La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 79



"Lalu kenapa kau lari? Jika kau bukan orang yang dia cari?" Lelaki berperawakan tinggi besar itu menahan Kylie melalui tautan tangan mereka berdua.


"Jangan banyak bicara! Jika kau tidak ingin pergi, biar aku pergi sendiri!"


Kylie melepaskan gandengan tangan mereka kemudian hendak kabur meninggalkan lelaki yang sejak tadi bersamanya itu. Namun lelaki itu malah menarik kembali tangan Kylie hingga gadis itu jatuh di pelukannya.


"Kau pikir bisa pergi semudah itu?" ucap lelaki itu. "Selesaikan masalahmu! Kalau kau memang bukan gadis yang dimaksud oleh lelaki asing yang mengganggu kesenangan kita. Ingat! Aku sudah membayarmu!"


Lengan Kylie dicengkeram hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Aku tahu." Kylie menangis, menahan rasa sakit yang diterimanya.


Lalu ia mencoba melepaskan diri dari lelaki yang bersamanya itu.


"Jangan kabur! Kau tidak akan kemana-mana!" hardik lelaki itu mengancam.


"Tidak! Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."


Kylie berulang kali menelan salivanya. Pikirannya kalut harus membongkar semuanya sebelum waktunya.


Gadis itu mengerjap gugup. Ia meletakkan kedua tangannya dibawah lehernya. Kemudian perlahan melepaskan sesuatu dari bawah dagunya. Sama persis seperti yang dilakukan Pauline.


Dan ternyata, gadis itu memang bukan Kylie.


"Kau gila!" umpat lelaki itu.


Namun lelaki itu tidak merasa rugi karena ternyata gadis itu sama cantiknya dengan wajah penyamarannya.


Tanpa mereka tahu, Adam yang rupanya melihat semua kejadian itu sampai terbelalak dibuatnya. Ia tidak habis pikir jika ada orang lain yang menyamar sebagai adiknya.


Dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Pauline.


Dengan cepat lelaki berambut pirang itu kembali menghampiri sosok yang menyamar sebagai adiknya.


"Hei kau! Apa maksudmu menyamar sebagai adikku?" tanya Adam gusar.


"Tanya saja pada adikmu! Aku tidak berhak menjelaskannya. Ayo kita pergi."


Gadis itu menarik lelaki yang bersamanya untuk pergi. Namun di depan mereka, sudah ada dua polisi yang datang menghadang.


"Kau pikir kau bisa kabur? Kalian sama-sama menipuku!" Adam menggeram dan mengepalkan sebelah tangannya yang beradu dengan telapak tangan satunya.


Kali ini, Adam beruntung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kakak?"


Luna langsung berdiri ketika Aglen masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


Meski didalam tidak ada tamu, namun Luna sempat kesal karena lelaki didepannya ini masih saja bertingkah semaunya sendiri bila dengannya.


"Jangan marahi Nina! Aku yang memaksa," ucap Aglen ketika lelaki itu melihat sang adik yang hampir menekan interkom nya.


Lelaki berkuncir itu melepas kancing jasnya, kemudian menyingkap bagian bawahnya dan ia duduk di depan meja Luna.


Wanita itu masih berdiri mematung. Belum juga sang kakak menjawab sapaannya dan mempersilahkan duduk lelaki itu. Tetapi Aglen duduk dengan sendirinya.


"Kenapa kau masih berdiri? Sangat tidak sopan berbicara dengan posisi seperti itu," sindir Aglen sambil melirik tajam adiknya.


Luna semakin kesal. Dadanya bergemuruh mendengar ucapan kakaknya yang selalu membuatnya naik darah. Dan parahnya, lelaki yang ia panggil kakak itu tidak pernah merasa.


"Bagaimana Kakak tahu aku disini?" tanya Luna yang masih bertahan dengan kakinya.


"Tidak sulit mengetahui keberadaanmu. Stefan memasang GPS di mobilmu," sahut Aglen enteng.


"Stefan?"


"Jangan membencinya, itu demi keselamatanmu." Aglen hanya melirik adiknya yang memasang mimik tidak senang. "Sudah jangan bicarakan dia lagi, biarkan dia tenang lebih dulu," ucap Aglen kemudian.


"Maksud Kakak?"


"Tidak ada maksud. Bukankah dia memang harus tenang disana. Kalau kita membicarakannya terus, dia pasti tidak akan tenang."


Aglen menghela napas panjang sesudahnya. "Aku ingin memberitahumu sesuatu."


"Apa ini?"


"Perhatikan dengan benar! Baru komentar!" ucap Aglen yang selalu ketus.


Lelaki itu memutar sebuah video yang sudah ia buka di ponselnya. Tidak ada seorangpun yang nampak di dalam gambar bergerak itu. Video itu hanya menampilkan beberapa barang-barang yang telah dikemas sedemikian rupa.


"Bukankah ini, kode produksi barangku?" Luna mendongak menatap sang kakak penuh tanya.


Aglen hanya mengangguk untuk menjawabnya. "Lihat sampai selesai," titahnya.


Luna menurut. Namun semakin lama, dahinya semakin nampak berkerut. Ia yakin jika semua yang divideo itu adalah barang miliknya.


Kemudian setelah video pertama berhenti, video kedua segera berputar. Disana yang nampak hanya gambar gelap. Video kedua hanya berisi suara saja antara dua orang yang salah satunya ia tengarai sebagai sang kakak, Aglen.


Mereka membicarakan tentang barang-barang ekspor yang diduplikasi dengan sangat hebatnya. Hingga barang-barang itu benar-benar mirip tanpa cela sedikitpun. Namun tentu kualitas bahan yang digunakan mempengaruhi daya simpan nya.


Sehingga suatu hari seperti waktu itu, mereka ketiban apes dan barang- barang itu rusak sebelum sampai pada pembelinya. Dan yang mengejutkan, kejadian ini berlangsung sudah cukup lama.


Begitu ponsel Aglen selesai memutar rekaman, Luna mendongak kembali menatap sang kakak. Wanita itu meminta penjelasan atas apa yang ditunjukkan lelaki berkuncir itu padanya.


"Kau yakin itu milikmu?" tanya Aglen.


"Tentu saja. Bukankah itu barang ekspor ke Eropa? Aku ingat betul kode produksinya, Kak," jawab Luna yang masih belum paham. benar arah dari maksud video itu ditunjukkan padanya.


"Itu bukan barangmu. Itu palsu. Kau dengar suaraku di video kedua, bukan?" tatap Aglen pada adiknya.


"Ya, tapi aku belum paham. Apa Kakak tahu siapa yang memalsukan barangku?" tanya Luna penasaran.


"Bisa dikatakan begitu. Namun yang terpenting disini bukanlah pembuatnya, tapi siapa pemesannya." Aglen terlihat sangat misterius hari ini.


"Bukankah sama saja. Mereka sama-sama merugikanku," sengit Luna.


Setiap barang memiliki esensinya masing-masing. Pemalsuan adalah tindakan yang kejam, karena itu mematikan kreatifitas pemilik sebenarnya.


"Tentu berbeda. Yang lebih kejam adalah seseorang yang memiliki ide untuk memalsukan barangmu," Aglen berbisik dengan menekan pada beberapa kata yang ia ucapkan.


"Jadi, yang Kakak kenal si pembuat. Dan dia hanya mengerjakan pesanan? Lalu siapa yang memesannya, Kak?" tembak Luna yang jengah mendengarkan ucapan sang kakak yang meniru bicara para detektif.


"Tebaklah!"


"Ayolah, Kak. Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan."


Luna meluruskan punggungnya. Ia sudah lelah menghadapi masalahnya sendiri, ditambah lagi dengan hal ini.


"Orang terdekatmu. A-dam."


"Apa? Mana mungkin, Kak? Dia suamiku dan aku percaya padanya."


Luna menegang. Ia sampai berdiri dari kursinya.


"Aku memiliki semua buktinya. Jika kau sudah mereda, dan ingin memperkarakannya, hubungi aku."


Aglen pergi tanpa pamit. Lelaki itu melenggang keluar seperti tidak terjadi apa-apa.


Apa mungkin kakak tahu sedari lama?


Luna berperang dengan batinnya sendiri. Meski tanpa bukti dari Aglen, Luna memang sudah mencurigai lelaki itu. Semua kejanggalan yang akhir-akhir ini ia temukan di perusahaan yang dipimpin oleh suaminya, lebih banyak mengarah pada lelaki itu sebagai tersangkanya. Meski sekuat tenaga Luna mencoba berprasangka baik, namun hati kecilnya sama sekali. tidak mendukungnya.


Selama ini, Luna hanya berpikir jika Adam menyembunyikan komplain dari pembeli di Eropa, karena lelaki itu ingin mencoba menyelesaikan sendiri masalah ini. Dan temtunya tanpa bantuannya ataupun sang ayah.


Tapi ternyata, lelaki itu menangani boroknya sendiri agar tidak ketahuan.


Tangan Luna mengepal keras. Ia masih menyimpan kekecewaan atas kaburnya Kylie yang ternyata juga membawa uang perusahaan. Ditambah surat pengalaman kerja adik iparnya itu yang ternyata palsu. Semuanya menumpuk jadi satu di otaknya dan membuat wanita itu limbung.


Luna terjatuh di kursinya dengan menangis. Rupanya segala hal buruk yang menimpanya belum selesai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dok, jemari istri saya bergerak-gerak!" teriak Sebastian.


😍😍