La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 16



"Baiklah, terima kasih Em. Kembalilah ke ruanganmu." Emma mengangguk hormat dan meninggalkan Luna sendiri di ruangannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ag, mengapa kau tak memberitahuku jika Luna sudah menikah." Stefan yang baru saja tiba di kediaman Ellard di Kanada, tengah gusar.


"Aku sendiri tidak tahu kapan tepatnya Luna menikah. Papa baru memberitahuku saat aku sudah memiliki keponakan," jawab Aglen sekenanya. Namun lelaki itu jujur dengan jawabannya.


Ellard memang baru memberinya kabar saat Luna melahirkan Elea. Sang ayah beralasan jika memang tidak ada perayaan khusus ataupun pesta meriah, hanya pernikahan biasa.


Janggal memang, melihat status Luna adalah putri satu- satunya keluarga Efrain. Namun semua kembali pada Luna sendiri. Mungkin ini permintaannya secara pribadi kepada sang ayah.


"Jadi, tidak ada perayaan?"


"No. Hanya keluarga saja. Bahkan aku tidak diundang. Sepertinya Papa tahu aku tidak menyukai adik tiriku itu." Senyum masam Aglen menghiasi bibirnya.


"Kau sendiri dalam rangka apa kesini? Liburan? Bukankah paman William mengasingkanmu di Italia?" lanjut Aglen yang membawakan dua gelas cairan merah dari bar kecil sang ayah. Kemudian menyerahkan salah satunya pada sang sepupu.


"Aku tidak diasingkan. Hanya sedikit ekspansi yang diinginkan Papa di negara itu," jawab Stefan seraya menenggak minuman yang diberikan Aglen.


"Tapi bahkan yang kau lakukan lebih dari sekedar ekspansi. Kau juga mendirikan perusahaan baru milikmu sendiri yang menjadi raksasa disana." Aglen menepuk punggung Stefan yang berdiri menatap jendela. "Kau memang hebat, tidak pernah kuragukan!" puji Aglen jujur.


Stefan tersenyum kecil. Ya, dia memang hebat tapi tidak dengan kehidupan pribadinya.


Sekian lama disana, tidak satupun wanita bisa menggodanya. Entahlah, dia yang dikenal pemain wanita di negaranya sendiri, justru menjadi sosok angkuh dan susah di jamah kehidupan pribadinya.


Apalagi selain terkenal dengan pizza dan tempat- tempat wisata yang indah, Italia juga terkenal dengan para wanitanya yang cantik. Dan sepertinya, semua itu tidak juga bisa menarik perhatian lelaki tampan nan mapan semacam Stefan


Lelaki itu harus membayar semua yang ia raih saat ini selama bertahun-tahun, hanya untuk mengikuti keinginan sang ayah. Memuaskan lelaki yang ia jadikan role model dalam kehidupan bisnisnya itu.


Stefan berhasil membuktikan diri. Bahwa dirinya layak, menjadi putra satu-satunya William Efrain yang tentu akan menjadi pewaris tunggal semua kekayaan sulung dari keluarga Efrain itu.


"Kau mau kemana?"


"Menjemput keponakanku yang cantik di sekolahnya, mau ikut?" tawar Aglen yang tidak mengetahui sama sekali, jika detak jantung Stefan berdetak cepat mendengar kata "keponakan yang cantik".


"Emm ... mungkin lain kali," tolak Stefan lirih, ia menjadi ragu dengan dirinya sendiri.


"Istirahatlah! Kau terlihat sangat lelah." Aglen menepuk pundak sang sepupu. Kemudian pergi meninggalkannya.


Stefan menghembuskan napas kasarnya. Yang lelah adalah hatinya, dan semua karena isi dalama chip kecil yang diserahkan oleh Toretto kemarin.


Flash back.


Sepeninggal Toretto, Stefan tidak juga beranjak dari kedai kecil yang mulai agak sepi itu.


Lelaki itu menimang-nimang kotak bening berisi lempengan hitam yang diberikan detektif yang di sewanya, Daniel Toretto.


Dia takut mengetahui sesuatu, namun ia juga penasaran dengan kehidupan wanita yang ia renggut kesuciannya itu. Wanita yang bahkan setiap malam mengganggu alam bawah sadarnya selama ini.


Perasaan bersalah itu mengakar kini. Bahkan Stefan tidak tahu, apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya. Sementara Luna menolak keras semua yang berhubungan dengannya. Apalagi semenjak Luna memutuskan sekolah dan akhirnya malah tinggal di Kanada.


Klik!


Dibukanya perlahan kotak transparan kecil itu, kemudian diambilnya chip pipih hitam yang segera ia masukkan ke dalam salah satu bagian ponselnya.


Toretto memang bukan detektif sembarangan. Bahkan semua informasi ia kemas sedetail mungkin disertai bukti akurat dan tidak terbantahkan.


Luna telah menikah dengan lelaki bernama Adam Walton, putra tertua dari Sebastian Walton. Dia adalah seorang pengusaha yang hampir bangkrut karena ulahnya sendiri. Dan sampai sekarang perusahaan Sebastian masih beroperasi meski tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Tentu saja semua itu tidak lepas dari bantuan sang putra, Adam.


Apakah sang paman benar-benar menutup rapat berita tentang anak perempuannya itu? Permintaan Luna atau....?


Stefan mendengkus keras, kemudian lelaki itu menyugar rambutnya kasar. Perasaan gusar yang menyelinap dalam hatinya benar-benar membuat sakit. Rasanya seperti patah hati yang benar-benar patah.


Padahal selepas ia menyelesaikan tugas dari sang ayah, ia berencana membongkar semua perbuatannya di masa lalu dan bertanggung jawab atas itu. Namun sepertinya semua harus pupus bahkan sebelum ia berjuang.


Luna dan Adam memiliki seorang anak. Gadis kecil bernama Elea, yang lahir selepas empat bulan pernikahan mereka.


Maaf, Tuan. Saya bertindak di luar kehendak Anda. Saya mencurigai sesuatu dan saya melakukannya. Elea bukanlah anak dari Adam Walton.


Saya sudah memeriksanya. (Disana terdapat salinan file tentang ketidakcocokan tes DNA antara Eleanor Ellard Walton dan Adam Walton).


Deg!


Stefan mendadak berkeringat, tangannya gemetar hingga ponselnya jatuh dibawah meja.


Sejenak kemudian, lelaki itu dengan lemas memungutnya.


Flash back off.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"El!"


"Paman!" Gadis kecil tersenyum bahagia melihat Aglen melambaikan tangan padanya. Ia berlari meninggalkan pengasuh di sekolahnya untuk menghampiri.


"Paman rindu sekali denganmu." Lelaki berambut ikal dan dikuncir itu menyentil hidung keponakan kecilnya itu, kemudian membawanya dalam pelukan.


"Kita mau kemana?" bisik Elea yang tengah merangkul Aglen dari samping kanan. Senyum bahagianya sama sekali tak memudar.


"Pulang dulu, tapi ke rumah kakek ya. Elea pamit dulu dengan ibu pengasuh," titah Aglen.


Gadis kecil itu menurut. Ia berteriak memanggil ibu pengasuhnya di sekolah untuk pamit, kemudian melambaikan tangannya dan mengucapkan terima kasih.


"Kamu senang Paman disini?" tanya Aglen pada sang keponakan yang tengah duduk disampingnya.


"Tentu saja. Paman selalu mengajak jalan- jalan setiap kali Paman berkunjung. Aku selalu menantikan Paman," jawab Elea jujur.


Gadis kecil itu melarikan kembali pandangannya keluar setelah menjawabnya.


"Kamu bisa jalan-jalan dengan mama dan daddymu tiap libur akhir pekan, Sayang."


"Daddy banyak sibuk, El banyak ditemani Mama jika sedang libur." Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.


"Ehh ... jangan sedih. Paman bukan datang kesini untuk melihat kau cemberut, Sayang." Aglen membelai surai hitam sang keponakan. Kemudian menarik gadis kecil itu ke pangkuannya.


Interaksi yang unik, sepanjang jalan Aglen menemani gadis kecil yang pandai bernyanyi itu. Sesekali, lelaki itu mengikuti nyanyian Elea yang bahkan liriknya hanya ia hapal bagian belakangnya.


Maklum, lelaki yang sudah tidak bisa dibilang muda itu tentu saja sudah melupakan lagu- lagu masa kanak-kanaknya. Semua sudah bercampur dengan hapalan dan angka-angka.


Aglen memang tidak menyukai Luna, namun apa yang dirasakannya berbeda saat melihat Elea. Entah mengapa, Aglen merasa iba dan sayang sekali dengannya.


Dia tidak ingin keponakan kecilnya itu merasakan apa yang dirasakan oleh Luna. Kurang sosok lelaki terpenting dalam hidupnya, sang ayah.


Aglen berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu mengingatkan Adam agar lebih meluangkan waktunya untuk sang anak.


💓💓Terima kasih readers