
"Mama...."
Kylie melepas maskernya setelah ia melihat sosok yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya berdiri itu.
Gadis itu berjalan perlahan mendekati. Langkahnya gontai tanpa semangat. Bahunya melorot tidak bertenaga.
Dia pikir, sang kakak membohonginya dengan mengatakan jika sang ibu sakit. Hanya agar ia kembali ke Kanada dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun rupanya, sang ibu memang benar-benar sakit.
Dan bahkan yang ia saksikan sekarang, lebih dari sekedar sakit. Wanita yang melahirkannya itu tengah kritis.
Hati Kylie semakin pilu mendapati banyaknya selang yang disambungkan ke beberapa organ penting wanita yang melahirkannya itu.
Alat yang memang seharusnya dipasang untuk membantu sang ibu tetap berada pada kondisi stabil. Meski cenderung apatis, karena tadi ia sudah mendengarnya saat sang ayah dan dokter yang merawat sang ibu sedang membahasnya.
Koma.
Keadaan yang paling tidak disangka ataupun diinginkannya. Menemui sang ibu dalam kondisi tidak sadar seperti ini membuat gadis itu terluka.
Kylie terbiasa mendengar tawa renyah sang ibu saat mereka bersenang-senang bersama. Dan ucapan sang ibu yang selalu menenangkannya meski Kylie berada dalam kondisi yang mustahil.
Ya, Lilyana memang selalu menjadi segalanya untuk anak gadisnya itu.
Masih segar dalam benaknya. Saat terakhir sang ibu membantunya mendapatkan surat pengalaman kerja. Meski harus memasukkan obat tidur dalam minuman sang ayah, wanita yang ia panggil ibu itu tetap menempuhnya. Semua dilakukan untuknya.
"Ma ... Maafkan, Kei. Mama sembuh, ya. Kita jalan-jalan lagi kemanapaun yang Mama mau. Kei janji." Gadis itu meremas jemari sang ibu yang diam tak bereaksi.
Kylie menunduk. Demi apa dunianya serasa hilang saat ini.
Beberapa menit mengusap punggung tangan wanita yang melahirkannya itu, Kylie dibuat kaget saat jemari sang ibu tiba-tiba bergerak. Pergerakan kecil dengan jeda yang cukup panjang.
Gadis itu berulang kali memicingkan mata untuk memastikannya. Ternyata benar, jemari itu bergerak diikuti gerak bibir sang ibu seperti menggumam meski belum membuka matanya.
"Mama ... Syukurlah!" pekik Kylie tanpa sadar. Ia segera bangkit dari duduknya, meninggalkan sang ibu dan hendak memanggil dokter atau siapa saja di ruang jaga perawat.
Namun begitu mencapai pintu, ia malah berbalik. Gadis itu mendadak gelisah. Ia sedang menyamar kini dan jika ia melapor dokter atau perawat, ia pasti akan ketahuan.
Tapi saat ini, sang ibu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter. Apalagi wanita yang melahirkannya itu baru saja bangun dari tidur panjangnya.
Kylie mendekati sang ibu. Rupanya, Lilyana sudah membuka matanya meski masih terlihat berat. Sebentar terbuka, sebentar tertutup. Napasnya tenang seperti saat ia koma. Namun sesekali ada jeda panjang antara napas yang terhirup dan dikeluarkan.
"Ma ... Maafkan Kei, ya," ucap Kylie sambil memegang jemarinya. Ia mengulang ucapan maafnya.
Genggaman Lilyana menguat. Kedua matanya melotot menatap Kylie.
"Kkkkeeeeii ... Pu-pu-langlah...."
Lilyana terlihat mendongak, dan manik matanya menatap keatas. Kemudian hanya dalam hitungan detik, wanita paruh bayanigu menghembuskan napas terakhirnya dan terkulai.
Bersamaan dengan itu, suara bising dari monitor ICU terdengar cukup keras. Layarnya menampilkan garis horizontal panjang tanpa jeda.
"Mama!" pekik Kylie. "Jangan tinggalkan Kei! Bangun, Ma! Kei kesini untuk Mama." Kylie menggoyang tubuh yang sudah mematung tak bergerak itu.
Air matanya jatuh, hatinya sangat sakit. Disaat ia memiliki kesempatan untuk menengok sang ibu. Rupanya dihari itu juga ia harus kehilangannya. Namun Kylie tidak bisa berbuat apa-apa dan ia panik setengah mati.
Segera setelah menghapus air mata yang masih mendesak keluar, Kylie mencium sang ibu di dahinya.
Gadis itu masih terisak saat berada di depan pintu dan hendak keluar. Kembali ia menoleh melihat tubuh raga tanpa jiwa sang ibu.
Seseorang yang akan sangat dirindukannya nanti. Seseorang yang tidak akan membelanya lagi. Dan sayangnya, Kylie terlalu pengecut untuk muncul di depan ayahnya.
Gadis itu menguatkan diri untuk pergi. Dipakainya kembali masker untuk menutup wajahnya yang sembab.
"Suster, bagaimana istri saya?"
Sang ayah yang sebelumnya duduk seketika berdiri ketika melihat Kylie keluar. Matanya berbinar menunggu kabar baik dari suster yang memeriksa sang istri. Yang tanpa ia tahu adalah anak gadisnya sendiri.
Gadis itu menuju tempat dokter dan perawat yang berjaga.
"Pasien di kamar ICU-2 meninggal," ucapnya mengagetkan semua yang ada disana. Beberapa perawat bersama dokter segera berlari menuju kamar Lilyana.
Sedangkan Kylie, ia segera berlalu pergi tanpa memperdulikan ucapan beberapa perawat yang menanyainya.
Setelah sampai di sebuah ruangan, gadis itu segera melepas pakaian perawatnya dan meninggalkannya begitu saja di tempat ganti itu.
Kylie berlari keluar sambil menyeka air matanya. Isakannya terdengar oleh orang yang lalu lalang di rumah sakit.
Ia sengaja memperkerasnya untuk melepaskan rasa sedihnya, meski ia sama sekali tidak menghentikan kakinya.
"Maafkan, Kei Ma...." Samar terdengar suara pilu Kylie sebelum akhirnya ia masuk ke sebuah mobil yang entah kemana membawanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=
"Hati-hati, Sayang."
Ellard mengantar Luna dan Elea ke bandara. Wanita itu hendak pulang ke Amerika menemui sang paman dan bibi dan tentunya mengunjungi makam Stefan. Sesuai dengan janjinya kemarin.
Lelaki paruh baya itu mengecup dahi Luna kemudian cucu kesayangannya itu bergantian.
"Paksa Mama jalan-jalan. Ingat! El dan Mama juga liburan selain menengok paman Stefan," pesan Ellard pada sang cucu.
"Siap kakek!" jawab gadis kecil lucu itu.
"Kami hanya pergi satu minggu, Pa. Sebelum menghadapi kasus berikutnya." Luna terlihat membuang pandangannya ke lain arah. "Aku ingin sejenak menyegarkan pikiranku lebih dahulu, sambil melihat Stefan," ungkap Luna pada sang ayah.
"Lebih dari satu minggu juga tidak apa-apa. Nikmati perjalananmu. Jangan khawatirkan yang ada disini."
Mereka berjalan bertiga, menuju pintu masuk yang menghubungkan dengan pesawat.
"Ponsel Papa berbunyi terus, angkat saja mungkin penting, " ucap Luna melihat sang ayah yang hanya menatap sekilas ponselnya dan malah memasukkannya kembali kedalam saku.
"Biarkan saja, itu kakakmu. Pasti tentang perusahaan," jawab Ellard. Lelaki itu sudah berpesan pada anak lelakinya tadi, untuk tidak mengganggunya selama ia mengantarkan Luna.
Mereka berpisah saat sudah dekat dengan tujuan. Ellard langsung berbalik, kemudian mengeluarkan ponselnya yang masih juga bersuara. Rupanya, anak laki-lakinya itu pantang menyerah.
"Halo! Kamu mengganggu saja! Ada apa?" tanya Ellard lebih dulu tanpa memberi kesempatan Aglen berbicara.
"Apa mereka sudah berangkat?" Aglen malah menanyakan sang adik dan juga keponakannya.
"Tentu saja sudah. Ada apa?"
"Nyonya Lilyana meninggal, Pa. Mereka mengabari ke perusahaan karena ponsel Luna tidak aktif."
Ellard terdiam sejenak. Untung saja Luna sudah menonaktifkan ponselnya sejak masih berada di rumah.
"Jangan beritahu Luna. Kita saja yang datang," putus ellard.
"Papa yakin?" Aglen kaget mendengar ucapan sang ayah.
"Sangat!"
Ellard mengirim pesan pada Luna setelah memutus panggilan dari Aglen.
Sebuah pesan yang akan membuat Luna benar- benar menikmati liburannya.
🧡🧡🧡🧡
selamat rempong emak2 yang anaknya naik kelas 1. Teruntuk yang utama diri saya sendiri😂
harus kuat!!!