
"Eve... Eve... Hei!"
"I-iya, Sir."
Evelyn yang kaget segera berdiri.
"Jika bekerja harus fokus. Jangan melamun!" ucap Ellard keras. Bagaimana mungkin di dalam rapat, sekretaris Luna itu malah melamun.
"Maaf, Sir."
Evelyn menunduk menyesali kesalahannya.
Rapat dengan investor baru telah selesai. Ellard berdiri dan diikuti Evelyn di belakangnya.
"Ada masalah?" tanya Ellard.
"Tidak ada, Sir. Semua baik-baik saja," jawab Evelyn gugup.
"Masalah pribadi maksudku. Bukan pekerjaan."
Evelyn menghentikan langkahnya karena kaget. Selama ini Ellard adalah atasan yang terkesan tegas dan profesional. Lelaki paruh baya seumuran ayah Evelyn itu tidak pernah membawa masalah pribadi ke kantor.
"Tidak ada, Sir," jawab Evelyn sambil berlari kecil menyusul langkah lebar Ellard. "Seperti kata anda. Saya hanya kurang fokus saja. Tidak ada hal lainnya." Evelyn beralasan. Semoga kelalaiannya tadi bisa dimaafkan oleh atasannya itu.
"Selesaikan masalah pribadimu dengan baik, hingga tidak mengganggu pekerjaanmu." Nasehat Ellard sejenak sambil menghentikan langkahnya. Kemudian lelaki paruh baya itu berjalan kembali.
"Sungguh tidak ada, Sir. Saya minta maaf atas kelalaian saya tadi." Evelyn benar-benar merasa bersalah kini.
Memang tidak ada masalah dengan dirinya. Baik di rumah ataupun di tempat kos.
Dia hanya merasa sepi karena sama sekali tidak melihat kehadiran Aglen beberapa hari ini.
Ups! Sepi?
Evelyn memukul lengannya sendiri. Menyadarkan dirinya yang bermimpi terlalu tinggi.
\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=≠≠
"Nanti malam kita pulang."
"Syukurlah. Padahal aku tidak apa-apa, Kak. Aku ingin segera bertemu El," sahut Luna yang berusaha sendiri duduk di kursi rodanya.
Selang infus sudah dilepas satu jam yang lalu. Namun ketika Luna bertanya pada perawat kapan ia boleh pulang. Perawat itu malah mengatakan jika Luna harus menunggu sang kakak.
Apa lagi yang diperbuat kakaknya itu hingga pulang dari rumah sakit saja harus menunggunya dan bukan izin dokter.
"Kita ke Kanada, Luna. Papa sudah menunggu," ucap Aglen enteng.
"Tapi Kakak bilang minggu depan. Tidak bolehkah aku bersantai sebentar saja?" keluh Luna.
"Apa selama ini kau belum cukup bersantai? Ada banyak hal yang harus kau pelajari untuk mengingat peristiwa penculikan itu. Tidak lucu jika kau hanya melupakan kejadian yang menimpamu itu, tanpa melupakan yang lainnya. Atau jangan-jangan kau takut bertemu Adam?" tebak Aglen sekenanya.
"Tidak! Kakak bicara apa. Aku tidak takut bertemu dengannya." Luna melempar tatapannya keluar jendela.
Sungguh ia tidak takut apapun selain merasa kasihan. Tapi ini tentang Elea, Luna tidak bisa memaafkannya.
"Kita sudah sepakat untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi kau harus bekerjasama."
"Maksud Kakak, jangan sampai mereka tahu jika aku melupakan kejadian itu?" tanya Luna mencoba memahami.
"Tentu saja. Kau tidak perlu merekayasa kejadian. Cerita itu sudah diketik oleh Papa berdasarkan versinya. Dan bukankah saksi dari mereka sudah tidak ada? Hanya tinggal kau, Papa dan Alex. Jadi kita tenang," ucap Aglen memberitahu.
"Baiklah kita pulang."
Luna hampir menekan tombol otomatis kursi rodanya saat Aglen tanpa permisi langsung mendorongnya.
\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=
"Kalian mampir kemana? Mengapa jam segini baru pulang?"
Christina melirik jam tangannya yang menunjuk diangka 11. Bahkan Leo pun juga mengikuti di belakang mereka.
"Kakak! Sebentar, Bibi ingin berbicara." Luna mencubit lengan Aglen agar lelaki itu berhenti.
"Biar aku yang berbicara dengan Bibi, kau istirahatlah. Lagipula paman Will sudah tahu," ucap Aglen yang ternyata telah menghubungi William dan menyerahkan bukti rekaman itu pada sang paman.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Christina menahan amarahnya. Mendengar cerita Aglen dari awal hingga akhir.
"Apa wanita itu memiliki dendam pribadi pada Luna? Mengapa ia terus mengusik Luna dimanapun?" tanya Christina ingin tahu.
"Sepertinya ... Ia menyukai Stefan," ucap Aglen jujur. Memang hal itulah yang lelaki itu dengar dari sang Papa.
"Apa? Apa hubungannya? Kenapa Luna yang ia targetkan jika yang ia sukai adalah Stefan?"
"Mungkin karena mereka bersaudara, Bi. Stefan tidak terlihat dengan wanita lain bukan, jadi ia mengganggu Luna."
Masuk akal.
Tapi tetap saja terdengar aneh. Jangankan Christina, Aglen juga merasakan hal yang sama.
"Jadi, Luna harus kembali dulu ke Kanada?"
"Iya, Bi. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan Adam, baru kemudian urusannya disini dengan putra petinggi kepolisian itu," ucap Aglen sambil menyeruput kopinya. Hanya minuman itu yang membuatnya tetap segar di waktu selarut ini.
"Memang ada apa dengan Adam? Mereka baik-baik saja bukan?"
"Jadi Bibi belum tahu?" Wanita paruh baya itu menggeleng. "Paman menambah beban tugasku saja," Aglen menghembuskan napas kasarnya.
Ia melepas jasnya kemudian melonggarkan ikatan dasinya dan mulai bercerita.
"Adam sejahat itu, Ag? Rasanya aku tidak percaya." Christina menggeleng beberapa kali.
Setelah mendengar cerita Aglen tentang Adam, Christina tiba-tiba ikut kecewa dengan suami keponakannya itu.
Meski tidak begitu mengenal sosok Adam, tapi Christina sempat bertemu dengan lelaki itu beberapa kali. Dan menurut Christina, Adam sosok lelaki yang baik.
"Kami semua juga hampir tidak percaya. Tapi ia tidak menyangkal saat tuduhan itu dilayangkan padanya, Bi. Ia hanya membuat banyak pembelaan untuk dirinya sendiri."
"Apa mereka akan bercerai? Lalu bagaimana dengan, El? Kasihan sekali dia jika harus tanpa ayahnya." Christina menerawang jauh.
"Aku tidak tahu untuk urusan itu, Bi. Itu murni hak Luna. Tapi kalau aku tentu saja tidak akan memperpanjang hubungan itu. Terlalu resiko dekat dengan orang seperti Adam. Seperti serigala berbulu domba kan?" ucap Aglen yang menginginkan adiknya berpisah saja.
"Jika itu memang benar. Bibi juga berharap Luna tidak memperpanjang pernikahannya. Dia tega sekali, Ag. Bukankah Ellard sangat baik pada keluarganya?"
"Ya, Papa terlalu baik pada mereka. Dan ternyata Adam malah menusuk dari belakang. Sudah ya Bi... Aku lelah sekali. Belum beristirahat seharian ini," keluh Aglen yang sudah menyerah dengan keingintahuan sang bibi yang tidak berujung.
Christina tersenyum sumbang. "Baiklah. Maafkan Bibi yang lupa jika seharian ini kau belum istirahat sejak kedatanganmu. Sudah, sana ke kamarmu," titah Christina seraya mendorong tubuh tinggi itu menjauh darinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Anda yakin akan membuat pernyataan ini?" tanya pengacara Adam.
Kini mereka berdua duduk dalam satu meja karena permintaan lelaki berambut pirang itu.
Adam menceritakan tentang keterlibatan Pauline dalam aksi penculikan Elea dan juga Luna.
Meski wanita itu berada di balik layar tapi ia adalah otak utama dari semuanya.
"Angeline hanyalah diperalat oleh sepupunya itu. Gadis bodoh itu tergila-gila pada Stefan sepupu Luna, dan Stefan menolaknya." Adam mulai bercerita. "Itulah sebabnya Pauline menggunakan rasa benci yang mendalam dari Angeline pada Luna untuk mencelakainya."
"Mengapa Angeline membenci Luna?" tanya pengacara Adam.
Tatapan Adam menerawang. Ia ingat betul hari itu. Hari dimana ia bertemu tidak sengaja dengan Pauline dan ia mendengar semua pernyataan wanita itu yang membuatnya kecewa.
"Benarkah?"
💚💚💚💚