La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 145



"Luna.Titik."


Ingin sekali Luna berbicara dengan Bhara, namun keberadaan Lolly dan Amelia membuat wanita itu urung melakukannya.


"Terima kasih atas kepercayaannya, Sir. Kami akan melakukan yang terbaik." Lolly tiba-tiba maju dan mengajak Bhara berjabat tangan sebagai tanda persetujuan kerjasama mereka.


"Sama-sama. Oh iya, ini sudah waktunya makan siang, bukan?" Bhara terlihat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekalian saja kalian makan siang disini. Di lantai dasar ada sebuah cafe. Saya tunggu disana, ya."


Bhara mengumbar senyumnya, kemudian melirik Luna yang hanya diam dibelakang Lolly.


"Pasti, Sir. Tapi kami akan membereskan berkas kami lebih dulu," jawab Lolly.


"Silahkan."


Bhara meninggalkan kedua wanita itu di dalam ruangan.


"Yeeeee! Kamu hebat Luna! Kamu mengukir sejarah. Biasanya Nona Amelia akan terus mencari kekurangan kita. Hingga kita tidak pernah mendapatkan kesempatan bekerjasama. Kita beruntung hari ini, ada Tuan Sabhara. Ini juga hari keberuntunganmu, Luna." Lolly memeluk Luna untuk mengekspresikan rasa bahagianya.


"Ayo! Cepat kita bereskan. Kita sudah ditunggu dibawah," ajak Lolly.


"Bu Lolly duluan saja. Tidak enak jika sudah ditunggu. Biar saya yang membereskan, nanti setelahnya saya menyusul," ucap Luna yang masih ingin belama -lama di ruang rapat itu.


"Kau yakin bisa sendiri?"


Luna mengangguk. "Tenang saja, nanti jika saya butuh bantuan saya akan menghubungi ibu. Sekalian nanti saya masukkan mobil dan saya baru menyusul."


"Baiklah. Aku duluan, ya. Jika tidak kamu tidak menemukan tempatnya, maka hubungi aku," pamit Lolly yang melenggang keluar ruang rapat sendirian.


"Bhara...."


Luna menggumam sendiri. Wanita itu merasakan jika ini kemenangan yang tidak sehat. Tapi apa boleh buat, Luna melihat atasannya begitu bahagia mendapatkan kerjasama ini.


Tiba-tiba, Luna mendengar ponselnya berbunyi. Ponsel yang sedari tadi tidak disentuhnya itu berada di dalam sakunya.


Begitu benda canggih persegi itu ada ditangannya, dilayar ponsel terlihat nama Bhara memanggil.


"Iya."


"Kenapa belum turun? Aku sudah memesan makanannya." Suara Bhara diseberang terdengar lirih bahkan seperti berbisik.


"Katakan dengan jujur, Bhar. Sebenarnya bukan aku kan yang memenangkan kerjasama ini?" tanya Luna mencari jawaban atas keraguannya.


Terdengar tawa kecil Bhara dari seberang. "Kata siapa? Kemenangan ini memang milikmu, jangan berpikiran buruk," jawab Bhara santai.


"Ini hari pertamaku Bhar. Tidak mungkin semudah itu mendapatkan kerjasama dengan perusahaanmu. Sementara bu Lolly dan semua tim kami mengatakan jika perusahaanmu memiliki standar tinggi untuk semua produk yang kalian buat." Luna mengungkapkan semua yang tersimpan otaknya.


"Karena Amelia? Dia memang begitu. Standar Amelia dan aku berbeda Luna, meski kami berada di pihak yang sama. Dengarkan aku, kali ini kau memang pantas mendapatkannya. Bukan karena kita kenal atau apapun."


Bhara meyakinkan Luna, bahwa wanita itu memang handal meski bidang ini baru untuknya.


"Tapi Bhara_"


"Aku tunggu sekarang dibawah. Aku sudah lapar."


Klik.


Panggilan diputus sepihak. Dan mau tidak mau Luna harus beranjak dari tempat itu karena Lolly juga sudah mulai mengirim beberapa pesan padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei! Kau anggap aku sopirmu? Duduk di depan!" Aglen murka pada Evelyn yang sudah berdiri di dekat pintu depan. Dan tidak lama kemudian malah mundur ke belakang.


Setelah gadis itu membantu pelayan memasukkan koper kedalam bagasi, ia sempat menuju ke depan hendak duduk disebelah Aglen.


Tapi mengingat apa yang ia dengar semalam, rasanya sangat canggung berdekatan dengan bosnya itu. Ia tidak bisa lagi basa-basi dan cuek seperti dulu.


"Emm ... Saya_"


"Kenapa? Tidak nyaman duduk didekatku!?" bentak Aglen yang sebenarnya juga canggung begitu tahu jika Evelyn mendengar semua obrolannya semalam dengan Luna.


Namun lelaki itu dengan sangat baik menyimpannya.


"Bukan itu, Sir. Sungguh saya tidak bermaksud seperti itu." Evelyn menutup kembali pintu mobil belakang. Kemudian melangkah maju untuk berpindah ke depan.


"Masuk!"


"I-iya, Sir."


Dengan terburu-buru Evelyn mengangkat kakinya untuk masuk, dan duduk disebelah Aglen dengan dada berdentam tidak karuan.


Baru kemarin Evelyn mendengar jika Aglen menyukainya. Namun hari ini sudah membentak-bentak lagi.


Tanpa sadar akibat rasa gugupnya, heels sepatu gadis itu tersangkut di karpet bawah jok.


Lelaki berkuncir itu bergeser mendekati Evelyn dan membantu gadis itu mendapatkan sepatunya kembali.


"Kalau seperti itu, harusnya dilihat dulu dimana benang itu membelit. Bukannya main tarik-tarik saja. Bisa rusak karpetnya," kesal Aglen namun tetap sigap membantu.


"Terima kasih, Sir."


"Hemm. Lepas saja kalau di dalam, nanti kalau turun baru kaupakai kembali," lirik Aglen yang seperti perintah untuk Evelyn. Dan gadis itu menurut saja.


"Jangan terlalu galak dengan perempuan, Ag."


Christina muncul tiba-tiba sambil membawa sesuatu dalam paper bag.


"Nyonya, anda tidak perlu repot."


Tangan Evelyn bergerak menerima pemberian Christina.


"Tidak merepotkan, Eve. Aku membuatnya banyak. Didalam ada dua kotak, satu berikan pada adik iparku dan satu untukmu. Hati-hati di perjalanan, ya."


"Untukku, Bi?"


"Kau minta Eve saja. aku hanya membuat sedikit," jawab Christina berbohong. Padahal ia membuatnya dalam jumlah banyak karena Elea juga menyukainya.


"Kata bibi tadi membuat banyak?" protes Aglen. Apa sang bibi sedang bercanda denganya.


"Emm ... Tapi di dalam hanya tinggal sedikit untuk pamanmu," jawab Christina.


"Ini untuk Tuan Ellard dan anda saja, Sir. Saya lain kali saja," ucap Evelyn yang merasa tidak enak karena ia hanya orang lain disana.


"Itu untukmu, Nak. Biar saja dia minta pada ayahnya," ucap Christina sedikit ketus.


Bagaimanapun, ia benci sikap Aglen yang tidak menghargai Evelyn. Padahal yang Christina tahu keponakannya itu menaruh hati pada gadis cantik sekretarisnya itu.


"Baiklah wanita selalu nomor satu, betul begitu kan, Bi?" Aglen mengalah pada akhirnya. Ia tidak ingin berdebat dengan bibinya itu.


"Nah. Itu baru benar, hati-hati kalian dijalan. Jangan lupa titipkan kunci mobil pada teman pamanmu yang itu." Christina melambaikan tangannya setelah mengingatkan Aglen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jadi kalian saling kenal?" tanya Lolly yang memang sudah merasa aneh sedari awal dengan tingkah keduanya. Luna menjadi lebih pendiam dan Bhara yang sedikit agresif.


Padahal yang Lolly dengar, putra satu-satunya keluarga Anderson itu memang ramah, tapi tidak bergaul dengan banyak orang. Mengherankan saja jika pertama kenal Luna dan bertingkah se agresif itu.


"Kami teman sekolah di tingkat atas dan perguruan tinggi, meski hanya sebentar," jawab Bhara yang tersenyum menanggapi ucapan Lolly.


"Wah kebetulan sekali, kita bisa sering kerjasama jika seperti itu," ucap Lolly tidak ingin membuang kesempatan. Jika hari ini wakil dari perusahaan itu adalah Amelia, belum tentu Lolly mendapatkan kerjasama ini.


"Bu lolly!" ucap Luna dengan nada tinggi.


"Boleh ... Tapi tetap harus melalui proses. Dan itu berarti kalian tetap harus menjaga kualitas agar kami selalu puas," ucap Bhara tanpa mengurangi identitas perusahaannya yang dikenal berstandar tinggi.


"Ini pertama kalinya anda bekerjasama dengan kami, Tuan. Anda boleh komplain jika kerja kami kurang memuaskan. Selama ini kami tidak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan jika kinerja kami layak diperhitungkan."


"Ya, aku minta maaf untuk itu. Bukan hanya kalian yang mengeluh seperti itu tentang Amelia."


Mereka telah selesai makan siang. Dan Bhara hanya memberikan kode dengan jarinya pada pelayan untuk menyelesaikan bill nya.


"Kalian bawa mobil? Jika tidak ikut denganku saja. Kebetulan kita searah," tawar Bhara.


"Kami membawa mobil, Bhar. Terima kasih untuk makan siangnya dan kerjasama ini," ucap Luna. Wanita itu bersuara juga setelah tadi banyak diam.


"Baiklah, aku duluan."


Bhara menyenggol lengan Luna untuk pamit. Dan Luna hanya membalasnya dengan anggukan.


"Kau memang beruntung Luna," cicit Lolly sepanjang perjalanan menuju mobil. "Kau lahir dalam keluarga Efrain, mengenal Sabhara Anderson dan tentu semua pengusaha kaya di Amerika ini. Setidaknya mereka mengenal paman dan ayahmu jika mereka tidak kenal denganmu, sementara aku..."


Lolly membuaang tatapannya ke lain arah sembari mengemudikan mobilnya.


"Semua orang memiliki keberuntungan, Bu. Mungkin anda belum menyadarinya."


Luna berusaha bijak. Orang hanya melihat apa yang nampak dari luar. Terlahir sebagai keluarga kaya, memiliki akses dan fasilitas yang istimewa, belum lagi pertemanan dengan sesama anak-anak orang kaya. Itu memang menggiurkan.


Namun tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi dengan jalan hidup Luna. Mungkin bukan hanya Luna. Tapi juga anak-anak pengusaha kaya lainnya.


"Kau berkata seperti itu karena terlahir di keluarga kaya dan terhormat Luna."


Luna menoleh. Tiba-tiba wajah ceria Lolly yang ia kenal dua hari kemarin menghilang begitu saja.


"Bu Lolly kenapa?"


🥰🥰🥰🥰