La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 32



"Satu, dua, tiga, empat ... lima." Hari ini, Adam menumpuk lima lembar map berisi lamaran untuk dibacanya. Dan seperti biasa, hampir ratusan map setiap harinya yang ia singkirkan.


Lelaki itu hanya mengambilnya secara acak. Dari kelima lamaran itu, akan kembali ia singkirkan empat yang lain menyisakan satu lamaran yang tentunya ia pilih secara cermat, dengan kemampuan yang bisa dikatakan dibawah Kylie.


Besok adalah batas terakhir pengiriman lamaran untuk lowongan asisten Direktur yang telah ia buka untuk khalayak umum.


Dari hari pertama dibuka hingga hari ini, begitulah caranya menyeleksi ratusan lamaran yang masuk. Dan ia turun tangan sendiri melakukannya.


Padahal biasanya, ia hanya terima beres dan menyerahkan segalanya pada bagian kepegawaian. Semua demi Kylie, adik perempuan satu-satunya dan juga karena tekanan sang ibu.


"Gadis itu membuatku repot saja!" umpatnya lirih. Dimana- mana harusnya belajar dahulu baru melamar pekerjaan. Ini Kylie, maunya diterima bekerja dahulu baru berjanji untuk belajar. Awas saja jika sampai janji itu tidak dipenuhi oleh adiknya itu.


Adam mengambil ponselnya, segera dihubunginya sang istri untuk janjian makan siang bersama nanti.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Stef, minggu depan kau sudah pindah ke L & H Corporation. Bagaimana dengan perusahaanmu di Bergamo?"


"Aman, Paman. Aku memiliki asisten yang menggantikanku di sana. Meski sesekali aku harus tetap terbang kesana," jawab Stefan yang hari ini diundang untuk datang ke perusahaan Luna, tepatnya di ruangan Ellard.


"Kau harus mengelolanya dengan benar. Aku tidak mau rugi sepeserpun!" tatapan Ellard tajam pada keponakannya itu.


"Paman, jika tidak mau rugi jangan jadi pebisnis. Duduk di rumah saja menggenggam emas dan harta yang paman miliki, dijamin tidak akan merasakan rugi," sindir Stefan yang kesal.


"Ha ha ha. Aku yakin kau tidak akan gagal mengelolanya, Stefan. Aku tahu kau orang paling cocok menjadi pemimpin disana," puji Ellard.


"Tapi aku benar-benar merasa tidak enak dengan menantumu. Sepertinya dia ingin sekali menjadi salah satu pemegang saham disana. Apa kau tidak menawarkannya apapun?" tanya Stefan yang ingat dengan obrolan singkatnya dengan Adam semalam.


"Tidak akan ada kesempatan bagi orang lain untuk menjadi pemegang saham disana. Perusahaan itu milik Efrain, hanya darah Efrain yang boleh berkontribusi disana Stef! Jadi jangan membujuk ku ini itu karena itu tidak akan mempan sama sekali," tegas Ellard seperti biasanya. Tidak ingin di debat dan dilawan segala keputusannya.


"Jadi seperti rencana awal kita Paman? Perusahaan ini, pemiliknya adalah aku dan suatu hari nanti Paman ingin aku menyerahkannya untuk Luna," jelas Stefan mengulangi keinginan sang paman.


Lelaki paruh baya itu mengangguk.


Akhirnya Ellard menceritakan tentang silsilah keluarga Adam dan apa yang sudah ia lakukan untuk keluarga menantunya itu.


Entah mengapa ia percaya pada keponakannya itu dibandingkan dengan anak lelakinya sendiri, Aglen. Karena memang Stefan menunjukkan perubahan menjadi lebih dewasa dan juga lelaki matang yang sukses.


"Jadi selama ini, Paman juga menopang hidup mereka sekeluarga?"


"Ya, begitulah."


"Luna tahu?"


"Tidak. Entah apa yang aku lakukan benar atau salah. Aku hanya ingin Luna bahagia" ucap Elllard. Pikirannya menerawang pada kisah kelam yang dialami anak perempuannya itu.


Stefan mendengkus pelan. Ini pasti berhubungan dengan perbuatannya di masa lalu, juga hadirnya Elea.


"Aku berjanji akan melakukan yang terbaik, Paman. Aku juga berjanji menjaga Luna dan juga El," ucap Stefan tiba-tiba.


"Benarkah? Kau akan melakukannya untukku Stef?" Ellard seperti memiliki harapan baru mendengar ucapan Stefan.


Lelaki paruh baya itu tentu tidak lupa, jika Luna menginginkannya menyimpan rahasia kelamnya pada siapapun termasuk keluarganya sendiri.


Ellard sendiri sudah tua, ia merasa takut jika suatu hari Tuhan memanggilnya, sementara ia belum menemukan orang yang benar-benar tulus menjaga Luna serta cucunya El.


Dulu ia berpikir, Adam adalah pilihan yang tepat. Namun seiring waktu, hati manusia memang mudah berubah. Keyakinan Ellard luntur seiring satu demi satu fakta ia temukan tentang sosok menantunya itu.


"Mengapa kau mau melakukannya?"


"Karena aku tahu Paman sangat menyayangi mereka. Dan hubungan Luna dengan Aglen tidak begitu baik. Paman pasti tidak percaya pada anak lelaki Paman itu."


Pertanyaan Ellard seperti jebakan, namun sebisa mungkin Stefan menjawabnya.


Stefan masih percaya Luna tidak mengatakan apapun pada sang paman tentang dirinya.


"Ya. Entahlah, secara langsung aku tidak pernah melihat ketidakakuran mereka. Namun mereka memang irit bicara saat bersama," terang Ellard.


"Tenang saja, Paman. Aku akan melakukannya untukmu." Stefan menepuk punggung Ellard untuk menenangkan.


Dan Ellard memberinya senyuman. Senyum terima kasih seorang ayah.


"Hemm ... Makanannya enak. Kamu sering makan disini?" tanya Luna pada suaminya.


"Tidak juga, hanya sesekali. Ingin sekali mengajakmu tapi selalu lupa," jawab Adam. Padahal ia sama sekali tidak pernah kesini. Ia hanya mendapat rekomendasi dari ibunya yang sudah mencoba berbagai restoran mahal di Kanada.


Sempurna!


Bahkan untuk makan siang kali ini, Adam sengaja mengajak Luna makan di sebuah restoran yang menyediakan makanan Arab. Karena Luna senang sekali makan kunafe.


"Tidak boleh sering-sering, bisa jebol kantong kita," lirih Luna yang kemudian tergelak. "Tentu saja semua makanannya enak, Dam. Ini restoran milik hotel bintang lima."


"Habiskan, Sayang. Tenang aku yang traktir" ucap Adam menenangkan sang istri.


"Haruslah," balas Luna.


"Ha ha ha ... Sayang." Adam mengusap lembut punggung kecil milik Luna. "Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Adam kemudian.


Luna mengurungkan suapan kedalam mulutnya. "Apa....?"


"Lowongan asistenku. Bolehkah diisi adikku?"


"Memang Kei sudah lulus?" tanya Luna. Wanita itu bahkan tidak mendengar wisuda adik iparnya itu. Adam juga tidak pernah memberitahunya.


"Sudah." Adam nampak menyugar rambut blondenya yang klimis. "Tapi hanya Mama dan Papa yang datang."


Adam nampak menggigit bibir bawahnya. Tidak mungkin ia bercerita jika ia membeli ijazah untuk adiknya di Universitas lain karena adiknya yang malas melanjutkan kuliahnya.


"Tentu saja boleh, Sayang. Tapi harus lolos persyaratan yang ku sebutkan itu."


Gluk!


Adam menelan salivanya karena kaget. Luna masih mengajukan persyaratan yang sama meski lelaki itu mengatakan jika yang akan ia ambil adalah Kylie.


"Iya Sayang, pasti. Kylie magang di tempat Papa saat ini. Nanti aku akan lebih keras padanya agar ia tidak malas belajar. Aku pastikan itu Sayang," janji Adam pada Luna.


"Baiklah."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bibi? Bukankah sedang di Italia?"


"Aku pulang sendiri. Bosan sekali disana," ucap Christina pada keponakannya, Aglen.


"Lalu Paman?"


"Dia sibuk mengurus perusahaannya di Milan. Itu juga sebabnya aku bosan, dia terus bekerja sementara aku ke mana-mana sendiri," sungut Christina yang langsung duduk di sofa depan Aglen saat ia masuk kantor keponakannya itu.


"Wah, padahal seharusnya kalian sudah tinggal menikmati saja. Apalagi memiliki anak sehebat Stefan, tinggal menggoyang kaki dan uang pun terkumpul," ucap Aglen menyindir bibinya itu.


"Goyang kaki katamu? Pamanmu itu malah mengusir Stefan dari perusahaan itu, dan sekarang ia yang jadi pengelolanya," terang Christina masih dengan nada kesal.


"Apa? Stefan diusir?" Aglen kaget karena Stefan tidak menceritakan apapun padanya.


"Kau tidak tahu? Apa kau belum bertemu Stefan Ag?" tanya Christina heran. Dua orang bersaudara itu biasanya sering bertemu meski berjauhan.


"Akhir -akhir ini belum, Bi. Tapi kenapa Paman sampai seperti itu?"


"Stefan menolak perjodohan dengan terang-terangan di hadapan ayahnya. Dan kedua laki-laki itu sama-sama keras. Dan inilah akibatnya," cerita Christina.


"Mungkin ia sudah punya kekasih bi," ucap Aglen membela.


"Sudah aku tanyakan. Ia tidak mengaku. Apa kau tahu sesuatu tentang sepupumu itu?" selidik Christina. Wanita paruh baya itu memang ingin mencari tahu pada Aglen.


"Tidak, Bi. Aku tidak melihat Stefan dekat dengan siapapun. Ketika bertemu di Kanada, bahkan ia tidak mau kuajak masuk ke club malam. Ia sudah seperti lelaki yang sedang insyaf saja," tambah Aglen.


"Benarkah? Jika ia memang sudah insyaf aku senang sekali Ag. Ahhh ... aku rindu sekali dengannya," keluh Christina mendadak sedih.


💓💓💓💓💓💓