La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 33



"Bu, sekedar mengingatkan. Lusa adalah batas terakhir waktu yang diberikan Nona Angeline pada kita. Selanjutnya hal ini akan menjadi bagian kepolisian untuk mengusutnya."


Emma langsung masuk ke ruangan Luna begitu wanita itu datang. Dengan membawa setumpuk berkas yang selama hampir dua minggu ini mereka periksa dan corat-coret untuk mencari tahu tentang benda yang hilang itu.


"Aku hampir melupakannya, Em," keluh Luna sambil memijat pelipisnya.


Wanita itu bertambah pusing, setelah pagi tadi sebelum berangkat ke kantor sang ayah menghubunginya. Ellard menanyakan tentang izin yang ia berikan untuk Adam. Kata lelaki paruh baya itu, Luna memberi izin Adam untuk menambah nominal tunjangan bulanan suaminya itu.


Dan yang lebih menyedihkan lagi, ketika dia menghubungi suaminya, nomor lelaki itu tidak aktif. Ia coba menghubungi kantor, Nina lah yang menjawab. Kata gadis itu, Adam mendadak terbang ke Turki karena ada komplain dari pelanggannya di negara itu.


"Letakkan saja disitu, Em. Dan tinggalkan aku sendiri," titah Luna.


Namun sektetaris Luna itu tidak juga pergi. Gadis itu mematung di samping Luna yang bersandar di sofa ruangannya.


"Em ... Keluarlah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku hanya perlu menenangkan diriku sejenak," ulang Luna yang melihat sekretarisnya itu masih berada di tempat yang sama.


"Ibu yakin tidak apa-apa?" Emma bertanya dengan nada khawatir.


"Iya. l am okay. Terima kasih, Em," ucap Luna sambil memejamkan matanya.


Dan dengan berat hati, Emma keluar dari ruangan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Persiapkan dirimu Stef, lusa kita pembukaan," ucap Ellard memberitahu.


"Lusa? Cepat sekali Paman,"sahut Stefan yang membuat alarm pengingat di ponselnya tentang kejadian lusa. Namun ia lupa menuliskan kejadian apa yang harus diingatnya hari itu.


Apa mungkin hanya pembukaan perusahaan pamannya itu? Sepertinya tidak, karena hal itu baru diberitahu oleh pamannya hari ini.


"Ada kejadian apa selain itu?" gumam Stefan.


"Apa maksudmu, Stef?" heran Ellard dengan tingkah keponakannya itu.


"Entahlah, Paman. Sepertinya ada kejadian lain yang sama pentingnya, tapi aku tidak sengaja melupakannya." Stefan hanya menggeleng pelan.


Lelaki itu mencoba keras untuk mengingat-ingatnya. Namun sungguh sial, tidak juga terbersit sedikitpun petunjuk tentang hal itu.


"Mungkin hanya sesuatu yang tidak penting. Buktinya kamu susah mengingatnya," seloroh Ellard seraya melangkah pergi.


"Paman akan meninggalkanku sendiri?"


"Ada beberapa berkas yang harus kau tanda tangani. Apa kau memintaku menemani hanya untuk melakukan hal kecil seperti itu?" sindir Ellard.


"Bukan begitu, Paman. Aku hanya merasa tidak nyaman berada di ruangan orang yang mana empunya tidak ada?"


"Aku yang menyuruhmu. Lagipula Nina sudah tahu, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku ingin ke perusahaan Luna sebentar. Perasaanku tidak enak," ungkap Ellard yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban Stefan.


"Luna...." gumam Stefan. "Hampir saja! Lusa adalah batas terakhir yang diberikan customer nya. Aku harus cepat agar bisa membantunya. Kenapa semua bisa bersamaan seperti ini," keluh Stefan yang akhirnya mengingat jika ia sengaja memasang alarm untuk mengingatkannya.


Hari ini adalah hari terakhir yang diberikan Angeline pada Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bas, suruh sekretarismu membuat surat pengalaman kerja untuk Kylie. Dia akan bekerja di perusahaan Luna mulai bulan depan, dan dia membutuhkannya sebagai salah satu persyaratan yang diajukan menantu kita itu."


Lilyana menghadang Sebastian Walton sang suami yang hendak berangkat ke kantor siang ini.


Kusut dan masih nampak mengantuk selalu menghiasi wajah pemilik perusahaan Walton itu. Perusahaan yang masih bernapas karena suntikan dana dari sang anak, Adam.


"Dia bukan hanya anakku, tapi anak kita! Luna meminta persyaratan itu untuk bisa menerima Kei, Bas. Kau tinggal suruh sekretarismu membuatnya gampang kan?" ucap Lilyana seperti biasa.


Wanita itu selalu meremehkan Sebastian beserta pekerjaannya. Dan yang paling tidak bisa diterima oleh ayah dari Adam itu adalah, Lilyana selalu memaksakan kehendaknya, seperti saat menerima Luna sebagai menantu.


"Itu karena Luna tahu anak gadismu itu seperti apa!" ketus Sebastian yang segera duduk di kursinya dan melahap sarapan paginya tanpa memperdulikan sang istri.


"Bastian! Mereka itu perusahaan besar. Wajar meminta persyaratan macam-macam untuk melengkapi syarat administrasi. Sudah! Jangan banyak alasan. Buatkan saja, biar Kei menjadi anak yang berguna tidak seperti ayahnya."


Ucapan Lilyana melukai Sebastian. Lelaki dengan rambut blonde seperti sang anak itu meletakkan sendok dan garpu ke atas meja. Dia menjadi kehilangan napsu makan akibat ulah istrinya.


"Sudah ku katakan aku tak mau." Sebastian berucap dingin, jika tadi ia masih meladeni Lilyana yang teriak-teriak padanya. Sekarang lelaki itu malah terlihat malas.


"Aku tidak akan menipu Luna lagi. Biarkan dia tahu adik iparnya itu seperti apa. Kylie tidak pernah membantuku atau mengerti tentang pekerjaan kantor. Karena sejatinya anak gadismu itu pemalas. Dan kau selalu memanjakannya."


Sebastian berharap ucapannya itu sedikit berpengaruh pada istrinya.


"Ayolah Bastian! Anakmu akan jadi pengangguran jka tidak bekerja di perusahaan Adam. Kesempatannya hanya tinggal hari ini."


"Itu perusahaan menantumu bukan anakmu! Dan hormatilah segala keputusan Luna, bukan selalu mencari celah untuk kepentingan sendiri!" bentak Bastian pada istrinya.


Lelaki itu langsung bangkit dari kursinya. Menyisakan makanan yang sudah tidak napsu untuk ia habiskan.


"Aku tak perduli! Anak itu memang tidak bisa bekerja. Mengapa aku harus membantunya jika memang dia tidak layak. Perusahaanku saja tidak akan menerima karyawan semacam Kylie, apalagi perusahaan besar milik Efrain," lanjut Bastian.


"Bastian! Kau keterlaluan! Bagaimanapun dia anakmu!"


"Aku pergi! Dan urus saja Kylie sendiri!"


Secepat mungkin Bastian yang sudah mengambil tasnya berjalan menuju mobil. Ia tidak lagi menganggap teriakan demi teriakan Lilyana yang berniat menghentikannya.


\=\=\=≠\=\=≠\=\=\=\=\=\=


Turki


"Sebanyak ini dikembalikan?" tanya Adam pada orang-orang perusahaan yang ada di sana.


"Iya, Tuan. Semua ini rusak dalam pengiriman. Padahal biasanya tidak pernah."


Lelaki yang bertanggung jawab menjaga barang-barang itupun memperlihatkan laporan komplain dari klien mereka. Yang semula hanya sedikit, lama kelamaan semakin banyak. Bahkan komplain yang masuk bukan hanya dari klien mereka di Turki tapi juga negara-negara lain di Eropa.


"Mereka menuntut uang mereka dikembalikan, dan perjanjian kerjasama dihentikan, Tuan."


"Apa? Tidak bisa seperti itu. Kita bisa mengganti kerugian mereka dengan barang baru," tolak Adam mentah-mentah.


"Menurut mereka, kesalahan ini fatal Tuan. Kekosongan akan permintaan pasar sudah tidak bisa ditolerir, Tuan. Selain kita yang terlambat mengirimkannya, ditambah lagi menurunnya kualitas dari barang kita menjadikan mereka mengambil keputusan ini. Bahkan sebelum Tuan sampai disini, importir dari Swedia dan London sudah memutus sepihak kerjasama kita."


"Sialan!" umpat Adam.


Belum lagi ia mendapat untung dari apa yang sengaja dicuranginya, ia malah buntung lebih dulu.


💗 readers semua...maafkan saya ya🙏🙏🙏


saya salah upload akibat masih teler karena minum obat flu batuk.


ini sudah di benerin... maaf ya🙏