
"I-ni ... Apa ini semua benar, Pa?"
Dada angeline kembang kempis melihatnya. Kemana saja ia selama ini, sampai ia tidak tahu kenyataan penting tentang mereka.
"Kau bisa membacanya sendiri bukan? Mereka memang terlihat biasa saja disini. Tapi di Amerika, semua orang tahu siapa Efrain. Kenapa kamu membuat masalah dengan mereka?" tanya Ronald. Lelaki itu memutar tubuhnya, kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Aku benci ditolak. Tidak ada yang boleh menolakku, siapapun itu!" jawab Angeline kesal. Hal sepele itulah buntut dari semua kekacauan yang dibuatnya.
"Apa kau tidak menyadari kualitas dirimu? Papa akui Stefan Efrain memang lelaki yang tidak sembarangan dalam memilih pasangan. Kau tahu nama besar Papa di Kanada dan Italia bukan? Namun pemuda itu tetap menolakmu. Efrain memang istimewa dari dulu. Itulah sebabnya Papa menginginkannya menjadi menantu."
Ronald akhirnya mengatakan alasan kenapa ia menjodohkan sang anak dengan salah satu pewaris Efrain.
"Kualitas? Kita sama-sama berasal dari keluarga kaya, Pa. Lalu apalagi? Bukankah status sosial kami sama? Apalagi yang dicari orang-orang kaya itu selain mempertahankan dinasti mereka dengan memupuk kekayaan?" sanggah Angeline yang tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya.
"Begitulah kualitas dirimu, Ann. Kenyataanya kau tidak beda jauh dengan ibumu. Selalu menilai segalanya dengan materi."
Ronald berdecak kesal, bahkan putrinya itu tidak sadar kekurangannya sama sekali.
"Jangan mengejek mama, Pa! Papa yang memberinya kesedihan hingga bertahun-tahun lamanya. Jadi jangan menyalahkan ini padanya."
Angeline membela. Karena sepengetahuannya, hanya sang ibu lah yang bersamanya saat gadis itu tumbuh besar.
"Baiklah. Papa tidak banyak waktu, masih ada meeting setelah ini. Selesaikan masalahmu sendiri, Papa tidak mau turut campur kali ini, dan mungkin seterusnya!" Ronald bangkit dari duduknya, menatap kesal pada Angeline.
"Satu hal lagi! Sewa pengacara dengan uangmu sendiri. Dua perusahaan kita di Toronto sudah berada ditanganmu lima tahun yang lalu. Tapi kau terus menggerogoti keuangan disini. Mulai hari ini, Papa memutuskan bahwa kepemilikan perusahaan itu ada ditanganmu. Dan kau tidak berhak mengambil apapun disini."
Keputusan Ronald sudah sangat benar menurutnya. Karena memang Angeline tidak pernah melaporkan keuangan perusahaan yang menjadi tanggungjawabnya itu, selama lima tahun berada dalam genggamannya.
Gadis trouble maker itu malah berulang kali mengambil uang di perusahaan sang ayah. Dimana ia hanya berstatus menjadi kepala bagian marketing bayangan. Nama terpampang, namun kesehariannya tidak pernah sekalipun bekerja disana. Ia hanya datang untuk meminta uang tanpa berniat sama sekali membantu pekerjaan sang ayah.
Dan salahnya, Ronald hanya mendiamkan saja. Karena semua yang dilakukan Angeline masih bisa ia tutupi. Namun ternyata, perbuatannya malah menjerumuskan sang anak.
"Papa...?"
"Ya. Kau sudah dewasa, Ann. Sudah seharusnya kau menyelesaikan semua masalahmu sendiri. Papa sudah cukup membersamaimu selama ini."
Ini adalah hal paling sulit yang harus dilakukan seorang ayah pada putrinya. Seburuk apapun, apa yang dilakukan Angeline adalah buah dari ketidakharmonisan hubungannya dengan istri pertamanya.
Untuk itulah Ronald membiarkan gadis itu berjalan sendiri sekarang. Agar ia tahu, bahwa dunia sekeras ini. Dan ia tidak mungkin bisa hanya dengan mengandalkan nama besar sang ayah untuk menyelesaikan setiap kekacauan yang dibuatnya.
Setelah mengucapkannya, Ronald mengambil jasnya. Lelaki itu mengenakannya sambil berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Angeline yang mematung dengan hati yang luruh.
Gadis itu sendiri sekarang. Tidak ada yang melindunginya, ataupun menjadi tameng atas segala masalah yang ditimbulkannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pa...."
Luna menarik lengan sang ayah yang berjalan di depannya.
Di rumah ini, hanya Luna yang mengenakan piyamanya. Karena yang lainnya sudah bersiap untuk berangkat.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku ... Titip, El." Luna menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ada hal lain yang ingin diucapkannya, namun urung.
"Tenanglah, El bersama Papa bukan. Kami tentu akan menjaganya." Ellard sampai berbalik menatap sang anak.
"Bolehkah...?"
"Apa?" Ellard dengan sabar menunggu. Entah apa yang ingin disampaikan oleh anak perempuannya itu.
"Baiklah, sebentar lagi petinya akan dikunci. Cepat kesana." Ellard menepuk pelan bahu Luna. Lelaki itu menunjuk ruangan tempat peti jenazah Stefan berada.
Luna bergegas. Ia tidak ingin memperlama pekerjaan anak buah sang ayah hanya dengan menunggunya.
Begitu sampai di depan pintu masuk sebuah ruangan yang ditunjuk oleh Ellard, mata Luna mengembun. Ia mematung disana melihat peti jenazah dalam keadaan terbuka. Dan nampak beberapa orang mengelilinginya.
"Silahkan Nyonya. Tapi maaf tidak bisa lama. Karena kita mengejar waktu untuk segera berangkat."
Seseorang yang nampak seperti pemimpin dari semua yang ada disitu mempersilahkan Luna.
Lelaki itu kemudian mengajak yang lain untuk meninggalkan Luna sendiri. Memberi waktu wanita itu untuk mengucap perpisahan pada Stefan.
Luna melangkah maju. Langkahnya gontai tanpa semangat. Sebelum mencapai benda persegi dari kayu yang akan membawa Stefan menuju tempat peristirahatannya yang terakhir, Luna limbung. Beberapa kali ia berhenti dan menguatkan hati.
Bahkan kali ini, lutut Luna terasa lemas. Sendi-sendinya seakan lepas dari tulangnya.
Kemudian dengan airmata yang berderai, Luna berlari untuk memangkas jarak yang hanya beberapa langkah kaki itu.
"Stefan...."
Yang terlihat disana sungguh mengejutkan. Raga tanpa nyawa yang terbujur kaku itu sama sekali tidak bisa dikenali. Luka-luka yang terlihat serta beberapa bagian tubuh yang tidak utuh membuat Luna beberapa kali mengambil napas panjang untuk mengusir rasa sesaknya.
Tangan Luna terulur. Ia mengambil duduk tepat di samping peti berwarna putih bersih itu. Jemarinya menyusup, mengusap lembut wajah jasad terbungkus pelindung transparan itu.
"Maafkan aku ... Kau yang menyakitiku tapi sekarang malah aku yang meminta maaf padamu. Seharusnya kau tetap hidup Stefan! Hanya akun yang boleh membunuhmu, bukan mereka. Kau dengar ucapanku bukan? Hanya aku!"
Berucap sekejam itu pada raga Stefan nyatanya malah menyakiti diri Luna sendiri. Ia tertunduk menangis dengan dahi bersandar pada bagian pinggir peti jenazah lelaki itu.
"Maaf Nyonya, kami harus segera menutupnya," ucap pelan seorang lelaki yang mengagetkan Luna.
"I-iya ... Baiklah." Luna menghapus jejak air mata di pipinya. Wanita itu bangkit dari kursi yang menopangnya sejak tadi.
Sekali lagi. Sebelum Luna melangkah meninggalkan tempat itu, di lihatnya kembali wajah lelaki yang menyelamatkannya itu.
"Semoga berbahagia disana Stefan. Suatu saat akan kuceritakn pada Elea, betapa hebat pengorbananmu," ucap Luna dalam hati.
Wanita itu akhirnya melangkah pergi. Menemui sang ayah yang sudah berkumpul dengan yang lain. Kemudian wanita itu menghampiri putri kecilnya. Membungkuk di depan sang anak dan memeluknya.
"El ... Jangan nakal ya, Sayang."
"Mama kenapa tidak ikut" tanya Elea bingung.
Semua anggota keluarganya ikut kecuali sang mama dan paman Stefan yang tidak nampak sejak beberapa hari yang lalu.
"Harus ada yang berjaga disini Sayang. Kalau semuanya ikut, nanti siapa yang akan menjaga rumah kakek dan rumah El?"
Sebisa mungkin Luna menjelaskan dengan bahasa dan alasan yang mudah dimengerti oleh anak-anak.
"Emm ... Apa paman Stefan juga bersama Mama? El sudah lama tidak bertemu dengannya. Hari ini dia juga tidak ikut ke Amerika." Elea nampak celingukan mencari sosok lelaki itu.
Luna mengangkat wajahnya. Matanya menatap nanar semua orang yang sedang menunggu gadis kecil itu berpamitan padanya.
"Ya ... em...." Luna bingung menjelaskanya. "Mereka sudah menunggu, El harus cepat. Hati-hati ya, Sayang." Luna buru-buru mengalihkan pembahasan itu.
Wanita itu mendorng putri kecilnya lebih cepat ke samping Ellard.
💜💜