La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 38



Pagi sekali, Luna sudah duduk di meja makan. Bibi Ofelia yang memperhatikannya sedari pagi ikut merasakan jika memang ada masalah yang sedang dihadapi oleh majikannya itu.


Belum lagi sang majikan laki-laki, Adam. Lelaki itu sudah beberapa hari ini tidak pulang. Luna hanya mengatakan jika ada tugas ke luar negeri yang tengah di emban oleh suaminya itu. Namun suasana hati Luna setiap harinya tentu tidak bisa dibohongi.


Semua yang terjadi sudah melebihi batas daripada biasanya. Entah separah apa, wanita yang lebih dari separuh hidupnya mengabdi pada keluarga Efrain itu tidak tahu menahu. Ia hanya mencoba menjadi pelayan yang baik bagi majikannya selama yang ia bisa.


"Nyonya ingin sarapan apa? Saya buatkan khusus hari ini," tawar bibi Ofelia dengan senyum tulusnya yang setiap hari menghiasi bibirnya. Tidak pernah tidak.


Bukannya menjawab, Luna malah mendengkus pelan. Wanita itu masih mencoba menguatkan diri akan apa yang akan ia hadapi nanti.


"Apa saja yang Bibi buatkan, aku pasti menyukainya," ucapnya dengan memaksa diri menarik sudut bibirnya agar tersenyum.


"Baiklah, tapi Nyonya harus berjanji menghabiskannya?" pinta bibi Ofelia.


Luna mengangguk. Semalam ia pulang sudah larut. Dan hanya menengok Elea sebentar di kamarnya. Memastikan gadis kecil itu sudah nyenyak dalam tidurnya.


"Silahkan, Nyonya."


Di dalam piring ada telur orak arik dan potongan buah alpukat dengan dressing sederhana. Nampak menggugah selera memang, tapi perut Luna mendadak bergolak menolaknya.


Namun ia teringat akan janjinya pada bibi Ofelia, hingga mau tidak mau ia memaksa suap demi suap makanan itu untuk masuk ke dalam mulutnya.


"Ini minuman racikan Bibi. Bisa memperkuat tenaga Nyonya supaya lebih bersemangat hari ini." Bibi Ofelia membawa segelas minuman berwarna coklat bening dengan segala rempah didalam nya.


"Ini juga harus dihabiskan?" tanya Luna yang sudah ragu sebelum meminumnya.


"Jika sanggup itu lebih baik, tapi jika tidak juga tidak apa-apa Nyonya."


Luna meminumnya sedikit. Rasanya memang segar, ada aroma jahe dan sereh dengan pemanis gula merah. Luna menghabiskannya.


"Terima kasih Bi, ini enak sekali." Ajaib memang, setelah meminum minuman yang diberikan bibi Ofelia perutnya terasa nyaman. Makanan yang sudah berada di perutnya tidak berontak ingin keluar.


"Selamat pagi."


Stefan datang dengan Ellard dibelakangnya. Tatapan Luna yang seakan kuat membuat sang ayah langsung menghampiri dan memeluknya.


"Papa...." Luna terisak dengan beberapa butir bening yang keluar tanpa bisa ia tahan.


"Kamu yakin sanggup melakukannya? Papa bisa membuat segalanya lebih mudah, dan tidak akan beresiko apapun padamu," ucap Ellard. Lelaki paruh baya itu tentu akan melakukan apapun untuk putri kesayangannya.


"Tidak, Pa. Papa hanya perlu mengawasi saja. Luna sudah dewasa, Luna harus bisa mengatasi masalah Luna sendiri. Luna ingin seperti Papa. Seorang Efrain harus sekuat baja bukan?" ucap Luna disela isakannya.


"Sayang, Papa tidak mewajibkan kamu seperti itu. Ada kami para lelaki yang akan menjagamu. Kamu tidak perlu seperti itu," tangan Ellard membelai surai hitam anak perempuan kesayangannya.


"Aku seorang Efrain, Pa. Dan aku juga kuat sama seperti kalian. Aku akan membuktikannya," ucap Luna dengan tegas, meski matanya berkaca.


Pelukan Ellard semakin erat. Selama ini, Ellard membuat segala sesuatu menjadi mudah untuk anak perempuannya itu. Karena tentu ia ingin menebus masa lalu yang tidak pernah ia berikan padanya.


"Paman stefan!" pekik Elea yang baru saja memasuki ruang makan. Gadis itu berlari dari samping bibi Ofelia dan melompat memeluk Stefan.


"Paman rindu sekali padamu," ucap Stefan mencium kening Elea.


"El juga rindu sangat." Senyum manis Elea yang bahagia bertemu Stefan membuat perhatian Luna teralihkan. Senyum yang sama. "Kenapa Paman menghilang?"


"Paman tidak kemana-mana, El," jawab Stefan lembut. Lelaki itu mencubit hidung mancung Elea.


"Kenapa Mama menangis, Paman?" Elea yang melihat wajah sendu sang ibu langsung turun dari gendongan Stefan dan menghampiri sang ibu.


Padahal Luna sudah melerai pelukannya saat mendengar suara Elea datang tadi. Wanita itu juga sudah berusaha menghapus jejak airmata di pipinya.


"Tidak, Sayang. Hanya sedikit debu yang masuk kedalam mata Mama." Luna menghapus kembali sedikit airmata yang malah keluar karena mendengar kekhawatiran Elea padanya.


"Lalu ... apa Mama sakit?" Luna dengan cepat menggeleng.


"Mama baik-baik saja." Wanita itu menahan perih di dadanya. Membayangkan ia akan terpisah dengan Elea untuk beberapa waktu.


"Untuk hari ini, El berangkat dengan Kakek ya."


"El mau diantar Paman Stefan, tidak mau sama Kakek," tolak gadis kecil itu. Matanya menatap Stefan, mengiba.


Luna serba salah. Rencana yang akan ia jalankan pagi ini melibatkan Stefan. Selain karena alasan tidak sanggup berpisah dengan Elea, lelaki itu juga harus bersamanya pagi ini.


"Baiklah, Paman dan Mama akan mengantar El ke sekolah. Tapi nanti pulang dijemput kakek ya," tawar Stefan dengan lembut.


"Emmm ... Oke Paman!" ucap El menerima. Gadis kecil itu pergi keluar ruang makan mengambil tasnya.


"Stef, Paman titip Luna." Ellard menepuk bahu Stefan.


"Paman jangan khawatir. Aku akan menjaga dan melakukan yang terbaik untuk luna," janji Stefan.


"Paman percaya padamu." Ellard pergi setelah berpamitan dengan mereka berdua.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Memasuki gerbang perusahaan semua tampak seperti biasa. Dari luar nampak sepi saja. Namun begitu mobil melewati lobi untuk masuk ke parkir basement khusus, banyak sekali para pencari berita menunggu disana.


Luna tercekat, seumur hidupnya meski ia terlahir sebagai seorang Efrain yang tentu bukan orang biasa saja. Ia tidak pernah bersentuhan langsung dengan para pencari berita itu. Apalagi untuk sebuah masalah yang besar seperti ini.


Wanita itu segera membuka tasnya. Mengambil kacamata hitam yang selalu ia bawa, kemudian mengenakannya.


Napasnya terdengar memburu dan beberapa kali nampak menelan salivanya.


"Tenang Luna," ucap Stefan menguatkan.


"Rasanya seperti akan kehilangan nyawa." Luna memejam. Meski itu tidak akan kelihatan dari luar.


Awalnya para pencari berita itu tidak menyadari kehadiran Luna. Karena seperti yang Stefan rencanakan. Mereka berangkat menggunakan mobil lelaki itu untuk mengecoh. Meski tidak putus kemungkinan para pencari berita itu tetap akan tahu.


Dan benar saja. Begitu posisi mereka sangat dekat, ada salah satu dari mereka mengetuk jendela mobil disisi sebelah Luna karena menyadari kehadirannya.


"Bu Luna, minta waktunya sebentar Bu." Suara itu terdengar bersahutan dari luar. Hingga dari beberapa orang, akhirnya semua ikut berkerumun di samping mobil Stefan.


Mereka memang masih sopan dengan tidak menghalangi mobil untuk tetap melaju. Namun, banyaknya jumlah dari mereka sungguh sangat mengganggu saat ini. Apalagi untuk mental Luna.


Di dalam mobil, Luna menahan diri. Tubuhnya gemetar menahan isakan.


"Luna, kamu harus kuat. Ingat kita seorang Efrain. Katamu kita sekuat baja bukan?" Stefan menggenggam jemari Luna yang terasa sangat dingin.


Untuk kali ini, entah mengapa Luna tidak bisa menolaknya. Ia sangat butuh kekuatan itu. Kekuatan yang diberikan seseorang meski itu berasal dari seseorang yang sangat tidak ia inginkan. Namun sungguh, genggaman tangan Stefan padanya sangat berpengaruh besar bagi wanita itu.


"Kamu harus bisa! Sekarang, hubungi satpam yang lain agar menghalau mereka untuk ikut masuk ke basement. Kamu butuh ketenangan," ucap Stefan. Lelaki itu memberikan ponselnya agar Luna menghubungi bagian keamanan.


Stefan masuk ke basement setelah para pencari berita di hadang oleh para keamanan di perusahaan Luna.


Lelaki itu, telah selesai memarkir mobil. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Namun tangan Luna masih enggan melepaskan tangan Stefan yang di genggamnya erat.


"Luna? Hei...." Stefan menggerakkan satu tangannya yang terbebas di depan Luna.


Wanita itu tetap diam. Stefan yang khawatir langsung membantu Luna melepas sabuk pengamannya.


"Luna? Jangan membuatku takut!"


"Aku belum pernah menghadapi seperti ini. Apa aku sanggup?" slSuara Luna terdengar lemas dan bergetar.


"kamu bisa! Kamu harus bisa." Stefan melepaskan genggaman tangan Luna. Kemudian membantu wanita itu melepaskan kacamata hitamnya. "Minumlah dulu."


Luna mengikuti apa kata Stefan. Ia menenggak sedikit cairan bening yang diberikan lelaki itu.


"Dengar Luna! Tidak ada yang bisa mengalahkanmu. Kamu harus membuang rasa takutmu. Aku akan bersamamu apapun yang terjadi," ucap Stefan meyakinkan.


Ya, ucapan lelaki itu terdengar menggiurkan di telinga Luna. Haruskah ia tetap mempercayai Stefan kali ini? Dan ia sudah melangkah sejauh ini. Maka semua harus dilanjutkan, apapun yang terjadi.


❤ amici, Terima kasih masih mengikuti... love u