam-jam berangkat, semua orang sibuk bersiap. Mengecek kesiapan senjata serta peralatan yang dibutuhkan disana nanti. Sehingga kepergian lelaki tampan itu seperti terabaikan.


Merasa aman, ia segera melesat menuju apartemennya. Persiapan Stefan untuk dirinya sendiri sudah 100 persen. Bahkan Stefan sudah bersiap untuk skenario terburuk yang mungkin saja terjadi.


Transportasi paling cepat untuk sampai disana adalah dengan pesawat. Namun tidak mungkin Stefan menaikinya. Ia butuh privasi, juga karena ia kesana bukan untuk berlibur maka kedatangannya harus terahasiakan.


"Aku siap!" Stefan nampak menghubungi seseorang. Setelahnya ia naik lift menuju lantai paling atas apartemennya menuju landasan helikopter.


Stefan bergerak cepat tanpa membuang-buang waktu lagi. Karena lelaki itu takut sang paman menyadari kepergiannya.


Sebuah helikopter datang menjemputnya. Hanya dalam satu jam Stefan sudah mendarat di sebuah kapal ferry yang menunggunya.


Lelaki itu sengaja memilih tempat mendarat di lepas pantai di balik bukit agar tidak menimbulkan kecurigaan. Meski kedatangannya memang dinantikan orang-orang itu, ia tetap butuh waktu untuk menyimpan semua senjatanya.


"Tempat ini aman?"


"Aman, Tuan. Anda bisa menyembunyikan senjata anda lebih dekat dengan target karena kita melewati belakang," sahut anak buah Stefan yang sudah menunggu disana.


Hari beranjak gelap. Semakin malam, ombak di pantai semakin besar. Dan sinar sang surya masih sesekali mengintip, membawa suasana sore yang temaram. Meski begitu, tetap tidak menyurutkan niat Stefan untuk melewatinya.


Lelaki tampan itu mengangguk. Kemudian mengenakan pakaian selamnya. Setelah itu ia menjatuhkan diri ke air dan berenang mendekati daratan.


Tidak terlihat siapapun berjaga di daratan yang ditujunya. Stefan hanya mengikuti sorot lampu senter yang sengaja dibuat berkedip menggunakan kode morse "disini" sebagai penanda anak buahnya berada.


Keluar dari air, lelaki itu berlari menghampiri seseorang. Anak buahnya yang dengan sigap membantunya melepas alat bantu napas serta kaki katak di kedua kakinya.


Kemudian seseorang yang lain nampak keluar dari semak-semak dan memberikan rompi anti peluru serta sebuah tas berisi beberapa peluru dan hulu peledak. Tidak lupa senjata laras panjang yang menjadi pilihannya.


Lelaki tampan itu berdiri sejenak. Meyakinkan diri dan memperkuat nyalinya. Jika ia tidak bisa merengkuh Luna dengan segala cinta yang ia miliki, paling tidak ia memberikan nyawanya sebagai ganti dari pertaruhan nyawa yang Luna lakukan untuk Elea, darah dagingnya.


Stefan melepas semua alat komunikasi. Kemudian menyuruh semua anak buahnya meninggalkannya. Ia benar-benar harus sendiri. Dan jangan sampai kedatangannya terlacak. Karena ia masih harus menyembunyikan senjatanya serapi mungkin.


Dengan berjalan membungkuk, lelaki berpakaian serba hitam itu melangkah pelan menuju markas yang terlihat hanya seperti rumah biasa namun berlantai dua.


Ia menyusup kesekitar bangunan itu dan menyimpan apa yang dibawanya sedemikian rupa. Sehingga sekali tarik saja semua senjata itu jatuh ke tangannya.


Kemudian Stefan yang sudah dengan tangan kosong dan berganti pakaian kembali lagi ke pantai. Ia berencana lewat pintu depan dengan menyerahkan diri.


💓💓💓💓💓