
Luna tertatih menggunakan tongkat kruk nya begitu keluar dari lift. Sosok lelaki yang berdiri membelakanginya itu tentu ia kenali.
Ya, itu adalah Bhara. Meski Luna hanya melihat punggungnya, tentu ia tidak akan lupa.
"Bhar."
Bhara menoleh ketika mendengar namanya disebut.
"Hai, aku...." Bhara terlihat senang begitu melihat Luna. Namun selanjutnya ia malah bingung mencari alasan atas kedatangannya. Padahal belum juga Luna bertanya macam-macam.
"Aku hanya mampir." Senyum malu menutupi maksud sebenarnya itu tampak lucu. Apalagi untuk lelaki seusia Bhara.
"Duduklah."
Luna mengedikkan dagunya, mempersilahkan teman sekolahnya itu untuk mengambil duduk bersamanya.
"Kau ... Sudah banyak perkembangan rupanya." Tatapan mata Bhara tidak lepas dari Luna.
"Baru beberapa hari ini, saja. Aku sudah bosan di kursi roda terus," keluh Luna sambil memijat pelan kakinya. "Darimana kau tahu aku sudah di Amerika?"
"Tidak ada yang memberitahuku. Aku hanya iseng mampir dan rupanya aku beruntung."
Padahal yang sebenarnya, Bhara mengetahuinya dari seseorang yang ia sewa jasanya untuk mengawasi Luna selama di Kanada.
"Bagaimana perkembangan kasusmu, Lun? Dudah tahu siapa pelakunya?" tanya Bhara penasaran. Sebenarnya ia ingin bertanya pada William, tapi lelaki itu takut dikatakan tidak sopan.
"Paman Will sudah mengurusnya. Pengacaraku juga sudah melaporkannya Bhar, tinggal menunggu proses saja."
Mendengar hal itu Bhara sedikit kecewa. Padahal rencananya ia akan menawarkan diri menjadi pengacara Luna untuk membantu wanita itu.
"Siapa pengacaramu, Lun?"
"Andrew, dia teman Stefan. Kami bertemu di Kanada," jelas Luna.
"Andrew? Andrew Hedger?" tebak Bhara.
"Ya. Bagaimana kau tahu Bhara?"
"Dia kakak kelasku waktu kuliah mengambil Magister dulu. Oh, ternyata Andrew juga mengenal sepupumu. Aku turut berduka Luna."
"Kau mengetahuinya?"
Bhara mengangguk. Bhara tahu banyak hal yang berhubungan dengan Luna, meski lelaki itu lebih banyak menyimpannya sendiri.
"It's okay. Jika kau adik kelas Andrew, itu berarti kau juga pengacara Bhar?"
Bhara mengangguk kembali, kali ini dengan senyum kecil yang terulas.
"Wahh ... Harusnya aku menyewa jasamu. Tapi aku terlanjur menggunakan Andrew sejak aku di Kanada."
"Tidak apa-apa. Aku akan menghubungi Andrew dan bergabung ke timnya untuk membantumu jika kau mengizinkan."
Senyum cerah Bhara terbit melihat kesempatan untuknya.
"Jangan Bhar! Aku tidak kuat membayarmu. Tarifmu pasti tinggi karena kau pandai dan selalu handal dibidangmu," tolak luna jujur.
Bhara memang pintar sedari dulu dan lelaki itu juga tidak banyak tingkah seperti kebanyakan lelaki yang datang dari keluarga kaya.
"Jangan terlalu memujiku. Aku bisa terbang nanti," celetuk Bhara yang membuat keduanya terbahak.
"Jika kau mengizinkanku membantu, aku tidak akan menarik tarif untuk jasaku. Hanya ... menggantinya dengan mengajakku travelling saja."
Bhara sedikit lirih mengungkapkannya. Pada intinya lelaki itu tetap meminta ganti rugi untuk jasanya. Pertukaran yang menguntungkan.
"Kukira kau tulus, Bhar." Luna mendelik sambil melirik kesal lelaki didepannya ini. Sementara bhara terkekeh pelan sambil menutupi bibirnya.
"Bagaimana?"
"Kau ingin travelling kemana? Asal jangan terlalu jauh, karena biayanya pasti besar."
"Hello, Luna. Kamu CEO sebuah perusahaan besar. Hanya sebuah traveling tidak akan mengurangi banyaknya penghasilanmu," sindir Bhara sengit.
"Aku sudah dipecat, Bhar. Papa dan kak Aglen sekarang yang mengelolanya. Mulai hari ini aku kembali ke Amerika. Entahlah nanti akan bekerja dengan Paman atau ikut kak Aglen."
Tentu apa yang diungkapkan Luna tidak sungguh-sungguh. Ia yang memang meninggalkan Kanada untuk membuka kembali lembaran baru di Amerika.
"Atau kau mau bekerja di perusahaan papaku? !Nanti aku yang merekomendasikan," tawar Bhara yang melihat peluang kembali di depan matanya.
"Tidak, terima kasih. Keluargaku juga membutuhkanku, biar aku ikut mereka saja," tolak Luna halus dengan alasan yang tepat. Meski raut wajah Bhara terlihat sedikit kecewa.
"Baiklah, tapi ... Aku tetap diterima sebagai pengacaramu, kan?"
"Kemana aku harus membayarnya?" tanya Luna tanpa basa basi. Ia memang harus merencakanan semuanya dengan matang, karena tidak mungkin biayanya hanya sedikit. Sementara ia harus menghemat uangnya meski tinggal di rumah sang paman.
"Italia, Spanyol atau Turki, kau suka yang mana?" tanya Bhara yang seakan-akan dia yang mengajak Luna, padahal yang terjadi sebaliknya.
"Ketiganya, mana yang sudah kau datangi?" tanya Bhara lagi.
Luna menggeleng. Ia memang belum pernah menginjakkan kakinya ke negara yang disebutkan oleh Bhara.
"Baiklah, semuanya saja. Negaranya berdekatan bukan? Kita refreshing setelah masalah ini selesai," putus Bhara akhirnya.
" Tiga negara sekaligus? Sepertinya aku harus bekerja keras untuk mewujudkannya." Luna menelan salivanya. Bhara tidak tanggung-tanggung meminta bayaran.
"Pikirkan saja dulu masalah ini. Soal bayarannya urusan belakangan," ucap Bhara menenangkan.
"Mama...."
Elea yang baru saja terlihat keluar dari lift menghambur dan memeluk sang ibu.
"Anak Mama sudah bangun rupanya." Luna mendaratkan bertubi-tubi ciuman di pipi putri kecilnya itu. "Elea beri salam dulu pada paman Bhara, Sayang," titah Luna pada putrinya.
"Hai paman!" sapa Elea.
Bhara mengerjap. "Hai, Sayang. Kemarilah." Lelaki itu mengajak Elea mendekat kemudian mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu. "Putrimu cantik sekali."
"Mama, Elea mau gelato lagi,"rengek gadis kecil itu.
"Sayang, tadi baru saja El menghabiskannya. Besok saja ya, semua sopir Opa sedang keluar," tolak luna halus.
"El, mau makan gelato?" tanya Bhara yang membungkuk untuk menyamai tinggi badan gadis kecil itu.
"Mau, Paman!" jawab Elea kegirangan.
"Baiklah, kita pergi makan gelato bersama. Oke!" Bhara membuka telapak tangannya meminta tos pada gadis kecil itu.
"Oke, Paman! Asyik...."
"Bhar, ini akan merepotkanmu. Tidak usah, biar aku tunggu sopir pamanku saja," tolak Luna.
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi bertiga saja daripada kamu bosan di rumah," ajak Bhara.
Luna tidak dapat menolaknya karena Elea sudah berlari lebih dulu kedepan tanpa menunggu mereka berdua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aduh....!" pekik Evelyn saat ia terjatuh karena heels nya tersangkut besi saluran air dan membuatnya terjatuh.
Gadis ini membawa banyak sekali tumpukan berkas ditangannya. Berkas-berkas itu terjatuh, untung saja tidak tercecer.
Evelyn mencoba bangkit, kemudian setelah melemaskan kakinya iapun berjongkok untuk menyatukan tumpukan kertas yang terjatuh.
"Ceroboh sekali!"
Suara seseorang yang terdengar sangat dekat, hinggap di telinga Evelyn. Gadis itu lalu mendongak untuk memerikaanya.
"Sir?"
Sepertinya hari ia tertimpa tangga kembali. Paginya tidak menyenangkan dan bertemu dengan Aglen pula.
Tanpa sadar gadis itu mengangguk menyapa sang Bos yang nampak menghentikan mobilnya namun tidak ada niat untuk keluar sama sekali.
"Maaf, Sir."
"Kenapa kamu meminta maaf? Harusnya segera saja kamu kumpulkan berkas itu sebelum hilang, dan cepatlah kesini!" teriak Aglen yang sama sekali tidak menatap Evelyn.
"Ba-baik, Sir."
Secepat kilat Evelyn menyatukan berkasnya yang tercecer kemudian gadis itu berdiri. Namun ketika hendak melangkah,
Brukk!
Evelyn jatuh untuk kedua kalinya. Sepatu yang ia kenakan, ia tarik begitu saja karena lupa jika heels dari sepatu itu tersangkut.
"Oh, God! Kau terlalu lama Evelyn. Tinggalkan saja sepatumu! Dan cepatlah!"
Akhirnya Evelyn melepaskan kedua sepatunya, kemudian ia berlari dan menitipkan berkas penting itu pada Aglen.
Setelah itu, ia kembali untuk mencoba mengambil sepatunya yang tersangkut ditengah jalan itu.
"Evelyn! Tinggalkan saja!" titah Aglen yang kesal melihat Evelyn yang begitu lama.
"Tapi sepatu saya hanya satu, Sir. Bagaimana saya bisa masuk kantor tanpa sepatu saya," ucap Evelyn dengan mata berkaca.
"alAku bilang tinggalkan! Dan segera masuk kesini atau kau ku pecat! Kau menghabiskan waktuku." Aglen sesekali melirik jam tangannya yang terus bergerak ke arah kanan.
Evelyn berjalan menuju mobil Aglen dengan mata berkaca. Ia sedih sekaligus kesal, karena perintah Aglen yang merugikannya.
🥰🥰🥰