La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 46



Stefan mengerjap saat telinganya menangkap suara isakan lirih yang begitu dekat. Tangannya meraup wajah tampan yang tetap saja tampan meski keringat membasahinya saat ini.


Telinganya tidak salah bukan? Atau itu hanya suara isakan dari kamar sebelah yang terdengar sampai kamar ini.


Tidak mungkin!.


Dia berada di ruangan VVIP kini. Ruangan khusus yang memang dirancang untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan segala bentuk privasi untuk kesehatannya. Sehingga antara satu kamar dan kamar lainnya tidak saling berinteraksi. Mereka hanya berhubungan dengan perawat dan juga dokter yang terasa spesial karena selalu standby ketika mereka membutuhkan.


Suara itu semakin lama semakin mengganggu. Di kamar ini tengah hening, sehingga suaranya begitu jelas kini. Mata Stefan langsung tertuju pada lemari kecil dengan cat putih di depannya. Karena suaranya seperti terdengar dari sana.


Perlahan, lelaki itu berjalan mendekati kemudian menempelkan telinganya pada daun pintu lemari kecil itu.


Tidak salah! Ada seseorang didalam sana.


Tangan Stefan menggapai daun pintu, kemudian membukanya dengan cepat.


"Luna! Oh Tuhan, syukurlah." Bulir bening keluar dari mata Stefan. Lelaki itu tanpa sadar menangis melihat Luna meringkuk di dalam sana.


Antara khawatir dan bahagia. Paling tidak wanita yang dicintainya itu tidak dibawa oleh orang-orang asing yang sama yang telah mencelakai nya tadi pagi.


"Keluarlah, mereka sudah pergi.


Kau sudah aman sekarang. Ayo Luna, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Ayo keluar."


Stefan membantu Luna saat wanita itu menjulurkan kepalanya lebih dahulu. Kemudian Stefan menggapai tangan Luna dan menuntunnya perlahan untuk keluar.


Wajah luna sepucat kapas, dengan rambut yang acak-acakan. Tubuhnya berkeringat dan gemetar juga isakan yang tertahan.


"Stefan...."


"Apa yang terjadi. Kau baik-baik saja bukan? Apa yang sakit? Apa mereka menyakitimu?"


Stefan memberondong Luna dengan pertanyaan beruntun. Kekhawatiran Stefan membuatnya bertingkah seperti itu.


Luna menggeleng, kemudian ia menangis kencang dan memeluk Stefan. Ia takut, sungguh takut sekarang. Baginya ini seperti sebuah teror. Jika boleh ia lebih memilih menghadapi orang itu secara langsung daripada culik-menculik dan dengan pengancaman keselamatan seperti ini. Apalagi orang yang berniat jahat padanya kali ini sampai melibatkan Elea. Kekuatan terbesar dalam hidup Luna.


"Mereka orang yang sama, Stef. Orang yang membawa Elea. Mereka ingin membawaku juga."


Luna bercerita ditengah isakan yang membuat napasnya sesak.


"Sekarang sudah aman. Ada aku. Aku akan menjaga kalian apapun taruhannya. Kuatlah untuk El. Kita akan menghadapi mereka bersama. Kita bebaskan El apapun resikonya." Stefan mendekap erat Luna dalam pelukannya.


Perasannya semakin dalam untuk wanita itu. Apalagi disaat Luna rapuh seperti ini. Stefan tidak bisa membayangkan hancurnya Luna saat ia mengambil kegadisan wanita itu. Juga kenyataan tumbuhnya benih tanpa kehadirannya.


Luna malah pergi begitu saja, tanpa mengungkap jatidirinya pada Ellard. Wanita itu memilih menanggung semuanya sendiri untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya.


Sedangkan Stefan, apa yang dilakukannya saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Luna.


Dia selalu aman, karena Luna. Semua kenyamanannya sampai saat ini karena sepupu yang disakitinya itu.


"Apa kau lapar? Aku sengaja membawa makanan tadi. Makanan rumah sakit sering kali tidak enak." Stefan berucap lirih. Mencoba mencairkan suasana sendu yang melanda, serta degup jantung yang tidak baik-baik saja.


"Em...."


Tiba-tiba terdengarlah suara perut yang lapar milik Luna. Wanita itu kaget bercampur malu. Hingga semakin membenamkan kepalanya didada Stefan.


Lelaki itu tersenyum kecil melihat tingkah Luna.


"Duduklah, biar kurapikan ini," ucap Stefan. Dia membantu Luna duduk di ranjang. Kemudian menggunakan jemarinya untuk menyisir surai hitam milik wanita itu.


"Tanganmu?"


Stefan melihat bekas darah yang mengering di punggung tangan Luna.


"Tidak apa-apa. Aku memang sengaja mencabutnya tadi. Karena tiang itu menggangguku saat ingin bersembunyi."


Luna menyembunyikan tangannya yang terdapat bekas tusukan jarum infus disana.


"Aku ingin pulang hari ini juga. Disini tidak aman, aku takut mereka kembali."


Luna menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya..


"Aku sengaja menyewa perawat untuk menjagamu tadi. Tapi naas, dia juga dipukuli dan disekap. Kukira mereka hanya menggunakan El untuk mengancammu. Ternyata mereka juga mengincarmu. Kita pulang jika kondisimu sudah membaik," janji Stefan.


"Aku sudah membaik, Stef. Kita pulang saja sekarang. Semakin lama aku disini, aku justru tidak akan baik-baik saja."


Kecemasan nampak terlihat di wajah cantik Luna. Wanita itu terus membujuk untuk pulang.


"Wajahmu sangat pucat. Kau masih butuh perawatan, Luna. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Kamu masih lemah."


"Tidak, Stef! Aku tidak apa-apa. Kita pulang sekarang juga. Aku tidak mau disini lagi," pinta Luna dengan sangat.


Wanita itu memegang erat ujung jas Stefan dengan tatapan memohon.


"Baiklah. Tapi makanlah lebih dulu. Pulihkan tenagamu," ucapnya sembari menyodorkan kotak berisi makanan yang sengaja ia beli saat perjalanan ke rumah sakit tadi.


Luna hanya menatapnya. Meski lapar, ia teringat Elea yang entah sudah makan atau belum saat ini. Putri kecilnya yang selalu banyak tanya itu membuatnya rindu.


Namun sama, Luna masih terdiam menatapnya.


"Percayalah, El akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Kau harus yakin itu. Dan kau harus tetap makan untuk kesehatanmu. Kita akan lebih mudah menemukan El jika kau dalam keadaan baik dan kuat," nasihat Stefan untuk Luna.


Dalam hati, Luna membenarkan ucapan Stefan. Dia memang harus cepat sehat dan kuat untuk menemukan Elea.


Wanita itu gegas mengambil kotak makanan dari tangan Stefan. Sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya, air mata Luna masih juga mengalir.


"Bagaimana jika mereka tak memberikannya makanan?" Luna hanya menyuap sedikit. Tatapannya sama pada stefan. Sendu dan cemas.


"Berpikirlah hal yang baik. Dan Elea akan baik-baik saja." Stefan merebut kotak makanan dari tangan Luna.


Lelaki itu menggunakan tangannya untuk menyuapi Luna, meski hanya sedikit sekali makanan yang masuk.


Luna menatap Stefan dalam. Dan lelaki itu malah sibuk membagi lauk pada nasi yang akan disuapkan padanya.


Apa maksud Stefan baik padaku seperti ini? Apa ia ingin menebus kesalahannya dimasa lalu? Atau....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, saya menemukan sinyalnya."


"Dimana?"


"Sebuah gedung tua. Tidak jauh dari Edmonton, Tuan."


Alex nampak menggerakkan jemarinya diatas layar sebuah benda canggih layar datar yang ada di hadapannya.


"Berapa jaraknya dari sini, Lex?"


"Kira-kira 19 kilometer, Tuan. Gedung tua bekas pabrik pemintalan benang. Ya! Tepat Tuan, meski sinyalnya tertangkap samar. Namun titik itu berhenti disana," teriak Alex memastikan.


Lelaki yang dipanggil paman oleh Luna ataupun Elea itu ikut tersenyum mendapati berita baik ini.


"Jaringan internet disana pasti buruk. Kita sudah sekian jam melacaknya, namun baru menemukannya. Sekarang juga kirim orangmu untuk menyelidiki kesana. Aku harus tahu posisi tempat itu hari ini juga."


"Baik, Tuan."


ex nampak menghubungi seseorang dan memerintahkan seperti yang diinginkan majikannya.


"Begitu kau dapat kabar baik dari orangmu, kita meluncur kesana. Aku mengkhawatirkan keselamatan El. Kita tidak akan membuang waktu lagi. Persiapkan juga orang-orang yang akan kita bawa," titah Ellard.


"Maaf, Tuan. Tuan Stefan meminta saya menghubunginya jika kita sudah menemukan posisi Nona Elea."


Alex meminta izin untuk memberi kabar pada keponakan majikannya itu karena ia telah berjanji tadi.


"Hubungi saja. Namun katakan pada Stefan, kali ini biar aku yang akan menjemput cucuku. Sampaikan padanya, keselamatan Luna tanggungjawabnya saat ini."


"Siap, Tuan!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suasana menjadi sangat canggung saat ini. Disini, dikamar salah satu ruangan VVIP,bukan lagi ada dua orang disana namun tiga.


Adam datang kemudian setelah sebelumnya lelaki itu menghubungi Stefan dan meminta alamat rumah sakit tempat Luna dirawat.


Suami istri itu duduk berdua di ranjang, sedangkan Stefan harus terima duduk di sofa dan melihat pemandangan yang membuat hatinya laksana tertusuk duri itu.


"Maafkan aku, Sayang. Aku baru membuka ponselku saat Papa datang dan memberitahu. Ada sedikit masalah di kantor hingga fokusku terpecah. Dan aku sama sekali tidak memperdulikan benda itu."


Adam menangkup sebelah tangan Luna dengan kedua tangannya. Mencoba meminta maaf pada istrinya karena tidak datang tepat waktu saat kejadian buruk menimpa wanita itu.


"El hilang, Dam. Entah apa yang diinginkan mereka. Kenapa mereka mengikutkan El untuk masalah orang dewasa?"


Tatapan luna sayu. Wanita itu menyalahkan dirinya atas hilangnya Elea. Karena tentu saja yang sebenarnya terjadi adalah penculik itu bermasalah dengannya atau keluarganya. Tidak mungkin dengan gadis kecil seumuran Elea.


"Papa sudah mengerahkan orangnya untuk mencari El. Kita doakan mereka lekas menemukannya. Maafkan aku menolak mengantarmu tadi pagi, aku tidak tahu bakal kejadian seperti ini."


Adam mengungkap penyesalannya. Lelaki itu menarik bahu Luna kedalam pelukannya. Luna hanya menurut, airmatanya menetes kembali saat membicarakan Elea.


"A-ku ke bagian Administrasi dahulu," pamit Stefan tiba-tiba.


Lelaki itu akhirnya menyerah. Dia sudah terlalu lama mendengarkan pembicaraan keduanya. Sampai ia bingung bagaimana harus bersikap dalam kondisi seperti ini. Dan akhirnya memutuskan mengikuti mau Luna. Pulang ke rumah.


"Biar aku saja, Stef. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu hari ini." Adam berdiri, hendak menggantikan Stefan.


"Tidak usah. Kamu disini saja menjaga Luna. Dia membutuhkanmu. Biar aku yang mengurus semuanya."


Tanpa menunggu jawaban dari Adam, Stefan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Lelaki itu mengibas beberapa kali pada tubuhnya. Bukan panas karena cuaca, tapi panas karena ada Adam disana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=


❤❤ terimakasih masih setia. Jangan lupa like komen dan vote nya 👍