La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 104



"Anak mama...." ucap Luna ketika Elea masuk ke kamarnya.


"Mama sudah sembuh?"


Gadis kecil itu menghentikan langkahnya sebelum sampai di dekat sang ibu.


"Mama tidak apa-apa. Itu bukan salah Elea. Mama hanya kelelahan saja," bujuk Luna.


Karena dari mata Elea saja, Luna bisa membaca jika putru kecilnya itu takut mendekat padanya. Ia pasti merasa bersalah atas kejadian sebelumnya.


"Sungguh?"


"Tentu saja. Elea bisa lihat Mama baik-baik saja, bukan?"


Luna merentangkan kedua tangannya, meminta pelukan dari putri kecilnya yang sejenak terdiam.


Tidak lama kemudian, Elea menghambur memeluk sang ibu. "Kata Oma, juga bukan salah El. Tapi El takut, Mama kesana karena mencari Elea." Gadis kecil itu menunduk.


"Mama ingat kan, kalau kita ke rumah Opa karena ingin menjenguk makam paman Stefan?


Luna hanya tersenyum gugup kemudian menciumi pipi elea yang kemerahan.


Wanita itu bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak mengingat bagian itu, bagian ia kehilangan sepupunya itu serta tujuannya ke Amerika. Ia pikir mereka berdua hanya liburan.


"Ya ... Mama mengingatnya, Sayang, " jawab Luna singkat. Meski disertai ******* nafas yang berat.


"Besok kita makan es krim lagi dengan Paman Stefan ya, Ma. Seperti saat Mama sebelum di rumah sakit," pinta gadis kecil itu yang segera ceria kembali.


"Mama belum boleh kesana, Sayang." Luna menunduk, ia tidak yakin sang paman akan mengizinkannya meski itu permintaan Elea.


"Kenapa tidak boleh?"


Gadis kecil dengan rasa ingin tahu yang besar itu mendadak sedih.


"Opa takut Mama jatuh lagi, karena rupanya Mama belum cukup kuat kesana."


Tentu saja itu hanya alasan Luna. Ia tidak bisa menjelaskan duduk perkara sebenarnya pada putri kecilnya itu. Elea pasti belum paham tentang situasinya.


Elea sejenak terdiam. Tatapan kecewanya membuat Luna serba salah.


"Apa El, sayang sekali dengan Paman Stefan?"


Gadis kecil itu mengangguk.


"Mama juga pasti sayang dengan paman Stefan. Siapapun pasti akan sayang dengannya," celoteh Elea yang bahkan baru mengenal Stefan beberapa bulan terakhir sebelum kepergian lelaki itu.


"Lalu papa Adam?"


Luna bukan bermaksud membandingkan. Namun ungkapan perasaan anak kecil selalu jujur tentang orang-orang di sekitarnya.


Elea terlihat berpikir. "Em ... Em ... El juga sayang pada Papa, tapi sepertinya ... Papa tidak begitu sayang El. Bahkan Papa tidak pernah mengajak El bermain berdua saja. Sedangkan paman Stefan ... Hampir seluruh waktunya untuk El."


Luna tertegun. Ia tidak menyadari jika Stefan dan Elea yang sebenarnya bertalian darah itu sedekat ini. Apa mungkin Stefan sudah mengetahui jika Elea darah dagingnya?


Banyak hal yang ia lupa saat kejadian meninggalnya Stefan hari itu. Luna memukul dahinya beberapa kali. Bisa-bisanya peristiwa penting itu yang hilang dari ingatannya. Beserta apapun yang mungkin terjadi disana.


"Ya, lalu paman Aglen?"


"Paman Ag juga baik. Tapi mengapa paman Ag tidak pernah berbicara dengan Mama?"


Luna tertegun untuk kedua kalinya. Ia kembali tidak menyadari jika Elea merekam semua kejadian di sekitarnya. Bahkan dinginnya hubungan antara dirinya dan Aglen di masa lalu.


Dan Elea juga belum tahu jika hubungan sang mama dengan sang paman sudah membaik sekarang.


"Siapa bilang? Paman Aglen, Paman Stefan juga Papa Adam semuanya sama-sama baik, Sayang."


Luna berusaha menutupi ketimpangan perlakuan Adam yang berbeda pada Elea. Bagaimanapun, ia tidak ingin menanamkan kebencian seburuk dan sesalah apapun Adam.


Luna menyerahkan sendiri pada Elea. Biarkan putrinya itu memahami dengan sendirinya ketika ia beranjak dewasa.


Dunia anak-anaknya tidak layak dipenuhi dengan pikiran jahat dan membenci seseorang.


Bahkan sekarang, Luna jadi berpikir bahwa perlakuan Adam yang berbeda pada Elea adalah karena Elea bukan darah dagingnya.


"Paman Stefan, Paman Ag kemudian terakhir ... Papa Adam."


Elea sedikit ragu saat menyebutkan nama ayahnya secara hukum itu.


"Mama ... Sepertinya ada telepon," tunjuk Elea yang melihat ponsel Luna bergetar di atas nakas.


Luna segera meraihnya. Kemudian pada benda layar datar itu terlihat nomor asing yang terus menghubungi.


"Kenapa tidak diangkat, Ma?" tanya Elea yang heran melihat sang ibu hanya menatap ponselnya.


"Nomor baru. Mama tidak mengenalnya, biarkan saja, Sayang." Luna meletakkan ponselnya di dekatnya tanpa berniat menjawabnya.


"Biar El yang angkat ya, Ma."


Sebelum Luna mengiyakan, ponsel itu sudah berada dalam genggaman putrinya.


"Halo ... Halo...." Elea menggeleng sambil menatap sang ibu. Kemudian jemari Luna menekan tombol pengeras suara dan memberi kode Elea untuk berbicara.


"Halo ... Halo... Ini siapa, ya?" Elea menanyakan hal yang sama, namun tidak ada sahutan sama sekali diseberang.


Tidak terdengar satupun suara kecuali napas seseorang yang entah siapa.


Mengerikan.


Luna langsung menutupnya. "Sini El! Mama blokir saja nomornya. Biar tidak bisa menghubungi lagi. Mama takut jika ada yang berniat jahat lagi dengan kita."


Luna mengingat kejadian yang menyebabkan ia kecelakaan. Apalagi dalam laporan polisi disebutkan jika ini murni kecelakaan tunggal.


Sangat segar dalam ingatannya, ketika kemarin dia diikuti oleh sebuah mobil. Hingga akhirnya wanita itu ketakutan dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Namun rupanya, semua kejadian itu tidak bisa dibuktikan. Polisi mengatakan CCTV yang ada di jalan tempat Luna kecelakaan sudah dua hari rusak. Pun tidak ada seorangpun saksi mata disana.


Kendaraan yang lewat sesudahnya, menemukan mobil Luna sudah ringsek dengan Luna dan Elea didalamnya. Tidak ada orang lain lagi.


Namun setelah peristiwa di rumah sakit, Luna menduga jika ini ada hubungannya dengan penguntit itu. Mereka pasti orang yang sama. Orang yang ingin mencelakainya.


"Kalau teman Mama, bagaimana?"


"Kita sudah menjawabnya dan dia tidak bicara. Kalau teman Mama sudah pasti tadi menjawab ucapan kita, El," elak Luna yang tidak ingin membicarakan panggilan aneh yang baru saja ia dapatkan.


"Oh, iya lupa. Opa tadi menyuruh El memanggil Mama untuk makan malam. Mama sudah ditunggu di bawah."


Elea menepuk dahinya sendiri sambil tersenyum kecil.


"Baiklah ... Ayo!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"Opa, maaf El lupa. El dan Mama malah bercerita diatas."


Senyum cantik gadis kecil itu menawan hati William yang merindukan seorang cucu dari Stefan. Namun keinginannya sirna bersamaan dengan kehilangan dirinya atas pewaris tunggalnya itu.


Diam-diam William kecewa dengan dirinya sendiri atas apa yang dilakukannya pada Stefan.


Andai saja Stefan masih ada, ia pasti akan menerima gadis pilihan anak lelakinya itu.


"Hmm ... pantas saja. Perut Opa sudah lapar sekali, El. Ayo cepat bergabung!" ajak William yang menggeser satu kursi kemudian mendorong kursi roda Luna untuk menggantikannya.


William segera mengambil tempatnya kembali. Christina terlihat bercanda dengan Elea. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran gadis kecil itu mampu membangkitkan gairah hidup Christina lagi.


"Luna, apa kau mengenal Edward Osbert?" tanya William tiba- tiba.


"Edward Osbert? Bukankah dia petinggi kepolisian di kota ini, Paman?" jawab Luna heran karena sang paman tiba-tiba membahas orang yang hanya dikenalnya lewat media itu.


"Ya, kau benar. Semua yang terjadi denganmu ada hubungannya dengan orang itu."


"Apa, Paman?"


Kamsa hamnida🙏💚💚💚💚💚