La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 53



Elea berlari mengelilingi taman. Sesekali gadis kecil itu berhenti, dan berjalan mundur dengan wajah menghadap Stefan. Ia menggoda lelaki yang ia panggil paman itu, yang sering tertinggal saat mengejarnya.


"Ayo Paman, semangat!" teriak Elea dengan senyum mengembang. Ia tidak pernah merasa sebahagia dan selepas ini sebelumnya. Berlari dan bermain-main sesuka hatinya.


"Larimu cepat sekali, El," ucap Stefan yang berkali-kali berhenti mengatur napasnya. Lelaki itu bukan tidak sanggup mengejar. Namun ia membiarkan Elea menikmati harinya setelah peristiwa penculikan kemarin.


Beruntungnya, gadis kecil itu tidak trauma. Stefan tersenyum tipis mengingatnya. Putrinya itu memang Efrain sejati. Berani dan kuat.


"Bahu Paman masih sakit? Paman istirahat saja. Maafkan El, ya," celoteh Elea ketika ia melihat Stefan beberapa kali mengusap pelan bahunya yang terluka.


Elea nampak merasa bersalah karena membuat Stefan mengejarnya.


"Tidak apa-apa. Hanya sedikit nyeri," sahut Stefan. Hatinya menghangat dan bahagia mendapat perhatian dari Elea.


Akhirnya Stefan duduk di kursi taman. Meluruskan kakinya dan menyandarkan tangannya yang sakit di sandaran kursi itu.


Sebotol minuman dingin terulur. Tangan kecil yang ia kenali itu muncul dari belakang punggungnya. Botol berisi sari jeruk berwarna oranye itu bergoyang menggoda.


"Duduklah." Stefan menarik tangan Elea hingga gadis kecil itu duduk disampingnya. "Terima kasih begitu perhatian dengan Paman," ucap Stefan tulus.


Lelaki itu ingin sekali mengungkapkan jika ia adalah ayahnya. Namun tentu ia merasa tidak pantas karena Stefan sama sekali tidak membersamai hingga Elea sebesar sekarang.


"Paman telah menyelamatkan, El. Paman segalanya. El sayang Paman." Senyum tipis putri kecilnya itu membuat hati Stefan menangis.


Kesalahannya begitu besar pada Luna dan gadis kecil didepannya ini. Mampukah wanita yang kini dicintainya itu memaafkannya kelak?


Setelah menenggak pemberian Elea, Stefan merengkuh pundak kecil itu. Mereka bernyanyi bersama sambil sesekali tertawa, karena Stefan hanya hafal sepatah dua patah lagu anak-anak yang hampir semuanya sudah diluar kepala bagi Elea.


Lelaki itu menikmati kebersamaannya dengan pelita hatinya itu. Sejenak melupakan apa yang akan ia hadapi ataupun yang akan terjadi esok hari.


Apapun akan Stefan lakukan agar selalu dapat melihat senyum Elea, dan juga Luna tentunya.


Tanpa mereka sadari, ada sosok yang terpaku memperhatikan keduanya. Menatap lurus melalui jendela kamar lantai dua, Ellard tertegun melihat kebersamaan Stefan dan Elea. Bahkan mereka terlihat lebih kompak dari saat cucunya itu bersama sang ayah, Adam.


Mereka sangat mirip. Bahkan aku melihat wajah kecil Stefan pada Elea.


Kedekatan mereka seperti Luna dan dirinya. Seorang ayah dan anak gadisnya. Penuh semangat, ceria dan bahagia.


"Mungkin kau memang sudah waktunya menikah, Stef," gumam Ellard yang berusaha mengikis ssebuah praduga ang tiba-tiba saja melintas di benaknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kak...."


Pertanyaan itu seperti tercekat di tenggorokan. Dan mendadak semua obrolan yang bahkan sudah dirancang Luna setengah jam sebelumnya, malah menguap entah kemana.


Saat ini, Luna tengah menghubungi Aglen. Sekedar bertanya alamat tempat tinggal Stefan di Kanada.


Luna canggung dan takut. Karena dirinya hanya menghubungi sang kakak saat sedang membutuhkan bantuan saja.


"Ada apa?"


Suara Aglen terdengar sama sekali tidak ramah. Sekarangaaih masuk jam kerja baik di Amerika maupun Kanada. Luna tentu tahu hal itu, namun harus bagaimana lagi. Ia sangat membutuhkan alamat Stefan sekarang juga.


"Emm ... Apa_"


"Aku sedang sibuk. Cepatlah jika ingin bertanya?" Suara Aglen kini terdengar kesal. Mungkin karena Luna yang belum juga mengatakan apa tujuannya menghubungi sang kakak.


"Aku minta alamat Stefan. Terima kasih."


"Ya."


Klik!


Panggilan terputus sepihak. Bukan Luna tapi Aglen yang melakukannya. Bagaimana ia mendapat alamat Stefan jika Aglen hanya menjawab 'ya' kemudian memutus panggilan begitu saja.


Luna pening dibuatnya. Aglen adalah satu-satunya harapan karena alamat tempat tinggal Stefan hanya diketahui oleh kakak lelakinya itu dan sang ayah.


Mendadak terdengar nada pesan masuk. Luna tersenyum setelah membukanya. Rupanya Aglen mengirim alamat beserta foto tempat tinggal Stefan. Diluar dugaan bukan? Ternyata kakaknya sebaik itu.


Dibelahan bumi yang lain, seorang lelaki berkuncir tengah duduk sambil mengayunkan kakinya.


Sibuk?


Itu hanya alasan Aglen, karena ia pun tidak tahu harus membahas apa dengan adiknya itu.


Bertahun-tahun memiliki status sebagai saudara tidak pernah sekalipun Aglen terlibat pembicaraan serius dengan Luna.


Apalagi hanya hal-hal sepele. sudah bisa dipastikan, tidak pernah.


Tadi, ia kaget saat nama Luna muncul sebagai pemanggil di ponselnya. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menyimpan nomor kontak adiknya itu.


Kemudian lelaki itu teringat saat ia bersama Stefan di apartemen sepupunya itu. Stefan sengaja menambahkan Luna di daftar kontak Aglen dengan alasan keluarga.


Not bad!


Ternyata adiknya itu juga canggung padanya. Namun tetap sopan meski suaranya lebih terdengar takut.


Sepertinya, ia harus mulai mengikis dinding diantara mereka berdua. Karena Luna adalah satu-satunya keluarga kandungnya setelah sang ayah.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=


Luna menghubungi Adam. Dan tidak satupun panggilannya dijawab lelaki itu. Bahkan hingga setengah jam berlalu dan menunggu, suaminya itu tetap saja tidak balik menghubungi. .


Luna berniat pergi untuk menemui Stefan. Iasengaja pulang lebih awal agar tidak terlalu malam sampai di rumah.


Akhirnya, Luna memutuskan pergi ke apartemen Stefan dengan mengendarai mobilnya seorang diri.


Dalam perjalanan, wanita itu merasa diikuti oleh mobil dibelakangnya. Beberapa kali


Luna sengaja mengendarai mobilnya pelan, namun penguntit yang berada dibelakangnya tidak juga menyalip.


Hati wanita itu sudah tidak karuan. Ia takut apa yang terjadi dengannya kemarin terulang kembali. Meski berani, namun Luna memang tidak berbekal apapun untuk dapat melawan, senjata saja ia tidak punya.


Luna mempercepat laju mobilnya. Ia berharap segera sampai di apartemen Stefan dan meminta tolong pada sepupunya itu.


Namun apa yang terjadi malah diluar ekspektasinya. Mobil dibelakangnya itu terus saja mengekor. Hingga akhirnya Luna memiliki ide untuk mengecoh mereka.


Ia berkendara cukup pelan. Bahkan sangat pelan hingga mobil dibelakangnya itu mengambil jarak cukup jauh. Luna mengambil kesempatan itu. Ia belok di tikungan tepat didepannya setelah memastikan jalanan di depannya aman, dan tanpa memberi tanda. Setelahnya ia melesat jauh tak terkejar.


Luna mengatur napasnya pelan. Menuju apartemen Stefan dengan lega. Setidaknya ia bisa menghindar. Ingin sekali ia segera turun dari mobil dan meminta bantuan lelaki itu.


Memasuki sebuah basement yang sepi meski hari belum gelap, rupanya juga sedikit membuat nyali Luna menciut. Ini terlalu sunyi . Bahkan tidak ada satupun orang lewat disana.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel di mobilnya. Namun asing, itu bukan suara ponsel miliknya. Sekian lama terdengar nada pemanggil terus menerus tanpa henti. Luna hanya membiarkannya. Otaknya sibuk menebak.


"Ya ampun!" pekiknya lirih. Luna mendadak menghentikan mobilnya, saat menyadari jika yang berbunyi adalah ponsel yang diberikan oleh penculik Elea.


Luna brgegas membuka tasnya dan menjawab panggilan dari ponsel itu.


"Ya!"


"Ikut mereka sekarang juga!"


"Mereka?"


Belum sempat berpikir yang lain, ada sebuah mobil berkecepatan tinggi yang berhenti tepat di depan mobilnya.


Beberapa orang yang mengenakan penutup wajah terlihat keluar dan mengetuk jendela disebelahnya dengan brutal.


"Ikut mereka! Cepat! Atau anakmu tidak akan selamat!" ancam seseorang diseberang sana. Seketika, jantung Luna berpacu cepat. Apalagi terdengar suara teriakan anak-anak yang mirip dengan suara Elea.


Tanpa berpikir lagi, Luna segera membuka pintu mobil, dan orang-orang itu memaksa dia keluar dengan menarik kasar tangannya.


"Tunggu! Jangan anakku. Baiklah, Aku bersedia ikut kalian."


Tak ada yang menjawab permintaan Luna. karena itu memang bukan tugas mereka. Orang-orang itu mengikat tangan luna dan menutup mulutnya dengan plester kemudian membawanya masuk ke mobil mereka.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?" teriak seseorang dari dalam sebuah mobil yang baru saja tiba dan masuk ke dalam basement. Mobil itu berada di belakang mobil Luna.


Sekuat tenaga Luna berteriak meminta tolong. Karena mulutnya dibungkam dengan plester suaranya sama sekali tidak terdengar jelas.


"Diam atau ku pukul kau!" ancam mereka. Mobil yang membawa Luna mundur dengan cepat, kemudian melewati celah-celah sampit diantara mobil yang parkir dan berhasil keluar dari area parkiran apartemenapartemen itu.


Sedangkan orang-orang yang berada dibelakang mobil Luna tidak dapat lagi mengejarnya. Mereka terjebak diantar mobil Luna dan mobil lain yang hendak masuk.


"Sial! Bos pasti marah besar. Cepat hubungi beliau sekarang juga!"


♥yeeee... terimakasih masih mengikuti