La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
bab 89



Luna kaget saat merasakan tubuhnya terguncang di dalam mobil akibat dorongan dari arah belakang pada mobilnya.


Sontak wanita itu mengintip ke belakang, mungkin saja terjadi ketidaksengajaan dari mobil dibelakangnya.


Terlihat dari spion diatasnya jika mobil dibelakang mengendarai dengan kurang hati-hati. Namun mereka terus mengikuti, meski dari jarak yang cukup jauh.


Luna menepikan mobilnya. Ia ingin melihat separah apa kerusakan yang terjadi karena dirinya menggunakan mobil sang bibi yang dipinjamnya.


Luna keluar, kemudian berjalan ke belakang dan melihat kerusakan yang terjadi cukup parah. Bumper belakang mobil sebelah kanan penyok meski tidak mengurangi fungsinya.


Sedianya, Luna ingin menunggu mobil dibelakangnya itu dan bertanya baik-baik. Namun begitu mobil itu mendekat, yang nampak oleh Luna adalah dua orang yang berada disana mengenakan pakaian serba hitam dan menutup wajahnya.


Dan yang lebih mengejutkan, mereka membawa senjata yang terarah pada Luna.


Seketika Luna berlari kembali ke depan ketika menyadarinya.


"Mama kenapa?" tanya El yang melihat sang ibu terengah- entah saat kembali ke mobil.


"Tidak apa-apa, kita harus cepat pergi darisini El," ucap Luna pada Elea.


Luna masuk dengan panik, kemudian menyalakan mobilnya dan menginjak pedal dengan tergesa-gesa.


"Mama?"


"Kencangkan seat belt mu, El! Kita harus cepat sampai di rumah."


Luna mengendarai mobilnya dengan kencang. Sungguh ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Yang terpikir olehnya hanya keselamatan putrinya dan untuk itu ia harus cepat sampai dirumah sang paman.


"Pelan-pelan, Ma." Elea sampai berpegangan kuat karena takut.


Dor!


"Aaaaaaaaaa!"


Elea berteriak sekuat tenaga karena kaget.


"Mama....! El takut."


Elea meringkuk di atas jok mobil. Gadis kecil itu memeluk dirinya sendiri dengan suara tangis yang tertahan.


"Sayang, jangan takut. Anak Mama pemberani. Dan Mama akan melindungi El. Kita berdoa semoga kita cepat keluar dari sini," ucap Luna masih fokus dengan kemudinya.


Jangan ditanya bagaimana keadaan Luna saat ini.


Sepanjang perjalanan ia olahraga jantung. Namun tetap harus fokus agar cepat keluar dari jalanan yang sepi ini.


Luna hanya sesekali menginjak dalam pedal remnya. Ia takut tertangkap oleh orang-orang yang tidak dikenalnya itu.


"Mama...." Tangis Elea mulai pecah. Dan itu juga memecah fokus Luna. Ia begitu khawatir dengan putri kecilnya itu.


"Sini Sayang. El mendekat ke Mama," titah Luna. Dan gadis kecil itu segera melepaskan tangannya kemudian mencengkeram erat sisi pakaian sebelah kiri yang dikenakan Luna.


"El, tolong Mama lihat Orang-orang itu."


Luna sama sekali tidak ingin mengintip spionnya. Ia mulai merasa lelah, terlalu tegang dan memacu mobilnya terus menerus. Mengapa juga jalanan sepi ini terasa sangat panjang olehnya. Hingga rasanya ia belum juga sampai pada ujungnya.


Dan orang-orang itu seperti tidak kenal lelah. Padahal sudah cukup lama mereka mengejar dan mengikutinya.


"Mereka dekat sekali, Ma. Mama harus cepat! El takut!"


Berulang kali Elea mengatakan takut, membuat Luna tidak konsentrasi.


Dor... Dor....!


Dalam ketegangan seperti ini Luna masih bersyukur. Sepertinya tembakan mereka tidak tepat sasaran. Faktanya mobil Luna masih melaju stabil kedepan.


Dor!


Suara satu tembakan terdengar kembali. Kali ini Luna merasakan mobilnya tiba-tiba lepas kendali.


Mobil yang ia kendarai oleng dan berjalan tidak tentu arah. Namun tentu saja ia tidak bisa berhenti begitu saja.


"Oh Tuhan. El, maafkan Mama." Luna menyadari jika tembakan orang-orang yang mengejarnya itu mengenai salah satu ban mobilnya. Dan ia tidak mampu mengendalikannya.


"Mama!"


"Elea....!


Elea memeluk erat sang ibu. Sedangkan Luna sebisa mungkin melakukan yang terbaik meski itu merupakan hal yang mustahil saat ini.


Ia hanya ingin berjuang menyelamatkan putri kecilnya di waktu yang mungkin menjadi akhir dari hidupnya.


Settttttttttt...


Brakkkk!


Tin....


Mobil yang membawa Luna pun menabrak pembatas jalan dan terbalik.


Dalam keadaan antara sadar dan tidak, Luna mengerjapkan matanya berat. Posisi tubuhnya yang terbalik membuat kepalanya seperti dihantam batu besar hingga membuatnya merasa pusing dan berputar putar. Ia masih memeluk Elea erat. Untuk melindungi putri kecilnya itu dari hantaman keras.


Samar Luna melihat sosok yang dikenalnya yang tiba-tiba saja ia lupa siapa dia.


"Kamu... Kamu?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suara sirine ambulance malam itu membuat miris yang mendengarnya.


Tidak berapa lama dari terjadinya kecelakaan itu, ambulance rumah sakit dan polisi datang tepat waktu.


Mereka membawa korban ke rumah sakit sedangkan polisi melakukan identifikasi akan penyebab kecelakaan.


Dan dari hasil penyelidikan polisi menetapkan jika itu adalah kecelakaan tunggal akibat pecah ban.


Setidaknya hal itulah yang disampaikan pihak berwenang pada keluarga korban yang dalam hal ini adalah William dan Christina.


"Pa, bagaimana keadaan Luna?"


William tidak dapat menjawabnya. Lelaki itu hanya terdiam sambil menghimpun kata-kata yang tidak membuat panik sang istri.


Christina tengah berada di ruang perawatan kini. Istri William itu langsung tidak sadarkan diri begitu mendengar kabar jika Luna kecelakaan. Sehingga William membawanya ke tempat yang sama dimana Luna dirawat. Agar sang istri juga mendapat penanganan dokter disana.


"Mama istirahat saja. Biar papa yang menjaga mereka."


William menghalau sang istri yang memaksa turun dari atas ranjang. Keadaan christina masih lemah, ia yang masih trauma dengan kepergian Stefan pasti kembali terluka dengan kecelakaan yang terjadi saat ini.


"Tidak! Mama harus melihat Luna dan Elea, Pa."


Christina memaksa. membuat sang suami mencengkeram erat kedua lengan istrinya itu.


"Mama!" bentak William naik darah. Ia sungguh stres dengan keras kepala istrinya itu.


"Mama khawatir dengan mereka. Biarkan Mama kesana." Wajah mengiba serta tangis Christina membuat William cepat menguasai emosi. Lelaki itu merasa bersalah telah membentak sang istri.


"Papa mohon, Ma."


William langsung menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk menghalangi Christina turun. Ia memeluk erat wanita yang sudah ia nikahi selama hampir empat puluh tahun itu.


Dan Christina malah memukuli dada sang suami sembari menangis dan tidak berhenti memohon.


Akhirnya setelah Christina mereda dan tenang, William mencoba bernegosiasi.


"Aku tidak akan berbohong padamu. Luna belum sadarkan diri, sedangkan Elea baik-baik saja. Menurut dokter, Luna lebih parah kondisinya dibanding Elea. Kita upayakan semua dokter terbaik di Amerika. Jika memang dalam dua hari semua tidak membuahkan hasil, baru kita kabari adikku."


"Tidak! Beri kabar Ellard sekarang juga! Kalian selalu seperti ini. Saat hal seperti ini terjadi dengan anakku, adikmu itu juga melakukan hal yang sama pada kita. Meski aku kecewa, tapi aku tidak ingin membalasnya. Aku sudah menganggap Luna seperti anak kita, Pa."


Tangis Christina meledak. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia tidak perduli jika sekarang tengah berada di rumah sakit. Hatinya kalut sama seperti saat ia kehilangan putra satu-satunya itu.


"Percayalah padaku, Sayang. Luna tidak koma. Menurut Dokter, benturan itu memang keras tapi keadaannya cukup stabil. Ia hanya belum sadarkan diri saja."


"Lihatlah! Bahkan ini sudah delapan jam lewat. Dan kau masih mengatakan keponakan kita itu masih baik-baik saja? Apa kau gila Will! Aku akan membunuhmu jika kita kehilangan lagi!"


Christina mendadak emosi dengan suaminya. Ia mengusap kasar air matanya dan kembali memaksa turun dari ranjang yang ia tempati.


"Sayang ... Kumohon! Beri dukungan aku untuk bergerak cepat melakukan sesuatu untuk Luna." William menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi membuat tenang wanita yang dicintainya itu.


Christina terdiam. Air matanya terus keluar meski ia menahan isakannya. Bahkan ia membuang wajahnya dan tidak ingin menatap mata elang sang suami yang kerap kali membuatnya luluh itu.


"Aku mencintaimu, anak kita, Ellard dan juga anak-anaknya. Semua keluarga kita, aku mencintai mereka. Aku lemah jika kau seperti ini. Kumohon mengertilah."


William yang sudah berkaca menggenggam erat dan menciumi tangan lembut yang selalu merawatnya dengan setia itu. Sungguh lelaki ini hanya butuh dukungan dan kepastian jika sang istri akan kuat memperjuangkan keselamatan Luna.


"Baiklah."


"Berjanjilah padaku kau harus kuat. Sekarang, datanglah ke kamar Elea. Temani dia. Hibur dia agar tidak terus-menerus bertanya tentang ibunya. Aku yang akan mengurus Luna, Sayang."


William menatap lekat sang istri dan meminta wanita di depannya itu untuk memegang janji.


"Ya. Lakukan yang terbaik, Will. Apapun itu."


Akhirnya Christina mau kembali menatap sang suami. Keduanya berpelukan sebelum berpisah untuk melakukan tugas masing-masing.


💜💜💜