
Namun yang terdengar kemudian sangat bertolak belakang.
Luna menangis. Meski sekuat hati ia menahan isakan, tapi pada kenyataannya bibirnya tidak dapat menyimpannya.
Tangan rapuh nan lembut itu memeluk tubuhnya sendiri dan ia menangis sejadi-jadinya.
Aglen kaget, padahal sepersekian detik sebelumnya Luna berteriak mengatakan kuat. Tapi malah terisak memilukan.
Lelaki berkuncir itu sontak menepikan mobilnya di sebuah jalanan sepi.
Punggung luna terlihat bergetar. Ia menangkupkan kedua tangan pada wajahnya. Sedangkan Aglen, lelaki itu bergerak absurd karena bingung bagaimana membuat sang adik diam.
Dia yang sama sekali tidak pernah menyentuh sang adik sekalipun hanya untuk merangkul, menjadi bingung bagaimana menenangkannya.
"Sudah ... Jangan menangis," ucap Aglen lirih. Tepukan lembutnya jatuh di punggung yang masih bergetar itu. "Aku dan Papa akan selalu bersamamu. Apapun yang terjadi," ucapnya kemudian.
Antara terkejut dan terharu, Luna membuka kedua tangan yang menangkup wajahnya. Menatap sang kakak yang berada lebih dekat dengannya.
Apa Luna sedang bermimpi?
Tidak mungkin!
Ia sadar sesadar-sadarnya.
Berulang kali wanita itu menggosok kelopak matanya. Mengapa saat ini, Aglen benar-benar nampak sebagai seorang kakak baginya.
Sosok kakak yang ia rindukan dari dulu, yang berjanji melindungi dan membelanya dalam keadaan apapun.
Aglen melerai tangannya. Ia terlihat kikuk, setelah menyentuh punggung Luna.
"Benarkah?" suara Luna serak dan terdengar cengeng. Luna tidak berniat sama sekali menghapus jejak air mata yang menganak sungai di pipinya. Ia bagaikan anak kecil di depan sang kakak.
Aglen mengangguk canggung. Entah mengapa hatinya sebagai seorang kakak tergugah melihat Luna menangis pilu. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat wanita dalam keluarganya menangis seperti itu.
Rosalie sang ibu, pergi ketika ia belum begitu paham akan ikatan kasih sayang diantara mereka. Sedangkan Christina sang bibi, terlalu pandai menyembunyikan airmata dan kesedihannya. Hingga hanya senyum teduh dan kesabaran serta kasih sayang yang selalu nampak dimatanya. Tentunya kecuali saat bibinya itu kehilangan sang sepupu, Stefan.
Dan sekarang, itu terjadi pada seorang wanita yang meski tidak dikenalnya dari kecil, namun ternyata berikatan darah dengannya.
Rupanya Aglen tidak seperti apa yang lelaki itu tampilkan. Ia menyayangi semua wanita dalam keluarganya. Dan sekian tahun berperang dengan logikanya, hatinya kalah.
Akhirnya, mulai detik ini hatinya memutuskan menerima kehadiran Luna sebagai seorang adik. Melihat seberapa kesepiannya hidup Luna tanpa sang ibu yang meninggal saat ia bayi, dan juga sang ayah yang terlambat dikenalnya.
Aglen memang sedari dulu merindukan saudara, dan Tuhan menghadirkannya sebagai makhluk cantik yang harus ia panggil adik, meskipun dari rahim wanita selain ibunya.
Ini takdir.
Begitulah tangan Tuhan bekerja. Dia tidak serta merta memberikan kita yang lurus saja dan yang baik saja. Semuanya terbungkus rapi dalam sebuah misteri dan membutuhkan kesabaran untuk membukanya, mengurai setiap benangnya. Hingga sampailah hari ini.
Tatapan Aglen teduh layaknya Ellard. Meski diam mematung, ingin sekali lelaki itu dipanggil kakak dengan mesra dan bisa merangkul adiknya itu seperti layaknya seorang kakak pada adik.
Luna, wanita itu juga sedang menatap sang kakak. Akhir-akhir ini, meski dipenuhi drama, tapi tidak sekalipun Aglen membiarkan dirinya pergi sendiri. Lelaki yang berstatus saudara laki-lakinya itu selalu menemaninya.
"Kakak."
Panggilan Luna terdengar memilukan. Isakannya tersendat. Ia bagai merindukan seseorang yang telah lama hilang.
Apalagi tiba-tiba, wanita itu merangsek masuk kedalam pelukan Aglen. Menyandarkan kepalanya ke dada sang kakak sama seperti yang dilakukannya pada sang ayah.
Aglen terkejut. Ia tidak membalas tapi juga tidak menolak. Lelaki itu masih mematung dengan kedua tangan terbuka, meski Luna telah berada di pelukannya beberapa lama.
Tidak lama kemudian, lelaki itu menurunkan tangannya. Meletakkan keduanya pada punggung sang adik untuk memeluk wanita yang telah lama memanggilnya kakak namun tidak begitu dianggapnya itu.
"Terima kasih. Aku tahu kau dan papa adalah utusan Tuhan untuk menjagaku. Aku sangat bahagia menjadi bagian dari kalian," ucap Luna tulus.
Dia selalu menganggap bahwa sang ayah adalah malaikatnya dan sekarang juga sang kakak.
Luna merasakan jika Aglen membalas pelukannya. Hatinya semakin sedih namun juga bahagia. Sedih karena harus menunggu sekian lama untuk mendapatkannya, juga harus melewati ujian yang belum juga selesai. Dan bahagia karena akhirnya ia benar-benar memiliki keluarga yang sempurna, yang sangat menyayanginya.
"Kenapa harus terima kasih yang kau ucapkan? Apa aku membuatmu sesedih itu selama kau masuk keluarga Efrain?"
Entah merasa atau memang Aglen sedang membercandainya, Luna tidak bisa menebaknya. Namun yang pasti, ia seperti menemukan napas baru dalam hidupnya. Memiliki sang ayah dan juga kakak yang akan menyayanginya dan menjaganya.
Setiap kesabaran membuahkan kebaikan bukan?
Aglen berucap bijak, seorang lelaki memang harus menjadi pelindung dalam keluarganya.
"Iya, Kak. Aku sangat beruntung lahir dengan darah yang sama dengan kalian."
Luna menghapus airmatanya. Namun ia masih nyaman berada dalam pelukan sang kakak.
"Sudah ... Kita harus segera pulang. Papa sudah menghubungiku berkali-kali. Kalau kau begini terus, bagaimana aku bisa mengemudikan mobilku," ketus Aglen yang segera melerai pelukan Luna dengan pelan. Kemudian membawa tubuh rapuh itu kembali ke tempatnya.
Sungguh! ucapan aglen merusak suasana hati Luna.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kantor polisi, ketiga orang itu berdebat.
Adam yang menuntut Clara karena menipunya dengan melakukan penyamaran sebagai sang adik. Sedangkan Clara menyangkal karena ia hanya disuruh.
Gadis itu tidak mau disalahkan.
Sedangkan lelaki yang bersama Clara, ia membela gadisnya meski tidak tahu apa-apa.
"Aku hanya disuruh oleh Kylie untuk memakai topeng itu. Harusnya yang kau salahkan itu adikmu, bukan aku. Lagipula ini hanya satu minggu, dan dua hari lagi berakhir," kesal Clara karena gadis itu tidak menyangka jika akan berurusan dengan polisi pada akhirnya. Sedangkan rencana awalnya saja, ia hanya dibayar untuk menggantikan Kylie liburan.
"Tetap saja! Kenapa kau mau disuruh untuk menipu orang!" teriak Adam yang tidak terima.
"Aku tidak menipu orang! Aku tidak mengenalmu, aku hanya menjalankan tugasku. Lagipula jika kau benar kakaknya, kenapa kau tidak tahu apapamun tentangnya? Malah menualahkanku," kesal Clara.
"Tuan, Nona! Bisakah anda semua tenang sebentar? Saya akan menahan anda semua jika tidak juga berhenti berdebat!" ancam seorang polisi yang ada di depan mereka.
Sedari tadi mereka bertiga sudah diingatkan untuk menjalani pemeriksaan dengan kondusif. Namun rupanya peringatan itu tidak diindahkan oleh mereka.
"Saya merasa sangat dirugikan, Pak. Gadis ini menipu saya!" Adam bangkit dari duduknya dan mangacungkan telunjuknya pada Clara.
"Saya tidak menipu siapapun, adiknya sendiri yang menipunya!"
balas Clara.
Gadis itu tidak mau kalah dengan juga menunjuk tepat di wajah Adam.
"Thomas. Bawa mereka!" titah polisi itu pada rekannya. Perdebatan mereka sudah sangat mengganggu kantor polisi kecil itu. Dan juga mengganggu dirinya membuat laporan.
"No! Dia yang membuat ribut mengapa aku yang kena!" teriak Adam.
"Aku juga tidak bersalah, Pak. Dia yang memulai lebih dulu," bela Clara pada dirinya sendiri.
Namun para polisi itu tidak menggubris penolakannya. Adam dan Clara dipaksa masuk ke dalam tahanan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nyonya. Saya sekretaris baru anda." Seorang gadis dengan penampilan rapi menyambut Luna saat ia hampir masuk ruangannya.
"Kamu?"
"Saya menggantikan Nona Emma. Perkenalkan nama saya Evelyn." Gadis muda itu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
Luna membalasnya, kemudian meminta sekretaris barunya itu untuk mengikutinya masuk.
"Kau sudah tahu tugasmu?" tanya Luna menyatukan kedua tangannya dimeja.
"Sudah Nyonya. Saya sudah tiga hari bergabung di perusahaan ini. Tuan Ellard yang menerima saya dan Tuan Aglen yang mengajari saya," jawab Evelyn sambil mengangguk hormat.
"Kakak? Dia lagi," gumam Luna lirih.
Para laki-laki di keluarganya sungguh sangat cepat bergerak.
"Baiklah, kembali ke ruanganmu. Nanti akan kupanggil jika aku butuhkan," ucap Luna mengakhiri pertanyaannya.
Ia bingung akan bertanya apa lagi. Semuanya sudah diurus oleh mereka
🧡🧡🧡