
Stefan mengemudikan mobilnya pelan. Ia melakukannya, bukan tanpa alasan. Ia tahu tengah diikuti. Dan hanya ingin membuat mereka, para penguntitnya itu lengah untuk kemudian ia bodohi.
Lelaki itu tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan suruhan sang paman, Ellard. Lelaki yang lebih dekat dengannya daripada William sang ayah itu, seperti sudah bisa membaca pikiran lelaki itu.
Padahal Stefan sudah mengikuti perintah sang paman untuk menyalakan GPS nya. Namun lelaki paruh baya itu tidak begitu saja percaya.
Berani dan nekat. Itu satu kata untuk Stefan. Dan hanya Ellard yang mengenalnya seperti itu.
Apalagi menyangkut orang yang dikasihinya, tentu Stefan tidak mau ambil resiko. Jika Ellard menganggap tanggung jawab Stefan sebatas keluarga pada Luna, tentu tidak dengan yang ada dipikiran lelaki itu.
Tidak ada yang tahu sebesar apa kegundahan Stefan saat ini. Hanya dia. Hanya dia yang mengetahuinya.
"Bersiaplah! Begitu aku masuk kau harus keluar," titah Stefan melalui earphone nya.
Ia yang awalnya santai mengemudi, tiba-tiba melesat jauh meninggalkan anak buah Alex yang mengikutinya.
Orang-orang itu kelimpungan mengejar. Mencoba menghubungi Alex namun tidak bisa hingga akhirnya mereka bernapas lega saat menemukan mobil Stefan kembali berada di depan mereka.
"Untung saja, kita akan habis oleh Bos jika sampai kehilangan mobil Tuan Stefan," seloroh salah satu dari dua orang yang berada didalam mobil, mengikuti mobil Stefan.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
"Silahkan, Tuan."
Stefan berjalan gontai menuju mobil Luna yang diamankan oleh anak buahnya beberapa hari yang lalu.
Sejujurnya ia tidak sanggup memasuki mobil ini. Itulah mengapa ia sama sekali tidak perduli pada mobil itu dan hanya mengamankannya saja. Namun rupanya, ia tetap harus masuk kesana untuk mencari ponsel yang dimaksud para penjahat yang menyekap Luna.
Klek!
Begitu berada didalam mobil, yang pertama yang ia temukan adalah tas Luna dalam keadaan terbuka.
Didalamnya masih lengkap dompet, ponsel dan tas kecil berisi alat make up. Stefan masih ingat betul tipe ponsel milik Luna, karena tas itu pernah ketinggalan di mobilnya.
Dan Stefan juga menemukan ponsel asing di jok depan mobil itu. Mungkin ponsel ini yang dimaksud oleh seseorang yang mengirim pesan padanya kemarin.
"Amankan kembali mobilnya, dan tetap jangan sentuh apapun yang ada didalamnya," titah Stefan pada anak buahnya. Ia hanya membawa dua ponsel yang ia temukan.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
Stefan tidak kembali ke apartemennya. Ia masih ditempat itu, tempat dimana mobil Luna disimpan.
Disana, ia membuka ponsel Luna yang memang tidak pernah dikunci oleh pemiliknya. Sekilas Stefan melihat, banyak sekali panggilan dan pesan dari Adam. Namun Stefan enggan membukanya, ia hanya membuka galeri tempat beberapa gambar Luna dan Elea tersimpan. Kemudian mengirimnya beberapa ke ponselnya.
Saat lelaki itu membuka ponsel satunya. Ada beberapa pesan dan panggilan dari nomor yang sama. Dari pesan itu juga akhirnya Stefan tahu, jika penjahat itu orang yang sama dengan penculik Elea. karena terbukti ia menggunakan kesempatan ketidaktahuan Luna jika gadis kecilnya sudah terselamatkan.
Ternyata, keputusan Ellard menyembunyikan tentang Elea malah merugikan pihak mereka. Orang-orang itu menipu Luna dengan mengatakan jika Elea masih berada ditangan mereka. Padahal Stefan sudah menyelamatkannya.
stefan kaget saat ada nomor asing tiba-tiba menghubungi dan tentunya bukan nomor yang sama.
"Hallo."
"Hallo Mr. Stefan." Suara dari seberang adalah suara wanita. Namun Stefan sama sekali tidak mengenalinya.
"Kalian jangan sentuh aku! Pergi!" Kemudian terdengar suara wanita berteriak- teriak di seberang. Dan Stefan meradang karena mengenalinya.
"Jangan sentuh wanita itu! Atau aku akan membuat perhitungan denganmu!" bentak Stefan dengan napas memburu. Ia khawatir orang-orang itu berlaku jahat pada luna.
"Ha... Ha... Ha... Kau pikir kau siapa berani mengancamku!? Dia berada di tempatku, maka berlaku aturanku dan terserah padaku mau melakukan apapun!" Tawa menggelegar dan mengejek dari suara wanita diseberang membuat Stefan semakin kacau dan khawatir.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kau! Kau tidak akan pernah bersama dengan wanita ini atau siapapun. Kau hanya akan sendiri dalam hidupmu dan meratapi nasibmu!" Ucapan wanita yang menghubunginya itu seperti menyimpan dendam yang dalam padanya.
Sejenak Stefan terdiam, mencoba mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi pembuka tabir siapa identitas musuh yang saat ini ia hadapi.
"Bukankah kau menginginkanku? Lalu mengapa kau mengganggu sepupuku?"
Stefan mencoba mengalihkan kebencian itu kembali padanya.
"Kau pikir aku bodoh? Kau mencintainya bukan? Bahkan kau rela melakukan apapun untuknya. Maka dari itu serahkan dirimu padaku dan akan ku lepaskan sepupu yang kau cintai itu."
Seseorang yang hebat selalu kalah jika musuh sudah mengambil orang-orang yang mereka kasihi. Itulah kelemahan manusia. Dan itu selalu dijadikan acuan untuk mengalahkan dengan cara licik. Karena menghadapinya secara langsung tentu mereka akan kalah, baik strategi, kekuatan ataupun senjata.
"Kau menyakitinya," ucap Stefan dengan menggeram.
"Itu tergantung dirimu Stefan. Besok aku akan menghubungi lagi, siapkan dirimu! Barangkali saja besok adalah waktu terakhirmu bertemu orang-orang yang kau kasihi!" ucapan sinis itu disertai suara tawa mengejek yang keras. Dan berikutnya panggilan di matikan.
Stefan mencoba menghubungi lagi nomor asing itu. Namun nihil. Nomornya sudah tidak aktif.
Stefan menatap nanar sekitarnya. Benarkah pilihannya untuk berjuang melindungi dan mencintai Luna dan Elea malah membawa mereka ke dalam kesulitan seperti ini? Ini semua karena dirinya, karena Stefan mencintai Luna.
"Siapkan apa yang kuminta tadi sekarang. Besok saat kau ku hubungi, kau harus sudah siap membawanya."
Berikutnya, lelaki itu hanya bisa menunggu hingga waktu esok tiba.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan Stefan benar-benar kembali ke apartemennya Tuan," lapor anak buah Alex.
Orang -orang itu sedang melapor pada sang bos yang saat ini tengah bersama Ellard.
"Syukurlah, ia tidak nekat. Aku tidak ingin dia membuat keputusan bodoh dengan datang sendirian. Bagaimanapun kita sama sekali tidak tahu siapa musuh kita." Ellard tersenyum lega, kali ini Stefan terkendali.
"Kita tunggu saja nanti malam saat dia kembali. Bagaimana, kau sudah menemukan posisi mereka?" tanya Ellard pada Alex, mereka sedang ada diruang senjata. Mempersiapkan diri.
"Belum, Tuan. Saya menyebar beberapa informan dan mereka belum memberi kabar lagi. Mereka meminta waktu sampai eaok hari."
"Baiklah, kembali ke tempatmu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paman...."
Gadis kecil yang membawa boneka ditangannya itu menghambur memeluk Stefan saat lelaki itu membuka pintu kamarnya.
Stefan sengaja langsung ke kamar Elea karena tidak mendapati sang paman di rumah saat ia kembali sore itu.
"Sedang apa, Sayang?" Stefan yang awalnya jongkok akhirnya mengangkat gadis kecilnya itu kemudian menggendongnya.
"Main boneka. Paman, apa kita sudah boleh main diluar?" Gadis kecil itu memohon dengan tatapan mengiba.
"Kita? Kau ingin bermain dengan Paman?" Elea mengangguk, dan membuat senyum Stefan merekah kembali.
"Sepertinya Kakek belum mengizinkan. Masih ada orang jahat yang harus disingkirkan oleh Kakek," bisik Stefan layaknya apa yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang rahasia dan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Padahal di kamar itu memang hanya ada mereka berdua.
"Orang jahat yang membawa El?" tanya gadis itu memastikan. Ia tentu ingat saat ia diambil paksa dari san ibu. Dan bahkan Luna di pukul hingga tidak sadarkan diri.
Stefan mengangguk, jemarinya merapikan anakan rambut Elea yang sesekali terbang tertiup angin.
"Apa Kakek bisa mengalahkannya, Paman?" tanya Elea.
"Tentu saja. Kakek dan Paman pasti akan mengalahkannya. Elea berdoa, ya," pinta Stefan.
"Pasti. Semoga Paman dan Kakek menang melawan penjahat itu!"
pekik Elea sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
"Apa Elea sayang dengan Paman?"
Pertanyaan Stefan mendadak sendu. Mata elangnya menatap Elea penuh harap.
"Sayang... sekali. Paman baik dan selalu bermain dengan El," ungkap gadis kecil itu polos.
Senyum Stefan mengembang. Baginya ucapan Elea lebih dari cukup untuk memberinya semangat berjuang untuk ibu dan anak itu. Meski nanti ia harus bertaruh nyawa, ia rela.
"Kalau dengan Daddy?"
Stefan tidak berniat membandingkan Adam dengannya. Ia hanya ingin tahu saja.
"Lebih sayang ke Paman, dari pada Daddy. Karena Daddy tidak ada waktu untuk bermain dengan El."
Gadis kecil itu mengungkap dengan jujur posisi mereka masing-masing di dalam hatinya.
"Paman juga sayang dengan El. Sayang... sekali."
Pipi mulus putih sebening porselain itu mendapat kecupan dari Stefan. Dan tangan kecil halus dan putih milik Elea malah merapatkan kedua pipi mereka.
Ayah dan anak itu seperti mengucap salam perpisahan saja.
Penuh haru dan linangan air mata dari Stefan.
"Paman tidak boleh menangis." Elea yang merasakan bulir bening ikut membasahi pipinya tiba-tiba menjauhkan wajahnya dan menangkup kedua pipi Stefan.
Gadis kecil itu menghapusnya dengan lembut. "El sayang Paman. Jadi Paman janji harus menang, biar El bisa jalan-jalan dengan Paman lagi."
Mata Stefan tidak bisa lagi diajak kompromi. Lelaki itu mengangguk dan menangis dihadapan putri kecilnya. Meski dalam diam, ia pandangi potret kecil dirinya yang terukir di wajah Elea.
Tidak! Stefan bukan lemah. Ia hanya takut jika tidak bisa melihatnya lagi.
Ketakutan seorang ayah, yang sangat mencintai putrinya.
♥♥♥semangat!!!!