
"Lun, tunggu! Luna! Kita harus bicara."
Seorang pemuda tampan yang pipinya nampak ada bekas memar tengah mengejar Luna saat ini.
Pemuda itu berwajah khas Asia. Luna segera memasang hoodie nya, dan mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Luna! Kamu tidak bisa seperti ini. Bahkan aku tidak tahu apa salahku, dan kau terus menghindariku!" teriak pemuda yang mengalungkan waist bag di depan dadanya ini.
Alex menyadari jika sang majikan tengah di kejar seseorang. Ia langsung berlari menjemput Luna dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Luna?" Pemuda itu masih saja berteriak agar gadis yang dipanggilnya itu mau menoleh padanya.
Setelah berada di dalam mobil, Luna malah hanya diam disana, menutupi seluruh wajahnya.
"Bukankah itu Tuan Sabhara, Non? Putra Jeff Anderson." Bibi Ofelia rupanya mengenali pemuda yang merupakan teman kuliah Luna itu. Satu-satunya teman pria yang menaruh perhatian pada gadis itu.
Luna mengangguk mengiyakan. Namun tidak berkomentar lagi setelahnya. Dia masih setia dengan diamnya.
"Maaf, Tuan. Nona sedang tidak ingin diganggu."
Alex mengangguk hormat pada putra Anderson itu.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar saja. Tolong sampaikan pada majikanmu," pinta Bhara mengikuti di belakang Alex.
"Mungkin lain kali, Tuan. Nona sedang tidak bisa diganggu. Mohon kerjasamanya. Silahkan." Alex mengusir Bhara secara halus. Gesturnya mempersilahkan putra pengusaha Jeff Anderson itu pergi.
Penolakan Luna benar-benar membuat Bhara penasaran. Mengapa hanya dalam beberapa hari, sikap Luna berubah padanya.
Mau tidak mau, lelaki berwajah Asia itu menjauh. Sesekali, Bhara masih menoleh, memperhatikan gadis di dalam mobil yang sama sekali tidak mau menatapnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nona?" Bibi Ofelia memegang pergelangan tangan Luna yang merengkuh lututnya.
Luna terkejut, sedari tadi ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Gadis yang tubuhnya terlihat bergetar itu tiba- tiba memeluk Bibi Ofelia dan menangis.
"Tenanglah, kita sudah di jalan. Dia bahkan sudah pergi dari tadi." Wanita paruh baya itu menenangkan.
Meski semuanya menambah besarnya tanda tanya di kepalanya, bibi Ofelia tetap menjalankan tugasnya dengan baik sesuai permintaan Ellard.
"Dia pasti akan membenciku, aku kotor, Bi. Dia akan membenciku dan melupakanku. Aku ... Aku bukan Luna yang dulu." Luna menggigit bibirnya dan menahan setiap nyeri yang menggerogotinya.
Kotor? Entah apa yang dimaksud Luna dengan ucapannya itu. Wanita paruh baya yang selalu mengenakan kacamata itu tidak bisa menebaknya.
Luna berpikir, jika Bhara tahu apa yang terjadi dengannya, sudah pasti lelaki itu akan kecewa padanya.
"Sepertinya, Tuan Bhara pemuda yang baik, Nona. Dia tidak akan dengan mudah membenci seseorang jika tidak ada alasan yang tepat." Diam-diam Luna membenarkan ucapan bibi Ofelia.
Alasan yang tepat? Tentu kejadian buruk yang terjadi pada Luna akan menjadi sebuah alasan yang tepat untuk temannya itu jijik padanya.
Oh, Tuhan. Mendadak Luna ingin secepatnya menghilang dari negara ini.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=
Keesokan harinya di kantor Ellard. Baik Aglen maupun Stefan keduanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Tidak ada pamitan resmi dari Ellard pada perusahaannya, tentang kepergiannya ke luar negeri bersama Luna.
Lelaki paruh baya itu menyerahkan tampuk kepemimpinan pada sang anak lelaki yang ia andalkan untuk mengelola perusahaannya disini.
Ellard berjanji, sesekali ia akan datang menjenguk. Dan sering memberi kabar pada putra satu-satunya itu.
"Stef, aku keluar sebentar." Aglen segera mengenakan jas abu-abu yang ia letakkan di kursinya.
"Kemana?"
"Mengantar Papa ke bandara. Mau ikut?"
"Hari ini?" Stefan mengerjap pelan. Itu berarti mulai hari ini ia tidak akan melihat Luna.
Bodoh!
Bukankah sejak kejadian itu, Luna juga menolak untuk bertemu dengannya.
"Pergilah. Sampaikan saja salamku pada mereka." Seketika Stefan berpura -pura sibuk dan tidak begitu menanggapi ajakan Aglen.
"Baiklah. Aku pergi," pamit lelaki berambut ikal itu melangkahkan kakinya meninggalkan Stefan.
Lelaki tampan itu terduduk setelah pintu ruangan Aglen tertutup dari luar.
Stefan menyugar rambutnya serampangan. Ia bingung harus bagaimana, ia ingin sekali melihat Luna untuk terakhir kalinya. Namun tentu hal itu tidak mungkin.
Lalu bagaimana caranya?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Safe flight, Pa."
Aglen yang datang di saat terakhir mereka hendak berangkat meneriakkan kata- kata itu pada sang ayah.
Ellard hanya melambaikan tangannya, kemudian lelaki paruh baya itu berbalik sembari menggandeng Luna dan disebelahnya ada bibi Ofelia.
Dibalik dinding tebal bandara, muncullah Stefan. Lelaki itu tidak benar-benar rela melepas kepergian sepupunya ke Kanada.
Bibirnya mengucap nama sang sepupu berulang kali.
Luna.
Luna.
Luna.
Mendadak Luna menoleh ke belakang, apapun alasannya hal itu membuat Stefan sedikit berbangga.
Apakah mereka terhubung?
Entahlah.
Tatapan mata Stefan nanar. Ia sungguh menyesal membuat kesan yang buruk dengan Luna. Ia seperti lelaki pengecut yang ingin memiliki sepupunya itu namun ragu berjuang.
Bibir bisa mengucap tidak, namun hati orang tidak ada yang tahu bukan.
Dengkusan napasnya terdengar berat. Lelaki itu serta merta memijat pelipisnya. Rasanya pusing, lemas dan tidak bersemangat.
Ia seperti kehilangan separuh nyawa..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sehari setelah kepergian Luna, Stefan membulatkan tekad untuk menyusulnya.
Ucapan Luna waktu itu sangat menyakiti hatinya. Luna yang tidak berharap tanggung jawab Stefan atas perbuatan buruk lelaki itu padanya. Ucapan itu pasti terlontar karena Stefan yang seperti ragu dalam bertanggung jawab.
Lelaki itu mengatakan tidak bisa mengakui pernikahannya di depan banyak orang, hanya karena karir dan nama baik keluarga.
Sungguh, Stefan mengutuk dirinya sendiri. Setelah Luna benar-benar pergi, ia merasa seperti pengecut yang bersembunyi di balik nama besar keluarganya.
Namun sebelum Stefan bisa menyampaikan keinginannya pada sang ayah, William malah membuat keputusan bahwa Stefan harus pergi ke Italia.
Pewaris satu- satunya William Efrain itu diharuskan melakukan ekspansi perusahaan ayahnya di negara pizza itu. Juga harus meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi sebagai persiapan menggantikan tampuk kepemimpinan sang ayah.
Stefan tidak bisa berbuat apa-apa saat sang ayah mengharuskannya pergi kesana tanpa ingin mendengarkan pendapat anaknya itu.
William hanya berjanji, jika Stefan berhasil disana baik dalam hal pendidikan ataupun pekerjaan, Stefan boleh meminta hal apapun sebagai imbalannnya.
Apapun. Itu berarti ada kesempatan untuk memperjuangkan pertanggungjawaban atas perbuatannya di masa lalu pada keluarganya.
Saat ini, tidak ada hal yang paling ia inginkan dalam hidupnya selain itu.
Janji seorang lelaki memang sepantasnya bisa dipegang bukan.
Dengan berat hati Stefan berangkat juga ke Italia. Memendam dan mengubur sementara semua keinginannya, dan berjuang menyelesaikan segalanya tepat waktu. Semoga semuanya tidak terlambat untuknya dan Luna.
Sepupunya sekaligus wanita yang sanggup mengobrak-abrik hatinya.
💗Terima kasih masih mengikuti... semoga sehat selalu🤲 aminn